Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 40



"Kenapa mereka semua tidak bisa dihubungi?"


Guntur melempar ponselnya ke atas ranjang. Dia berbalik ke lemari dan mengeluarkan kopernya dari sana. Sepertinya laki-laki itu sudah tidak sabaran untuk pulang, karena dua Minggu adalah waktu yang sangat lama untuk dia dan Laras berpisah.


Terlebih lagi, selama rentang waktu itu mereka tidak saling mengobrol, bertukar pesan, dan bahkan menanyakan kabar satu dengan yang lainnya. Jadi, wajar kalau saat ini Guntur merasa kesal dengan segalanya.


"Okeh, semua barangku sudah ada di koper. Kalau begitu, tidak ada alasan bagiku untuk membuang waktu di sini. Aku rindu rumah dan aku rindu istriku." Guntur menjerit kecil dan setelah itu, dia langsung berlalu pergi meninggalkan kamar dengan sebuah langkah yang lebar.


Sore hari ini, Denpasar diterangi oleh bias jingga yang masih terang. Waktu yang tepat untuk berpulang ke peradaban.


***


Kompleks perumahan tempat tinggal Laras, Jakarta Pusat


Suara vas, wadah parfum, dan puluhan jenis benda pecah belah kelihatan berserakan di lantai kamar. beling-beling kasar mau pun halus, memenuhi seluruh sudut kamar dan di ranjang, terlihat Laras duduk dengan kedua kaki ditekuk serta wajah wanita itu tersembunyi di balik paha.


"Mas Gun orang yang baik. Tidak mungkin dia melakukan itu. Dia orang baik yang bertemu denganku di-"


"Laki-laki itu menemuimu di rumah sakit, iya, 'kan? Pasti dia juga mengatakan, kalau dia menemuimu saat ibu atau dirinya di rawat di rumah sakit, lalu kau datang dan berdiri di lorong sendirian."


Laras berteriak. Dia kembali menggila, melempar apa yang bisa dia lempar, meraung yang mungkin bisa membuat dia tenang. Intinya, dari kemarin saat setelah dia berpulang dari rumah sakit, Laras menjadi seorang yang berbeda. Dia bukan lagi menjadi seorang Laras yang dikenal banyak orang.


"Satu hal lagi. Suamimu itu adalah dalang dibalik kematian keluargamu dan dia juga yang membuat kakimu cacat serta wajahmu disinggahi oleh bekas luka.'


Setelah ingatan tentang kata-kata itu terngiang di otaknya, Laras melempar sebuah vas dan itu tepat mengenai kaca lemari.


"Aku tahu itu bohong," gumamnya dengan mata yang memerah dan sorot indera penglihatannya saat ini, tengah fokus melihat ke arah kaca lemari yang terjatuh karena sudah terpecah belah.


***


Seperti yang sudah-sudah, Guntur pasti akan memilih kota Bandung sebagai tujuan utamanya. Terseah perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam atau pun melewati tempat tinggalnya, dia akan tetap ke sana. Alasannya hanya satu, yaitu, membelikan kue black forest kesukaan istrinya dan juga mungkin akan ditambah sebuket bunga Flamboyan.


aku rindu rumahku, batin Guntur dengan kedua mata melihat ke arah langit.


Laki-laki itu menurunkan pandangannya dan kedua matanya langsung mengunci sosok Laras yang terlihat mengembangkan senyum di dalam ponselnya, aku rindu istriku, batinnya lagi dengan seutas senyum yang mengembang dan itu menandakan betapa dia tidak sabarnya bertemu dengan, Laras.


***


Mendekati jam sembilan malam, Guntur saat ini sedang mengendari mobilnya. Setelah dari Bandung, laki-laki itu pulang dulu ke rumah orang tuanya. Di sana dia mencari keberadaan istrinya seperti biasa, tapi dia malah mendapati bermacam-macam jenis omelan. Entah itu dari mama, oma, adiknya, dan bahkan Masnya.


Guntur melirik ke sisi kiri dan di sana, terdapat sebuah kotak berukuran sedang. Di atas kotak, ada sebuket bunga Flamboyan. Laki-laki itu tersenyum, "Enaknya akhir tahun nanti aku dan Laras merayakan di mana yah?"


Guntur tersenyum dan sesaat setelah itu, suara gemuruh menyentaknya. Laki-laki itu melihat langit dan dia juga memindai pohon-pohon yang ada di pinggir jalan, 'Tumben cuaca gini banget. Mana jalanan lengang juga. Ngeri."


Guntur bergidik ngeri. Akan tetapi, laki-laki itu kembali melirik ke arah kotak berukuran sedang itu. Dia memindainya dengan begitu sangat lekat, "Bagaiamana nanti ekspresinya yah. Meluk, sudah pasti. Terus kata Lidia tadi ada kejutan besar yang menungguku."


Guntur terus berandai-andai. Di tengah guyuran hujan yang sangat deras, lalu bercampur badai dan suara gemuruh itu, dia terus memikirkan apa yang istrinya lakukan di rumah. Tidak ada sedikit pun ketakutan seperti saat itu. Guntur malam ini berpulang dengan seutas senyum penuh rindu.


"Aku tidak sabar," gumam laki-laki itu dan dia semakin menaikkan kecepatan mobilnya.


#Bersambung


...Sebenarnya aku itu enggak kuat nulis konfliknya. huaaaa. Tapi, kita harus secepatnya menyudahi kisah ini dan beralih ke sebuah kisah baru dengan latar yang berbeda. Jadi, 10 part lagi ini akan usai yah. ...