
"Bohong. Jangan percaya perkataan Lidia, Sayang." Suara seorang wanita menggema memenuhi ruangan keluarga, membuat tiga orang yang ada di sana mau tidak mau menoleh melihat ke arah pintu masuk.
"Mamah," ujar Lidia dan Laras secara bersamaan. Bahkan Lidia langsung bangkit dari duduknya saat mendapati Mama mertuanya berjalan masuk.
"Kamu jangan bicara enggak-enggak Lidia. Jelas-jelas ini itu bukan foto kakakmu. Foto remaja kakakmu itu jauh lebih bagus dari ini. Dia juga sangat tampan." Zelina merampas foto yang ada di tangan anak bontotnya itu.
Laras yang mendengar penuturan dari mama mertuanya, langsung memicingkan mata. Dia sepertinya merasakan sebuah kejanggalan di sini, tapi Laras yang tidak ingin berpikiran buruk tiba-tiba tersenyum.
"Sungguh? Apa Mama punya foto mas Gun waktu remaja yang benar?" tanya Laras, membuat Zelina mengalihkan perhatiannya.
Zelina tersenyum. Dia mendekati menantunya, lalu kemudian merangkul wanita itu, "Tidak, karena Guntur waktu remaja sangat anti melihat ke kamera. Tapi, kalau kamu mau tahu, nanti mama kasih tahu."
Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia kali ini mencoba untuk tetap tenang, walau sedang dilanda banyak pertanyaan yang diselimuti rasa keingintahuan, ada yang janggal. Kata Mas Guntur, dia mengawali debutnya dari menjadi model saat remaja. Apa Mama dan mas Gun mencoba menyembunyikan sesuatu dariku? batin Laras menerka. Terlebih lagi saat ini dia sedang melirik ke arah Lidia, yang kelihatan terkejut.
"Lidia, jadi kamu bohongin, Kakak?" Laras menciba mengalihkan perhatian mama mertuanya.
"Tidak begitu, Kak Ras. Seingatku laki-laki yang ada di foto itu adalah Bang Gun. Aku masih ingat-"
"Lidia! Bukankah mama mengatakan kalau dia bukan Abangmu. Dia dan laki-laki itu mungkin berbeda," potong Zelina dengan sedikit tegas, membuat Laras tersentak kaget. Wanita itu bahkan sampai mundur.
"Tenangkan dirimu," bisik Adnan dan Lidia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Maaf, mungkin Mama benar. Maaf, Kak Ras. Aku sepertinya keliru. Jad-"
"Ada apa ini, Zelina? kenapa kalian bicara dengan berteriak seperti itu? Apa kalian enggak malu sama tetangga?" Oma Heni menyeletuk. Wanita itu baru masuk ke dalam rumah dan dia sudah mendoaati Zelina berteriak kepada Lidia.
Zelina memejamkan mata. Dia menarik napas untuk menenangkan diri, "Maaf, Mah. Hanya-"
"Kamu kenapa?" sela Oma Heni sembari langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Dibelakangnya ada Mbak Renata yang masih memindai situasi. Dia bahkan sampai menaik turunkan alis, untuk bertanya ke Laras.
Laras yang mendapati tanda itu menggelengkan kepalanya dan setalah itu, dia tersenyum, "Tidak ada apa-apa Oma. Hanya saja kami tadi menemukan foto yang hampir mirip dengan rupa mas Gun waktu muda."
Laras meredam suasana yang ada di ruang keluarga ini. Dia berjalan ke arah Omanya, "Selamat datang, Oma." Wanita itu memeluk Oma Heni.
"Terima kasih, Sayang. Kamu apa kabar? Guntur junior baik-baik saja, 'kan?" Oma Heni meletakkan tangannya di atas perut sang menantu.
Laras yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "Dia sangat baik. Mas Gun junior sudah tidak sabar menyambut papanya."
Oma Heni tersenyum dan dia tiba-tiba mencubit hidung menantunya, "Kamu lucu banget sih," pujinya, membuat Laras merona.
Sementara di sisi Mbak Renata. Saat ini wanita itu sudah berdiri di sebelah Lidia yang sedang dipeluk oleh Adnan, "Ini ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sampai diteriaki, Mama?" bisiknya dan Lidia yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Lidia menggeleng karena saat ini, dia sedang mendapati tatapan tajam penuh dengan peringatan dari, Zelina.
"Kenapa suasananya suram begini? Apa semuanya baik-baik saja?" Bara tiba-tiba masuk dan langsung mengangkat suaranya. Dia bahkan sampai menaik turunkan alisnya saat semua keluarga sedang menatapnya.
"Tidak ada, Mas. Kami kekurangan orang untuk menggantung foto." Lidia mencoba kembali ceria. Dia bahkan langsung keluar dari dalam pelukan Adnan.
Bara yang mendengar penuturan adik bontotnya itu langsung tersenyum, "Ohh. Hanya itu, tapi sekarang sudah tidak kurang lagi karena Mas sudah ada di sini. Jadi, ayok selesaikan dekorasinya."
Suasana berubah tenang kembali. Mas Bara yang terkenal dingin, tiba-tiba masuk dengan senyum yang mengembang. Sepertinya laki-laki itu memang berniat merubah suasana.
***
Satu hari sebelum kepulangan Guntur
Setelah kejadian yang menurut Laras dipenuhi oleh tanda tanya itu berlalu, entah kenapa semakin hari dia merasa sedikit mencurigai Guntur.
Bukan karena foto itu, tapi dia mulai curiga saat mendapati reaksi ibu mertuanya yang kelihatan menyembunyikan sesuatu yang sangat janggal.
Akan tetapi, disaat rasa curiga itu semakin hari semakin membesar, Laras selalu berpikiran kalau suaminya tidak mungkin begitu. Intinya, disaat dia curiga dia juga membantah kecurigaan itu.
