
"Siapa tadi?"
"Galih, dia mengajakku untuk makan bersama."
"Kau menolaknya?"
"Tentu untuk apa, mending bersama mu dari pada bersama dengan pria itu." Rosa langsung memeluk Paman suaminya dengan lembut.
Entah sejak kapan Rosa sudah mulai merasakan perasaan nyaman dan ingin terus bersama dengan pria itu, tanpa dia sadari jika perasaan cinta tumbuh di hatinya untuk pria yang merupakan Paman suaminya sendiri.
"Aku senang mendengarnya, sekarang kenakan bajumu. Kita pergi makan bersama."
"Kau yang melepaskan pakaian ku, harusnya kau yang mengenakan nya kembali."
"Hahaha.. Aku hanya jago melepaskan pakaian tapi tidak bisa mengenakannya lagi."
Rosa pun hanya memonyongkan bibirnya dengan tangan yang mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Kini Reyhan mengajak Rosa untuk makan di salah satu restoran bintang lima, dengan pelayanan terbaik dan makanan yang enak dengan harga yang fantastis mahal.
"Apa tidak apa-apa kita makan di sini?" Rosa merasa kurang nyaman dengan keadaan restoran yang sangat mahal.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku banyak uang. Apa yang perlu di khawatirkan."
"Sombong."
Pelayan pun langsung datang dengan membawa beberapa hidangan yang sudah di pesan oleh Reyhan dan juga Rosa.
"Apa kau bisa memotong steak nya?"
"Aku tidak bisa, susah." Rengek Rosa.
"Makan saja punya ku, ini sudah ku potong-potong."
"Terimakasih, Paman."
Rosa langsung memakan makanan yang di berikan oleh Reyhan, pria itu hanya tersenyum dan sesekali melirik ke arah Rosa.
Wanita itu sangat cantik dan manis, tidak sia-sia dulu dirinya mau menampung Rosa.
Tapi di saat Reyhan tengah makan, dia melihat sosok Galih dan Melinda yang baru datang dan hendak memesan.
Dengan tatapan dingin Reyhan langsung mengeluarkan kartu hitam miliknya dan memanggil manager di restoran itu.
"Iya Tuan, ada apa?"
"Aku ingin menyewa restoran ini selama 2 jam, kau tidak perlu usir tamu yang lain. Tapi kau usir dua orang yang baru datang itu."
Manager langsung melihat ke arah dua orang yang dia maksud oleh Reyhan, "Tapi..."
"Kau tinggal katakan harganya, aku langsung membayarnya sekarang."
Melihat kartu hitam milik Reyhan, manager restoran pun langsung tersenyum. Lalu dia langsung mengusir Galih dan juga Melinda.
"Maaf, Tuan dan Nona. Saya meminta maaf karena restoran ini sudah di pesan oleh seseorang dan kalian bisa pulang."
"Apa? Kau gila yah, aku jauh-jauh datang ke sini. Dan kalian malah mengusir ku." Melinda langsung memaki Manager restoran dengan nada tinggi.
"Maaf Nona, saya meminta maaf sekali lagi."
"Lelucon macam apa ini? Orang bodoh mana yang mau menyewa restoran, dan lagi aku juga bisa membayar makanan yang ku pesan." Galih langsung mengeluarkan kartu debit miliknya.
"Maaf Tuan, ini sudah kebijakan restoran."
Lalu Manager langsung menyuruh pihak keamanan untuk membawa Galih dan Melinda keluar dari restoran mereka.
"Paman, kau mengusir Galih dan Melinda? Tapi kenapa?"
"Aku tidak ingin acara makan kita di ganggu oleh mereka berdua."
"Baiklah, tapi apa itu tidak berlebihan sampai mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengusir mereka berdua."
"Rosa, uang ku sangat banyak. Bahkan aku bingung harus menghabiskan dengan cara seperti apa."
Rosa langsung memonyongkan bibirnya saat mendengar perkataan Reyhan yang tengah menyombongkan kekayaannya.
"Tapi jika Paman pria yang kaya, kenapa ayah mertua ku hidupnya biasa saja?"
