
Galih yang sudah marah pun langsung mendorong tubuh Rosa ke atas ranjang, wanita di depannya memang sangat cantik tapi Galih selalu kesal ketika Rosa melawan perkataannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Seketika suara Reyhan langsung menggema di seluruh ruangan, Galih yang hendak memukul Rosa pun langsung terdiam dan tidak berani melihat ke arah Pamannya.
"Paman, apa yang kau lakukan?" Galih malah balik bertanya dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Ini rumah ku, dan lagi apa kau sedang menyiksa istri mu?"
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku menyiksa istri ku yang cantik ini."
"Lalu pipi merah itu?" Reyhan langsung melihat ke arah Rosa yang pipi kirinya merah dan sedikit bengkak.
"Itu hanya kesalahan pahaman saja, lagi pula kita suami istri jadi wajar jika ada permasalahan. Jadi sebaiknya Paman kembali beristirahat,"
"Kau sebaiknya pulang!"
"Apa, Paman mengusir ku? Kenapa, lagi pula aku datang ke sini karena ingin menemui istri ku."
"Aku tidak mengusir mu, tapi aku yakin jika kekasih mu sekarang sedang marah-marah."
Mendengar hal itu Galih langsung ingat, lalu pria itu segera pergi meninggalkan rumah Reyhan untuk kembali pulang ke apartemen.
Kini hanya ada Reyhan dan Rosa, pria itu langsung merentangkan tangannya. Seketika Rosa langsung memeluk Reyhan dan menangis di dalam pelukan pria itu.
"Hiks.. Hiks.. Paman, dia menampar ku lagi." Rosa hanya bisa mengadu pada Reyhan.
Reyhan sangat marah pada keponakannya itu, pria itu memang tidak layak untuk di sebut sebagai pria bahkan dia tega memukul seorang wanita berkali-kali.
*
*
Galih kini berada di apartemen miliknya tapi di saat pintu terbuka, matanya langsung membulat ketika melihat seisi apartemen sudah acak-acakan.
"Melinda, apa yang kau lakukan." Galih berteriak dengan nada tinggi.
"Ku kira kau tidak akan pulang dan bersenang-senang dengan j*lang itu."
"Apa maksudmu, sayang? Tentu saja aku akan pulang karena kau kekasih ku."
"Kau baru ingat dengan ku? Saat di restoran pikiran mu itu kemana saja? Kau bahkan tidak melirik ke arah ku sama sekali, kau malah fokus ke wanita itu dan mengabaikan keberadaan ku." Melinda sangat marah jika mengingat apa yang telah Galih lakukan kepadanya.
"Sayang, maafkan aku. Aku hanya ingin terlihat adil di mata Paman ku,"
"Alasan, apa karena sekarang dia sudah cantik jadi kau ingin berpaling dari ku?"
"Tentu saja tidak, meski dia cantik tapi kau tetap yang paling cantik sayang."
"Dasar buaya, omongan mu sangat manis tapi nyatanya hanya kebohongan saja."
Galih pun langsung memeluk Melinda dengan lembut, dia mulai menciumi leher dan bibir kekasihnya.
Hingga tiba-tiba ponsel Galih berbunyi dan rupanya itu ayahnya yang menelpon.
"Galih, bagaimana kabarmu?"
"Kabar ku baik, ada apa ayah menelpon?"
"Ayah hanya rindu kepada mu dan juga Rosa, bagaimana keadaan Rosa?"
"Dia baik."
"Syukurlah, berikan handphonenya pada Rosa ayah ingin berbicara."
"Rosa sedang tidak ada di rumah, dia sedang pergi keluar untuk membeli makanan."
"Kenapa kau malah membiarkannya berbelanja sendirian? Harusnya kau mengantarkan kemana Rosa pergi, Jakarta itu tempat yang sangat berbahaya bagi gadis polos seperti Rosa. Banyak orang-orang jahat yang berkeliaran,"
"Baik ayah, sekarang aku akan menjemput Rosa."
"Baik ayah."
Lalu panggilan pun berakhir, Melinda langsung menatap sini ke arah Galih.
