Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 43



Sembilan tahun lalu


"Ayu lihat kotak yang ada di sebelah, Ayu?" Laras yang tadinya asik mengabsen butiran-butiran air hujan yang merambat di jendela mobilnya, langsung melihat ke depan. Tepat ke seorang laki-laki paruh baya yang kelihatan menyetir, tapi di waktu tertentu dia menoleh ke belakang.


"Lihat, Pa. Emang itu kotak apaan?" Gadis remaja 15an tahun itu bersuara, membuat laki-laki yang dipanggil papa itu kembali menoleh ke belakang.


"Apaan hayo?" Laras tersenyum masam. Sementara laki-laki yang kelihatan masih cukup muda itu tergelak. Dia kembali fokus melihat ke depan, tanpa mau menjawab atau pun memberitahukan kotak apa itu.


Sebenarnya jika dilihat dari luar, kotak berukuran sedang itu terlihat seperti kado dengan ikatan pita merah di atasnya. Laras tahu itu adalah kotak hadiah, tapi dia ingin berlakon layaknya orang yang terkejut dan ingin tahu.


"Itu hadiah terakhir dari Papamu, Nak." Seorang wanita yang duduk di sebelah laki-laki itu menyeletuk. Dialah Mama dari Laras.


"Kenapa hari ini begitu banyak hadiah dan kejutan, Pa, Ma? Bagi Laras, pergi ke Dufan dan wahana lainnya yang ada di tempat itu sudah sangat senang. Laras tidak ingin hadiah lagi." Laras menolak, tapi tangan perempuan remaja itu terulur untuk meraih kota berukuran sedang itu, "ini isinya apa?"


"Buka saja, Sayang." Papanya Laras berucap sembari terus melihat ke depan. Kepalanya sedari tadi mengangguk-angguk karena sekarang, tape mobil tengah memutarkan sebuah lagu yang sangat bagus.


"Laras pasti menyukainya," timpal Mamanya Laras dengan menoleh ke belakang. Garis wajah wanita itu sangat cantik, sangat persisi seperti milik Laras.


Laras mendongak melihat ke dua orang tuanya. Gadis remaja itu tersenyum, "Makasih, Ma, Pa." Setelah mengatakan itu, Laras kembali menunduk. sekarang fokusnya tertuju kepada kotak hadiah itu.


Sementara di depan, terlihat Papanya Laras menepi ke sisi kiri, "Siapa sih jam segini bawa mobil ugal-ugalan gitu," omelnya saat dia melihat jauh di depan, ada mobil yang melaju secara sembrono.


"Biasa, Pa. Anak muda zaman sekarang emang gitu. Enggak pernah tau yang namanya tata tertib." Mamahnya Laras menimpali dan sang suami yang mendengar itu tentu menganggukkan kepala.


Papanya Laras menurunkan kecepatan dan setelah itu dia menoleh untuk melihat sang anak yang masih asik membuka ikatan pita yang ada di permukaan kado.


Mamanya Laras pun begitu. Sepasang suami istri itu melihat anaknya dengan seutas senyum yang begitu kelihatan sangat bahagia.


"Gimana perasaan Ayu hari ini?"


"Ayu senang banget Ma, Pa. Terima kasih liburan dan semua hadiahnya." Laras mendongak untuk melihat sosok ayah dan ibunya. Wanita remaja itu sepertinya tidak lagi tertarik dengan kotak hadiah yang padahal baru dia buka ikatan pitanya saja.


"Syukurlah. Untuk di SMA nanti, kamu kira-kira ambil jurusan a-"


"Papa ada mobil di depan!"


Papanya Laras langsung bergerak dengan spontan melihat ke depan. Laki-laki itu tiba-tiba terserang panik saat mobil yang beberapa saat lalu melaju dengan ugal-ugalan, mulai masuk ke jalur yang salah.


"Papa, awas!"


Mamanya Laras menjerit dan itu berhasil membuat sang suami banting stir ke arah kanan. Mobil pun berbelok dengan begitu tajam. Di luar hujan, jalanan menjadi licin dan itu berhasil membuat roda mobil yang ditumpangi oleh keluarga Laras tergelincir hingga kendaraan roda empat itu terbalik.


