
Hari-hari berjalan seperti biasa, kini Galih lebih sering tinggal di rumah Pamannya karena ada ayahnya yang membuat dia tidak bisa tinggal bersama dengan Melinda untuk beberapa saat.
Dan hal itu membuat Reyhan sedikit kesal karena dia tidak bisa bermesraan dengan Rosa, dan selama itu pula Galih dan Rosa sering beradu mulut.
Kini Rosa tengah berbelanja kebutuhan rumah bersama dengan Bi Marni, banyak keperluan yang harus dia beli dan pastinya semua ini menggunakan uang Reyhan.
Selama tinggal di rumah Pamannya, Galih sama sekali tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun bahkan untuk membeli bahan makanan ataupun kebutuhannya sendiri.
"Tadi Paman nitip buah apel." Rosa langsung mengatakan kepada Bi Marni, meski itu hanya kebohongan Rosa.
"Tidak biasanya Tuan suka apel, Tuan muda itu jarang sekali memakan buah-buahan."
"Sungguh?"
"Iya Non, bahkan dulu Tuan muda sering pergi ke rumah sakit karena kekurangannya vitamin buah-buahan."
"Begitu yah, kalau begitu.. Sekalian beli buah-buahan nya aga banyak kan sama beberapa jenis." Rosa langsung memilihkan buah-buahan untuk Reyhan, dari mulai apel, buah mangga dan pisang.
Di saat mereka tengah berbelanja, Melinda langsung menghampiri Rosa dan menampar wanita itu.
Plak...
Rosa terdiam dengan tatapan mata tak langsung melihat ke arah Melinda, "Kau gila!" Maki Rosa.
"Kau yang gila, kenapa Mas Galih tidak datang ke tempat ku. Apa kau yang telah menghalanginya, bahkan saat aku menelponnya juga tidak di angkat."
"Jangan asal nuduh yah! Apa Galih tidak memberitahu mu jika Ayahnya datang ke Jakarta? Dan sekarang berada di rumah Pamannya." Rosa langsung tersenyum mengejek saat mengatakan itu.
"Apa? Ayah Galih datang ke sini."
"Iya, kau tidak tahu? Kasihan banget, sekarang sudah tidak di perhatikan lagi seperti dulu. Wajar sih, wanita itu seperti bunga yang pas awalan pasti sering di kerumuni lebah tapi setelah sari-sari nya habis dia akan di lupakan." Ejek Rosa.
"Jaga ucapan mu itu yah, dasar wanita kampung. Baru sekarang saja kau cantik dikit, tapi sudah besar kepala. Ingat dulu kau wanita yang jelek dan kumuh, bahkan Galih pun tidak sudi mendekati mu."
"Memangnya masih zaman yah ngomongin masa lalu, emang aku jelek. Tapi itu dulu.. Dan sekarang, kau juga lihat aku bagaimana? Tapi kau? Dari tahun ke tahun, kau tidak ada perkembangan sama sekali. Pantas saja Galih sudah tidak menghubungi mu lagi."
"Jaga ucapan mu yah Rosa, setelah ayahnya Galih mati. Kau akan langsung di ceraikan oleh kekasih ku dan kau akan menjadi gelandangan."
"Memangnya kau yakin jika Galih akan menceraikan ku? Secara sekarang aku lebih baik darimu, dari segi manapun. Dan jika pun dia menceraikan ku, memangnya kau yakin dia akan langsung menikahi mu? Mungkin saja dia mencari wanita lain yang lebih cantik dan lebih segar dari pada kamu."
"Tentu saja aku yakin, kamu sudah bersama selama bertahun-tahun. Dan dia sangat mencintai ku."
"Cinta itu jangan di ukur dari seberapa tahun kalian bersama, tapi di lihat dari sikap dan bagaimana dia memperlakukan mu dari tahun ke tahun.. Apa dia tetap sama atau berbeda."
Rosa pun langsung mengajak Bi Marni untuk segera pergi meninggalkan Melinda yang sedang menahan emosi di hatinya.
