Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 50 [Ending]



Dua belas tahun lalu


Empat Minggu setelah kecelakaan.


"Gun, lu enggak ada niatan pacaran?Padahal, semua anak-anak di sana itu tergila-gila ke lu." Anthony berucap dengan tampang sengak. Terlebih lagi saat ini remaja 15 tahun itu mengenakan pakaian putihnya dengan tidak beraturan. Ditambah, laki-laki itu sedang menggigit batang ilalang.


"Mana ada cewek-cewek di sini yang selevel dengan seorang Satria Guntur Prasetyo. Artis lu jodoh-jodohin. Tempeleng juga nih." Bianca yang duduk di sisi pohon sebelah, menyeletuk. Anthony yang mendengar itu langsung bersungut-sungut.


Di sisi pohon lainnya, terlihat Guntur remaja duduk dengan satu kaki tertekuk dan satunya lagi terlentang. Sedari tadi laki-laki itu tidak berhenti terkekeh karena mendengar perdebatan teman-teman barunya di SMA ini.


Padahal, dia baru masuk SMA seminggu ini dan hari ini adalah hari terakhir dari MOS. Mereka bertiga sedang santai-santai di bawah pohon Flamboyan berdaun rindang yang ada di halaman belakang sekolah.


"Gue ada satu orang gadis."


Bianca dan Anthony yang mendengar itu, langsung menoleh. Mereka bedua membulatkan mata saat melihat ekspresi bahagia Guntur.


"Siapa?" tanya Bianca dengan nada dan sorot mata yang penuh selidik.


"Apa salah satu anak di sekolah ini?" imbuh Anthony dengan tatapan yang tidak jauh beda dari milik Bianca.


Guntur yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Tidak. Dia bukan dari sekolah ini. Lebih tepatnya, dia belum bisa masuk sekolah, karena sedang berada di tempat yang jauh."


Bianca dan Anthony memicingkan matanya. Dua orang itu kembali duduk ke tempatnya semula, "Halu itu pasti," ucap Anthony jengah.


"Kalau enggak tahu namanya, udah pasti halu emang." Bianca menyeletuk, membuat Guntur semakin mengeluarkan kekehan.


"Gue emang belum tahu siapa namanya, tapi gue itu punya panggil spesial untuk dia. Cantik. Bagaiamana, menurut kalian?" Guntur nyerocos, membuat Bianca dan Anthony berdahem untuk menjawab.


"Lu ketemu di mana?" tanya Anthony mengikuti tingkah Guntur.


"Gue ketemu dia di mimpi yang sangat-sangat panjang. Kalian tahu enggak. Dia itu gadis cantik, rambutnya hitam, hidungnya pesek, terus alis matanya lumayan tebal dengan bulu mata yang lentik."


Itu adalah awal mula Guntur membagi kisahnya tentang gadis yang dia panggil dengan nama "Cantik".


***


Sepulang sekolah, Guntur langsung mengunjungi rumah sakit. Padahal, hari ini dia akan syuting film remaja dan juga ada beberapa pemotretan, tapi seperti orang yang tidak sibuk. Guntur malah sudah duduk rapi dengan satu tangan menggenggam jemari milik, Laras yang masih tertidur pulas.


"Ini hari terakhirku melakukan, MOS. Kau tahu, Anthony dan Bianca? Itu loh orang-orang yang aku ceritakan kemarin. Tadi sebelum pulang, mereka menanyakan tentang kenapa aku tidak berniat mempacari anak-anak perempuan di SMA-ku."


Seperti biasa, Guntur mulai menceritakan rutinitasnya. Ini sudah tiga Minggu dia lakukan dan laki-laki itu seperti tidak ada bosannya. Setiap mengunjungi, Laras. Dia selalu saja punya banyak hal untuk diceritakan. Padahal, temannya bercerita itu sedang memejamkan mata. Namun, dia tetap saja bicara walau terkadang merasa sedikit kesal lantaran tidak mendapat respon.


"Terus, aku jawab gini. Gue ada satu orang gadis. Nah, lepas itu mereka nanyak siapa dan banyak deh. Lucunya, mereka malah anggap aku halu loh, Cantik. Pokoknya lucu banget deh mereka. Nanti kalau kau sudah bangun, aku janji bakalan bawa kau untuk berkenalan dengan mereka." Guntur mengangkat tangan Laras yang sedari tadi dia genggam.


