
Rosa mulai membuka matanya secara perlahan, tatapannya langsung tertuju pada sosok pria yang tengah berbaring di atas sofa. Air mata tiba-tiba mengalir membasahi kedua pipinya, mulutnya mulai membuka dan memanggil sebuah nama yang selama ini ia rindukan.
"Reyhan..." Panggil Rosa dengan suara serak.
Reyhan mulai terbangun dari tidurnya, ia terkejut saat melihat Rosa menatapnya dengan mata yang sudah basah oleh air matanya.
"Rosa, ada apa?" tanya Reyhan panik.
Rosa mulai kembali menangis dan langsung memeluk Reyhan, pelukannya sangat erat hingga membuat Reyhan merasakan sakit.
"Sayang, kau kemana saja? Aku selama ini mencari mu," ucap Rosa.
Perkataan Rosa membuat Reyhan terdiam, kini ia sadar jika Rosa sudah mengingat segalanya dan bahkan tentang dirinya.
"Rosa? Apa kau kini sudah mengingat ku?" tanya Reyhan memastikan jika wanita yang selama ini ia rindukan kini sudah kembali pulang ke dalam pelukannya.
Rosa dengan perasaan senang langsung menganggukkan kepalanya, ia memegang tangan Reyhan dan menggenggamnya dengan erat.
Reyhan merasakan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, selama ini ia merasa putus asa karena Rosa sama sekali tidak mengingatnya tapi kini Tuhan telah memberikan anugerahnya yang membuat Rosa bisa kembali mengingatnya.
"Aku sangat merindukanmu, Rosa. Selama ini aku berusaha untuk mencari mu tapi di saat aku menemukan mu, kau bahkan sama sekali tidak mengingat ku." Ucap Reyhan dengan suara yang serak.
Rosa langsung memegang wajah pria pujaan hatinya itu, "Maafkan aku," ucap Rosa yang merasa bersalah kepada Reyhan.
"Tidak sayang, aku yang harus meminta maaf. Jika saja waktu itu aku tidak pergi ke luar kota, kau tidak akan pernah mengalami hal seperti itu. Dan pastinya Galih tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bisa menyakiti mu," ucap Reyhan dengan kedua tangannya yang memegang pipi Rosa.
Rosa hanya bisa menangis dan kembali memeluk kekasihnya, pria yang selama ini ia cintai dan kini sudah tidak ada lagi penghalang diantara mereka berdua.
"Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan mu," ucap Reyhan.
Reyhan yang membuka pintu pun melihat Stella tengah berdiri dengan mata yang melihat ke arahnya. Tanpa memperdulikan keberadaan Stella, Reyhan langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Rosa.
Stella yang penasaran pun langsung masuk ke dalam ruang rawat Rosa, ia melihat Rosa tengah duduk dengan punggung yang bersandar.
"Kau sudah sadar?" tanya Stella dengan mata yang menatap tajam ke arah Rosa.
"Iya seperti yang kau lihat, aku sudah sadar." jawab Rosa.
"Apa kau masih belum puas membuat Reyhan menderita?" tanya Stella.
Pertanyaan Stella membuat Rosa langsung terdiam sesaat, tapi Rosa hanya tersenyum tipis.
"Tenang saja sekarang aku akan menjaga dan mencintai Reyhan dan pastinya aku akan membuatnya bahagia," ucap Rosa.
"Bahagia? Kau hanya menipunya, kau bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Cinta yang kau katakan itu hanyalah omongan palsu," ucap Stella.
"Aku lupa mengatakan kepada mu, jika aku sudah mendapatkan ingatanku kembali dan pastinya rasa cinta ku kepada Reyhan pun kembali datang." Ucap Rosa dengan senyuman di wajahnya.
"Apa?!" tanya Stella yang terdiam tidak percaya.
"Iya dan sekarang Reyhan sudah tidak membutuhkan psikiater seperti mu lagi," ucap Rosa.
"Reyhan membutuhkan ku untuk menyembuhkan penyakitnya," ucap Stella.
"Penyakit? Itu hanya omong kosong mu saja yang ingin berdekatan dengan Reyhan, apa kau kira aku tidak tahu motif mu menjadi psikiater Reyhan? Kau menyukai pria itu tapi Reyhan sama sekali tidak pernah menyukai mu," ucap Rosa.
Perkataan Rosa membuat Stella semakin kesal dan marah, ia ingin sekali menjambak wanita itu.
Tapi pintu ruang rawat Rosa tiba-tiba terbuka menampilkan sosok Reyhan dengan seorang Dokter di sampingnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Reyhan saat melihat Stella berada di ruang rawat Rosa.
"Mas, Stella datang untuk melihat kondisi ku. Mungkin dia khawatir dengan kondisi ku," ucap Rosa yang tidak ingin memperpanjang masalah.
Stella pun langsung bergegas pergi keluar dari ruang rawat Rosa, perasaan kesal dan marah terus menyelimuti hati Stella. Ia sangat kesal ketika mendengar jika Rosa sudah mendapatkan ingatannya kembali.