
Rosa kini berada di kamar, dia masih membayangkan benda besar milik Paman suaminya. Semakin Rosa membayangkan nya semakin besar gairah di dalam tubuhnya, Rosa mulai membayangkan jika dirinya di sentuh oleh Paman suaminya sendiri.
Hingga tanpa terasa hasrat dalam tubuhnya mulai bangkit, dan untuk kesekian kalinya Rosa kembali memuaskannya nafsunya sendirian.
Terdengar suara rintihan dari mulut mungil Rosa, tanpa Rosa sadari jika Reyhan mendengar suara rintihan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut Rosa.
Reyhan yang sudah tidak tahan pun langsung membuka pintu kamar Rosa, wanita itu seketika terkejut dan melihat ke arah Reyhan.
Rosa hanya bisa memalingkan wajahnya karena malu, setelah kepergok melakukan hal seperti itu. Tapi Reyhan langsung berjalan mendekat ke arah Rosa, "Aku yakin jika kau sudah sangat merindukan sentuhan itu." Bisik Reyhan.
"Paman, apa yang kau lakukan?" Rosa mulai terdiam saat pria itu menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Kini tubuh polos Rosa terpampang jelas di depan Rosa, dengan perlahan Reyhan langsung memainkan buah persik milik Rosa.
Wanita itu tidak bisa melawan ataupun menolak perlakuan Reyhan, apa yang di lakukan Reyhan membuatnya bisa merasakan kembali kenikmatan surga dunia.
Kini Rosa dan Reyhan saling berciuman satu sama lain, Reyhan dengan senyuman di wajahnya langsung membuka semua pakaiannya dan langsung memainkan setiap inci tubuh Rosa.
Wanita itu hanya bisa merintih dan menahan rasa nikmat yang dia dapatkan dari Paman suamiku, "Paman.." Rintih Rosa dengan nada pelan dan nafas yang sudah terengah-engah.
Reyhan mulai mengangkat paha Rosa, wanita itu hanya bisa pasrah dengan tatapan mata yang lemas.
Kini Reyhan bisa merasakan kenikmatan surga dunia yang selalu orang-orang katakan, dan benar saja rasanya sangat nikmat.
Rintihan demi rintihan terus terdengar dari mulut mungil Rosa, bahkan kenikmatan yang di berikan Reyhan lebih nikmat dari pada saat bersama dengan Galih.
"Paman.. Uh.." Rosa langsung memeluk pria itu dengan erat, tangannya mulai meremas rambut pria di atasnya.
Reyhan pun tidak mau kalah, dia langsung memainkan ujung buah persik milik Rosa dengan lidahnya.
Rosa tersenyum bahagia, selama ini dia sangat menginginkan kenikmatan seperti ini. Tapi Galih bahkan tidak pernah mau melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Hingga berjam-jam bermain bersama Rosa langsung terlelap dalam tidurnya, keringat terus membasahi seluruh tubuh wanita itu. Begitu juga dengan Reyhan, dia sangat bahagia bisa menikmati tubuh indah Rosa.
Meski Reyhan tahu apa yang dia lakukan dengan Rosa itu sebuah kesalahan, karena Rosa adalah istri dari keponakannya.
Dengan perlahan Reyhan menyelimuti tubuh indah Rosa, lalu sebuah kecupan pun mendarat di kening Rosa. Untuk pertama kalinya ada perasaan ingin memiliki seorang wanita di benak Reyhan, dia ingin menjadikan Rosa sebagai miliknya seorang.
Tapi hal itu mustahil karena Rosa masih menjadi istri keponakannya, perlahan Rosa membuka matanya. Dia masih bisa melihat sosok Reyhan yang tengah duduk seraya menghisap rokok miliknya.
"Paman.." Panggil Rosa.
Reyhan langsung melihat ke arah wanita di sampingnya, "Kenapa kau sudah bangun,"
"Apa yang telah kita lakukan kan? Apa ini nyata?" Rosa masih tidak percaya jika dia telah melakukan hubungan badan dengan Paman suaminya sendiri.
