Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 24



..."Untuk hari ini, aku bahagia. Terima kasih"...


...****************...


..."Laras Ayudia"...



Pagi harinya, Laras dan Guntur langsung disambut oleh suhu kota Paris yang mencapai -14. Saat ini mereka tengah berbenah diri, untuk meninggalkan kamar hotel, karena tujuan mereka memang bukan ke sini, tapi ke salah satu kota yang terletak di bagian tenggara. Kalau tidak salah nama kotanya itu, Chamonix.


Kalian tahukan tentang kota Chamonix? Itu loh, kota yang berada di bagian tenggara Prancis, tepatnya di Mont Blanc, sebuah gunung tertinggi di Eropa. Singkatnya, Chamonix itu terletak tepat di dataran tinggi Aiguilles Rogues.


"Bi, katanya di Chamonix sana jauh lebih dingin loh." Guntur memulai pembicaraan sembari merapikan koper yang tadi mereka buka, untuk mengambil pakaian ganti.


Laras yang sudah siap dengan setelan celana jeans, sepatu bot, jaket yang sangat tebal, dan kupluk khas musim dingin yang sudah terpasang di kepalanya itu menoleh. Dia saat ini sedang berdiri di balik jendela.


"Bener, enggak sabar banget. Pasti di sana akan ada banyak salju ya, Mas?" Dengan menunjukkan mimik wajah yang kelihatan tidak sabar, Laras berucap. Setelah mengatakan itu, dia kembali menghadap ke jendela, lalu mulai menghitung butiran-butiran salju yang menempel di kaca. Maklum di luar ada hujan salju dan itulah kenapa saat ini suhu di kota Paris itu mencapai -14.


"Tentu saja. Di sana kan emang selalu dipenuhi salju." Guntur menarik gagang kopernya, lalu kemudian menyeret tas besar itu untuk ikut bersamanya yang melangkah mendekati, Laras.


"Serius?" Laras kembali menoleh dengan mimik wajah yang semakin kelihatan bahagia dan penasaran. Guntur suka melihat mimik wajah istrinya yang seperti itu. Katanya sih, bikin ingin cium.


"Kamu lihat nanti." Guntur mengecup bibir istrinya, lalu setelah itu dia merangkul pinggang, Laras, "ayok," ajaknya dan mwreka pun meninggalkan kamar hotel.


***


Ternyata, diluar ruangan hawa dinginnya jauh lebih menyengat dari pada saat di dalam ruangan. Padahal, dua orang itu sudah mengenakan baju yang sangat tebal, tapi tetap saja hawa dingin itu serasa menebus jaket dan menggelitik sendi.


"Jadi, gini rasanya berada di Eropa. jauh lebih dingin dari pada musim hujan ya, Mas." Laras kagum. Sangat persis seperti orang yang baru menginjak luar negeri.


Sedangkan Guntur yang mendengar Sahal kata-kata istrinya hanya tersenyum. Dia tidak menertawakan wanita itu, tapi laki-laki itu menggantinya dengan kecupan di kening, "Benar sekali."


Guntur menjawab dengan terus menghadap ke depan. Laki-laki itu tiba-tiba tersenyum dan kepalanya pun menoleh ke samping kanan.


Guntur dan Laras hanya mengangguk kepalanya dan mereka berdua terus berjalan lurus, untuk keluar dari lobi hotel, "bulenya cantik sekali ya, Mas. Putih bersih gitu."


"Iya, tapi bagiku, kamu itu jauh lebih cantik. You are the true definition of perfect," timpal Guntur dengan nada sedikit berbisik.


Laras yang mendengar penuturan suaminya, langsung berlagak seperti orang yang mau muntah, "Bener kata Lidia. Kamu itu ternyata udah bucin akut banget sama aku ya, sampai-sampai orang burik gini kamu kira definisi sempurna."


"Terserah." Guntur memperlihatkan tampang lempeng. Laki-laki itu melebar senyum, saat dia mendapati seorang pria paruh baya bersetelan baju khas musim dingin, tengah berdiri di samping mobil hitam.


"Bonjour," sapa Guntur, membuat laki-laki paruh baya itu tersenyum dan mengangguk kepalanya.


"Bonjour." Laki-laki paruh baya itu bergerak ke samping kanan, lalu satu tangannya langsung terulur untuk membuka pintu mobil, "S'il vous plaît Monsieur, Madame," imbuh laki-laki paruh baya itu, memperlihatkan Guntur dan Laras untuk masuk.


Guntur tersenyum dan Laras hanya memperlihatkan raut wajah bingung. Masalahnya, dia di sini tidak mengerti bahasa Perancis, alhasil dia menunjukkan raut muka bodohnya.


"Merci," jawab Guntur dan laki-laki itu langsung melirik ke arah istrinya.


"Me ... merci," cicit Laras dengan kikuk, membuat Guntur menahan diri untuk tidak menyunggingkan senyum, "Mas, ini maksudnya apa? Apa, paman ini meminta kita masuk?" imbuhnya berbisik.


Guntur menganggukkan kepalanya. Laras yang melihat itu, langsung tersenyum kikuk. Dia masuk ke dalam mobil lebih dulu dan baru setelah itu, Guntur menyusul sang istri.


Sementara di sisi pria paruh baya itu. Dia tentu saja langsung menutup pintu mobil dengan rapat dan barulah setelah itu, dia menyeret koper milik penumpangnya ke bagian belakang untuk ditaruh di dalam bagasi mobil. Setelah selesai, barulah laki-laki itu berjalan cepat ke pintu mobil bagian kemudi.


#Bersambung




^^^(jalanan kota Paris yah)^^^