Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 17



Tamparan langsung mendarat di pipi Galih, pria itu hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Dasar anak yang tidak berguna, kenapa kau meminjam uang sebanyak itu kepada Pamanmu. Kau habiskan kemana semua uang itu?"


"A..ku.. habiskan untuk..." Tapi Galih tidak sanggup untuk mengatakan apa yang sebenernya terjadi.


Lalu Faldi langsung memanggil Rosa untuk datang ke kamarnya, "Rosa, apa kau yang telah membuat suami mu untuk meminjam uang sebanyak itu kepada Pamannya."


Tiba-tiba Faldi langsung bertanya kepada Rosa, tapi kalimat itu terdengar seperti sebuah tuduhan.


"Tidak, aku tidak pernah menyuruh ataupun meminta uang kepada Mas Galih."


"Bohong.. Jika bukan kamu yang menyuruh Galih untuk meminjam uang kepada Reyhan, mana mungkin sekarang Galih memiliki hutang sebanyak itu kepada Reyhan."


"Kenapa ayah malah menuduh ku? Harusnya kau tanya kepada putra mu dengan siapa, dia menghabiskan semua uang-uang itu." Rosa langsung marah dengan tuduhan yang di lontarkan oleh ayah mertuanya.


"Rosa, apa yang kau katakan? Bukankah aku yang membiayai semua kebutuhan mu, bahkan make up dan pakaian yang sekarang kau pakai? Lihatlah sekarang kau cantik seperti ini, bukankah semua ini dari uang-uang yang ku pinjam dari Paman." Galih tiba-tiba langsung mengatakan hal itu.


Rosa terdiam dengan wajah terkejut sekaligus marah karena pria itu malah membuatnya menjadi korban. "Apa? jangan ngaco kalau ngomong. Sejak kapan kau membiayai semua kebutuhan ku, yang ada kau malah membiayai selingkuhan mu itu."


"Apa selingkuhan? Siapa?" Faldi langsung terkejut saat mendengar perkataan Rosa.


"Siapa lagi jika bukan Melinda, Galih dan wanita itu masih menjalin hubungan asmara." Sambung Rosa.


"Apa itu benar, Galih?" Faldi langsung mengalihkan tatapannya pada Galih.


"Tentu saja tidak, Rosa ada apa dengannya? kenapa kau memfitnah suami mu sendiri." Galih langsung mengelak dan malah menyalahkan Rosa.


"Jadi siapa yang harus ku percaya?" Faldi langsung bertanya dengan nada tinggi.


"Tentu saja aku, aku anakmu mana mungkin aku berani membohongi mu." Galih langsung menggunakan hubungan darah dengan ayahnya agar mendapatkan keadilan untuk dirinya sendiri.


"Baiklah, Rosa. Kamu sebagai seorang istri sama sekali tidak bisa berbakti kepada suami mu, kau sudah menghabiskan semua uang-uang Galih untuk memenuhi gaya hidup mu dan sekarang kau juga malah memfitnah suami mu berselingkuh dengan wanita lain."


"Aku sama sekali tidak pernah menghabiskan uang Mas Galih sepeserpun dan aku juga tidak pernah memfitnahnya, yang ku bicarakan memang fakta yang sebenarnya."


"Alasan, setelah kau tinggal di kota. Kau malah menjadi seorang istri yang tidak berbakti lagi kepada suami mu dan juga mertua mu." Faldi langsung menceramahi menantunya dengan nada yang sedikit keras.


"Terserah kalian saja."


Rosa langsung bergegas keluar dari kamar Faldi, dengan mata yang berkaca-kaca Rosa langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan Galih pun langsung menyusul Rosa, "Kenapa kau mengatakan jika aku selingkuh? Apa kau gila." Maki Gali marah.


"Kau yang gila, kau mengatakan aku menghabiskan uang mu yang kau gunakan bersama Melinda. Apa kau tidak waras, menjadikan ku kambing hitam." Rosa langsung balik memarahi suaminya..


"Apa salahnya sih membantu ku, kenapa kau harus marah?"


