
Rosa berjalan pelan menyusuri jalan setapak, di belakangnya ada Andri yang senantiasa mengantarkan Rosa untuk pulang ke rumahnya.
"Mas Andri, terimakasih sudah mau mengantarkan saya. Saya merasa tidak enak."
"Tidak apa-apa, lagi pula Nek Sari sudah menitipkan mu kepada ku jadi aku akan mengantarmu dengan selamat sampai ke rumah."
Rosa tersenyum dengan wajah yang memerah pria di belakangnya sangatlah baik dan juga ramah, bahkan sesekali Dokter Andri terlihat memberikan perhatiannya kepada Rosa yang membuat wanita itu sedikit tertarik dengan sosok Andri.
Tapi Rosa tidak ingin sampai perasaan di hatinya kepada Andri semakin tumbuh besar karena Rosa yakin jika dia memiliki seorang suami meski dirinya tidak tahu siapa suaminya.
"Dokter Andri, terimakasih telah mengantarkan Rosa pulang ke rumah."
"Sama-sama, Nek. Lagi pula ini sudah tugas saya mengantarkan Rosa dengan selamat sampai ke rumah."
Lalu setelah itu Andri langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Rosa dan juga Nek Sari.
Rosa langsung memberikan uang yang dia dapatkan kepada Nek Sari, tak lupa wanita itu juga memberikan bahan-bahan makanan yang di butuhkan olehnya dan juga Nek Sari.
"Rosa, Nenek lihat Dokter Andri seperti menyukai mu."
Tiba-tiba Nek Sari mengatakan hal itu, Rosa pun langsung terdiam dengan tatapan mata yang tidak berani melihat ke arah Nek Sari.
"Mungkin itu hanya perasaan Nenek saja, perlakuan Dokter Andri kepada ku itu hanya perlakuan seorang Dokter kepada pasiennya. Tidak lebih."
Rosa menjawab dengan senyuman manis, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya dari Nek Sari.
*
*
Reyhan yang sedang duduk di ruangan kerjanya pun mulai memejamkan mata, selama beberapa hari dia terus mencari keberadaan Rosa tapi tidak ada petunjuk tentang Rosa.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Reyhan terbuka dan rupanya itu Tomi, sahabat Reyhan.
"Untuk apa kau datang ke sini?" Reyhan langsung melemparkan kalimat pedas untuk sahabatnya.
"Wah, kau terlihat sedang tidak senang."
"Enyah lah, aku sedang tidak ingin di ganggu."
"Baiklah, tapi ku dengar jika kau mencari wanita itu?"
"Iya, tapi aku tidak bisa menemukannya."
Lalu Tomi memberikan sebuah rekaman kamera cctv yang dia dapatkan dari restoran tempat Rosa dan Andri makan.
"Apa ini?"
"Itu rekaman yang ku dapat dari restoran, aku tidak menyangka jika sekarang kau sangat bodoh. Kau bisa melihat jika benar-benar Rosa ada di restoran itu dari kamera cctv."
Mendengar hal itu Reyhan langsung melihat rekaman dari Tomi, matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang sangat dia kenal.
"Rosa.. Ini dia, dia masih hidup." Reyhan langsung tersenyum bahagia saat melihat Rosa masih hidup.
Tapi seketika senyumannya langsung pudar saat melihat seorang pria yang berada di samping Rosa.
"Siapa pria itu?"
Reyhan langsung bertanya kepada Tomi, tapi sahabatnya langsung menggelengkan kepalanya. "Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya, siapa pria itu. Biar aku kasih tahu yah..."
Tapi sebelum Tomi melanjutkan kata-katanya Reyhan memberikan bogem mentah kepada sahabatnya.
"Arg.. Kau gila." Maki Tomi.
"Jika aku mendengar kau mengatakan seperti itu lagi, aku akan menghabisi mu." Ancam Reyhan.
