Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 23



..."Liburan terbaik yang pernah aku dapatkan."...


...****************...


..."Laras Ayudia."...



Didalam pesawat ....


"Nyeri, Mas."


Guntur semakin dibuat panik sekaligus takut. Laki-laki itu sekarang sedang dalam posisi jongkok dan kedua tangannya tengah mencoba untuk membuka sepatu yang sedang sang istri.


"Apa kamu bawa obat pereda nyeri?" Guntur mendongak untuk melihat wajah istrinya. Raut panik masih kelihatan sangat jelas di sana.


"Ada di tas, aku car-"


"Biar aku saja." Guntur menyambar tas istrinya. Laki-laki itu mulai mencari obat di dalam sana. Dia membongkar isi tas dengan gerakan tangan yang sangat cepat. Mungkin karena panik.


"Kalau kamu cari kayak gitu, obatnya enggak bakalan ketemu, Mas. Pelan-pelan saja. Lagian aku cuma sedikit nyeri."


"Sedikit nyeri, sedikit nyeri. Apa kaki yang enggak bisa dipijakkan ke tanah itu kamu bilang sedikit? Aneh kamu. Seharusnya tadi kamu kasih aku aja buat kasih perhitungan ke laki-laki sialan itu."


Guntur bersungut-sungut, membuat Laras merasa lucu dan bahkan wanita itu samapi terkekeh geli. Saat ini, Laras sudah duduk di kursinya.


"Nah ketemu. Kamu tunggu bentar. Aku ciba minta air." Guntur mengeluarkan tangannya saat dia mendapati apa yang memang menjadi tujuannya. Namun, ada hal aneh saat dia tadi mengeluarkan tangannya. Tadi, ada sebuah kertas foto yang terbawa keluar, tapi kembali jatuh ke dalam tas.


"Kamu memang lebay, Mas." Laras sepertinya menyerah dan memilih untuk menikmati tingkah suaminya yang terlalu khawatir.


"Lebay-lebay gini, kamu juga cinta mati ke aku. Jadi, just shut up and enjoy."


***


Paris, France, 19.45pm


"Sini, berdiri di sebelahku." Guntur berucap sembari menarik pelan Laras untuk masuk ke dalam lift.


Setelah mengudara selama 17 jam, akhirnya mereka berhasil sampai dengan selamat di Prancis. Hawa dingin khas bulan Desember di kota Paras tentu saja langsung menusuk kulit mereka, tapi beruntunglah Guntur selalu siaga. Dia langsung memasangkan jaket tebal untuk Laras, sementara untuknya sendiri hanya mengenakan jaket biasa.


Sudah dibilang kan. Bagi Guntur, Laras itu prioritas utama. Dia tidak pernah mau nyaman duluan, kalau Laras belum merasakan hal itu untuk pertama kali.


Saat ini, mereka berdua sudah berada di salah satu hotel bintang lima yang ads di kota pusat Paris. Setelah mendarat, mereka memang langsung mencari penginapan untuk bermalam. Mereka sampai di Paris jam delapan malam. Pastilah mereka akan terkena jetlag juga.


"Lantai 14." Guntur menekan tombol nomer 14 yang ada di sisi kanan pintu lift. Setelah itu, dia langsung mendekap sang istri.


"Kamu masih kedinginan?" tanya Guntur sembari bergerak menyandarkan kepala Laras ke dadanya. Laki-laki itu juga mengosongkan telapak tangannya di lengan otot istrinya yang sudah terbalut jaket tebal.


"Mas aneh ih. Seharusnya aku yang nanyak gitu. Gimana? Mas kedinginan enggak?" tanya Laras sembari terus menatap ke pintu lift yang masih tertutup, karena saat ini bergerak naik.


"Aku enggak masalah. Kenyamanan kamu itu jauh lebih penting dari pada aku," ujar Guntur dan setelah itu, dia menunduk untuk mencium puncak kepala sang istri.


"Makasih yah, kamu emang suami terbaik." Laras memejamkan mata dan semakin menguatkan pelukannya.


Pasangan suami istri itu berjalan keluar dalam kondisi, Guntur merendang sang istri dan Laras memeluk tubuh suaminya. Beberapa orang sedikit melirik ke arah mereka.


"Mas, kita tadi dapat kamar nomer berapa?" tanya Laras dengan melirik ke atas untuk melihat wajah suaminya.


