
9 tahun yang lalu, 6 bulan setelah kecelakaan
"Sekali lagi gue minta maaf, Ton. Gue enggak bisa ikut liburan bareng kalian." Dengan sedikit bernada menyesal, Guntur bicara dan membuat suara helaan napas keluar dari dalam teleponnya.
"*Heem. Kalau lu udah bilang gitu kita bisa apa, Gun.*" Suara kecewa Anthony merambat masuk ke gendang telinga, Guntur.
"Maaf banget yah. Mungkin kita bisa liburan bareng di semester depan." Guntur menjawab sekenanya. Saat ini laki-laki remaja bertubuh tinggi itu tengah berdiri di depan cermin. Satu tangannya tidak berhenti untuk bergerak menyisir rambut basahnya.
"Kalau gitu gue matiin ya. Mau pergi pemotretan juga ni, lu baik-baik perginya sama si Bian." Guntur beranjak dari depan cermin, lalu berjalan mendekati ranjang untuk mengambil sebuah jaket hitam yang tergeletak rapi di atas sana.
"*Ya udah. Moga kerjaan lu lancar, brader.*" Suara Anthony kembali terdengar keluar dari dalam ponsel dan itu terdengar sangat-sangat berusaha merelakan.
"Iya, makasih. Lu juga semoga liburan bersama kalian berjalan lancar." Setelah mengatakan itu, Guntur memutuskan sambungan teleponnya. Laki-laki itu menghela napas, "maaf ya, sebenarnya gue enggak sibuk pemotretan. Gue enggak ikut karena sudah buat rencana untuk ngabisin waktu bareng cantik di rumah sakit," imbuhnya dengan ekspresi sedikit menyesal, tapi saat mengungkit orang yang dia panggil cantik, raut wajah pemuda itu langsung berubah tersenyum.
"Setelah seminggu enggak ketemu dia, kira-kira sekarang keadaannya gimana ya?" Guntur tersenyum sendiri dan tanpa mau menunggu lebih lama lagi, dia langsung berjalan keluar dari kamar. Tujuan artis muda yang di minta vakum itu siang ini adalah rumah sakit.
***
"Gun, kamu mau ke mana?" Langkah kaki Guntur terhenti tepat di ambang pintu keluar rumah besar Prasetyo. Laki-laki muda itu menoleh ke arah ruang tamu dan di sana, dia mendapati sosok Oma Heni yang tengah bersantai.
"Mau ke rumah sakit, Oma," jawab Guntur dengan tersenyum lebar. Laki-laki muda itu kelihatan tidak melakukan pergerakan untuk mendekat ke arah Oma Heni. Dia malah memutar tubuhnya jadi memunggungi pintu keluar, "mau beli obat tidur," imbuhnya dengan tersenyum semakin lebar.
"Masih butuh-"
"Oma, Gun buru-buru jadi sudah dulu. Assalamualaikum." Tanpa berpamitan dengan pantas, Guntur berlari keluar dari rumah.
Oma Heni yang melihat itu geleng-geleng kepala, "Gun, Gun. Bukannya pergi liburan, dia malah ke rumah sakit. Kasihan sekali cucuku yang satu itu."
***
"Sudah sampai, Tuan." Guntur tersentak kaget saat tiba-tiba saja sopirnya bicara. Laki-laki remaja itu langsung bergerak turun, tidak lupa dia juga memasang tudung jaketnya untuk menyamarkan diri.
Setibanya di luar, Guntur langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Dia terus berjalan dengan kepala yang menunduk, hingga saat sudah masuk dan berdiri di depan pintu lift, Guntur masih saja menunduk menyembunyikan kehadirannya di tempat itu.
Suara khas lift terdengar, membuat pintu yang tadinya tertutup rapat itu terbuka. Guntur melangkah masuk, lalu buru-buru menekan lantai tujuannya agar lift itu langsung bergerak. Lebih tepatnya, dia tidak ingin ada seseorang pun di dalam sana selain dirinya.
"Akhirnya bisa tegak juga nih kepala," ujar Guntur yang sudah menatap lurus ke depan. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri, seolah masih belum percaya kalau dia di dalam sana benar-benar sendiri.
"Apa penampilanku sudah menarik? Pakaian yang aku gunakan cocok kan?" Guntur menelisik dirinya sendiri. Dia melihat dirinya mulai dari ujung kaki hingga badan atas, "cocok enggak cocok, aku tetap ganteng juga," imbuhnya dengan penuh percaya diri dan seutas senyum sombong, sangat khas dengan dirinya.
"Tapi, pas ketemu sama cantik aku mau cerita dari mana ya? Apa pas awal ulangan semester aja? Tapi, itu pasti bakalan ngebosenin." Guntur memperlihatkan raut wajah yang bingung, tapi setelahnya laki-laki remaja itu berdecak kesal, "persetan dengan itu semua. Mending ke sana aja dulu," imbuhnya dan itu bersamaan dengan terbukanya pintu lift.
