
Rosa kini berada di pusat perbelanjaan, selama 1 Minggu ia hanya diam di rumah sementara Reyhan bekerja di kantor. Pria itu sangat memanjakannya dirinya bahkan Reyhan memberikan kartu ATM milik pria itu dengan saldo yang hampir 1 M.
Rosa berjalan-jalan melihat pakaian dan beberapa kebutuhan miliknya, tapi tidak ada barang yang memikat hatinya.
Hingga tiba-tiba seorang pria menarik tangan Rosa dan membawanya pergi dari kerumunan orang.
"Lepaskan, siapa kau!?" Maki Rosa yang langsung menghempaskan tangan pria yang tiba-tiba membawanya pergi.
Pria yang menarik tangan Rosa langsung melepaskan masker wajahnya, Rosa seketika terdiam dengan wajah panik.
Rosa segera pergi tapi pria langsung menarik tangan Rosa, "Lepaskan, mas!" Pekik Rosa dengan mata yang berkaca-kaca, rasa takut mulai datang menghampiri wanita itu.
"Rosa, ku mohon jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu." Galih langsung membujuk Rosa untuk bisa berbicara dengannya.
"Bicara apa lagi? Bukankah kau harusnya di penjara tapi kenapa kau malah bisa berkeliaran."
"Itu tidak penting Rosa, aku sangat merindukanmu. Aku mohon maafkan aku." Galih berusaha membujuk Rosa, ia terus memegang tangan wanita itu dan tidak mau melepaskannya.
"Lepaskan tangan ku, jika tidak aku akan menghubungi Mas Reyhan dan memintanya untuk menjebloskan mu lagi ke penjara."
"Rosa, ku mohon dengarkan aku. Aku minta maaf, selama ini aku salah. Dan aku ingin memperbaiki semuanya dari awal, ku mohon beri aku satu kesempatan lagi." Galih kembali memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak, hubungan kita telah berakhir dari dulu dan aku tidak akan pernah mau kembali lagi bersama mu. Satu lagi, sekarang aku sudah milik Mas Reyhan dan sebaiknya kau pergi dan jangan pernah mengganggu hidup ku lagi."
"Reyhan? Kau lebih memilih pria itu dari pada aku? Dia pria impoten dan dia perjaka tua, sementara aku! Aku pria yang masih muda dan stamina ku bahkan lebih kuat darinya. Rosa, aku berjanji kepada mu. Aku akan memperbaiki sikap ku kepada mu dan ku mohon, Rosa sekali ini saja beri aku kesempatan."
"Enggak! Aku pertegas sekali lagi, Mas. Hubungan kita sudah berakhir dari dulu dan aku tidak akan pernah mau memberikan kesempatan lagi kepada mu. Sebaiknya kau pergi temui wanita mu itu! Selama kita menikah kau hanya menyakiti ku saja dan sekarang aku sudah sangat bahagia bersama dengan Mas Reyhan. Jadi sebaiknya kau pergi dan jangan pernah temui aku lagi!" Rosa langsung melepaskan tangan pria itu.
Galih tersenyum mengejek saat mendengar jawaban dari Rosa, "Kau sekarang menjadi wanita yang sombong, ingat Rosa! Tanpa keluarga ku, kau tidak akan pernah mengenal Reyhan. Dan jika buka karena ayah ku dulu menjadikan mu sebagai menantu keluarga ku mungkin sekarang kau hanya menjadi gelandangan di kampung! Sekarang setelah kau mendapatkan pria yang menguntungkan bagi mu, kau bahkan lupa akan asal usul mu."
"Kenapa? Itu memang kenyataannya, bahkan seekor anjing pun tahu terimakasih saat di tolong tapi kau malah tidak tahu terimakasih sama sekali. Kau kini malah lebih memilih pria itu daripada aku, ingat Rosa. Akulah yang mengangkat derajat mu dari seorang gembel menjadi seorang menantu keluarga kaya di kampung!"
Suara tamparan langsung terdengar, Galih seketika terdiam saat merasakan pipinya terasa panas.
"Jaga mulutmu, Galih! Ya aku akui, jika keluarga kalian telah mengangkat derajat orang miskin seperti ku. Tapi apa setelah aku masuk ke keluarga kalian, apa kalian pernah memperlakukan dengan baik? Tidak, kalian hanya memperlakukan ku layaknya seorang pembantu yang bahkan tidak di bayar sepeserpun, lalu aku harus berterimakasih dengan perlakuan seperti itu?"
Mata Rosa menatap penuh kebencian kepada pria di depannya, "Galih, memangnya kau pikir dengan hanya menikahi ku membuatmu terasa seperti seorang pahlawan? Tidak, kau menikahi ku hanya untuk bisa mendapatkan seorang pembantu secara gratis tidak lebih, bahkan kau juga tidak pernah memperlakukan ku seperti seorang istri dengan alasan aku jelek!!!! Apa kau kira hinaan yang selama ini kau lontarkan kepada ku tidak membuat ku sakit hati?" Mata Rosa terus menatap marah, uneg-uneg yang selama ini ia pendam kini telah ia keluarkan membuatnya tidak bisa menahan tangis.
"Rosa, a..ku sungguh minta maaf."
"Cukup Galih, permintaan maaf mu sudah tidak bisa ku terima. Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah mengganggu hidup ku lagi, aku sudah bahagia bersama dengan Mas Reyhan."
"Tapi Rosa, aku sangat mencintaimu!"
"Tidak, kau tidak mencintai ku. Tapi kau hanya tidak ingin merasa kalah dari Reyhan, aku pernah memberikan kesempatan kepada mu untuk bisa mencintai ku tapi selama 3 tahun kau menyia-nyiakan kesempatan itu dan sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mu!"
"Rosa, please!"
"Tidak Galih, apa kau lupa jika dulu kau bahkan berniat untuk membunuh ku dan karena ulah mu aku kehilangan bayi ku. Semua itu gara-gara kau!"
"Maaf Rosa, saat itu aku terbawa emosi ketika mengetahui kau hamil anak dari pria lain!"
"Aku tidak peduli dengan alasanmu, intinya aku sangat membencimu!"
Rosa langsung bergegas pergi meninggalkan Galih, ia berjalan cepat menuju keramaian. Sakit hati dan marah membuat Rosa hanya bisa menahan tangisannya.
Terlebih lagi jika mengingat saat Galih tanpa rasa bersalah berniat untuk membunuhnya.