Laki-laki itu semakin menggenggamnya dengan sangat erat. Bahkan dia merebahkan satu sisi kepalanya di punggung tangan, Laras yang sepertinya sudah mulia agak kurusan, "Terus, setelah itu. Aku menceritakan semua tentang kau, walau aku juga tidak tahu pasti kalau aku itu orang yang seperti apa."


Guntur tersenyum sumir, "Kau punya warna bola mata seperti apa? Kenapa kau selalu menyembunyikannya?" tanya remaja itu, setelah dia memberikan jeda beberapa saat untuk sang sepi membekap ruang rawat.


"Cantik, hari ini aku tidak bisa lama-lama berada di sini. Beberapa menit lagi, aku akan pergi membatalkan semua kontrak kerjaku. Mulai dari syuting film hingga ke beberapa pemotretan. Kata papa, aku harus vakum dari dunia entertainment. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi yah itu. Demi menghilangkan jejak katanya." Guntur bercerita dengan nada yang begitu lembut.


Laki-laki itu mengecup punggung tangan Laras, "Maaf, maafkan aku karena saat itu pergi begitu saja."


Setiap datang ke sini, Guntur pasti akan meminta maaf. Tiga Minggu terkahir ini, kata maaf itu sudah wajib dikatakan oleh Guntur. Alasannya tentu saja untuk mengakui kesalahan waktu itu.


"Cantik. Aku mau jujur tentang satu hal." Guntur perlahan merebahkan kepalanya di bantal, Laras, "jujur. Entah kenapa aku merasa kalau aku itu jatuh cinta kepadamu."


Guntur malu sendiri dan laki-laki itu membenamkan wajahnya di bantal, Laras. Dia juga tiba-tiba menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh Laras, "Pasti aneh yah. Aku juga merasa begitu."


***


Kembali ke masa kini.


"Apa kakinya masih sakit?" Saat ini Guntur sudah duduk bersila di sebelah kaki, Laras.


Guntur juga langsung mengambil alih kaki Laras, untuk dia letakkan di pangkuannya. Seperti hal yang sudah sering dia lakukan, saat ini Guntur mencoba memberikan pijatan di betis, Laras. Dia tanpa malu atau pun jual mahal duduk dan melakukan itu. Padahal, Guntur adalah sosok yang terkenal, tapi jika dia di depan Laras. Laki-laki itu seolah memiliki sifat yang sangat berbeda.


Itulah kenapa Laras menganggap, Guntur adalah sosok yang begitu sangat rumit dan itu benar, "Udah sarapan?" tanya Guntur di sela dia memijat.


"Udah tadi."


"Sarapannya pakai apa?" tanya Guntur tanpa melihat kalau saat ini Laras sedang menunjukkan senyum.


Entah kenapa, Laras saat ini merasa bahagia. Kebenciannya terhadap Guntur, entah kenapa tidak ada sedikit pun dia rasakan.


"Nasi goreng," jawab Laras dengan tersenyum dan jantung yang berdebar, kenapa aku selalu saja luluh di depanmu seperti ini, Mas, imbuhnya dalam hati.


Tiba-tiba, Laras merubah raut wajahnya menjadi datar. Semua itu karena Guntur yang mendongak, "Kalau gitu minum obat pereda rasa sakit aja. Nanti baru kita ke bawah dan periksa ke dokter-"


"Kenapa kamu selalu begini?" Laras mulai bicara serius. Saat ini dia berniat untuk mengetes setulus apa Guntur kepadanya.


Jika benar laki-laki itu memang tulus, Laras janji akan mencoba lupa perihal kejadian berpuluh tahun lalu.


Di sisi Guntur. Laki-laki itu menghela napas, "Jawabannya masih sama seperti yang dulu-dulu. Aku begini karena mencintaimu. Sangat malah. Jadi, apa tidak boleh aku perhatian dengan orang yang sangat aku sayang?"


Dengan sorot mata yang memperlihatkan kejujuran, Guntur menjawab. Laki-laki itu bahkan sampai menyunggingkan senyum, "Aku tahu kalau kamu pasti akan mengira dan menuduh perasaanku ini karena kasihan. Tapi, itu tidak benar, Sayang. Cintaku tulus. Aku tidak pernah memikirkan kekuranganmu, karena bagiku kamu adalah wanita yang cocok dan pas untukku," imbuh Guntur mendahului perkataan, Laras.


