
Sehari sebelum pulangnya Guntur
"Ini, Pak." Laras menyerahkan beberapa lembar uang kepada seorang sopir taksi yang tadi menghantarkan dirinya hingga sampai di rumah sakit.
"Terima kasih, Non." Pak sopir berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit untuk membelah jalanan pusat kota.
Laras menghela napas. Dia mendongak untuk memindai awan-awan mendung yang saat ini membekap langit siang ibu kota. Ternyata, suasana hatinya dan suasana di atas sana tidak jauh beda, yaitu, mendung yang berwarna abu-abu.
"Besok kita akan mengejutkan papamu. Persetan dengan segala kejadian kemarin, intinya aku percaya kalau papamu adalah orang yang tidak akan seperti itu."
Setelah bermonolog sembari mengelus perutnya yang masih datar, Laras mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dia dengan hati yang dipenuhi warna abu-abu, mencoba untuk menorehkan warna cerah agar keraguan yang dirasakannya lenyap tak bersisa.
***
"Bagaimana, Dok?" Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Laras yang saat ini sudah duduk di hadapan Dokter bertanya. Dia dengan tatapan yang sedikit memancarkan keraguan tengah menunggu jawaban dari seorang wanita paruh baya berjas putih, yang duduk di hadapannya.
"Kandungan Anda dalam keadaan sehat, Nyonya. Tidak ada masalah sedikitpun. Saran saya, Nyonya harus jaga kesehatan, jangan terlalu lelah, dan hindari yang namanya terlalu banyak berpikir. Apa lagi kandungan Anda saat ini masih terbilang sangat-sangat muda. Jadi-"
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, boleh saya minta laporan pemeriksaannya?" Laras menyambar dengan tampang wajah yang penuh harap. Tidak ada lagi keraguan di hatinya. Malahan, dia saat ini sangat-sangat tidak sabar untuk menunggu datangnya hari esok.
"Tentu saja boleh. Ini." Dokter memberikan sebuah amplop dan Laras menerimanya dengan seutas senyum yang begitu sangat-sangat lebar.
"Sekali lagi terima kasih dan saya permisi, Dok."
Dokter tersenyum..Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya, "Silahkan. Tapi, Nyonya. Anda harus terus ingat saranku. Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran."
Laras tersenyum dan wanita itu langsung menganggukkan kepalanya, "Siap, Dok!"
Setelah mengatakan itu, Laras berlalu pergi. Dia berjalan dengan kedua tangan yang memegangi amplop putih yang dia dapatkan dari Dokter kandungan tadi.
Sesampainya di luar, Laras masih saja tidak berhenti tersenyum. Bahkan saat ini dia berjalan dengan mulut yang kelihatan sedikit bergumam-gumam.
"Bagaimana yah ekspresi papamu nanti? Mama sudah tidak sabar melihat wajahnya yang kaget. Terus, Mama juga menerka-nerka tentang seperti apa reaksi yang akan dikeluarkan oleh papamu. Apa dia akan menangis bahagia atau bakalan bersorak senang lalu mengumumkannya ke seluruh kompleks."
Dengan nada berbisik, Laras berbicara. Saat ini wanita itu tengah menyusuri lorong rumah sakit untuk kembali ke lobi, lalu keluar dari bangunan itu.
"Seandainya ponselku tidak dibawa, Mama mungkin bakalan meminta papamu itu cepat pulang. Sumpah, Mama itu sangat-sangat menanti reaksi yang-"
"Dia pasti akan kaget, Nyonya. Apa lagi berita yang akan Nyonya bagi itu adalah sebuah kabar yang sangat-sangat baik."
Laras tiba-tiba berhenti saat dia mendapati kalau orang yang baru berpapasan dengannya itu, mengeluarkan suara. Parahnya, nada bicara yang terekam di telinga Laras, sangat tidak asing.
Wanita itu menoleh ke belakang dan kedua matanya tiba-tiba membulat saat mendapati sosok orang yang bicara tadi, "Kau-"
"Iya, ini aku."
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Laras dengan sorot mata bingung.
"Memberitahukan kebenaran tentang suamimu. Kau tahu, dia adalah dalang dibalik insiden sembilan tahun lalu. Lebih jelasnya, suamimu itu adalah orang yang membuat kedua orang tuamu meninggal dan kau mengalami kecelakaan."
Laras langsung menjatuhkan amplop yang dipegang oleh kedua tangannya. Bayang-bayang kecurigaan yang mengusik seminggu terkahie ini, tiba-tiba kembali menyelinap dan mulai memporak porandakan pikirannya.
***
Kembali ke malam kepulangan Guntur.