"Emm.. Tapi meski hanya petani, dia bisa menyekolahkan Galih sampai ke luar negeri."
Reyhan langsung tertawa saat mendengar perkataan dari Rosa.
"Kenapa Paman tertawa? Apa ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja. Lucu mendengarnya, jika kau harus tahu. Akulah yang membiayai kuliah Galih hingga dia bisa bersekolah di luar negeri."
"Sungguh? Aku kira jika Ayah mertua yang membiayai Galih."
"Tidak, tapi begitulah Kakak ku. Dia orangnya sombong tapi menyombongkan sesuatu yang bahkan bukan miliknya."
"Tapi semua orang kampung sangat menyanjungnya, lalu kenapa selama ini aku belum pernah melihat Paman datang ke kampung? Hanya mendengar nama mu dan rumor tentang mu saja."
"Kau tahu, aku mencapai kesuksesan ku selama hampir 10 tahun, aku jatuh bangun dalam membangun bisnis ini. Tapi di saat masa terpuruk, yang ku dapat bukanlah dukungan dari keluarga ku tapi hinaan dan cacian, bahkan mereka menghina ku secara terang-terangan. Dan sejak saat itu, aku enggan untuk kembali menginjakkan kaki ku ke tempat itu lagi."
Rosa terdiam, rupanya kekayaan yang di dapatkan oleh Reyhan tidak dia miliki secara mudah.
"Kenapa kau malah bengong?"
"Tidak," Rosa langsung kembali melanjutkan makan siangnya, nampak wanita itu secara perlahan memakan makanan miliknya.
Begitu juga dengan Reyhan, pria itu dengan lembut mengunyah makanannya. Hingga terdengar suara nada dering telepon, dan saat di lihat itu adalah Galih.
Reyhan langsung memberikan isyarat kepada Rosa untuk diam dan jangan bersuara.
"Ada apa, Galih?"
"Paman, kau sekarang dimana?"
"Aku sedang makan di restoran."
"Sungguh? Di restoran mana."
"Yang dekat perusahaan ku, memangnya ada apa kau menanyakan keberadaan ku?"
"Begini, Paman. Aku ingin meminjam uang, apa boleh?"
"Uang? Untuk apa? Bukankah kau sudah meminjam uang kepada ku 3 Minggu yang lalu, bahkan kau belum membayarnya."
"Ini keadaan darurat, kekasih ku ingin tas dan uang ku tidak cukup. Ku mohon bantulah aku."
"Untuk kekasih mu lagi? Aku tidak bisa meminjamkannya lagi kepada mu,"
"Paman, ayolah. Bantu aku sekali lagi.."
"Galih mau sampai kapan kau memanjakan wanita itu."
"Ayolah, paman. Jika aku tidak bisa membelikannya tas dia akan marah kepada ku."
"Galih, jika dia mencintai mu. Dia pasti akan mengerti keadaan mu, bukan malah menuntut mu untuk memenuhi gaya hidupnya."
"Ayolah, Paman. Ku mohon."
"Baiklah, tapi ini yang terakhir kali aku meminjamkannya kepada mu."
Reyhan langsung mematikan panggilan dari Galih dan mentransfer sejumlah uang kepada pria itu.
"Kau meminjamkan uang?"
"Iya, mau bagaimana lagi. Pria itu sangat cerewet, jika tidak ku berikan pinjaman dia akan terus menghubungi ku tanpa henti."
"Memangnya sudah berapa banyak Mas Galih meminjam uang?"
"Mungkin sudah sekitar 1 M."
"Apa? Sungguh, itu uang yang sangat banyak."
Reyhan hanya tersenyum saat mendengar perkataan Rosa, "Sudahlah, jangan membahas hal itu. Sebaiknya lanjutkan saja makan mu."
"Baiklah, Paman. Tapi apa kau tidak pernah menagih uang yang Mas Galih pinjam?"
"Tidak."
Rosa hanya diam, lalu pikirannya melayang pada saat dimana dia masih di kampung. Jangankan membeli tas mewah, Galih sama sekali tidak pernah memberikan uang bahkan untuk makan.