"Aku menyadari perasaan ini saat tiga Minggu setelah kamu koma. Jadi-"


"Kenapa waktu itu kamu pergi?" potong, Laras.


"Aku panik dan takut. Bayangkan, seorang anak lima belas tahun dihadapi oleh keadaan seperti itu, pasti mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan," jawab Guntur dengan jujur.


"Lalu, kenapa kau tidak menyerahkan diri ke kantor polisi?" tanya Laras dengan masih bernada tegas.


"Aku takut masuk penjara. Aku takut karirku rusak. Makanya setelah malam itu, Papa berbicara kepada Polisi dan dia-"


"Kenapa kamu tidak masuk penjara?" Laras menyela dengan wajah yang datar. Entah kenapa saat dia mendengar perkataan Guntur yang seperti itu, hatinya terasa sedikit sakit, "kedua orang tuaku meninggal dan aku saat itu dalam keadaan koma. Tapi, anak yang menjadi penyebabnya malah berkeliaran dengan bebas di luar. Jujur, aku marah, Mas. Aku-"


"Kalau begitu aku akan masuk penjara hari ini juga. Tapi, kamu berjanji setelah aku keluar nanti, kita akan kembali hidup-"


"Sialnya, aku tidak bisa. Aku tidak bisa melihat kamu begitu, Mas. Memang aku marah, tapi rasa cinta sialan ini selalu menghalangiku."


"Maaf ...." Guntur berucap lirih. Laki-laki itu sudah mengubah posisinya menjadi duduk bersimpuh, "apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku, Sayang? Apa kamu mau aku tidak menemuimu lagi? Akan aku lakukan, tapi percayalah. Aku akan tetap mengawasi kalian berdua. Begini-begini, aku it-"


Laras tiba-tiba membungkam mulut Guntur dengan menempelkan bibirnya di sana. Wanita itu bergerak menjauhkan wajahnya dari wajah Guntur. Kedua tangannya saat ini sedang memegangi rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, "Sejak kapan suamiku ini menjadi orang yang cengeng? Di mana dia yang dulu selalu tersenyum bahagi-"


Sekarang giliran Laras yang dibungkam oleh ciuman dari Guntur. parahnya, laki-laki itu malah mulai bergerak ******* bibir istrinya, yang begitu sangat dia rindukan. Bayangkan, sudah tiga tahun lamanya dia tidak menyesap candu itu dan hari ini, Guntur akan memuaskan dirinya dengan itu.


Guntur menarik wajahnya. Laki-laki itu tersenyum dan menangis secara bersamaan, membuat Laras mengeluarkan sebuah kekehan, "sejak kapan kamu menjadi laki-laki yang cengeng?" tanya Laras sembari mengenyahkan air mata yang mengalir di pipi suaminya.


Guntur menggelengkan kepalanya, "Sejak kamu pergi dariku. Setiap hari, setiap malam, aku selalu menangis. Hanya video kenangan kita saja yang selalu menemaniku."


Guntur bangkit. Laki-laki itu mengambil duduk di sebelah kiri, Laras. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung menarik Laras untuk masuk ke dalam pelukannya, "Aku merindukanmu. Aku merindukan istriku yang selalu menggangguku di pagi hari. Aku mohon, kembalilah. Demi aku, demi anak kita yang aku yakin sangat membutuhkan sosok ayah."


Laras ikut menangis. Tanpa diduga, dia menganggukkan kepalanya. Wanita itu bahkan melakukan hal tersebut, tanpa ada keraguan, "Aku akan kembali, Mas. Aku juga merindukanmu. Jujur, memang aku masih sangat benci padamu, tapi ... tapi rasa cintamu mengalahkan itu semua. Terima kasih karena kamu jatuh cinta kepada anak cacat dan yatim-"


"Husss!" Guntur mengeluarkan Laras dari pelukannya, lalu dia menempelkan dahinya di dahi sang istri. Kedua tangan besarnya memegangi pipi, Laras, "aku tidak peduli kamu itu cacat. Di sini satu hal yang pasti, aku itu sudah cinta mati dengan seorang perempuan yang mengatakan kalau dirinya tidak sempurna. Memang, di dunia ini tidak ada yang sempurna, aku pun begitu. Makanya, aku datang ke sini itu, untuk mengambil kembali orang yang dapat menyempurnakanku."