Laras yang posisinya tidak memakai sabuk pengaman terlrmpar keluar dengan punggung yang menabrak kaca depan mobil. Tubuh wanita itu terbaring di tengah jalan, sedangkan kendaraan yang dia tumpangi tadi masih menggelinding, hingga tepat di tengah-tengah perempatan, mobil tersebut berhenti.


Di sisi Laras. Saat ini wanita itu merasakan sekujur tubuhnya mati rasa, napasnya pun terkesan berat, dan pandangannya mengabur. Namun, di sela-sela itu, saat ini kedua obsidiannya masih bisa melihat dengan jelas tubuh kedua orang tuanya yang setengah keluar dari mobil dan setengahnya lagi, masih berada di dalam.


"Mama, papa, Laras tid ... tidak bisa bergerak." Laras mengadu dengan suara sedikit terengah-engah.


Ditengah rasa sakit yang saat ini dia rasakan, Laras tiba-tiba tersenyum. Semua itu karena saat ini dia melihat kedua orang tuanya sedang melihat ke arahnya. Entah itu nyata atau tidak, Laras melihat itu seperti nyata.


"Me ... mereka masih bisa diselamatkan. To ... tolong," ujar Laras dengan tenaga yang masih dia punya. Wanita itu mulai bergerak untuk menoleh ke arah kiri dan kedua obsidiannya mendapati mobil yang tadi membuat kecelakaan ini terjadi.


Di dalam mobil, Laras melihat sosok laki-laki remaja. Pemuda itu memandangi Laras dengan sorot mata yang penuh ketakutan. Bahkan mimik wajah yang dikeluarkan kelihatan jelas sangat panik.


Di sisi Laras. Gadis remaja itu tersenyum penuh harapan. Dia yang tadinya sudah pasrah mulai mencoba mengangkat satu tangannya. Sulit memang, tapi Laras berusaha keras, "Tol-"


Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan tangannya. Dia yang tadinya bicara langsung diam. Semua itu karena laki-laki remaja yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi, pergi begitu saja.


Di tengah derasnya hujan dan kesadaran yang semakin lama semakin hilang, Laras menangis sekaligus menaruh benci kepada laki-laki itu, "Akan aku ingat semua-"


Laras tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena tiba-tiba dia kehilangan kesadaran. Namun, di detik-detik terakhir, dia samar-samar mendengar suara sirine dan beberapa derap langkah mendekat.


"Anak? Maksudmu anak kita? Kita-"


"Ini adalah anakku! Orang keji dan tidak berperikemanusiaan sepertimu!" Laras menyela dengan nada tinggi. Dia tidak peduli jika suaranya tersebar ke luar. Toh tidak ada yang bakalan mendengarnya juga. Apa lagi di luar hujan semakin malam, semakin deras.


Di sisi Guntur. Laki-laki itu langsung dibungkam. Wajahnya yang tadi memancarkan kebahagiaan, tiba-tiba berubah menyedihkan.


"Sekarang katakan! Kenapa waktu itu kamu pergi? Jika saja kau menolong, mungkin kedua orang tuaku bisa terselamatkan."


"Aku takut. Apa kau tidak mengerti juga? Coba kau-"


"Aku pergi. Terima kasih atas segala akting yang kamu lakukan selama dua tahun ini. Terima kasih atas kepura-puraan yang kamu lakukan, untuk menghiburku dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan. Tapi, maaf. Semua itu tidak berguna."


Setelah mengatakan itu, Laras menarik gagang kopernya. Wanita itu semakin menangis dan tanpa menunggu lama, dia berjalan untuk pergi.


Guntur tersadar dan dengan gerakan yang cepat, laki-laki itu memeluk Laras dari belakang, lalu dia menjatuhkan wajahnya di pundak sang istri, "Jangan begini. Kita bicarakan ini baik-baik. Aku mengaku, kalau kecelakaan itu semuanya karenaku. Tapi, kali ini aja dengarkan aku dulu, Sayang. Aku tidak akan mengeluarkan pembelaan, karena waktu itu aku memang salah. Tapi, sekali lagi-"


"Aku benci kau!" Laras menyela dan wanita itu semakin menangis. Sekarang perasaannya sedang tidak menentu. Dia memang mengatakan benci, tapi hatinya menolak untuk itu dan itu terbukti dari sie matanya yang semakin meluruh.


