
..."Akan aku lakukan apa pun yang membuat kamu lupa akan masa lalu dan berbalik untuk terus melihatku."...
...****************...
..."Satria Guntur Prasetyo"...
"Kamu kenapa?" Tanya Guntur sembari menoleh dengan cepat ke arah istrinya yang duduk di kursi penumpang bagian depan, tepat di depannya.
"Enggak, tapi lihat ini. Kamu kok cute banget sih. tatapanmu kayak gini, terus alismu begini. Sumpah lucu banget." Laras semakin tergelak. Wanita itu merebahkan diri di sandaran kursi dan kedua kalinya dia naikkan.
Guntur memerah malu, tapi dia juga merasa senang saat mendapati istrinya itu tertawa bahagia. Sementara di jok belakang, Lidia hanya bisa diam menahan tawa.
Padahal saat ini, Laras begitu ingin tertawa, tapi karena takut kena semprot Abangnya, dia memilih diam. Satu hal yang harus kalian tahu, Guntur itu sebenarnya tipe orang yang paling benci diketawain. Anehnya, dia dua tahun terkahir ini menjadi badut jika pulang ke rumah bersama dengan istrinya.
"Lidia, lihat Abangmu. Dia beneran imut, 'kan?"
Lidia terenyuh dan pada akhirnya tawa dari anak bungsu keluarga Prasetyo itu meledak. Dia ikut tergelak, membuat Guntur semakin malu.
"Aku tahu kalau aku itu tampan. Jadi, berhentilah tertawa!" Dalam rasa malu, Guntur berseru. Laras dan Lidia yang mendengar itu langsung dibuat bungkam, tapi tetap saja dua orang itu mengeluarkan cekikikan yang ditahan.
"Untuk istriku, kamu tertawalah. Aku tidak bisa lihat kamu tersiksa karena menahan tawa," ujarnya setelah melirik Laras, yang dalam keadaan ingin meledakkan tawa.
"Maaf yah, Mas. Seharusnya aku tahu perasaan orang yang diketawain karena aku juga dulu sering mendapati orang-orang ketawa karena ngeliat aku." Seketika suasana bahagia yang tadinya memenuhi mobil, langsung digantikan dengan atmosfir yang tiba-tiba berubah suram.
"Maksud aku bukan begitu, Sayang. Kalau kamu mau tertawa, tertawa aja. Bener."
"Enggak, maaf yah. Tapi, kamu waktu bocah kayak gini ganteng banget, Mas. Pantes saja bisa jadi aktor besarnya." Laras kembali memandangi foto masa kecil suaminya.
Guntur yang melihat Laras seperti itu, sedikit tersenyum, tapi dia juga sedikit merasa bersalah karena tadi membuat istrinya menampilkan wajah yang kelihatan murung.
"Tapi, coba deh Kak Ras lihat foto remaja dari Bang Gun. Pasti bakalan klepek-klepek." Lidia dengan suara cerianya memecah atmosfir awkward yang tadi menuju mobil.
"Tapi, tadi di album nggak ada, kan?" Lidia mengangguk kepalanya.
"Iya, padahal waktu remaja dulu, Aku, Mas Bara, Bang Gun selalu di foto, tapi ilang. aneh banget kan?" Lidia menghela napas dan menunjukkan raut wajah yang kecewa.
Sementara di sisi Guntur. Entah kenapa saat dia mendengar adiknya menyeletuk tentang foto saat remaja, membuat hatinya tidak tenang. Dia yang tadinya fokus melihat jalanan, pun mulai curi-curi pandang melihat ke arah sang istri.
"Khem ... Dari pada kalian membahas masa lalu, kenapa tidak lihat aku yang sekarang. Apa di mata kalian aku yang sekarang itu, jelek? Padahal, para penggemar selalu terpesona jika melihatku."
Obrolan di suasana sore menjelang petang itu, diakhiri dengan suara tawa Laras dan Lidia yang mendengar Guntur begitu percaya dirinya. Sedangkan di sisi Guntur, laki-laki itu jelas langsung tenang, saat mendapati istrinya tidak lagi memikirkan atau pun penasaran dengan wajah remajanya. Entah apa alasannya, Guntur sangat-sangat tidak mau membuat sang istri tahu tentang sosoknya waktu remaja dulu.
***
Malam jam delapan, Bandara ternyata sangat ramai. Saat ini Guntur dan Laras tengah duduk di kursi tunggu. Beberapa saat lalu, mereka sudah menyerahkan barang-barang bawaan untuk dimasukan ke bagasi. Bahkan tadi mereka juga menimbang barang bawaannya.
"Apa masih lama, Mas?" Laras bertanya sembari menoleh ke kanan dan kiri, karena saat ini dia dan suaminya menjadi bahan tontonan. Bahkan tadi sebelum ini, mereka berdua juga dikerumuni oleh orang-orang yang ada di bandara, karena semua orang itu katanya ingin minta foto.
Namun, beruntunglah pihak keamanan Bandara mampu membuat semua orang tenang dan jadilah suasana di ruang tunggu itu sunyi, walau sedari tadi sorot mata semua orang selalu melihat ke arah Guntur.