"Oke.. Oke, setelah aku menyelidiki pria itu. Dia seorang Dokter. Tapi identitasnya sangat tertutup dan tidak bisa lihat semuanya, bahkan alamat, keluarga. Semuanya tidak ada.."
"Iya, identitas nya seperti di sembunyikan. Tapi kalau tidak salah namanya Andri."
"Siapa sebenarnya orang itu, sampai identitasnya di blokir untuk semua orang. Apa dia orang penting?"
"Entahlah, tapi aku yakin jika Rosa masih hidup dia pasti bersama dengan pria itu. Dan mungkin saja..."
Tomi langsung tersenyum saat mengatakan hal itu. "Apa?"
"Iya mungkin saja Rosa sekarang sudah menikah dengan pria tadi, dan mereka hidup bahagia bersama."
"Jaga mulutmu, Rosa tidak akan pernah menikah dengan pria lain selain aku."
"Oke, aku hanya mengatakan kemungkinan besar yang terjadi."
Mendengar hal itu Reyhan langsung lemas seketika, kepalanya pun terasa sangat pusing dan juga sakit.
Selama ini kondisi kesehatan Reyhan sedang menurun terutama setelah kehilangan sosok Rosa, jiwa Reyhan seperti hilang sebagian.
"Apa kau baik-baik saja?" Tomi langsung panik saya melihat sahabatnya kesakitan.
"Aku baik, mungkin hanya sedikit kurang istirahat."
"Baiklah, sebaiknya kau segera beristirahat. Kesehatan mu itu lebih penting untuk saat ini." Tomi menatap iba ke arah Reyhan.
"Tentu."
Di saat Reyhan hendak beristirahat, tiba-tiba Sheila datang dan menghampiri Reyhan.
"Ada apa denganmu? Apa sakit kepala mu kambuh lagi." Sheila langsung mendekat ke arah Reyhan dan hendak membantunya berjalan ke arah sofa.
Tapi Tomi langsung menghalangi Sheila, wanita itu menatap Tomi dengan tatapan marah dan kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan, minggir."
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, siapa kau dan apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Aku psikiater yang menangani Reyhan."
"Apa itu benar, Reyhan?" Tomi langsung bertanya kepada Reyhan yang kini tengah duduk di atas sofa.
"Itu dulu, tapi aku sudah memecatnya." Jawab Reyhan cuek.
"Apa kau dengar apa yang di katakan, Reyhan. Dia sudah memecat mu jadi kau sebaiknya pergi dari sini."
"Tidak, aku tidak akan pernah pergi. Reyhan itu pasien ku dan aku adalah Dokter yang profesional yang tidak akan pernah meninggalkan pasien ku sebelum dia sembuh."
"Kau sangat keras kepala sekali,"
"Sebaiknya kau jangan menghalangi jalan ku." Sheila langsung mendorong tubuh Tomi agar pria itu menyingkir.
Kini Sheila segera berjalan ke arah Reyhan dan duduk di sampingnya, nampak Reyhan tengah menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata.
Sheila langsung mengambil alatnya dan hendak memeriksa detak jantung Reyhan, tapi pria itu langsung memegang tangan Sheila dan menghempasnya dengan kasar.
"Apa kau tuli? Aku sudah mengatakan berapa kali kepada mu jika aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi."
"Aku ini seorang Dokter dan aku tidak bisa membiarkan pasien ku yang tengah sakit parah. Kesehatan mental mu itu sangat penting, Reyhan."
"Iya, aku tahu. Dan itu bukan urusanmu lagi."
"Terserah kau saja, tapi kau harus berusaha untuk melupakan wanita itu. Jika kau terus memikirkannya kepala mu akan terus sakit-sakitan dan tidak akan pernah sembuh."
Mendengar hal itu Reyhan semakin kesal, lalu pria itu segera pergi meninggalkan Sheila begitu saja tanpa menanggapi ucapan dari wanita itu.