
Galih duduk dengan tangan yang di borgol, mata merah tengah menahan tangis pun terlihat jelas.
Faldi hanya bisa menahan sedih di hatinya saat melihat putranya di nyatakan bersalah saat di pengadilan, kini Galih pun sudah di tetapkan sebagai tersangka dan akan mendapatkan hukuman kurungan penjara.
Mata Reyhan menatap penuh mengejek kepada keponakannya sendiri, pria itu hanya bisa menatap penuh kebencian kepada Reyhan hingga Galih di bawa kembali oleh polisi untuk di masukkan ke dalam sel penjara.
"Sekarang anak tunggal ku sudah di penjara, apa kau puas!" Faldi langsung mengamuk dan memaki Reyhan.
Tapi pria itu langsung melenggang pergi dan meninggalkan Faldi Begitu saja. Melinda nampak melihat ke arah Galih, tapi bukan tatapan sedih melainkan tatapan marah dan juga kesal.
Kini Galih dan Melinda pun bertemu, "Sayang, aku sangat merindukanmu."
"Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi."
"Apa maksudmu? Kau istri ku sekarang."
"Kau gila yah? Aku wanita berpendidikan, mana mungkin aku bersama dengan pria yang menjadi narapidana. PIKIR!!!"
"Tapi, bukankah kau mencintaiku?" Galih menatap tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Melinda, baru beberapa minggu tapi wanita itu sudah berubah 180°.
"Cinta? Hello, aku memang mencintai kamu. Tapi aku juga gak buta, mana mungkin aku masih bisa cinta sama orang yang kini jadi pengangguran dan juga seorang narapidana. Jadi sekarang aku minta bercerai."
"Aku tidak mau, aku bahkan sampai rela membunuh Rosa agar bisa bersama dengan mu dan memperlakukan wanita itu dengan kasar hanya agar bisa bersama denganmu. Tapi ini balasan yang ku dapat?"
"Memangnya siapa yang suruh? Itu kau saja yang terlalu bodoh." Maki Melinda kepada suaminya.
Setelah itu Melinda langsung pergi begitu saja dan Galih pun kembali di masukkan ke dalam penjara.
"Arg.. Melinda sialan, setelah apa yang ku lakukan demi mu. Tapi ini balasan yang ku dapat, ku kira kau benar-benar tulus mencintai ku. Tapi rupanya kau hanya mencintai harta ku.."
*
*
Reyhan tengah duduk dengan tatapan mata yang menatap kosong ke depan, pikirannya masih tertuju pada sosok Rosa.
Tak jauh darinya, Nadia tengah melihat ke arah Reyhan tatapan kagum terlihat di matanya.
"Apa yang sedang kau lakukan?!"
Reyhan langsung menatap dingin ke arah Nadia, "Tidak,"
"Sebaiknya kau segera pergi, lagi pula kasusnya sudah selesai."
"Baik.."
*
*
*
Rosa tengah berjalan dengan kedua tangan yang memegang keranjang kecil, sudah berbulan-bulan dia tinggal di rumah Nek Sari dan kondisinya pun sudah pulih.
Tapi sampai saat ini Rosa masih belum mengingat apapun tentang dirinya dan juga masa lalunya, dan selama itu pula Dokter Andri selalu datang untuk sekedar mengecek kesehatan Rosa.
"Nek, ini bayam yang tadi aku petik."
"Terimakasih, Rosa."
"Kalau begitu, Rosa pergi dulu untuk mencuci pakaian di sungai."
"Baik Nek."
Rosa pun mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju sungai yang berada tidak jauh dari tempatnya tinggal, nampak Rosa mulai mencuci pakaiannya dan juga Nek Rosa.
Setelah itu Rosa pun langsung mandi di aliran air sungai yang sangat jernih, senyumnya nampak di wajah Rosa dia sangat menikmati setiap sentuhan air dingin.
Tanpa dia sadari jika sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan, hingga Rosa pun selesai mandi. Dia hanya menggunakan sehelai kain batik dan mulai kembali berjalan menyusuri jalan setapak.
Sesampainya di rumah, Rosa melihat Dokter Andri sudah berada di depan rumah. Tapi Rosa langsung memutar balik dan berjalan lewat pintu belakang, dia tidak ingin bertemu dengan Dokter Andri dengan keadaan yang hanya menggunakan sehelai kain.
"Bagaimana keadaan Rosa sekarang, Nek?"
"Keadaan Rosa saat ini sangat baik, terimakasih Dokter Andri bersedia mengobati Rosa hingga sembuh."
"Tidak masalah, saya seorang dokter dan sudah kewajiban saya untuk menolong."
Rosa pun langsung keluar dari rumah dengan pakaian yang lengkap, "Dokter Andri, kau sudah datang?" Rosa langsung basa-basi meski dia sudah tahu jika pria itu sudah datang.
"Iya, bagaimana keadaanmu. Apa kau sudah membaik?"
"Iya, keadaan ku sudah membaik. Terimakasih Dokter."
"Sama-sama, besok saya akan ke kota. Apa kau mau ikut? Karena biasanya Nek Sari suka ke Kota untuk membeli beberapa bahan."
"Iya, Nenek suka ke kota ikut dengan Dokter Andri."
"Memangnya Nenek mau beli apa sekarang ke kota?"
"Mungkin hanya sekedar membeli perlengkapan mandi dan juga bumbu dapur, dan juga menjual beberapa hasil panen di kebun." Jawab Nek Sari.
"Bagaimana, jika aku saja yang menjual hasil panen di kota." Rosa langsung menawarkan diri karena dia tidak tega melihat Nek Sari yang sudah tua harus berjualan.
"Tapi kau tidak tahu tentang keadaan di Kota, Nenek takut jika kau kenapa-kenapa."
"Tidak apa-apa, Nek. Aku yang akan menjaga Rosa saat di kota." Dokter Andri langsung menawarkan diri untuk menjaga Rosa.
"Terimakasih Dokter, baiklah. Nenek mengizinkan kau pergi ke kota tapi ingat kau harus jaga diri dan jangan percaya kepada pria yang ada di kota."
"Baik Nek, aku akan mengingat perkataan mu."
Dokter Andri pun langsung kembali pulang karena besok dia akan kembali datang ke sini untuk membantu Rosa membawakan barang-barang yang akan dijual oleh Rosa saat berada di kota.
Nampak Rosa mulai memetik kangkung, bayam, cabe dan sayuran lainnya.
Nek Rosa juga menjelaskan berapa harga-harga sayuran yang akan di jualnya nanti.
"Ingat, di pasar itu banyak orang-orang jahat. Pencopetan dan bahkan pria genit, dan kau harus bisa jaga diri dan jangan mudah percaya dengan pria yang ada di kota."
"Baik Nek, aku pasti akan mengingat nasehat darimu ini."
"Baguslah, maaf yah. Nenek malah merepotkan mu."
"Tidak kok Nek, malahan aku yang harusnya meminta maaf karena telah merepotkan mu dan juga tinggal di sini secara gratis."
"Jangan bahas hal itu, Nenek malah merasa sangat senang karena ada dirimu."
Rosa pun tersenyum, dia langsung memeluk Nek Sari. Wanita tua itu sudah seperti seorang ibu bagi Rosa dan begitu juga sebaliknya, Nek Sari sudah menganggap Rosa seperti anaknya sendiri.