
Rosa berjalan dengan santai ke dalam rumah, dia sengaja pulang duluan. Sementara Reyhan, akan menunggu beberapa saat untuk masuk ke dalam rumah agar orang-orang tidak mencurigai hubungan mereka berdua.
"Darimana saja kau?" Tiba-tiba Ayah mertua Rosa langsung bertanya kepada wanita itu.
"Aku dari salon."
"Kau ini, baru juga beberapa bulan tinggal di kota. Kau sudah hidup berfoya-foya seperti itu, harusnya kau berhemat kasihan Galih, dia banting tulang menghasilkan uang dan kau malah menghabiskannya hanya untuk perawatan tubuh."
"Ayah, apa kau sudah makan?" Rosa langsung mengalihkan pembicaraan agar mertuanya tidak lagi memakinya.
"Jangan mengalihkannya pembicaraan,"
Di saat Faldi tengah memarahi Rosa, Reyhan pun langsung datang.
"Ada apa ini?"
"Aku sedang memberikan pelajaran kepada menantu ku yang selalu berfoya-foya,"
"Berfoya-foya?"
"Iya, dia pergi ke salon dengan menggunakan uang Galih. Aku hanya ingin, Rosa hidup dengan sedikit berhemat."
"Oh, Rosa pergi ke salon menggunakan uang ku, bukan uang Galih."
"Apa? Kau jangan membela Rosa dengan mengatakan hal itu, Reyhan."
"Untuk apa membela? Lagi pula, aku bukan orang yang suka mengakui suatu hal yang tidak ku lakukan, dan lagi selama ini Galih tidak pernah memberikan uang kepada Rosa. Jadi menurutmu, Rosa wanita yang boros? Bahkan dia sama sekali tidak pernah di berikan uang oleh suaminya sendiri, lalu bagaimana cara dia menghabiskan uang suaminya sementara suaminya sendiri, tidak pernah memberikan uang kepadanya."
Faldi langsung terdiam saat Reyhan mengatakan hal itu. "Rosa, sebaiknya kau pergi ke kamar mu." Reyhan langsung menyuruh Rosa untuk segera pergi ke kamarnya.
"Baik Paman."
Faldi langsung melihat ke arah Reyhan yang tengah duduk dengan tangan yang sedang membetulkan jam tangan miliknya.
"Kenapa kau memanjakan anak itu?" Faldi nampak protes dengan sikap Reyhan yang menanjak Rosa.
"Memangnya kenapa? Bukankah dia istri galih, itu artinya dia juga keponakan ku."
"Aku tidak suka."
"Lalu?"
"Reyhan, aku mendidik Rosa untuk menjadi seorang istri yang tidak suka foya-foya ataupun melakukan perawatan, seperti wanita pedesaan pada umumnya. Bukan seperti wanita kota, tapi sekarang kau malah membuatnya Rosa menjadi wanita kota yang hobi nya hanya menghambur-hamburkan uang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Galih kembali lagi ke kampung, dan Rosa menjadi wanita yang manja dan suka perawatan. Pasti akan banyak uang yang harus di keluarkan Galih untuk memenuhi gaya hidup wanita itu."
Reyhan langsung menyalakan sebatang rokok dan menghirupnya, tatapannya langsung menatap ke arah Faldi saat mendengar pria itu mengatakan hal omong kosong yang membuat muak.
"Lalu menurutmu, apa yang harus di lakukan Rosa untuk menjadi seorang istri dan menantu ideal mu?"
"Kenapa kau menanyakan pertanyaan konyol seperti itu, tentu saja melakukan pekerjaan rumah mencuci, memasak, membereskan rumah dan berbelanja. Intinya melayani kita keluarga suaminya, lalu dia juga harus membantu ku di ladang."
"Lalu berapa uang yang kau berikan kepada Rosa untuk membayar jasanya telah membantu kalian?"
"Kenapa harus memberikan uang, kita keluarga. Jadi itu adalah hal yang wajar jika dia melakukan hal seperti itu, itu adalah tanda jika dia berbakti kepada keluarga suaminya."
