Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 19



Sudah hampir 1 minggu Rosa merasakan kepalanya pusing dan perutnya mual-mual, hingga dia pergi ke rumah sakit sendiri untuk memeriksakan kondisi tubuhnya.


"Selamat yah, anda sedang mengandung."


Bagai petir disiang bolong, Rosa langsung diam dan tidak mampu berbicara sama sekali.


"Apa, hamil? Apa tidak salah, Dok?"


"Tidak, bu. Anda sedang hamil dan janin anda sekarang sudah menginjak 3 Minggu."


Antara senang dan bingung bercampur menjadi satu, dia senang karena dia hamil. Tapi dia bingung harus bagaimana sekarang karena ini anak Reyhan bukan anak Galih.


Rosa kini berjalan dengan bimbang, tangannya masih memegangi kertas hasil pemeriksaannya yang menunjukkan jika dia sedang hamil.


"Telpon, Paman. Dia harus tahu.."


Tapi mata Rosa langsung menyipit saat mendapatkan pesan dari Reyhan yang mengatakan jika pria itu pergi ke luar kota selama 1 Minggu, dan dia pergi ke daerah terpencil yang aga sulit sinyal.


Lalu Rosa langsung menelpon Reyhan tapi nomor pria itu tidak bisa di hubungi, "Apa yang harus ku lakukan sekarang, bagaimana jika Mas Galih tahu aku hamil."


Rosa pun mulai bingung, tapi untuk saat ini dia akan berusaha seperti biasa agar kehamilannya tidak di ketahui oleh Galih.


Kini Rosa berada di rumah, dia melihat Faldi dan Galih tengah bersantai di ruang keluarga.


"Darimana saja kau?" Faldi langsung menanyakan darimana Rosa pergi.


"Aku dari rumah sakit untuk memeriksa kesehatan ku."


"Cih.. Hanya sakit sedikit saja, kenapa harus di periksa buang-buang uang saja." Maki Faldi kesal.


Tapi Rosa enggan untuk menanggapi pembicaraan tersebut, dia langsung bergegas pergi ke kamar untuk beristirahat.


"Rosa." Tiba-tiba Galih langsung masuk ke dalam kamar Rosa.


"Ada apa?"


"Ku dengar jika Paman memberikan uang untukmu, mana uang nya?"


"Hah? Apaan sih Mas, datang-datang langsung minta uang."


"Jangan banyak ngomong, mana uang dari Paman ku?"


"Tidak ada, kamu kan kerja ngapain minta uang yang gak seberapa dari Paman."


"Heh? Kau ini istri ku jadi harus menuruti semua perkataan ku, lagi pula yang memberikan mu uang itu Paman ku. Jadi uang itu milik ku."


"Enggak ada,"


"Mana cepat," Galih langsung menarik tas Rosa dan mengambil uang yang ada di tasnya.


"Kembalikan, Mas. Paman memberikannya kepada ku untuk membeli kebutuhan ku."


"Enggak, ini uang ku."


"Kamu gila yah, kamu udah nyakitin aku sekarang kau juga mau rampas uang pemberian Paman untuk ku."


"Jaga mulutmu itu, ini semua untuk Melinda. Dia lebih membutuhkan uang ini daripada kamu," Galih langsung memarahi Rosa dengan jari yang menunjuk-nunjuk ke arah wanita di depannya.


"Gila kamu yah, kamu sampe rela ngabisin uang ratusan juta cuman buat wanita itu. Aku harap kau menjadi pria miskin dan melarat agar kau tahu bagaimana rasanya saat di campakkan oleh kekasih mu karena tidak memiliki uang."


Galih langsung marah dan kembali menampar Rosa, "Beraninya kamu mendoakan ku yang tidak benar, istri macam apa kau?!"


Setelah puas memaki Rosa, Galih langsung bergegas pergi meninggalkan Rosa sendirian di dalam kamar. Wanita itu hanya bisa menangis, dia ingin segera bercerai dengan Galih dan memulai kehidupan yang baru.


Di saat Rosa tengah putus asa, bi Marni tiba-tiba datang dengan membawa buah-buahan dan juga jus mangga.