"Aku tahu dan aku pantas mendapatkan itu." Guntur tidak menyanggahnya. Dia bahkan ikut menyalahkan dirinya.


Laras semakin menangis. Apa lagi saat ini dia merasakan pundaknya mulai basah, pun pelukan tangan Guntur semakin menguat, "Maaf, maafkan aku. Aku salah dan aku pantas mendapatkan hukuman. Terserah kamu mau melukaiku, membuatku cacat, memukuliku, atau apa pun. Aku akan menerimanya, tapi aku mohon dengan sangat kami jangan tinggalin aku, Ras. Mungkin karena kamu sudah tahu semuanya, kamu mengira semua ini kepura-puraan. Tapi, bagiku tidak. Aku tulus mencintaimu-"


"Aku ingin membunuhmu." Laras tanpa segan menyela dengan kalimat yang kedengaran sangat mengerikan.


Guntur diam. Laki-laki itu mulai menggigit pundak sang istri. Ini selalu dia lakukan saat Laras marah dan ingin pergi meninggalkan dirinya, "Lakukan. Mati ditanganmu jauh lebih baik dibandingkan bunuh diri karena ditinggal olehmu," ucapnya tak kalah menyeramkan dan itu berhasil membuat Laras bimbang. Dia marah, tapi saat bayang-bayang dirinya yang akan melenyapkan Guntur tergambar, wanita itu jadi takut.


"Kau takut?" imbuh Guntur dan laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya.


Laras menggelengkan kepalanya, "Kau mencintaiku, kan?"


Guntur menganggukkan kepalanya, "Cinta banget."


"Kalau begitu, biarkan aku pergi dan jangan pernah mencariku dalam waktu yang sangat lama. Kalau perlu, jangan muncul dihadapanku lagi." Laras membuat Guntur mengangkat kepala.


Dugaan Laras benar. Laki-laki itu menangis dan itu kelihatan sangat jelas dari kondisi matanya yang memerah, "Tidak. Aku mencintaimu. Jadi, mana mungkin aku akan mengikhlaskanmu."


Laras tersenyum kecut. Malam ini wanita itu sedang kacau dan jika berada di kondisi begini, dia akan menjadi sosok yang tidak segan-segan, "Berarti kau sudah siap melihat aku bersimbah darah?"


Guntur yang mendengar itu langsung mengurai pelukannya. Laras tersenyum kecut. Wanita itu berbalik dan memberikan tatapan kecewa untuk suaminya, "Seperti yang aku katakan tadi. Mulai malam ini, jangan pernah coba-coba mencariku. Jika kau muncul dihadapanku, berarti kau siap mendengar kabar kematianku."


Laras melanjutkan perjalanan keluar dari dalam rumah. Guntur hanya bisa menatap nanar istrinya yang semakin lama, terasa menghilang dari pandangannya, "Ras, Laras!" Guntur bersimpuh dan itu bersamaan dengan Laras yang sudah melewati pintu keluar.


Laki-laki itu menangis. Ternyata benar, sepandai-pandainya orang menyimpan rahasia, pasti akan tetap terdapat celah yang membuat semua itu terbongkar. Padahal, Guntur sudah melakukan banyak hal untuk menghilangkan mimpi buruk ini. Dia melenyapkan foto masa remajanya, tapi tetap saja semuanya terbongkar.


"Arghhh!" Guntur meraung dan laki-laki itu menjatuhkan tubuh bagian atasnya ke depan, lalu dia menggunakan kedua tangannya untuk menopang berat badannya, agar tidak benar-benar terjatuh, "Aku benci diriku! Kenapa waktu itu aku tidak bertanggung jawab, Sialan!"


"Karena itu memang sifatmu, Tuan Satria. Kau adalah remaja angkuh yang sombong dan terlalu percaya diri."


Tangisan Guntur tiba-tiba berhenti. Laki-laki itu mendongak dan kedua pupil matanya melebar, "Liam?"


#bersambung


...Kita mulai ulas dan menuju ending yah. Menurutku, sikap Laras itu tidak salah. Wajar dia marah, kan?...


...Btw, aku ada bawa rekomendasi bacaan baru lagi nih. Di jamin seru deh. Top. Langsung aja ini sinopsis, judul, dan nama penulisnya yah👇...