"Membantu, aku tidak mau membantu yang pada akhirnya malah aku yang harus menanggung kesalahan yang bahkan bukan aku yang melakukannya."


"Kau semakin hari semakin membuatku marah, sejak tinggal di sini kau menjadi sering melawan kepada ku."


"Manusia itu ada batas sabarnya, Mas. Dulu aku bisa sabar tapi sekarang kesabaran ku sudah hilang, dan aku tidak mau lagi mentoleransi perilaku buruk mu itu."


"Jaga mulutmu itu, Rosa. Apa ini cara bicaramu kepada suami mu sendiri? Kau bahkan tidak memperlakukan dengan baik."


"Bersikap baik? Selama ini aku selalu bersikap baik kepada mu tapi apa balasan yang ku dapat? Malah penghinaan dan cacian dari mulut mu itu."


Galih yang marah langsung menampar pipi istrinya, tapi bukan hanya sampai di situ saja. Galih langsung mendorong dan mencekik leher Rosa.


"Rosa, apa kau baik-baik saja." Reyhan langsung panik.


"Khuk.. Khuk.. Khuk... Aku baik-baik saja, Paman."


Reyhan langsung menatap tajam ke arah Galih, "Apa yang kau lakukan, kau hampir membunuh istri mu sendiri."


"Paman, sebaiknya kau jangan ikut campur. Ini urusan ku dan juga Rosa."


"Jelas aku ikut campur, kau hampir membunuhnya dan ini sudah termasuk tindakan kriminal. Aku bisa saja melaporkan mu ke polisi."


"Tapi dia telah melawan kepada ku, sikapnya sangat buruk dan aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada wanita itu."


"Memberikan pelajaran dengan kekerasan? apa kau gila, itu bukan ingin memberikan pelajaran tapi kau ingin menyiksanya."


Di saat Galih dan Reyhan tengah beradu mulut, Faldi langsung datang dan menghentikan Reyhan agar tidak terus memaki putranya.


"Hentikan, jangan marahi Galih. Memang Galih salah tapi tidak sepenuhnya dia juga salah. Jika Rosa menjadi istri yang baik dengan menuruti semua keinginan Galih, mana mungkin Galih sampai melakukan hal itu."


"Kekerasan seperti itu tidak bisa di benarkan, mau seberapa menjengkelkan seorang wanita. Melakukan kekerasan kepadanya termasuk tindak kriminal."


Faldi langsung terdiam saat melihat tatapan mata Reyhan yang menatapnya dengan tajam, lalu Reyhan langsung menarik tangan Rosa dan membawanya ke rumah sakit.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah hampir membunuh Rosa, jika dia mati bagaimana? apa kau ingin di penjara?" Faldi langsung memaki putranya.


"Maafkan aku ayah, aku terbawa emosi saat itu. Lagi pula Rosa terus melawan kepada ku,"


"Aku tahu itu, tapi jangan sampai kau mengulangi hal itu lagi. Aku tidak mau jika kau sampai di penjara, kau harus memikirkan masa depanmu."


"Baik ayah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Kini Reyhan tengah berada di rumah sakit, tatapan matanya melihat ke arah Rosa yang tengah berbaring di atas ranjang.


Setelah di periksa keadaan Rosa baik-baik saja, hanya dia dia mengalami sedikit depresi.


Mengingat hal itu membuat Reyhan semakin geram dengan apa yang di lakukan oleh Galih kepada Rosa, pria itu memang tidak pantas menjadi seorang suami.


"Paman, kau kenapa?"


"Aku hanya marah saja kepada Galih."


Rosa hanya tersenyum tipis. "Apa aku bisa pulang sekarang?"


"Tidak, kau menginap dulu beberapa hari di rumah sakit."


"Tapi untuk biayanya?"


"Kau jangan memikirkan masalah biaya, itu semua biar aku yang tanggung."


"Terimakasih, Paman."


"Rosa, aku berjanji akan membuatmu cepat-cepat bercerai dengan pria itu."


Rosa tersenyum bahagia saat mendengar hal itu, untuk pertama kalinya dia merasakan perasaan hangat dan penuh kasih dari seorang pria.