
Cuaca memang tidak dapat diprediksi. Padahal, beberapa menit lalu, aplikasi perkiraan cuaca menyatukan kalau sore hingga malam nanti akan turun hujan, tapi lihatlah kondisi langit sore ini. Dia nampak cantik dengan bias jingga yang nampak terang di ujung barat.
"Kamu kesal enggak, Bi?" Guntur membanting pintu bagasi dan langsung menoleh melihat ke arah sang istri, yang saat ini sudah nampak cantik (menurutnya) dengan setelan baju santai.
"Kesel gimana? Malahan hari ini aku sangat bahagia. Membayangkan kalau aku main salju, melemparmu dengan salju, membuat boneka salju, itu membuatku tidak sabaran." Laras mulai menyangkan situasi yang akan dia dan suami dapatkan di saat tiba di Francis nanti.
Guntur cemberut dan dia langsung merangkul kedua lengan bagian otot istrinya, untuk dia bantu berjalan. Padahal, Laras itu sebenarnya masih bisa berjalan normal walau dia akan sedikit pincang sih, tapi lihatlah cara Guntur memperlakukan istrinya.
"Kesel sama aplikasi cuaca. Siang tadi dia bilang sore hari hingga malam nanti akan hujan deras bercampur geledek. Tapi, mana?"
"Lagian aneh. Kamu kok masih percaya sama aplikasi sih. Mereka kan cuma memperkirakan, Mas," jawab Laras sembari menoyor kepala suaminya, yang saat ini tengah memapahnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Tetap saja mereka membohongi. Gara-gara mereka, kita jadi sedikit percaya dengan perkiraan yang mereka buat."
Seperti biasa, Guntur tidak mau kalah. Percaya atau tidak, entah kenapa hampir semua laki-laki di dunia itu tidak mau kalah, tapi tetap saja tidak sedikit laki-laki yang sering mengalah dan Guntur termasuk ke golongan laki-laki tidak mau kalah.
"Iya, Mas. Seharusnya aplikasi itu di takdown aja."
"Bener sekali. Harusnya memang begitu, tapi enggak mungkin karena dia kan udah terdaftar." Guntur membuka pintu mobil untuk istrinya, "silahkan," imbuhnya.
Laras masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan kata-kata sang suami. Guntur yang diabaikan menggelengkan kepala, lalu bergerak menutup pintu mobil dan setelahnya, dia berlari kecil mengitari kendaraan roda empatnya untuk berpindah ke pintu bagian kemudi.
Guntur tanpa mau berlama-lama lagi langsung masuk ke dalam mobil, "Udah pasang sabuk pengamannya, 'kan?" tanya laki-laki itu sembari memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
"Sudah," jawab Laras sembari menolehkan kepalanya untuk melihat sang suami.
Guntur menoleh ke arah istrinya, "Kalau begitu, kita berangkat sekarang?"
Laras menganggukkan kepalanya, membuat Guntur semakin menarik dua sudut bibirnya, "Baiklah. Perhatian-perhatian, mobil milik Satria Guntur Prasetyo akan keluar dari halaman rumahnya. Jadi, barang siapa yang hendak melintas di depan rumah Guntur, diminta untuk berhenti sesaat."
Laras membuang pandangan ke samping kiri, saat dia mulai mendengar suaminya mengeluarkan kata-kata yang terdengar sangat lebay dan malu-maluin. Akan tetapi, biar Laras malu, dia juga merasa terhibur melihat tingkah gila suaminya. Begitulah Guntur, dia laki-laki yang memiliki beribu cara untuk membuat Laras bahagia.
***
Beberapa menit setelah membelah jalanan Senopati, akhirnya Guntur dan juga Laras sampai di perumahan Menteng. Malahan saat ini mobil yang mereka tumpangi sudah berada di pekarangan besar kediaman keluarga Prasetyo.
"Kamu tunggu bentar! Jangan coba-coba untuk keluar sendiri." Guntur dengan secepat kilat bergerak keluar dari dalam mobil. Sesampainya di luar, dia juga langsung mengitari bagian depan kendaraan roda empatnya untuk menuju pintu bagian penumpang.
Guntur mengangkat gagang pintu, lalu membukanya untuk membuatkan jalan keluar untuk sang istri, "Silahkan." Dengan bergaya ala pangeran, Guntur mempersilahkan Laras untuk keluar.
Laras yang mendapati perlakukan hal itu tersenyum, "Terima kasih," ujarnya sembari meletakkan satu tangannya ke atas telapak tangan sang suami. Sepertinya, wanita itu ingin mengikuti permainan Guntur.
"Hati-hati," Guntur memperingati saat Laras memijakkan kaki kanannya ke atas paving blok pelataran.
"Perhatian sekali sih," puji Laras dengan sudut bibir yang tidak bisa berhenti tertarik ke atas.
"Of course. Just so you know, baby. A good husband is a man who always gives attention." Laras tergelak, membuat Guntur gemes dan mencubit hidung sang suami.