Reyhan langsung memeluk Rosa dan mencium bibirnya dengan lembut, "Iya, ini nyata. Rosa." Jawab Reyhan dengan tangan yang membelai wajah Rosa.
"Tapi ini salah, aku istri keponakan mu."
"Sut... Jangan katakan hal itu lagi, Rosa. Aku tidak ingin kau membahas tentang Galih, kini kau adalah milik ku. Kau wanita ku.." Bisik Reyhan.
"Ah.. Paman.." Rosa merintih saat Reyhan mulai meremas dadanya.
Setelah puas menggoda Rosa, Reyhan langsung mengelus rambut wanita itu dan mencium keningnya dengan lembut.
Rosa pun tersenyum, entah kenapa hatinya terasa senang saat Reyhan memperlakukannya seperti ini. Dari dulu Rosa tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh Galih, jangankan bersikap manis pria itu hanya bisa memaki Rosa dengan kalimat yang kasar.
Kini Rosa sudah tertidur di dalam pelukan Reyhan, pria itu tersenyum dengan tangan yang membelai wajah cantik Rosa.
"Kau akan menjadi milik ku, dan akan ku pastikan kau berpisah dengan Galih. Cepat atau lambat..."
*
*
Hari sudah mulai menjelang malam, Galih tiba-tiba datang bersama dengan Melinda. Reyhan pun hanya bisa menemui mereka berdua meski tubuhnya terasa sangat lelah setelah kegiatan panasnya dengan Rosa.
"Jadi ada apa kalian berdua datang ke sini?"
"Aku ingin memperkenalkan kekasih ku, Melinda."
"Iya aku sudah tahu, lalu?"
Galih langsung tersenyum kaku, "Paman, maafkan aku atas apa yang telah ku lakukan tempo hari. Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi kepada Rosa."
"Ya sudah, tapi menurut ku. Hal wajar jika kau melakukan hal seperti itu."
"Sungguh?"
"Iya karena Rosa memang wanita yang menyebalkan, tapi jika kau tidak menyukainya kenapa kau tidak bercerai saja dengan wanita itu." Reyhan langsung memancing dan pura-pura mendukung Galih agar pria itu mau menceraikan Rosa.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu karena ayah masih ada, dan dia tidak akan pernah setuju dengan perceraian ku."
Reyhan hanya diam dan enggan untuk menjawab. "Dimana Rosa, paman?" Galih tiba-tiba menanyakan keberadaan Rosa yang tidak terlihat sama sekali.
"Oh, Rosa sedang tidur."
"Tidur? Di sini dia terlalu di manja, bahkan baru jam 7 malam dia sudah tidur. Paman, kau harus bersikap lagi lebih tegas kepada Rosa, meski kau ingin memukul atau menyiksa Rosa karena sikapnya aku tidak akan melarang mu, Paman."
"Baik, aku akan melakukan itu." Reyhan hanya tersenyum, tentu saja dia akan menyiksa Rosa di atas ranjang.
Karena hari sudah menjelaskan malam Reyhan langsung menyuruh keponakannya untuk segera pergi dari rumahnya.
Kini Reyhan berjalan ke kamar Rosa, dia melihat wanita itu tengah berbaring di atas ranjang.
"Tadi Galih datang ke sini, dia membawa kekasihnya juga."
Rosa yang mendengar hal itu hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa menurut, Paman. Aku orang yang sangat jelek?"
Reyhan langsung memeluk Rosa dari belakang, "Siapa yang mengatakan itu? Kau adalah wanita yang paling cantik. Galih itu pria buta, bahkan dia tidak bisa membedakan mana batu kristal dan batu krikil." Bisik Reyhan.
"Tapi kenapa, Mas Galih tidak pernah membuka hatinya untuk ku."
"Sut... Sudah jangan bahas hal itu lagi, jika Galih tidak bisa membuka hatinya untuk mu. Kau tenang saja, masih ada aku."
"Tapi kau Pamannya Mas Galih,"
"Lalu jika aku pamannya memangnya ada masalah? Selagi kita tidak memiliki hubungan darah itu tidak masalah."