"Bentar lagi, Bi. Sepertinya tadi kita terlalu cepat datang." Laras menganggukkan kepalanya, lalu dia mengandeng lengan kanan suaminya, kemudian menyembunyikan wajahnya ke cela ketiak Guntur.
"Yang ada di sini, apa kalian menjelek-jelekkan istriku di dalam hati?" Guntur tiba-tiba bangkit dari duduknya dan langsung bertanya dengan nada yang tegas.
Laras yang mendengar itu tersentak kaget dan dia semakin dibuat memerah malu, "Mas ...." gumamnya pelan sembari terus menyembunyikan wajahnya, agar tidak dilihat oleh orang-orang.
Guntur mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling. Dirasa tidak ada yang mencurigakan, laki-laki itu kemabli duduk, "Tidak ada yang ngejelek-jelekin kamu, loh."
"Mana ada mereka mau ngaku. Kamu juga aneh-aneh aja." Laras berbisik, membuat Guntur menyunggingkan seutas senyum kecil.
"Yang aneh kamu. Sudah seratus kali lebih aku bilang, Kamu itu jangan pedulikan perkataan orang. Kalau kamu peduliin, aku bisa jamin kamu itu enggak pernah akan merasa puas dengan hasilnya. Kenapa aku bilang begitu, karena jika kamu turutin kata orang-orang-"
"Iya-iya. Lihat, aku percaya diri, 'kan?"
"Noleh ke kanan!" perintah Guntur dan Laras langsung melakukannya dan kedua mata wanita itu langsung mendapati tatapan orang-orang.
Laras kembali ciut dan bersembunyi di ketiak suaminya, "Katanya udah percaya diri. Percuma dong kamu itu perawatan, tapi malah kasih liat ke ketiakku doang."
"Banyak omong. Ketiakmu lebih baik dari pada tatapan semua orang." Laras bersungut-sungut, membuat Guntur terkekeh.
Laki-laki itu bergerak menolehkan kepala ke kanan dan kiri, saat dia mendapati ada beberapa orang yang mulai mendekati gate 6, laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya.
"Sayang, ayok." Guntur bangkit lebih dulu, membuat Laras tentu saja langsung ikut berdiri.
Guntur berjalan perlahan, seolah dia ingin mengikuti langkah istrinya yang pelan. Bahkan, laki-laki itu berjalan dengan kepala yang tidak berhenti menoleh ke sisi kanan, temapt di mana istrinya berjalan.
"Ini beneran kita mau pergi ke Francis, Mas? Aku kok masih enggak nyang- akhh!" Laras tiba-tiba menjerit saat pundak kanannya disenggol oleh seorang laki-laki berjaket hitam.
Laras tidak lebay, tapi hanya saja tadi yang disenggol itu kaki kanannya hingga dia sampai terduduk jatuh di lantai. Sementara Guntur yang melihat itu, langsung dibuat marah. Bahkan dia yang tadinya jongkok untuk melihat keadaan istrinya, malah langsung berdiri dan hendak mendekati orang berjaket itu.
"Maafkan saya, Nyonya, saya tadi buru-buru. Ini saya kembalikan, Tas Anda."
Guntur yang tadinya hendak marah langsung dibuat diam. Dia tidak takut, tapi entah kenapa suara yang terdengar dari orang berjaket hitam itu, seperti tidak asing.
Sementara di sisi Laras. Wanita itu langsung mencoba bangkit dari duduknya dan berdiri dengan hanya menggunakan satu kakinya. Dia tersenyum, kedua tangannya bergerak menahan lengan sang suami, agar tidak melakukan hal aneh yang bisa merusak reputasinya.
"Tidak apa-apa. Aku juga tadi salah, karena jalan tidak melihat ke depan." Laras meraih tasnya.
Orang berjaket hitam itu diam tak menanggapi. Dia tidak kembali meminta maaf dan malah beranjak pergi seperti orang yang tidak bersalah. Padahal, dia tadi jelas-jelas melihat kalau Laras hanya berdiri dengan satu kaki.
"Eh, kau-"
"Sudah, Mas. Kita lebih baik berangkat sekarang. Jangan terpancing, karena saat ini banyak orang yang melihatmu. Lebih dari itu, kamu juga seorang publik figur." Laras menghentikan pergerakan suaminya yang hendak mengejar laki-laki itu.
Di sisi Guntur. Laki-laki itu mengeluarkan decakan. Dia tidak menanggapi perkataan Laras dan malah langsung menggendong istrinya itu untuk menuju ke gate 6, jalan yang akan mereka gunakan untuk masuk ke pesawat.
"Nanti akan aku periksa di dalam." Laki-laki itu berbicara dengan mimik wajah yang tegas. Dia seolah tidak peduli, kalau saat ini semua orang tengah terkagum-kagum kepadanya karena bisa menahan amarah disaat istrinya diperlukan seperti itu.
"kenapa suara orang itu tidak asing ditelingaku?" batin Guntur saat dia mengingat orang berjaket hitam itu.
#Bersambung