Guntur kembali melanjutkan langkah. Gerakan kaki pemuda itu kelihatan jauh lebih cepat dari saat masih di lantai bawah tadi.
"Aku berhenti!"
"Percuma aku hidup kalau kayak gini, Dok, Percuma!"
Guntur semakin mempercepat langkahnya saat suara teriakan penuh keputusasaan itu semakin jelas terdengar. Terlebih itu datang dari ruangan yang hendak dia datangi.
"Aku enggak mau hidup cacat kayak gini, Dok. Enggak mau!"
Degup jantung Guntur langsung berpacu cepat. Langkah kaki laki-laki itu berhenti tepat di depan jendela salah satu ruang rawat yang ada di lantai khusus pasien VIP. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari dahinya. Tatapan mata laki-laki remaja itu tajam melihat ke dalam ruangan, yang di sana memperlihatkan sosok gadis remaja yang tengah duduk di lantai. Di samping gadis itu, Guntur melihat ada dua perawat dan di depan gadis itu, dia melihat ada seorang dokter yang tentu saja sangat dia kenali.
"Nona Laras jangan seperti in-"
"Bayang-bayang kedua orang tuaku masih jelas, Dok! Mereka waktu itu masih bisa hidup, tapi kenapa saat ini hanya aku yang ada di sini? Kenapa Tuhan tidak membiarkan kedua orang tuaku selamat, Dok, kenapa?"
Guntur melangkah mundur. Sekujur tubuh laki-laki itu bergetar hebat. Dia saat ini ketakutan dan ingin pergi dari tempat itu, tapi entah kenapa kakinya tidak ingin beranjak. Hatinya bahkan memaksa untuk tetap berada di sini dan bahkan, dia juga seperti mendengar sebuah bisikan yang meminta dia masuk, lalu memperlihatkan dirinya kehadapan wanita, yang saat ini sedang memunggungi dirinya.
"Ini udah-"
"Enggak Dok. Semua ini karena anak itu. Seandainya waktu itu dia membawa kedua orang tuaku, mungkin ayah dan ibuku masih selamat. Gara-gara dia, kami mengalami kecelakaan, Dok!" Guntur semakin takut. Laki-laki itu membulatkan mata dan langsung bergerak untuk duduk di lantai. Guntur merubah posisinya menjadi bersandar di tembok ruangan, tepat di bawah jendela kaca yang tadi tempat dia melihat ke dalam ruangan. Napas pemuda itu terengah-engah.
Bersama dengan berubahnya posisi Guntur, di dalam sana sosok wanita remaja itu merubah arah duduk menjadi menghadap ke jendela. Mata hitam gadis itu dipenuhi oleh linangan air mata.
"Kapan dia terbangun dari komanya?" tanya laki-laki itu dengan suara yang pelan.
"Tabrakan? Apa maksud dari perkataanmu itu, Laras?" Bukan suara dokter atau pun suara gadis remaja itu yang Guntur dengan, tapi ada suara orang lain.
"Iya, Bibi. Kami mengalami kecelakaan karena anak itu. Seandainya dia tidak membawa mobil dengan-"
Guntur membulatkan mata saat dia mendengar sebuah suara tamparan yang keras. Laki-laki itu mengangkat sedikit tubuhnya, hingga hanya memunculkan matanya saja untuk melihat situasi di dalam.
"Berhenti bercanda dan menyalahkan orang lain, Laras. Jelas-jelas polisi mengatakan kalau kalian itu mengalami kecelakaan tunggal. Kau paham?"
Guntur sedikit lega saat mendengar orang yang saat ini dia lihat jongkok di depan wanita remaja itu, berkata seperti itu.
Laki-laki remaja itu kembali duduk bersandar di tembok. Deru napas yang tadinya cepat, langsung normal kembali, "Ternyata cantik mempunyai bola mata yang indah," ujar remaja itu dan itu adalah alasan sebenarnya dia menjadi tenang, "namanya juga, Laras," imbuhnya dengan seutas senyum.
"Siapa di sana?" Guntur tersentak kaget dan tanpa menimbang apa pun, dia langsung bangkit, lalu berlari kabur. Setidaknya dia sudah melihat apa yang sedari dulu ingin dia lihat, yaitu bola mata Laras, si gadis yang dia panggil Cantik.
...T.B.C...
...Kembali lagi dengan Guntur dan Laras. saya mohon maaf karena sudah pergi terlalu lama, tapi dengan updatenya episode spesial ini, kita akan lanjut lagi....
...Saya putuskan untuk membuat episode spesial karena merasa cerita ini belum tuntas sama sekali dan di Episode spesial ini saya akan fokuskan ke cerita sebelum menikah mereka. ...
...Okey, terima kasih dan selamat membaca. ...