
Pelayan itu terdiam dengan wajah bingung, "Maaf Mbak, saya pesan makanan ini dan juga minuman yang ini."
Dokter Andri langsung memotong pembicaraan tersebut, pelayan pun langsung mengalihkan pandangan kepada Andri dan menuliskan pesanan miliknya dan juga milik Rosa.
Pelayan pun langsung bergegas pergi, Rosa masih menatap ke arah pelayan dengan tatapan bingung.
"Mas, dia mengenalku. Mungkin dia tahu aku siapa dan keluarga asli ku."
Rosa langsung mengatakan hal itu kepada Andri, tapi pria itu hanya tersenyum.
"Iya dia pasti tahu nama mu karena dia melihat kalung yang ada di lehermu."
Rosa pun terdiam dengan tangan yang menyentuh kalung di lehernya, tatapannya pun mulai sendu dia kira dirinya akan bisa bertemu dengan keluarganya.
Kini makanan yang di pesan pun datang Rosa dengan santai langsung memakan makanannya, bahkan dia nampak biasa saja saat memotong daging dan tidak terlihat orang yang baru pertama kali.
Andri yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, hingga kini mereka selesai makan siang.
"Bagaimana, apa makanannya enak?" Andri langsung melihat ke arah Rosa dengan tatapan lembut.
"Iya enak." Rosa merasakan perasaan tidak asing saat dirinya makan, dia seperti pernah memakan makanan itu sebelumnya.
Lalu Andri langsung mengajak Rosa untuk masuk ke dalam mobil, pria itu langsung mengantarkan Rosa pulang ke rumahnya.
"Apa saat di pasar ada pria yang menggoda mu?"
"Emm.. Tidak ada,"
Andri langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, matanya sesekali melirik ke arah Rosa.
*
*
Reyhan yang berjalan mondar-mandir untuk mencari Rosa di area pasar, bahkan dia juga menyuruh bawahannya untuk ikut mencari Rosa.
Tapi Reyhan sama sekali tidak menemukan keberadaan wanita itu, Rosa seperti kembali hilang di telan bumi.
"Maaf Tuan, di area sebelah sana kami tidak menemukan Rosa." Seorang bawahan Reyhan langsung melaporkan hal itu.
"Terus mencari, aku ingin kalian menemukan wanita itu."
"Tapi Tuan, bagaimana jika Nona Rosa pergi ke luar kota menggunakan bis."
Mendekati pendapat dari bawahannya, Reyhan langsung berpikir sejenak. Lalu dia langsung menelpon asistennya untuk menunda semua keberangkatan bis ke luar kota, dan Reyhan pun segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Rosa di setiap terminal.
Tapi meski begitu Reyhan sama sekali tidak bisa menemukan Rosa, "Apa Bi Marni salah lihat?" Gumam Reyhan yang tengah berada di dalam keputusasaan.
Kini Reyhan hanya bisa duduk di taman, pikirannya masih tertuju pada sosok Rosa. Lalu matanya perlahan melihat ke arah sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan dengan membawa seorang bayi.
Jika Rosa masih ada di sampingnya mungkin saat ini dia sudah menjadi seorang ayah. Reyhan mulai memejamkan matanya, sosok wanita pun datang menghampiri Reyhan.
Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan dingin dan tajam.
"Ada apa kau kemari?"
"Sebaiknya kau pergi, Sheila."
"Tidak, aku psikiater mu. Reyhan, jika kau terus seperti ini kau akan kembali depresi dan kau akan sakit-sakitan."
Sheila merupakan psikiater Reyhan karena selama beberapa bulan, Reyhan mengalami depresi setelah kepergian Rosa.
"Itu urusan ku dan bukan urusanmu, lagi pula aku sudah meminta mu untuk tidak mengurusi kehidupan ku lagi."
"Tidak bisa, aku ini psikiater profesional dan aku tidak akan membiarkan pasien ku menderita."
Reyhan yang kesal pun langsung pergi meninggalkan Sheila begitu saja, "Tunggu, kau mau kemana?" Sheila langsung mengejar Reyhan.
"Aku akan pergi mencari kekasih ku dan sebaiknya kau jangan pernah mengganggu ku."
Tapi Sheila langsung menarik tangan Reyhan, "Lepaskan." Reyhan langsung menghempaskan tangan Sheila.
"Ini semua demi kebaikan mu, kau harus melupakan wanita itu."
"Atas dasar apa kau menyuruhku melakukan hal itu?"
"Atas dasar aku ini psikiater mu dan aku yang bertanggung jawab atas kesehatan mental mu. Semakin kau memikirkan wanita itu, mental mu semakin tidak baik."
"Jaga mulutmu itu."
Reyhan langsung bergegas pergi, dia sangat kesal mendengar perkataan dari Sheila meski wanita itu sudah di usir ratusan kali oleh Reyhan. Tapi seakan tidak mengenal lelah, Sheila kembali datang.
Reyhan langsung masuk ke dalam mobil, dia segera pergi menuju ke sebuah restoran tempatnya dulu sering makan bersama dengan Rosa.
Di saat Reyhan tengah duduk, tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberikan buku menu untuk Reyhan.
"Pak Reyhan, anda datang?"
"Emm.." Tapi Reyhan hanya menjawab singkat dengan tatapan mata yang mengabaikan keberadaan pelayan itu.
"Tadi Nona Rosa juga datang ke sini, tapi tidak biasanya dia datang bersama dengan pria lain."
Reyhan langsung terdiam dan segera mengalihkan pandangannya ke arah pelayan.
"Apa kau serius?"
"Iya Pak Reyhan, saya serius."
"Tadi kau mengatakan jika dia sedang bersama dengan pria lain? Apa kau tahu siapa namamu?"
"Namanya jika tidak salah Pak Andri."
Reyhan langsung terdiam, kini dia mulai memikirkan apa yang di katakan oleh Pelayan dan juga Bi Marni.
Jadi selama ini Rosa masih hidup, tapi kenapa dia tidak datang mencari Reyhan. Lalu siapa pria yang bersama dengan Rosa.
Semua pikiran itu terus terngiang-ngiang di kepala Reyhan, dia ingin sekali mengetahui alasan Rosa tidak datang menemuinya dan siapa pria yang bersama dengan Rosa.