"Nona, bagaimana keadaan Nona saat ini?" Bi Marni langsung menyimpan nampan di atas meja.


"Keadaan ku sudah membaik Bi."


"Bibi di tugaskan oleh Tuan untuk menjaga pola makan Nona, dan sekarang bibi juga membawakan buah-buahan dan juga jus mangga yang segar."


"Terimakasih, Bi. Tapi Paman sekarang pergi kemana?"


"Bibi juga kurang tahu, biasalah Non. Namanya juga pembisnis, jadi sering pergi keluar kota."


"Emm.. Begitu yah."


Bi Marni sedikit terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rosa. "Tahu, Nona."


"Sungguh? Menurut bibi apakah yang ku lakukan dengan Paman itu salah atau tidak?"


"Bagaimana yah, bibi menjawabnya. Di satu sisi salah tapi Bibi juga tahu bagaimana sikap Tuan Galih yang sangat tidak baik kepada Nona Rosa."


"Emm.. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada Bibi, tapi tolong jangan beritahu siapa pun kecuali Paman."


"Memangnya apa, Nona?"


"Saya hamil."


Bi Marni terkejut saat mendengar hal itu, "Alhamdulillah, mungkin setelah Nona hamil Tuan Galih akan sangat senang dan memperlakukan Anda dengan lebih baik."


Tapi Rosa langsung menggelengkan kepalanya, "Ini bukan anak Galih, ini anak Paman."


"Apa?!"


Bi Marni terkejut saat mendengar apa yang di katakan oleh Rosa, "Iya bi, tapi bibi jangan bilang siapa-siapa yah."


"Baik Nona."


"Tapi bagaimana jika Tuan Galih tahu tentang hal ini."


"Enggak akan kok, lagi pula sebelum anak ini lahir saya pasti sudah bercerai dengan Galih."


Rosa tersenyum saat mengatakan itu, lalu tangannya mengelus lembut perutnya sendiri.


"Saya harap, anak ini bisa lahir dengan sehat dan juga selamat."


"Amin."


"Pasti Tuan akan senang saat mendengar berita ini, jika dia akan menjadi seorang ayah."


"Iya, tapi saya belum memberitahukan hal ini kepada Paman karena handphone nya tidak bisa di hubungi."


"Kenapa tidak di chat saja, Nona?"


"Enggak deh, nanti aja saat Paman pulang."


Kini hari berjalan seperti biasa, Rosa tengah membantu Bi Marni untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Faldi dan juga Galih.


Hingga sarapan pun selesai di siapkan, Rosa langsung sarapan bersama dengan suami dan juga mertuanya.


Nampak Rosa kurang nafsu makan, rasa mual mulai datang. Tapi Rosa berusaha untuk menahan hal itu, tapi sekuat Rosa menahan dia pun tidak bisa terus menahan rasa mual itu.


Galih terdiam saat melihat Rosa tengah muntah-muntah, wanita itu langsung berlari ke kamar mandi.


"Ada apa dengan istrimu?"


"Aku tidak tahu."


Galih langsung menyusul Rosa ke kamar mandi, dia bisa melihat Rosa tengah muntah-muntah di wastafel.


"Kau kenapa?"


Tapi Rosa tidak menjawab dan terus memuntahkan isi perutnya, "Emm.. Mungkin aku hanya masuk angin."


"Masuk angin?"


Rosa langsung bergegas pergi meninggalkan Galih tanpa menjelaskan sepatah katapun. Kini Rosa berada di kamar dan tengah membaringkan tubuhnya.


Hingga tiba-tiba pintu terbuka, mata Rosa langsung terdiam saat melihat Galih bersama dengan seorang dokter.


"Kenapa kau membawa dokter?" Rosa sedikit panik.


"Aku hanya tidak tega melihatmu seperti ini, Dok tolong periksa istri saya." Pinta Galih.


"Tidak usah, aku baik-baik saja kok."


"Periksa saja Dok, aku tidak mau terjadi apa-apa kepada istri ku."


Lalu Dokter pun langsung memeriksa kondisi Rosa, "Selamat yah Pak, istri anda sedang hamil."