Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 14



Melinda dengan raut wajah marah langsung membuka pintu kantor tempat Galih bekerja, pria itu seketika menatap Melinda dengan tatapan terkejut.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Maki Galih karena dia takut jika atasannya akan melaporkan hal ini kepada ayahnya.


"Selama ini kau kemana saja? Aku sudah menghubungi mu tapi kau bahkan tidak pernah menjawab satu pun panggilan dari ku."


"Aku sedang sibuk."


"Alasan, terus kenapa kau tidak mengatakan jika ayahmu ada di sini."


"Darimana kau tahu jika ayah ku sedang ada di Jakarta."


"Dari Rosa, dia telah mempermalukan ku di depan umum dan semua itu gara-gara kau." Melinda langsung melampiaskan semua amarahnya kepada Galih.


Pria itu tanpa segan-segan langsung melayangkan sebuah tamparan pada pipi kekasihnya, Melinda seketika terdiam dengan raut wajah tidak percaya.


"Kau baru saja menampar ku?" Melinda langsung menatap Galih dengan tatapan marah dan mata yang berkaca-kaca.


Galih seketika langsung menyesali apa yang telah dia lakukan kepada Melinda, "Sayang, maafkan aku. Aku tidak sengaja."


Tapi Melinda langsung mendorong tubuh pria di depannya, "Selama kita bersama bertahun-tahun, baru kali ini kau menampar ku. Ternyata benar apa yang di katakan Rosa, jika kau sudah bosan dengan ku.


"Jangan dengarkan ucapannya, aku sangat mencintaimu mana mungkin aku bosan denganmu." Galih langsung memeluk tubuh Melinda dan berusaha untuk menenangkan kekasihnya.


"Lepaskan, jangan sentuh aku. Aku jijik sama kamu." Melinda langsung kembali mendorong tubuh Galih dengan marah, saat Melinda hendak pergi Galih kembali menahan tangan Melinda.


"Sayang, ku mohon maafkan aku. Aku sungguh sangat mencintaimu."


"Kau bohong, kau sudah tidak mencintai ku lagi."


"Aku bersungguh-sungguh, kau ingin sesuatu? Katakan lah, sebagai tanda permintaan maaf ku kepada mu."


"Sungguh? Kau akan mengabulkan apa yang ku inginkan?"


"Iya, tentu. Aku pasti akan mengabulkan keinginan mu."


"Aku ingin kau mengakui pada semua orang jika kau milik ku dan begitu juga kepada Ayahmu, aku tidak ingin hanya menjadi kekasih gelap mu saja."


"Apa? Itu tidak bisa, aku tidak mungkin melakukan itu. Jika seperti itu, reputasi ku akan hancur. Semua orang tahu, jika aku adalah pria yang menyayangi istri ku dan aku tidak mungkin mengatakan jika aku memiliki wanita lain."


"Ternyata kau memang tidak pernah mencintaiku."


"Tentu aku sangat mencintaimu."


"Kau bilang mencintai ku, tapi untuk mempublikasikan hubungan kita saja kau tidak berani."


"Oke... Beri aku waktu untuk mengatakan hubungan kita kepada ayah ku."


"Kamu masih butuh waktu? Galih, kita bersama sudah bertahun-tahun dan sekarang kau masih mengatakan butuh waktu, mau sampai kapan? Lama-lama aku juga lelah jika terus seperti ini."


"Sayang, aku tahu kau pasti lelah. Tapi ku mohon, aku melakukan ini semua demi kita. Demi hubungan kita, aku berjanji aku pasti akan mengatakan jika kita masih bersama kepada ayah ku."


"Pembohong... Aku sudah tidak percaya dengan perkataan manis mu itu, dan dulu kau mengatakan akan menunggu sampai ayahmu mati. Tapi mau kapan? Bagaimana jika ayahmu panjang umur. Apa harus berpuluh-puluh tahun lagi sampai kita bersama? Aku tidak bisa menunggu selama itu, Galih."


"Oke sayang.. Ku mohon, untuk sekali ini saja tolong beri aku waktu." Pinta Galih.


"Oke, ku beri waktu satu bulan. Jika kau masih tidak sanggup untuk mengatakan hubungan kita ke ayahmu, aku minta kita berpisah."


"Baik sayang."


"Oke jadi sekarang, kita pulang dan jangan pernah membahas masalah ini lagi." Pinta Galih dengan mata yang langsung melihat ke arah Melinda dengan lembut.


"Oke, tapi aku ingin kita pergi ke restoran untuk makan."


"Baiklah sayang, selain itu apa kau juga mengingatkan sesuatu?"


"Aku ingin kau membawa Rosa sekalian, hari ini."


"Untuk apa membawa Rosa?"


"Ya pokoknya bawa saja dia bersama kita untuk makan."


Melinda langsung tersenyum licik, dia ingin sekali membuat Rosa merasakan cemburu saat melihat suaminya malah bermesraan dengan wanita lain di depan matanya.


"Baiklah, aku akan menelponnya."


Galih langsung menelpon Rosa, "Rosa kau dimana?"


"A..ku di.. salon. Ada apa?"


Galih mengerutkan keningnya saat mendengar nada bicara Rosa.


"Kau sedang apa? Kenapa bicaramu seperti itu? Lalu suara apa itu?"


"Aku sedang di salon dan sedang banyak orang jadi berisik, ada apa?"


"Aku ingin mengajakmu makan, kau di salon mana? Aku akan menjemputmu sekarang."


"Tidak, aku sudah makan. Kau makan saja sendiri atau ajak kekasih mu itu."


Tanpa mendengar jawaban Galih, Rosa langsung mematikan panggilan dari suaminya.


"Bagaimana?"


"Rosa tidak bisa ikut, jadi dia menyuruh ku untuk makan bersama mu saja tanpa mengajak nya."


Melinda langsung menatap kesal dan jengkel, bagaimana bisa wanita itu dengan santai menolak ajakan makan bersama dengan Galih.


"Bagaimana, kau ingin makan di restoran apa?"


"Restoran seperti biasa."


Galih dan Melinda pun langsung bergegas pergi ke restoran tempat mereka biasa makan, mata Melinda menunjukkan rasa jengkel dan kesal. Ia ingin sekali membuat Rosa merasakan rasa malu yang ia alami sebelumnya.


"Sayang kamu kenapa sih?" Galih langsung menoleh ke arah Melinda saat melihat raut wajah kekasihnya yang seperti sedang kesal.


"Iya, aku kesal. Aku masih kesal dengan Rosa, wanita itu telah mempermalukan ku di depan umum."


Melinda kembali meluapkan amarah di hatinya kepada Galih tentang sikap Rosa, meski pada kenyataannya Melinda lah yang memulai semua ini.


"Iya sayang sabar dulu, aku akan memberikan pelajaran kepada Rosa. Jadi sekarang kau tenangkan dirimu, sayang."


"Oke, aku sudah sabar. Tapi mau sampai kapan? Aku terus di hina-hina oleh wanita itu? Mau sampai kapan, aku juga punya hati. Aku juga punya harga diri."


"Iya sayang, aku tahu. Jadi sekarang kita bersabar dulu, aku yakin Tuhan akan bersikap adil saat melihat orang baik seperti mu telah dianiaya."


"Iya sayang, aku akan sabar seperti apa yang kau katakan.".