Laras terenyuh. Bahkan Guntur pun ikut tersenyum dan dia sudah tidak lagi menangis. Saat ini dua orang itu saling menatap dengan jarak yang begitu sangat-sangat dekat. Mungkin akan lebih baik kalau kita mengatakan, mereka saat ini tidak berjarak sedikitpun.


"Kalau gitu, sekali lagi aku katakan. Laras Ayudia, maukah kamu kembali hidup denganku yang tidak sempurna ini?"


"Yes, i do. Aku mau. Maaf karena selalu membuatmu lelah dengan sikapku yang kekanak-kanakan." Laras menjawab dengan bahagia.


Guntur yang mendengar itu semakin tersenyum lebar, "Boleh aku menciummu untuk memberikan ucapan selamat datang kembali?"


Laras menganggukkan kepalanya dan wanita itu tiba-tiba memejamkan mata. Sangat persisi seperti saat dia dan Guntur melakukan hal ini untuk pertama kalinya.


Guntur yang sudah melihat sang istri siap, mulai bergerak merapatkan bibirnya. Dia juga memejamkan mata, "Laras, aku mencintaimu," ujar laki-laki itu dan bibirnya sudah siap menempel di bibir Laras.


"Mama, di luar hujan!" Katrina tiba-tiba datang, membuat adegan ciuman Guntur dan Laras tidak terlaksana, "Mama, kenapa?" imbuh bocah perempuan itu.


Laras tersenyum dan melirik suaminya yang saat ini kelihatan kecewa, "Sayang, sini!"


"Iya, Mama." Guntur dan Katrina menjawab dengan bersama-sama. Laras yang mendengar itu tergelak dan Guntur yang melihat istrinya tertawa, tentu merasa bahagia.


Guntur berdiri dan laki-laki itu langsung beranjak untuk menggendong Katrina, "Katrina, ciuman selamat datang untuk Papa mana?" tagih Guntur dan tanpa sadar, Katrina bergerak menempelkan bibir mungilnya di pipi, Guntur.


"Akhirnya, keluarga kecilku kembali lengkap. Terima kasih." Guntur kembali duduk di sebelah istrinya dan tiga orang itu mulai saling berbincang. Mereka sesekali tertawa saat mendapati tingkah Katrina yang polos karena tiba-tiba memiliki sosok ayah yang di mana, dia selalu memimpikan hal itu.


# The End


...Akhirnya cerita ini tamat juga. Menurutku, Laras dan Guntur memang semestinya harus berakhir begini. Maaf jika ekspektasi kalian terhadap cerita ini bertentangan dengan saya. Tapi, terima kasih karena sudah setia mengikuti cerita remeh ini dan aku harap, kalian akan terus mengikuti kisah-kisahku selanjutnya. ...


...Btw, aku udah punya pengganti dari cerita ini yah. Mau tahu judulnya apa? Ada dibawah ini yah👇...



Ceritanya tentang apa? cekidot 👇


Hasrat Cinta Sang Duda


Setelah kepergian sang istri, Edoardo tidak ingin menikah lagi. Namun, sebuah insiden menimpa laki-laki itu. Tepatnya hari Minggu, waktu itu dia tengah bertugas di pantai dan gelombang besar tiba-tiba menyerang lautan Banzay Beach.


Para pengunjung waktu itu berbondong-bondong meninggalkan laut, tapi ada seorang wanita yang malah terseret ombak. Edoardo yang bekerja sebagai seorang lifeguard tentu saja memberanikan diri berlari masuk ke tengah laut untuk menyelamatkan wanita itu.


Dia berhasil meraih wanita itu, tapi gelombang terlalu kuat dan itu membuat Edoardo tidak bisa kembali ke pantai. Pada akhirnya dia dan wanita yang diselamatkannya itu terombang-ambing di tengah samudra selama satu hari.


Setelah itu, Edoardo terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah pulau terpencil. Tentu wanita itu masih bersama dengannya.


Penasaran?


Seperti apakah kisah selanjutnya?


...Cerita ini akan berlatar di luar Indonesia yah, tepatnya di Italia. Jadi, ditunggu yah. Hasrat Cinta Sang Duda, bakalan up perdana di tanggal, 15 September 2022...


...Satu lagi, Guntur dan Laras akan mendapatkan dua ekstra part. Jadi, stay tune yah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih dan bay bay. ...