"Ayahmu mengkhawatirkan Rosa lagi?"
"Iya."
"Mau sampai kapan sih aku tidak pernah di anggap oleh orang tua mu, memangnya aku kurang baik apa? Dari segi mana pun aku lebih baik dari pada Rosa. Tapi ayahmu malah menyukai wanita itu dari pada aku." Melinda sangat marah jika mengingat perlakuan ayah Galih yang terus tidak pernah menyukainya.
"Sabar sayang, sebentar lagi ayahku pasti mati dan kita akan menikah."
"Oke aku akan sabar, tapi aku tidak mau jika nanti ayahmu mati harta warisannya malah dia berikan kepada Rosa."
"Tentu saja tidak akan, aku putranya dan semua harta warisannya pasti akan menjadi milik ku. Jadi kau tenang dulu,"
"Baiklah sayang."
Lalu mata Galih melihat ke barang-barang yang berserakan di lantai, dan Melinda pun enggan untuk membereskan semua barang-barang itu.
"Mas, untuk kali ini kamu bawa Rosa ke sini." Melinda tiba-tiba menyuruh Galih untuk membawa istri ke apartemen mereka.
"Untuk apa? bukankah kau tidak suka melihat Rosa."
"Aku memang tidak suka, bawa dia ke sini dan suruh dia bereskan kekacauan di rumah kita. Lagi pula aku malas membereskannya dan jika menyewa staf kebersihan akan membuang banyak uang. Jadi kita gunakan saja si anak pembantu itu."
"Baiklah sayang, kau tunggu di sini. Aku akan kembali ke rumah Paman untuk membawa Rosa ke sini."
Galih langsung bergegas kembali ke rumah Paman nya untuk menjemput Rosa, nampak Rosa tengah duduk di atas ranjang.
"Mas." Gumam Rosa saat melihat kedatangan Galih.
"Ayo ikut." Ajak Galih seraya menarik tangan Rosa.
"Mau kemana?" Rosa sedikit panik saat Galih tiba-tiba datang dan menarik tangannya.
Reyhan yang melihat Galih membawa Rosa pergi langsung menghentikan pria itu.
"Mau kemana kau?"
Galih langsung melihat ke arah Pamannya, "Aku akan mengajak Rosa ke suatu tempat."
"Tapi hari sudah mulai sore, kau akan mengajaknya kemana?" Reyhan menatap Galih dengan tatapan sini.
"Ini urusan ku, Paman. Lagi pula Rosa itu istri ku dan hak ku mau mengajaknya kemana pun."
Galih langsung menarik tangan Rosa untuk segera masuk ke dalam mobil, Reyhan pun hendak menghentikan Galih tapi mobil pria itu sudah melaju cepat meninggalkan rumah Reyhan.
"Mas, kita mau kemana?"
"Udah gak usah banyak nanya, kau tinggal duduk manis saja."
Kini Galih sudah sampai di apartemen miliknya dan juga Melinda, nampak Melinda tersenyum saat melihat Galih datang bersama dengan Rosa.
"Untuk apa kau membawa ku ke sini?" Rosa sedikit bingung ketika suaminya membawa dirinya ke apartemen Melinda.
"Apa kau lihat barang-barang yang berserakan di lantai?" Tiba-tiba Melinda langsung angkat bicarakan.
"Lalu?"
"Tunggu apa lagi, cepat bereskan semua rumah ini dan satu lagi setelah semuanya beres kau langsung makanan untuk ku dan Mas Galih."
Rosa nampak kesal saat mendengar hal itu, "Jika kau ingin makan dan rumah mu beres, lakukan saja sendiri. Kenapa malah menyuruh ku, memangnya aku pembantu mu."
"Ros, kau ini istri ku. Dan aku sudah mengeluarkan uang untuk membiayai mu, jadi cepat lakukan." Maki Galih dengan nada tinggi.
Rosa hanya bisa menuruti permintaan suaminya, dia langsung membereskan semua apartemen milik Melinda dan juga memasak makanan untuk mereka berdua.