Wanita itu tersenyum saat mendapati banyak sekali potret suaminya yang bergaya konyol, keren, dan masih banyak lagi. Laras bahkan sampai tak malu-malu untuk mengeluarkan tawa, agar rasa ragunya lenyap.
"Papamu itu orang baik. Dia tidak mungkin seperti itu, 'kan? Mama percaya kepada Papamu, tapi ...." Laras tiba-tiba menangis, tapi di suatu kesempatan dia juga menyunggingkan senyum.
"Mama sangat berharap kalau orang itu bukan, Papamu. Tapi, jika orang itu benar, Papamu. Apa yang harus Mama lakukan?" Dalam tangis, Laras bicara. Dia bahkan tidak berhenti untuk mengelus perutnya yang datar.
Di luar langit sedang menggelap. Padahal masih siang, tapi suasananya terasa seperti petang. Semua tidak lepas dari awan mendung. Mendekati hampir penghujung bulan Desember, curah hujan memang semakin parah.
Mereka yang awalnya lebih sering turun di siang hari, mulai tidak segan menjatuhkan diri di malam hari dan bahkan akan terus awet saat mendekati fajar. Laras tahu itu, karena beberapa hari terkahir ini jam tidurnya sedang kacau. Semua karena dia bebeepaa malam ini selalu dirundung mimpi buruk. Saking buruknya, Laras tidak ingin mengingat bunga tidurnya itu.
"Tapi, kamu percayalah, Sayang. Saat ini Mama benar-benar masih percaya dengan, Papamu. Besok pagi, Papamu akan kembali. Jadi, kita harus membuat kejutan paling besar untuknya."
Setelah mengatakan itu, Laras keluar dari dalam rumah. Seperti yang sudah direncanakan. Satu hari sebelum suaminya pulang, dia akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk kandungannya."
***
Denpasar, Bali
"Bersulang atas berakhirnya syuting kita bulan ini."
Semua mengangkat gelas yang berisikan cairan warna putih agar keemasan dikit. Setelah melakukan itu, mereka langsung meminumnya secara bersamaan.
"Mulai besok kita akan pulan dan akan lanjutkan syuting di bulan Januari. Jadi, saya mengatakan untuk nikmati akhir tahun kalian dengan keluarga."
Semua pekerja dan pemain bersorak. Mereka kembali mengangkat gelas masing-masing, lalu meneguknya. Guntur pun ikut, tapi entah kenapa sadari tadi dia seperti mencari keberadaan seseorang.
"Satria, apa ada yang membuatmu bimbang?" Sisil Salsabila, aktris cantik teman main Guntur di sinteron kali ini, tiba-tiba berbicara dengan Guntur.
Guntur yang mendapati itu menoleh dan mengulas senyum, "Tidak ada, hanya saja aku mencari asistenku. Di sini hanya dia yang tidak kelihat-"
"Mungkin dia ada di tempat lain." Sisil tiba-tiba memotong perkataan Guntur. Bahkan, wanita itu tiba-tiba meletakkan satu tangannya di atas dada Guntur.
Guntur diam dengan mata fokus melihat ke arah wajah cantik, Sisil. Tidak bisa dipungkiri, Sisil memang wanita cantik, tinggi, dan juga bertalenta. Dibadingkan Laras, tentu saja dia akan menang.
"Dari pada kamu mencari orang yang tidak pasti. Bagaimana kalau ...." Sisil melangkah lebih dekat. Saat ini wajah wanita itu sudah sejajar dengan wajah Guntur yang sedikit menunduk. Bahkan jarak bibir mereka saat ini sudah sangat dekat. Mungkin jika ada satu orang yang sedikit bergerak maju, mereka akan berciuman.
"Kita menghabiskan hari terakhir ini dengan kenangan yang bahagia," imbuh Sisil dengan senyum nakal. Parahnya, entah sejak kapan, dia sudah melingkar satu tangannya di tengkuk Guntur, yang masih diam dengan pandangan menelisik wajah Sisil.
Saat ini semua pekerja dan pemain sedang berada di salah satu hotel bintang lima. Mereka berniat akan bermalam di sini dan besoknya, akan kembali ke ibu kota bersama-sama.
"Kalau aku boleh tahu, kenangan bahagia yang kamu maksud itu seperti apa?" Guntur mengulas senyum, membuat Sisil semakin memajukan wajahnya dan bersiap menempelkan bibirnya di atas bibir Guntur.
Guntur langsung mendorong Sisil, "Maaf, kamu membuatku sesak."
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Guntur dan juga Sisil. Guntur yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian, langsung tersenyum, "Acarabya susah selesai, 'kan? Kalau gitu, aku permisi."
Guntur beranjak pergi dari restoran yang ada di dalam hotel itu. Sementara Sisil, wanita itu menghentikan kakinya sebal. Dia juga langsung berlalu pergi, karena merasa malu mendpati sebuah penolakan.
"Satria!" Guntur yang tadinya hampir keluar dari ruangan VIP restoran, kembali memutar tubuhnya, "Saya lupa mengabarkan, kalau asistenmu Liam pulang lebih dulu. Katanya, dia ingin bertemu kedua orang tuanya."
Guntur tersenyum, "Terima kasih atas informasinya, Pak." Setelah mengatakan itu, Guntur langsung benar-benar pergi. Dia tidak lupa memberikan tatapan mencela untuk Sisil yang sedang berkumpul dengan teman-teman wanitanya.
"Laras, aku rindu kamu," gumamnya di setiap derap langkah yang saat ini dia lakukan.
#Bersambung
..."Cara dia mandangin Sisil. Enak aja mau goda Guntur."...