Guntur langsung mengecek kertas pembungkus dari room card key yang tadi dia dapatkan dari resepsionis. Laki-laki itu memicingkan mata dan setelah menemukan apa yang dicari, barulah dia mulai mendongak untuk melihat nomor-nomor kamar yang ada di lantai 14 ini.


"Ini, nomer 253." Guntur menghentikan langkah dan langsung menghadap tepat ke pintu kamar bernomer 253, "misi bentar, Bi."


Laras mengurai pelukannya dan dia dengan berusaha menahan sakit di kaki kanannya, bergerak menyingkir. Wanita itu kelihatan meraih koper yang sedari tadi di seret suaminya, untuk dijadikan bahan pegangan.


Tidak bisa dipungkiri, saat ini kaki kanannya begitu teramat ngilu. Padahal, sudah 15 jam berlalu, tapi nyeri karena senggol itu masih dia rasakan. Obat pereda nyeri sudah dia minum, tapi tetap saja sakitnya masih terasa dan membuat pijakan kaki kanannya itu sedikit melemah.


Di sisi Guntur, Laki-laki itu melangkah maju dengan terus saja melihat Laras, "Tahan bentar!" ujar laki-laki itu sembari menempelkan room key crad untuk membuka pintu hotel.


"Sini," Laki-laki itu kembali mengambil alih Laras, lalu mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam kamar hotel. Tentu saja dia membawa serta koper itu ke dalam.


***


"Apa kakinya masih nyeri?" Guntur bertanya sembari membuka pintu lemari untuk memasukkan kopernya.


"Udah agak mendingan sih, tapi masih dikit-dikit, Mas." jawab Laras yang saat ini tengah berbaring. Wanita itu kelihatan letih, walau tadi di pesawat dia padahal sudah tidur cukup banyak. Mungkin karena setelah keluar dari pesawat dan dia melihat suasana kota yang gelap, membuat jam internal tubuhnya tidak sinkron dengan waktu yang baru.


"Itu biarin aja, Mas. lagian kita di sini cuma semalam. Kalau dikeluarin bakalan repot sendiri." Guntur menghentikan aktivitasnya yang tadi hendak mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam koper.


Laki-laki itu kembali menutup zipper kopernya, lalu setelah itu dia bergerak menutup lemari, "Apa suhu pemanasan aku tambah lagi?" tanya laki-laki itu sembari duduk di sebelah istrinya.


Laras sedikit bangkit dan kembali merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Segini udah cukup."


Guntur menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu mulai menggerakkan satu tangannya untuk mengelus kepala sang istri dan tangan satunya lagi bergerak meriah jemari Laras, untuk dia genggam, "Maaf yah. Seandainya tadi aku memperhatikanmu lebih banyak, mungkin orang itu tidak akan menabrakmu dan mungkin kita langsung bisa menikmati salju."


"Kenapa sih, Mas itu selalu saja minta maaf. Terus, kurang perhatian gimana? Bagiku, semua yang Mas lakuin itu tidak pernah kurang. Mas, perhatian, selalu memprioritaskan aku, dan sayang banget sama aku. Aku itu wanita paling beruntung yang bisa bersanding dengan, Mas. Aku sayang Mas, aku tidak mau kehilangan Mas Gun."


Guntur mengangkat tangan Laras, lalu mengecupnya, "Aku jauh lebih menyayangimu dan jauh lebih takut kehilanganmu."


Laras tersenyum, "Tapi, sepertinya malam ini kamu harus pergi dulu dari sisiku. Aku lapar dan pengen makan. Jadi, belikan sesuatu untukku."


Guntur tertawa, membuat Laras ikut tertawa, "Apa pun buat istri tercintaku ini. Kalau begitu, kamu tunggu di sini. Aku akan menghubungi pekerja hotel untuk-"


"Enggak! Aku maunya kamu yang beliin. Aku mau makanan itu dari tangan kamu, titik."


"Eh, sejak kapan kamu semanja ini?" Guntur terheran-heran dengan mimik wajah yang terenyuh.


"Sejak kita di sini. Intinya, bulan ini Satria Guntur Prasetyo itu hanya milikku. Aku ingin dimanja dan dicintai oleh dia."


Guntur tersenyum. dia menunduk dan langsung mengecup bibir sang istri, "Apa pun untuk istriku." Laki-laki itu bangkit dari duduknya, lalu setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan Laras yang cekikikan. Benar-benar suami idaman.


#Bersambung