"Nona, dia siapa?"
"Oh, dia? Itu kekasih suami saya, Bi."
"Apa Nona gak marah, melihat suami anda memiliki wanita lain."
"Iya marah sih, tapi mau bagaimana lagi Bi. Ini mungkin takdir saya."
"Keponakan Tuan muda memang aneh, dia malah berselingkuh dengan wanita seperti itu. Tapi menurut saya, Nona Rosa lebih cantik dari pada wanita tadi."
"Bi Marni, terlalu memuji."
"Itu benar, Nona."
Kini semua kebutuhan rumah pun sudah di beli, Rosa langsung menghubungi Reyhan dan mengatakan jika dia akan datang berkunjung ke perusahaan tempat Pamannya bekerja.
"Bi saya bawa beberapa buah-buahan yah."
"Nona Rosa mau kemana?"
"Saya mau ke perusahaan Paman, tapi Bibi nanti jangan bilang ke Ayah mertua saya yah. Jika saya pergi ke perusahaan Paman,"
"Lalu jika Tuan Faldi bertanya kemana Nona Rosa pergi, saya harus jawab apa?"
"Bilang saja jika aku pergi ke salon."
"Baik Nona."
Rosa langsung masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan, dengan wajah sumringah Rosa ingin segera bertemu dengan Reyhan.
"Paman." Panggil Rosa dengan senyuman di wajahnya.
"Kau sudah datang," Reyhan pun sangat senang saat melihat Rosa datang mengunjunginya.
"Iya, aku membawakan beberapa buah-buahan untuk mu. Ku dengar jika kau jarang makan buah-buahan."
"Pasti Bi Marni yang memberitahu mu." Tebak Reyhan.
"Iya, jadi sekarang aku membawa buah-buahan." Rosa langsung mengambil piring yang ada di rak dan juga pisau kecil, dia langsung mengupas kulit apel dan memotong apel tersebut dengan ukuran yang kecil.
"Ayo di makan dulu." Rosa langsung menyimpan piring berisikan potongan apel.
"Terimakasih, kau sangat perhatian sekali."
Reyhan langsung memakan apel tersebut, Rosa langsung berjalan ke belakang Reyhan. Tangannya mulai memijat pundak pria di depannya, "Paman pasti cape."
"Iya, banyak pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini."
"Paman, aku ingin bekerja."
"Hah? Untuk apa bekerja?"
"Iya tentu saja ingin menghasilkan uang, selama ini kau yang selalu membelikan kebutuhan ku, jadi aku ingin bekerja agar tidak merepotkan mu lagi."
"Aku tidak setuju, aku tidak mau melihat mu bekerja. Dan satu lagi, kau jangan pernah membahas tentang berapa banyak uang yang ku keluar untuk mu. Mau jutaan atau miliaran sekali pun aku tidak peduli, yang terpenting bisa melihat mu tampil cantik dan bahagia. Itu sudah cukup bagi ku."
Rosa langsung memeluk Paman suaminya dengan perasaan senang, untuk pertama kalinya. Ia di perlakukan seperti ini, di prioritaskan seperti seorang ratu.
Lalu Reyhan langsung menarik tubuh Rosa agar duduk di pangkuannya, pria itu mulai memeluk tubuh Rosa dan mencium pinggang wanitanya
Perlahan tangan Reyhan membuka pakaian Rosa, kini wanita itu hanya menggunakan pakaian dalam. Reyhan mulai mengelus-elus setiap inci tubuh wanitanya dengan lembut.
"Aku ingin memiliki anak denganmu, Rosa." Bisik Reyhan.
Rosa langsung terdiam saat mendengar hal itu, selama ini dia belum pernah membayangkan bisa memiliki seorang anak.
"Aku juga ingin memiliki anak denganmu, Paman. Tapi hal itu sulit untuk di wujudkan saat ini, aku masih istri orang lain."
"Iya, tapi cepat atau lambat kau akan menjadi wanita ku.. Menjadi istri ku dan menjadi pendamping hidup ku sampai ajal menjemput ku."