
"Apa, hamil?"
Galih langsung terkejut saat mendengar jika Rosa hamil.
"Iya Pak, istri anda sedang hamil." Dokter itu menjawab dengan tegas tanpa keraguan sama sekali.
"Terimakasih Dok, anda bisa pergi sekarang."
Dokter itu pun langsung pergi meninggalkan kamar Rosa, kini hanya da Galih dan Rosa.
"Aku ingat selama ini aku belum pernah menyentuh tubuhmu, jadi anak siapa yang ada di rahim mu?"
Galih dengan marah langsung melihat ke arah Rosa, tapi wanita itu tidak berani menjawab indentitas asli ayah dari bayi yang ada di kandungannya.
"Jawab aku Rosa, anak siapa itu?"
Galih langsung menarik pundak istrinya agar wanita itu melihat ke arahnya.
"Yang jelas ini bukan anak kamu."
"Beraninya kau berselingkuh di belakang ku, dasar wanita murahan." Maki Galih.
"Iya, aku memang wanita murahan. Jadi sebaiknya kita bercerai saja."
"Hahaha.. Sekarang aku tahu, kenapa kau sangat ingin bercerai dengan ku. Kau sudah tidak tahan ingin bersama dengan pria sialan itu!?"
Rosa hanya diam dan enggan untuk menanggapi hal itu.
Lalu Galih mulai berpikir siapa pria yang telah menanamkan benihnya di rahim Rosa, lalu pikiran Galih tertuju pada satu orang. Pria yang selalu bersama dengan Rosa dan bahkan tidak segan membiayai wanita itu.
"Jangan katakan jika anak ini anak Paman ku?!"
Rosa langsung terdiam dan memalingkan wajahnya, "Jawab aku Rosa, apa ini anak Paman ku?" Galih langsung mencengkeram pundak Rosa.
"Iya, ini anak Paman mu. Puas!"
Galih langsung terdiam, rasa marah di hatinya mulai membara. Kini dia tahu alasan di balik perhatian Paman kepada Rosa dan kenapa pria itu sekarang sangat membencinya.
"Hebat kau, Rosa. Di belakang ku kau bermain dengan Paman ku sendiri, tapi saat di depan ku. Kau selalu bersikap layaknya seorang korban yang tersakiti dan di khianati."
"Terserah kau mau mengatakan apa, karena sekarang kau sudah tahu. Kita lebih baik bercerai."
Galih langsung tersenyum saat mendengar hal itu, "Apa kau kira aku akan menceraikan mu semudah itu!"
"Apa mau mu?"
Galih langsung menarik tangan Rosa keluar dari kamar, para pelayan yang melihat hal itu tidak bisa berbuat banyak.
"Apa yang sedang kau lakukan? kenapa kau menarik Rosa seperti itu?" Faldi langsung menghalangi Galih.
"Ayah, apa kau tahu jika wanita itu sedang hamil."
"Apa? Baguslah jika dia sedang hamil, tapi kenapa kau sangat marah?"
"Dia hamil anak pria lain, anak Paman."
Faldi langsung terkejut saat mendengar hal itu, pria itu pun langsung melihat ke arah Rosa.
"Dasar wanita tidak tahu diri."
Tamparan kembali mendarat di pipi Rosa oleh Faldi, "Aku membesarkan mu untuk menjadi istri anak ku, tapi kau malah mengkhianati anak ku dan berselingkuh dengan Pamannya sendiri."
Rosa hanya bisa menahan amarah di hatinya, saat ini tidak ada Reyhan jadi dia tidak bisa berlindung pada siapapun.
Galih langsung membawa Rosa keluar dari rumah, pria itu memasukkan Rosa ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat.
"Mau kemana kita?"
"Aku akan membawa mu ke tempat ab*rsi."
Rosa nampak sangat panik, tapi Galih hanya diam dan terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Galih, jika Paman sampai tahu apa yang kau lakukan pada ku. Dia tidak akan pernah mengampuni mu."
"Hahaha.. Sekarang kau berani mengatakan itu dan berlindung di balik nama Paman ku."
Kini Galih menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang sepi, Rosa hanya diam dengan tatapan takut dan bingung.
"Aku akan memberikan kesempatan kepada mu, kau gugurkan kandungan itu dan kita bisa kembali lagi seperti dulu."
Tapi Rosa langsung menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau menggugurkan anak ku, dan aku juga tidak sudi menjalin hubungan denganmu. Pria yang bahkan tidak pernah memperlakukan ku seperti seorang istri."
"Kau memang harus di beri pelajaran." Maki Galih.
Pria itu langsung keluar dari dalam mobil, dia langsung membuka pintu mobil dan mengeluarkan Rosa secara paksa.
"Lepaskan.." Rosa berteriak sekuat-kuatnya.
Galih langsung mendorong tubuh Rosa punggung wanita itu terbentuk ke mobil.
"Bukankah kau ingin bercerai dari ku?"
"Iya aku ingin."
"Baiklah, hari ini juga aku talak kamu. Rosa. Dan detik ini juga kau sudah bukan lagi istri ku."
Mendengar hal itu Rosa terdiam, tapi dia melihat tatapan Galih yang aneh dengan senyuman yang menyeringai.
"Apa yang akan kau lakukan?" Rosa sedikit panik saat melihat Galih yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.
Wanita itu pun langsung berlari menjauh dari Galih, tapi pria itu langsung mengejar Rosa. Dengan suara yang keras Rosa berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang bisa membantumu, semuanya hanya hutan belantara.
Rosa pun langsung panik saat Galih menangkap tubuhnya dan menariknya dengan paksa.
"Lepaskan, Galih.. Ku mohon.." Rosa hanya bisa menangis dan meminta agar Galih melepaskan dirinya.
"Jangan mimpi, Rosa. Apa kau kira aku akan membiarkanmu hidup bahagia dengan Paman ku, tentu saja tidak."
Galih tersenyum dengan tangan yang terus menarik tubuh Rosa, wanita itu berusaha untuk melepaskan dirinya tapi tenaga nya tidak cukup kuat di bandingkan dengan Galih.
Kini Rosa di bawa ke sebuah tebing curam, wanita itu panik saat melihat ke bawa tebing yang tinggi.
"Apa yang akan kau lakukan?" Rosa panik dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku lebih baik melihat mu mati daripada melihat mu dengan pria itu."
Rosa langsung ketakutan saat mendengar perkataan Galih, "Jangan lakukan itu Galih, ku mohon."
Tapi Galih tidak peduli, lalu tangan Galih langsung mendorong tubuh Rosa ke jurang. Meski begitu, Rosa berusaha untuk berpegang pada sebuah batu, Galih yang melihat hal itu tersenyum tipis.
"Lihatlah sekarang dirimu, apakah pria itu datang untuk menyelamatkan mu?"
Galih tertawa senang saat mengatakan hal itu, tatapannya masih tertuju pada sosok Rosa yang tengah berusaha keras berpegang pada sebuah batu.
"Kau gila, Galih.." Maki Rosa dengan tangisan yang terdengar dari mulutnya.
"Kau yang telah mengkhianati ku, maka jangan salahkan aku jika berbuat lebih parah."
"Mas Reyhan.." Rosa berteriak memanggil nama pria itu.
Galih yang mendengar hal itu pun langsung marah, dia langsung menginjak kedua tangan Rosa dengan kakinya. Rosa nampak kesakitan, hingga perlahan pegangan Rosa pun terlepas.
Terdengar suara teriakan Rosa saat tubuhnya terjatuh ke jurang, Galih yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis.
Tak beberapa lama Galih pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.