Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 41



Di tengah derasnya hujan yang mengguyur ibu kota, suara mobil yang berhenti menyusup di dalamnya. Bahkan setelah itu, bunyi pintu mobil yang dibuka ikut terdengar di sela-selanya.


Guntur keluar dari dalam mobil, berlari ke teras rumah dengan kedua tangan mengangkat sebuah kotak. Laki-laki itu mendesah kecil dan menyugar rambutnya yang sedikit kuyup


"Kamu mau memberikan kejutan ya." Guntur berbicara menghadap ke pintu yang masih tertutup sangat rapat.


Dari celah udara, laki-laki itu tidak melihat adanya lampu yang menyala. Jendela pun masih tertutup oleh gorden. Sangat mirip seperti rumah kosong tanpa ada penghuninya.


"Gaya lama, tapi terkesan misterius. Kalau begitu, akting aja." Guntur berdahem dan mulai mengeluarkan raut wajah kebingungannya. Mirip-mirip orang tolol gitu.


Laki-laki itu mengulurkan satu tangannya dan dia mulai mengetuk pintu, "Sayang, apa kau ada di dalam?" ucapnya dengan pura-pura kelihatan tidak tahu apa-apa.


"Sayang? Ini aku. Apa kamu tidak berniat membukakan aku pintu?" Guntur kembali mengetuk pintu. Laki-laki itu tersenyum dan dia bergerak menjatuhkan genggaman tangannya ke arah gagang, "kalau gitu aku masuk."


Guntur melangkah ke depan bersamaan dengan pintu yang ikut terdorong ke arah dalam. Laki-laki itu celingukan, "Jangan biasakan membiarkan lampu padam jika sudah malam, Laras. Terkesan horor tau enggak."


Guntur menutup kembali pintu rumahnya. Dia bergerak untu meraba dinding bagian kiri. Saat sudah mendapati saklar lampu, Laki-laki itu menekannya membuat bohlam yang tertempel di langit-langit ruang tamu menyala membiaskan cahaya putih dan ternyata, kilauan terang itu langsung terpantul oleh banyaknya lembaran kertas khusus untuk foto yang bergantungan di setiap sudut.


Guntur tertegun sesaat, lalu dia tersenyum lebar. Laki-laki itu berjalan dengan langkah yang pelan. Satu tangannya masih membawa kotak berukuran sedang itu dan satunya lagi mula bergerak mengecek kertas-kertas yang tergantung di udara itu.


Guntur tersenyum saat dia melihat foto pertama yang menampilkan dirinya dengan ekspresi konyol, "Ini benar-benar aku? Laki-laki tampan dari mana ini?"



Dengan sombongnya, Guntur memuji fotonya sendiri. Namun, di detik setelahnya dia terkekeh dan geleng-geleng kepala. Laki-laki itu kembali berjalan dan mengecek lembaran foto yang lain.


"****, Kenapa aku berpose seperti ini. Istriku kenapa suka mengambil gambar suaminya seperti ini sih. Aneh." Guntur mendumel tidak percaya. Kali ini dia tidak menyombongkan dirinya, tapi dia malah menerima rupa jeleknya. Namun, dia tetap tertawa dan geleng-geleng kepala.



Guntur dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan kembali berjalan. Dia melewati foto-foto yang kiranya di sana ia kelihatan tampan. Namun, tepat di foto terkahir yang ada di ruangan itu, Guntur diam dan memeriksanya. Laki-laki itu tergelak. Ditengah hujan yang deras dan dibarengi suara gemuruh itu, suara tawa Guntur satu-satunya nada yang sangat merdu.



Guntur malu sendiri. Dia menghela napas dan mulai membenarkan ekspresinya, tapi tetap saja dia tertawa dan mengelus-elus berewoknya yang terukur rapi, "Tidak jelek juga."


Guntur melepas foto itu. Laki-laki itu kemabli memindai keadaan ruang keluarga yang berhasil membuat dia mengingat semua kenangan indah masa lalunya dan juga sang istri.


"Baiklah. Laras, selamat. aku terkesan. Jadi, kau keluar-"


"Saya akan menunggu. Jadi, bapak datang secepatnya yah."


Guntur menoleh ke arah belakang saat dia mendapati suara seseorang yang begitu sangat dia rindukan selama dua Minggu terkahir ini, "Sayang? Kamu kenapa?"


Guntur melangkah mencoba mendekati Laras, tapi laki-laki itu tiba-tiba diam saat sang istri menodongkan pisau dengan ekspresi yang penuh akan kebencian, "Jangan coba-coba menyentuhku!"


Suara Laras menggelegar memenuhi ruang keluarga dan itu bersamaan dengan munculnya bunyi gemuruh, "Apa maksud semua ini, Laras? Kenapa kamu membawa koper dan-"


"Pembunuh, penipu, pembohong. Seharusnya aku sadar saat kau tiba-tiba datang dan mengajak aku yang buruk ini menikah. Seharusnya aku paham dengan sikap sok pedulimu itu. Seharus-"


"Aku tidak mengerti-"


"Kecelakaan sembilan tahun lalu ... katakan, kenapa kau waktu itu pergi meninggalkan kami, hah?


#Bersambung


...Hai gaes. Untuk Bab ke 2 bentar lagi yah. well, 10 bab lagi tamat yah. Jadi, pantengin terus dan semoga tidak bosan. ...


...Sebelum pamitan, aku ada rekomendasi cerita nih. Dijamin seru. Yuk mampir yuk....