Guntur langsung diam dia yang tadinya ingin mendekat, tiba-tiba berdiri layaknya patung. Laras yang melihat itu tiba-tiba tersenyum sumir. Satu tangannya yang terulur, langsung kembali ke posisi semula
"Ternyata benar. Kau adalah anak tidak tahu diri yang membuat aku dan keluargaku mengalami kecelakaan." Laras menampilkan wajah yang dipenuhi kepiluan. Wanita itu menggelengkan kepalanya seperti orang yang tidak percaya, "Tujuh tahun aku mengagumi orang yang seharunya paling aku benci. Lalu, dua tahun aku hidup dan mencintai orang yang tidak semestinya layak untuk mendapatkan it-"
"Laras, dengar-"
"Apa alasanmu mendekatiku seperti ini? Apa alasanmu menikahiku dan apa alasanmu pura-pura peduli kepadaku?" Laras meninggikan suaranya. Dia tidak peduli dengan keadaannya yang berbadan dua. Dia tidak peduli dengan saran yang dokter itu berikan kemarin. Saat ini, dia hanya tahu satu hal. Dia kecewa kepada satu-satunya orang yang dia percaya di dunia ini.
Guntur geming. Setelah perkataannya yang dipotong tadi, laki-laki itu langsung bungkam. Entah antara bingung mau menjawab apa atau dia tidak bisa menjawab, lantaran perkataan Laras itu sudah membuat dia kalah telak.
"Mau mwngasihaniku dan menebus sikap pengecut yang kau lakukan waktu itu, begitukah?"
Guntur masih diam dan Laras yang melihat bungkamnya sang suami, hanya bisa tersenyum sumir. Dia menggelengkan kepalanya, lalu menghapus air matanya dengan gerakan yang begitu kasar. Dia tidak peduli kalau-kalau nanti mata pisau akan menggores wajahnya, karena saat ini rasa kecewa jauh lebih kuat dia rasakan.
"Aku padahal ingin mendengar kau membantah perkataanku sekarang, Mas. Aku berharap, kau membantahnya, tapi kenapa kau diam seolah apa yang aku tuduhkan ini benar." Dengan nada lemah, Laras berucap. Wanita itu kembali menyunggingkan seutas senyum sumir dan Guntur yang melihat hal itu masih setia dengan diamnya.
"Aku ucapkan selamat atas akting dan skenario besar yang berhasil kau lakukan selama ini, Mas. Sela-"
"Ini bukan akting, Laras. Aku tulus mencintaimu, aku tulus menikahimu, dan aku tulus sayang kepadamu. Apa semua yang aku lakukan selama ini kelihatan seperti akting di matamu?" Guntur akhirnya bersuara, tapi itu tidak memberikan dampak besar ke Laras.
"Setelah kebeneran besar tentang kau terbongkar, aku jelas mengatakan kalau kau selama ini akting! Kau hanya menganggapku bahan untuk menebus dosa-dosamu!"
Guntur meejamkan mata. Kedua tangan laki-laki itu terkepal begitu sangat eratnya. Di luar, hujan masih turun dengan begitu sangat derasnya. Begitu pun gemuruh, suara dari langit itu begitu kedengaran nyaring.
"Jangan begini, Ras. Masuk kamar dan kita bicarakan ini besok. Jangan buat aku memperlihatkan sosok yang akan membuatmu-"
"Lakukan. Bunuh aku seperti caramu membunuh kedua orang tua-"
"Aku tidak pernah membunuh orang tuamu! Kejadian sembilan tahun itu adalah murni kecelakaan. Kedua orang tuamu meninggal karena-"
"Karena kau yang tidak bisa menyetir. Jika kau tidak mengendari mobil, mungkin kedua orang tuaku masih ada di sini. Mungkin kakiku tidak cacat dan luka yang ada di ekor mata kananku ini tidak akan ada!" sela Laras dan lagi-lagi suara itu bertepatan dengan munculnya bunyi gemuruh yang keluar dari langit sana.
Guntur yang tatapannya sudah memerah hanya bisa mengetatkan rahang. Dia meraih bilah pisau di tangan kanan Laras, lalu menariknya dengan paksa.
"Jika kau menyentuhku seujung kuku. Aku akan bunuh diri bersama anakku."
#Bersambung
...Gaes. Aku ada rekomendasi cerita lagi nih. Dijamin kalian pasti suka, karena aku juga suka. Kitakan sehati yah🤩🤩. Langsung aja kepoin yuk. Cerita dan judulnya ada di bawah ini yah👇...
PENAKLUK SANG CASANOVA
(Warnyi)
Diandra, perempuan dingin dan cenderung angkuh, berusia 27 tahun. Kehidupannya begitu rumit, dengan berbagai masalah yang mengelilinginya. Pertemuannya dengan laki-laki yang merupakan seorang pemain wanita, perlahan mulai merubah kehidupannya.
Giovano, laki-laki dewasa berusia 32 tahun. Seorang casanova juga pewaris perusahaan keluarganya. Dia hidup dengan sebuah janji kepada mending ayahnya. Hingga akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat terpencil, untuk mengembalikan kembali kejayaan hotel peninggalan kakeknya. Giovano merasa tertanang saat bertemu dengan seorang perempuan yang terus menolak pesonanya.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka berdua?
Mampukan Giovano membantu Diandra untuk menyelesaikan semua permasalahannya?