
Seorang wanita tengah berbaring di atas ranjang, di sampingnya terdapat seorang wanita tua renta yang tengah mengobati luka-luka di tubuhnya.
Perlahan mata wanita itu terbuka, menampilkan mata kecoklatan yang sangat jernih. Matanya mulai menatap ke sekeliling tempat yang sangat asing baginya
"Dimana aku.." Saat hendak menggerakkan tangannya, wanita itu merasakan sakit yang luar biasa.
Wanita tua itu langsung melihat ke arah perempuan yang dia selamatkan.
"Kau sudah sadar?"
"Iya, anda siapa?"
"Saya Sari, kau bisa memanggilku Nek Sari."
"Lalu aku siapa?"
Wanita itu sama sekali tidak mengingat siapa dirinya, lalu Nek Sari melihat kalung yang melingkar di lehernya.
"Aku tidak tahu kau siapa, tapi dari kalung yang kau pakai sepertinya nama mu Rosa."
Rosa terdiam, dia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Bahkan luka-luka di tubuhnya pun sangat parah dengan beberapa tulang yang patah.
"Lalu, dimana aku sekarang?" Rosa berusaha mengingat apapun tentang dirinya tapi dia sama sekali tidak ingat apapun.
"Kau berada di rumah ku, aku menemukan mu hanyut di sungai dengan luka yang parah. Dan mungkin untuk beberapa minggu, kau tidak bisa bangkit dari ranjang."
"Aku hanyut di sungai?"
Rosa sama sekali tidak mengingat tentang kejadian waktu itu, kecelakaan yang menimpanya membuatnya kehilangan ingatan.
"Iya, dan sekarang kau di rumah ku. Dan rumah ku terpencil di hutan tapi untungnya nyawamu masih bisa di selamatkan."
"Terimakasih, Nek." Meski Rosa tidak mengenal wanita tua di depannya, tapi Rosa yakin jika dia adalah orang yang baik.
Lalu seorang pria datang menghampiri kamar Rosa, pria muda dan tampan merupakan dokter setempat. Dan rumahnya pun sangat jauh dari rumah Nek Sari, "Kau sudah sadar?"
Rosa menatap bingung pria di depannya, "Dia tidak ingat apapun, bahkan namanya sendiri." Nek Sari langsung menjelaskan kondisi Rosa.
"Mungkin benturan di kepalanya membuatnya hilang ingatan." Dokter Andri langsung memeriksa keadaan Rosa.
"Rosa, ini Dokter Andri. Dia yang telah mengobati luka-luka mu." Nek Sari langsung menjelaskan sosok pria di depan Rosa.
"Terimakasih, Dok."
"Sama-sama, mungkin kau sembuh akan cukup lama karena luka-luka yang kau alami sangat parah."
Rosa hanya diam, "Jadi siapa tadi namanya?" Sambung Dokter Andri penasaran dengan nama wanita di depannya.
"Namanya Rosa, Dok. Sesuai dengan nama di kalung yang dia pakai." Jelas Nek Sari.
"Baiklah, Rosa. Untuk saat ini beristirahat lah dulu, aku akan datang seminggu sekali untuk melihat kondisi mu." Pria itu tersenyum lembut ke arah Rosa, dan Rosa pun hanya tersenyum kecil.
Nek Sari dan Dokter Andri pun langsung keluar dari kamar Rosa, Nek Sari sangat berterimakasih atas bantuan Dokter Andri karena tempatnya sangat jauh dari rumah Nek Sari.
"Kalau begitu saya pulang dulu." Dokter Andri langsung pamit dan segera pergi dari rumah Nek Sari yang terpencil di hutan belantara.
Nek Sari pun langsung membawa Rosa ke tepi sungai, tapi karena dia sudah tua. Wanita itu tidak bisa membawa Rosa dan akhirnya dia pergi mencari Dokter Andri yang tempatnya tidak terlalu jauh dari area sungai tempat Rosa di temukan.
Dengan bantuan Dokter Andri dan beberapa petugas kesehatan, Nek Sari langsung membawa Rosa ke rumahnya.
Kini Nek Sari tengah menyiapkan bubur untuk Rosa, wanita itu sangat berterimakasih kepada Nek Sari yang mau membantunya.
"Nek, terimakasih sudah mau menolong saya."
"Sama-sama, lagi pula kita semua manusia dan wajib untuk saling tolong menolong."
Rosa pun tersenyum, lalu Nek Sari langsung menyuapi Rosa dengan perlahan.
"Dokter Andri bilang jika ada sesuatu yang buruk."
"Hah? Apa itu?"
"Katanya kau sedang hamil tapi karena kecelakaan itu, kandungan mu mengalami keguguran."
"Apa? Aku hamil dan keguguran?"
Meski Rosa tidak tahu tentang masa lalunya tapi rasa sedih saat mendengar jika dia mengalami keguguran membuatnya langsung menangis. Dan Rosa pun meyakini jika dirinya perempuan yang sudah menikah tapi siapa suaminya, Rosa sama sekali tidak ingat.
Nek Sari hanya bisa diam dengan tatapan sendu, dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia sendiri pernah mengalami hal seperti itu saat masih muda.
Kini Rosa pun sudah tenang, meski masih ada perasaan sedih di hatinya.
"Tapi sekarang aku tidak mengingat apapun, lalu bagaimana cara ku menemukanmu suami ku?"
"Untuk sementara itu, kau bisa tinggal dulu di sini. Lagi pula Nenek juga tinggal sendirian dan tidak ada yang menemani."
"Apakah boleh, Nek?"
"Tentu saja boleh."
"Terimakasih, Nek."
"Iya, sekarang beristirahat agar kau bisa cepat sembuh."
Rosa pun langsung memejamkan matanya untuk beristirahat, sementara Nek Sari langsung keluar dari kamar Rosa.
Kini Rosa hanya bisa memikirkan siapa dirinya dan siapa suaminya.
"Apakah suami ku juga mencari keberadaan ku?" Gumam Rosa dengan tatapan sendu.
Nek Sari kini berada di luar rumah, tatapan matanya tertuju pada tanaman sayuran di samping rumahnya.
Tidak ada satupun rumah lain di tempat Nek Sari tinggal, selama bertahun-tahun dia tinggal sendirian. Meski sebelumnya dia tinggal bersama dengan suaminya, tapi pria itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Kini Nek Sari tinggal sebatang kara, meski banyak warga yang berada di kampung sebelah selalu meminta Nek Sari untuk tinggal bersama mereka.
Tapi wanita tua itu dengan tegas menolak karena dia ingin tetap tinggal di rumah ini, karena baginya ini bukan hanya sekedar rumah tapi tempat yang memiliki sejuta kenangan indah bersama dengan mendiang suaminya.
Tapi kini Nek Sari tidak kesepian lagi karena ada Rosa, meski belum lama dia mengenal Rosa tapi Nek Sari sudah menganggap wanita itu sebagai anaknya sendiri.