"Apa yang kau katakan, aku tidak pernah menganggap menantu ku sebagai seorang pembantu. Aku malah menganggapnya seperti seorang anak ku sendiri, terutama Rosa. Aku telah membesarkannya dari sejak kecil hingga dia dewasa seperti sekarang ini."
"Dengan tadi kau menyebutkan kewajiban apa saja yang harus di lakukan oleh Rosa, menunjukkan jika kau memandangnya sebagai seorang pembantu. Dan satu lagi, bahkan seorang pembantu pun di bayar untuk melakukan pekerjaannya, tapi Rosa? Jangankan di bayar, bahkan dia tidak diberikan uang sepeserpun. Apa masih pantas orang yang di perlakukan seperti itu, di sebut seorang menantu."
"Kau belum tahu rasanya memiliki seorang anak dan juga menantu, aku melakukan ini semua demi kebaikan anak ku. Lagi pula, kau bahkan belum pernah dekat dengan seorang wanita, mana mengerti kau tentang mengatur kehidupan seorang wanita agar lebih baik."
Reyhan nampak sedikit jengkel saat mendengar perkataan Faldi.
"Iya, aku memang tidak pernah menikah bahkan dekat dengan seorang wanita. Tapi aku tahu, semua wanita ingin di perlakukan layaknya seorang ratu. Dan menurut ku, jika kita ingin di perlakukan layaknya seorang raja maka kita juga harus memperlakukan wanita kita layaknya seorang ratu. Bukan sebaliknya, menjadikan posisi mu sebagai majikan dan pasanganmu sebagai pelayan. Hubungan itu di ciptakan oleh rasa nyaman bukan karena rasa segan."
"Kau! Sekarang saja kau mengatakan hal itu, tapi jika kau menikah kau juga akan melakukan hal yang sama dengan ku."
"Tentu saja tidak, aku menganggap istri kelak seperti sebuah pertama yang indah dan harus terus ku jaga agar tidak berubah menjadi batu krikil."
Faldi yang kesal pun langsung pergi meninggalkan Reyhan begitu saja, Reyhan hanya tersenyum seraya menghisap rokok miliknya.
Di saat Rosa tengah berada di kamar, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Saat di buka rupanya itu Faldi yang datang ke kamarnya.
"Ayah, ada apa?"
"Apa yang telah kau katakan kepada Reyhan?"
"Maksudnya apa yah?"
"Sekarang adik ku sangat membelamu, apa kau mengatakan hal buruk tentang ku dan juga Galih?"
"Tentu saja tidak, aku tidak pernah mengatakan hal buruk tentang kalian kepada Paman. Lagi pula aku tidak terlalu dekat dengan Paman,"
Mendengar hal itu Faldi langsung bergegas pergi meninggalkan Rosa.
Di saat Faldi hendak pergi ke kamarnya, tiba-tiba Reyhan datang dan menghampiri Kakaknya lagi.
"Ada apa lagi?" Faldi langsung bertanya dengan nada tinggi.
"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini kepada mu." Reyhan memberikan sebuah amplop kepada Faldi.
Pria itu dengan cepat membuka amplop yang di berikan oleh Reyhan kepadanya.
"Apa ini? Satu miliar?"
Faldi terkejut saat melihat nominal angka yang ada di surat tagihan yang tengah dia pegang.
"Itu semua hutang putramu kepada ku dan ku harap kau bisa mencicilnya sedikit-sedikit demi sedikit."
"Bagaimana bisa Galih memiliki hutang yang sangat besar seperti ini kepada mu?"
"Mana ku tahu, yang jelas dia selalu meminjam uang dan tak pernah membayarnya. Dan kau sebagai orang tua harus bertanggung jawab atas hutang anakmu."
"Ini tidak masuk akal." Faldi sangat kesal saat mendapatkan tagihan hutang Galih, lalu dia langsung berpikir siapa yang telah membuat putranya mengeluarkan uang sebanyak ini.
"Aku baru ingat, selama ini Rosa menjadi sangat cantik. Aku yakin jika wanita itu telah membuat Galih harus meminjam uang kepada adik ku."