"Who said that?" tanya Laras, membuat Guntur tersenyum dan bergerak memajukan wajah untuk mengecup pipinya.
"Almarhum Papa." Laras menganggukkan kepalanya mengerti dan wanita itu tiba-tiba mengingat satu hal.
"Mas, kamu tahu enggak. Setiap kali aku temenin mamah, dia itu selalu bilang kalau kamu dan almarhum papa itu sangat mirip. Mulai dari sikap hingga kebiasaan." Ditengah perjalanan menaiki anakan tangga, Laras menyeletuk dan mengatakan suatu hal yang sangat-sangat Guntur sukai. Iya, Gubtur itu paling suka jika dia disamakan dengan Almarhum papa Aji.
"Of course the same. Just so you know, papa is my role model and hero. I want to be like a papa who loves his family very much, loves his wife, and loves his children."
Guntur tersenyum dan laki-laki itu langsung mendaratkan satu kecupan di kening suaminya, "Terima kasih karena sudah mencintaiku."
***
"Selamat sore semua!"
Benar saja, Guntur akan tetap menjadi Guntur. Dia dan suara riangnya jika pulang ke rumah keluarganya, tidak akan pernah berubah. Seperti saat ini, padahal laki-laki itu baru saja masuk dan dia sudah membuat keributan hingga Oma Heni, Lidia, dan Mbak Renata yang berkumpul di ruang keluarga langsung kaget.
"Guntur. Bisa enggak sekali aja jangan bikin gaduh." Oma Heni mengomel, tapi wanita paling tua di keluarga besar Prasetyo itu juga tersenyum.
Guntur yang mendengar omelan Omanya, malah memperlihatkan raut wajah biasa saja, "Guntur tetap Guntur, Oma. Jadi, maklumi saja jika satu cucumu ini sedikit gendeng." Guntur berjalan cepat meninggalkan Laras yang berjalan dengan pincang di belakangnya.
Sementara Oma Heni yang mendengar itu semakin dibuat tersenyum, "Cucuku yang satu ini memang beda." Wanita tua itu bergerak bangkit dari duduknya dan dia langsung menyambut pelukan, Guntur.
"Guntur rindu Oma. Maaf semalam enggak bisa nyapa." Guntur memeluk Oma Heni dengan sangat erat. Bahkan laki-laki itu menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
"Kamu mau buat Oma masuk rumah sakit?"
Guntur menyudahi pelukannya, lalu dia mengecup pipi keriput Omanya, "Oma itu kuat. Jadi, enggak bakalan masuk rumah sakit. Apa lagi yang meluk itu 'kan, Guntur."
"Dasar!" Oma Heni menoyor kepala cucunya, membuat semua orang yang ada di ruang keluarga terkekeh, namun tidak untuk Lidia. Wanita itu malah langsung menundukkan kepalanya.
"Mbak Ren, gimana ponakan Guntur? sehat, 'kan?" Guntur menyalami Renata, istri dari Masnya.
"Belum aja berisi, mungkin kalian berdua tuh yang bakalan duluan. Apa lagi katanya sekarang mau liburan ke Prancis. Pasti pulang-pulang bawa kabar baik, bener, kan, Oma?" Renata bersungut-sungut.
"Aamiin, Mbak Ren. Semoga saja." Laras yang sudah sampai ke ruang keluarga langsung menyeletuk, membuat Guntur dengan cepat melingkarkan tangannya di punggung sang istri.
"Ini kamu dari tadi kenapa? Enggak senang Abangnya datang ke sini? Enggak mau peluk Abangnya nih?" Lidia mendongak dan wanita itu langsung berhamburan ke pelukan, Guntur.
"Maafin Lidia Bang Gun." Lidia berbicara dengan nada yang kedengaran penuh penyesalan.
Guntur mengelus punggung adiknya, "Enggak, Abang yang salah. Maafin Abang karena semalam bentak kam-"
"Ini kalian ada masalah apa? Kenapa saling min-"
"Enggak ada apa-apa kok kak Ras. Oh iya, sini Kak Ras gabung sama kita aja." Lidia yang sudah kembali ceria langsung menarik Laras untuk mendekat kepadanya.
Guntur yang melihat itu diam menyaksikan dan dia memilih untuk mengedarkan pandangannya, "Mamah ke mana?" tanyanya.
"Ada di belakang. Dia lagi nyaipin teh buat kita-kita." Oma Heni menjawab sembari bergerak untuk kembali duduk di sofa panjang.
"Sayang, aku ke belakang dulu yah. Kamu di sini aja."
"Bang Gun tenang aja. Kami di sini pasti bakalan buat Kak Ras tertawa. Apa lagi nanti pas dia lihat foto-fotomu waktu remaja dulu. Pasti di jamin enggak bisa nahan tawa deh."
Guntur yang tadinya hendak melangkah untuk masuk lebih dalam, langsung diam dan semua itu karena dia mendengar sebuah kata yang membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
"Foto waktu remaja."
#Bersambung