Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 34



"Ya ampun, Kak Ras. Bang Gun kok tega banget sih sama Kakak. Ninggalin dengan hanya memberikan laptop? Suami apa itu? Kenapa dia menyiksa Kak Ras kayak gini?" Suara Lidia langsung menggelegar memenuhi ruang keluarga rumah Laras.


Laras yang mendengar itu langsung memejamkan mata. Tadinya dia mengira yang datang siapa, tapi saat buka pintu ternyata wajah Lidia lah yang kelihatan.


"Kakak berkemas. Kita pergi ke rumah Mamah. Oma bilang dia kangen, Kak Ras." Seperti mendapatkan angin musim semi di tengah derasnya hujan.


"Buru, Kak!" Lidia meraih tangan Laras, lalu menarik paksa wanita itu untuk keluar.


"Kakak kunci pintu dulu, Dia."


Lidia melepas tangan Laras, lalu membiarkan wanita itu waktu untuk menutup pintu rumah.


***


"Sebelum ke rumah, kita mampir ke toko kue dulu gimana?"


Lidia yang saat ini tengah menyetir mobil, langsung menoleh, "Kakak ngidam?" tanyanya dengan sedikit mendelik.


Laras terkejut. Wanita itu langsung menganggukkan kepalanya, tapi dia juga menggeleng diwaktu yang bersamaan, "Enggak ngidam, tapi Kakak cuma kepengen makan kue manis gitu."


"Kepengen itukan ngidam, Kakak." Lidia berucap sembari membenarkan arah tatapan wajahnya yang kembali menghadap ke depan.


"Iya tahu, tapi ngidam itu kan digunakan ke orang yang hamil dan-"


"Siapa tahu kakak hamil. Kakak udah coba cek?" Lidia menghentikan laju mobilnya karena saat ini dia terkena lampu merah.


"Belum mau cek. Soalnya Aku itu enggak ada tanda-tanda hamil. Orang hamil kan muntah-muntah, nah Kakak belum ngerasain itu. Tapi, sering kepengen inilah, itulah." Laras menjelaskan panjang lebar dan Lidia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.


Mendekati pusat kota Menteng, hujan mulai tinggal gerimis dan tidak sederas tadi, "gimana, boleh enggak kalau kita mampir dulu ke toko kue?"


Lidia berdahem, membuat Laras tersenyum dan langsung memeluk adik iparnya itu. Sontak Lidia membulatkan mata dan langsung berusaha untuk menjauhkan Laras dari tubuhnya.


"Kak, kita ini sekarang berada di tengah jalan. Nanti kalau celaka gimana?" Laras langsung mengurai pelukannya dan wanita itu tiba-tiba duduk diam tanpa bergerak sedikit pun.


"Gimana perasaan Ayu hari ini?"


"Ayu senang banget Ma, Pa. Terima kasih liburan dan semua hadiahnya."


"Syukurlah. Untuk di SMA nanti, kamu kira-kira ambil jurusan a-


"Papa ada mobil di de-"


"Kakak!"


Laras tiba-tiba tersadar dan langsung menoleh dengan kepala yang kosong. Bahkan saat ini sorot matanya pun kelihatan linglung seperti orang yang bingung dengan keringat yang bercucuran lumayan deras.


Padahal di luar hujan, tapi entah kenapa Laras dibanjiri oleh keringat. Wajahnya juga kelihatan pucat, "Maaf," wanita itu tiba-tiba meminta maaf, membuat Lidia kebingungan.


"Kenapa kakak minta maaf. Aku tadi nanyak kakak itu mau ke toko kue yang mana?" Lidia yang sudah mengendari kembali mobilnya, bicara dengan terus melihat lurus ke depan.


"Tahu toko kue Exquise Patisserie?" Laras mencoba tenang. Dia juga mulai melukiskan senyum di wajahnya yang ternyata, semakin hari semakin tidak lagi berjerawat.


"Exquise Patisserie, yang di jalan HOS Cokroaminoto?" tebak Lidia dan Laras yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.


