Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 22



Galih tengah berjalan santai masuk ke dalam perusahaan tempatnya bekerja tapi sosok pria berjas rapi langsung menghalangi Galih.


"Bos, ada apa?" Galih nampak bingung melihat bos nya sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Mulai hari ini kau tidak perlu lagi datang ke perusahaan ku."


"Apa? Tapi kenapa?"


"Kau di pecat, dan kau bisa mengambil sisa gajih dan juga pesangon mu."


"Tidak bisa, apa alasannya aku di pecat. Selama ini kinerja ku bagus."


"Harusnya kau tanya pada dirimu sendiri, kau telah menyinggung pemilik perusahaan besar dan yang kau lakukan juga hampir membuat perusahaan ku bangkrut."


"Pemilik perusahaan besar, apa jangan-jangan Paman?"


Galih pun langsung di usir dari perusahaan setelah mengambil sisa gajih dan juga pesangon, rasa marah dan kesal terus membawa di benak Galih.


"Dasar pria licik, dia menggunakan kekuasaannya untuk menekan ku."


Kini Galih pun langsung pulang ke rumahnya tapi matanya langsung menatap ke arah dua polisi yang tengah berada di rumahnya.


"Ada apa ini?"


"Pak Galih, anda kami tahan atas kasus KDRT dan juga pembunuhan kepada saudara Rosa."


"Apa maksudnya ini? Jangan asal ngomong kalian yah."


Galih langsung panik dan juga takut, dia tidak ingin di penjara.


"Anda bisa menjelaskan semua di kantor."


Kedua polisi itu langsung menangkap Galih dan langsung membawanya ke dalam mobil, Faldi yang melihat hal itu hanya bisa menangis dan langsung pergi ke tempat Reyhan.


Tapi saat Faldi sudah sampai di depan rumah Reyhan, pria itu langsung di halangi oleh satpam dan tidak di izinkan masuk.


"Apa yang kau lakukan, cepat buka gerbangnya. Aku ingin bertemu dengan adik ku."


"Maaf Pak Faldi, saya sudah di beritahu jika anda tidak di izinkan lagi masuk ke rumah Pak Reyhan."


"Gila kalian yah, saya ini kakaknya."


"Maaf tapi ini perintah dari Pak Reyhan sendiri."


Faldi yang kesal pun langsung menerobos masuk dengan mendorong satpam, dia segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Reyhan.


Rupanya Reyhan tengah duduk dan bersantai di ruang keluarga.


"Reyhan, apa maksudmu melaporkan anak ku ke polisi."


Reyhan langsung melihat ke arah Faldi dengan tatapan dingin dan tajam, "Siapa kau, beraninya masuk ke rumah ku tanpa izin."


"Beraninya kau mengatakan itu, aku Kakakmu dan Galih itu keponakan mu tapi kau tanpa punya rasa malu malah memenjarakan keponakan mu sendiri."


"Kakak? Apa kau ingat yang kalian katakan kepada ku saat itu, dan apa kau ingat apa yang ku katakan saat itu? Jika aku akan membuat kalian menderita dan mengambil apa yang sudah kalian saat ini miliki."


Faldi terdiam, lalu dia berusaha untuk meminta maaf kepada Reyhan atas apa yang telah mereka lakukan.


"Baiklah, aku akan memaafkan hal itu. Tapi aku ingin mendengar apa yang sebenarnya terjebak pada Rosa hari itu, aku yakin kau pasti tahu banyak tentang hal itu."


"Baiklah, tapi berjanji kepada ku jika kau tidak akan pernah menjebloskan Galih ke penjara."


"Katakanlah.."


Mendengar hal itu Reyhan hanya diam, meski di dalam hatinya dia sangat marah dan kesal.


"Aku sudah menceritakan semuanya kepadamu, jadi kau bebaskan putra ku hari ini juga."


"Kau tenang saja, lagi pula mencabut laporan tidak bisa di lakukan dalam sehari. Jadi kau harus menunggu." Reyhan menyeringai saat mengatakan itu.


"Baiklah, aku percaya."


Setelah itu Faldi langsung bergegas pergi dengan perasaan senang karena putranya akan segera bebas.


"Tuan, apa kau akan membebaskan Tuan Galih?" Bi Marni tiba-tiba datang.


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku melepaskan pria itu dengan sangat mudah."


Kini hari berjalan seperti biasa, tapi Faldi nampak bingung karena sampai saat ini Reyhan tidak mencabut laporannya.


Faldi sekarang berada di kantor polisi untuk menunggu kedatangan Reyhan, nampak Galih sudah sangat putus asa dengan keadaannya saat ini.


Dan di saat situasi terpuruknya, Melinda sama sekali tidak datang sama sekali untuk mengunjungi Galih.


Kini Reyhan datang, dia membawa seorang pengacara untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan Galih.


"Syukurlah, kau datang. Pak Polisi cepat buka borgol anak saya, lagi pula laporannya akan di cabut."


"Siapa yang mengatakan jika laporannya akan di cabut?" Tiba-tiba Reyhan langsung angkat bicara.


Mendengar hal itu Faldi menatap ke arah Reyhan, "Apa maksudmu, bukankah kau sudah janji akan membebaskan putra ku?"


"Kapan aku berjanji? Apa kau memiliki bukti jika aku akan membebaskan putramu?"


"Kau! Kemarin kau mengatakan hal itu, beraninya kau membohongi ku."


"Mengatakan kapan? apakah tertulis di atas materai jika aku akan membebaskan anakmu?"


"Tapi waktu itu kau mengatakan akan mencabut laporan itu, tapi kenapa sekarang kau malah tidak melakukannya."


"Ah, waktu itu aku bilang akan memaafkan bukan mencabut laporan, sepertinya telinga mu kurang baik."


Faldi langsung terduduk lemas, dan tidak menyangka jika Reyhan akan membohonginya.


"Pak polisi, saya tidak akan mencabut laporan ini tapi akan membawanya ke pengadilan."


Lalu pengacara Reyhan pun langsung memberikan banyak bukti yang memberatkan Galih.


"Galih, aku akan pastikan jika kau mendekam di penjara." Reyhan hanya tersenyum dengan tatapan mengejek.


"Paman, ku mohon lepaskan aku. Aku memiliki masa depan yang cerah, apa kau tega melakukan hal itu kepada ku." Pinta Galih dengan setengah berteriak.


"Saat Rosa mengatakan hal sama, apa kau tidak kasihan melihatnya?"


Galih langsung terdiam saat mendengar hal itu, setelah mengatakan itu. Reyhan langsung bergegas pergi meninggalkan Galih dan juga Faldi.


Semakin lama melihat Galih, rasa marah di hatinya terus menggebu-gebu.


Nampak Nadia pengacara Reyhan pun meras simpati saat melihat kliennya seperti itu, "Pak Reyhan, apa anda baik-baik saja?"


"Iya, saya baik." Reyhan langsung menepis tangan Nadia yang hendak menyentuh pundaknya.


Setelah itu Reyhan langsung masuk ke dalam mobilnya, mata Nadia terus melihat ke arah Reyhan. Sosok pria yang menjadi idaman setiap wanita, ia tidak pernah menyangka akan menangani masalah ini.


Dan Nadia juga sangat penasaran dengan sosok Rosa yang sangat di perhatikan oleh Reyhan.