***


"Okeh, Cut!" Guntur langsung menurunkan teman akting yang dia gendong punggung. Mereka berdua saling mengulas senyum untuk sekedar mengucapkan terima kasih, tapi sepertinya artis teman mainnya itu mengedipkan mata. Genit sekali dan Guntur hanya semakin tersenyum. Malahan laki-laki itu langsung pergi ke tepi tempat para crew


"Bagus, Satria. Seperti biasa, aktingmu selalu natural dan top. Terima kasih dan kita bertemu besok." Guntur hanya tersenyum saat produser memberikan pujian untuknya.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya ke belakang dulu yah." Guntur menunjuk ke belakang si Produser, tepat ke arah Liam asisten yang tengah duduk dengan kedua mata mengamati layar ponselnya. Bahkan sepertinya laki-laki itu tidak mengetahui kalau pengambilan gambar sudah usai.


"Silahkan, silahkan. Sekali lagi terima kasih."


Guntur kemabli mengulas senyum dan laki-laki itu menganggukkan kepala sekadar untuk pamitan, karena setelah itu dia berjalan ke belakang si Produser.


Dari jauh, Guntur mengamati asistennya itu, "Tumben dia enggak sigap. Kagetin ah." Sifat jahil laki-laki itu mulai keluar. Bahkan senyum pun sudah terukir di wajahnya.


Yogyakarta jam emapat sore ini masih dibekap awan mendung, tapi masih belum ada tanda-tanda kalau hujan akan segera turun. Ini sudah tiga hari Guntur berada di Yogyakarta dan besok dia akan mengambil scan di Blitar.


Senyum Guntur semakin terukir jelas di wajah. Bahkan dia mulai mengendap-endap dan juga mulutnya sudah komat-kamit menghitung tanpa suara.


"La-" Guntur tiba-tiba senyap saat kedua matanya mendapati peta di layar ponsel, Liam. Bahkan di dalam sana ada tanda panah yang tengah berjalan, "Kau mengawasi siapa hingga menggunakan aplikasi pelacak seperti itu?"


Liam seketika kaget dan langsung mematikan ponselnya, "Gu ... Guntur? Sejak kapan kau-"


"Setahuku kau tidak punya keluarga, istri, atau pun pacar hingga harus memerlukan aplikasi itu?" sela Guntur dan itu berhasil membuat mimik wajah Liam semakin panik.


***


Tepat jam lima, Laras dan Lidia sampai di rumah. Tentu saja seluruh keluarga besar yang ada di sana, menyambut kedatangan Laras dengan hangat. Bahkan mereka semua langsung mengomeli Guntur karena meninggalkan istrinya terkurung di dalam rumah sempit sendiri.


Keluarga besar Prasetyo memang menganggap rumah yang disinggahi Guntur dan Laras itu sempit dan itu benar karena mereka membandingkan kompleks itu dengan rumah bak istana seperti ini.


"Oma, Mama, Mas Bara, Mbak Renata. Lidia ada bawa kabar gembira!" Lidia langsung membuat heboh rumah. Para keluarga besar yang saat ini tengah duduk di depan tv dengan ditemani secangkir teh dan kue-kue manis yang dibawa Laras, langsung melihat ke arah anak bontot itu.


Bara yang tadinya hendak menyeruput tehnya pun, memilih untuk melupakannya, "Sidang skripsimu berjalan lancar?" tebak Laki-laki itu dan Lidia langsung menggeleng.


"Cristiano sudah tidak lagi memperdulikan temannya dan lebih fokus ke arah kamu?" Oma menebak dan Lidia lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Apa?" tanya semua keluarga.


Lidia menyengir dan dia melihat ke arah Laras yang saat ini sedang menundukkan kepalanya. Disebelah Laras ada Mamah yang kelihatan ikut penasaran. Walau pun tadi dia tidak ikut menebak, wanita paruh baya itu juga penasaran. Pasalnya, jarang-jarang Lidia kelihatan bahagia di Bulan Desember seperti ini.


"Kak Laras ham-"


"Itu masih belum pasti, Lidia. Bukankah sudah aku katakan kalau."


"Beneran kamu hamil, Ras?" Itu adalah suara histeris Oma Heni yang berhasil membuat semua keluarga terkejut.


#Bersambung



..."Guntur emang damagenya beda banget yah. Beruntung banget Laras oi."...