Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 28



..."Apa kau tidak akan merubah keputusanmu, walau itu adalah aku?"...


...****************...


..."Satria Guntur Prasetyo "...



Hari berikutnya Chamonix ternyata tidak terlalu dingin. Tidak ada hujan salju juga, tapi di pinggir-pinggir jalan masih banyak tumpukan salju. Tadinya di tengah jalan ada juga, tapi pekerja sudah membersihkannya menggunakan mobil pembersih salju. Jadi, itu sedikit mampu membuat semua pengguna jalan lega.


"Mas, kita buat boneka salju yuk!" Dengan riang, Laras mengajak sang suami. Guntur yang memikirkan suatu hal yang rumit, langsung tersentak kaget dan menggelengkan kepalanya.


"Katanya kamu mau keliling kota?" Guntur balik bertanya, membuat Laras tersenyum, tapi kelihatan terpaksa.


"Kelilingnya kan bisa sambil main salju, Mas. Lagian dari awal keluar apartemen, Mas kenapa diam sih. Enggak seperti biasanya tahu. Terus, semalam juga, Mas tiba-tiba banget ngajakin tidur. Emang aku ada salah yah? Apa kata-kataku semalam ada yang enggak bener? Kalau-"


Laras tiba-tiba berhenti bicara dan berhenti berjalan, karena dia mendapati suaminya mengayunkan langkah ke tepi. Wanita itu diam memandangi Guntur yang saat ini membungkuk di bawah pohon tanpa daun.


"Mas, kamu mau apa?" tanya Laras dengan tatapan mata penuh selidik.


Guntur masih diam. saat ini laki-laki itu sedang mengepalkan salju dan Laras melihat itu, tapi dia bingung, "Ma-"


Laras terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka dan ekspresi wajah yang sangat-sangat jelek, "Apa? katanya mau main salju? Ayok sini kita perang. Nanti kalau kamu menang, aku akan melakukan apa pun untukmu." Guntur yang dari bangun tidur hingga keluar rumah berekspresi murung, langsung mengeluarkan mimik wajah songongnya. Bahkan tadi dia mengedipkan satu matanya untuk menggoda sang istri.


Laras tergelak dan wanita itu tiba-tiba membuat sebuah senyum misterius. Guntur pun begitu, dia kembali membungkuk untuk membuat lebih banyak lagi bola salju.


"Aku tidak mau hadiah seperti itu." Laras mulai berjalan ke tepi. Dengan kakinya yang pincang, dia memakan waktu lama untuk ke trotoar dan kawasan kosong di sebelah trotoar.


"Terus maunya?" tanya Guntur dengan masih membuat bola-bola salju.


"Jawaban jujur tentang kapan kamu ketemu denganku."


Guntur terdiam sesaat, tapi sedetik kemudian dia langsung membombardir Laras dengan bola-bola salju yang dia lemparkan ke arah wanita itu.


Laras tergelak dan wanita itu dengan langkah pincang mencoba menghindar, tapi ternyata dia tetap saja kalah cepat, "Mas, curang!" jeritnya dan dia langsung membalas dengan ikut melempari Guntur.


Pagi hari, tepat jam sembilan, dua orang itu menetapkan satu hal, kalau tiga Agustus adalah hari paling bahagia yang mereka jalankan. Apa lagi, Guntur. Dia yang tadi murung, langsung mengenyahkan hal yang membuat dia menjadi laki-laki paling khwatir di dunia ini.


"Aku mencintainya dengan tulus. Jadi, aku minta kepadaMu, untuk selalu buat dia ada di sisiku. Ingat, Laras wanita yang sangat aku cintai."


***


Tepat jam dua belas siang, Laras dan Guntur memutuskan untuk singgah di salah satu resto yang berlokasi di sekitaran jalan 1 Rue du lyrte, 74400 Chamonix-Mont-Blance, nama restorannya iyalah, Le Monchu. Salah satu tempat makan yang terkenal di kota Chamonix. Penyedia makanan tradisional khas daerah sana.


Selain terkenal dengan makanannya, Le Monchu juga terkenal dengan dekorasi ruangannya yang begitu memukau. Lebih dari itu, yang membuat dia jauh istimewa iyalah cara menghidangkan makanan daging sapi panggang di atas granit.


"Aku dapat yang lebih menggemaskan, Mas." Laras ikut menunjukkan hasil jepretannya. Di dalam ponsel sana, ada foto Guntur yang tengah memperlihatkan wajah mengejek dengan dua bola mata dia arahkan ke atas dan mulutnya sedikit monyong.


"Aku dapat videomu." Guntur tidak mau kalah dan dia menunjukkan rekanan yang memperlihatkan, Laras sedang berbicara dengan boneka salju yang dia buat untuk wanita itu.


"Sayang! Senang enggak?"


"Hah?"


"Senang enggak?"


"Senang banget. Makasih yah udah mau direpotkan."


Video rekaman itu berkahir dengan menunjukkan Laras yang tersenyum. Guntur meletakkan ponselnya di meja dan laki-laki itu menyunggingkan senyum karena saat ini dia sangat senang melihat istrinya memonyongkan bibir.


"Mas curang!" tuding Laras membuat pupil mata Guntur terbuka lebar.


"Curang dari mana? Kamu kalau kalah, kalah aja." Guntur sepertinya tidak ingin dituduh curang. Dia membela diri dengan tampang lempeng dan itu membuat Laras semakin kesal.


Alhasil, Laras memilih diam dan mulai meletakkan satu demi satu daging sapi yang di potong tipis itu, ke atas granit. Ponsel baru yang dibelikan Guntur sebelum terbang ke Francis, dia letakkan di atas meja. Sepertinya, Laras sudah lelah berdebat dengan sang suami.


"Kamu segitu ingin tahunya pertemuan pertama kita?" Guntur menyeletuk dan itu berhasil membuat fokus Laras teralihkan.


Laras berdecak dan dia kembali fokus untuk memanggang daging dan beberapa sayuran, "dijawab iyapun, kamu enggak bakalan jawab jujur, Mas. Jadi, percuma," katanya dengan nada bicara yang culas.


"Aku ketemu kamu di rumah sakit." Guntur tiba-tiba membuka obrolan. Dia bicara sembari mencelupkan sepotong roti ke dalam semangkuk fondue, keju yang dilelehkan.


"Waktu itu mamah sakit dan dirawat. Aku yang kiranya masih seusia dirimu menemani mamah dan tidak sengaja melihatmu di salah satu kamar rawat yang ada di sana."


Cukup. Sepertinya Laras sudah tidak ingin pura-pura tidak acuh. Saat ini, dia sepertinya mulai tertarik untuk mendengarkan cerita itu lebih jauh lagi.


"Terus?" Laras bersuara untuk meminta, Guntur melanjutkan ceritanya.


"Terus, aku penasaran tentangmu. Aku mencoba terus ke rumah sakit untuk melihatmu dengan dalih menjenguk mamah."


"Kenapa, kamu ingin melihatku?" tanya Laras yang mulai percaya dan terbawa dengan cerita, Guntur. siapa yang tidak percaya saat melihat mimik wajah serius yang laki-laki itu keluarkan. Dijamin tidak ada.


"Entah aku tidak tahu, tapi yang jelas aku merasakan ada gelenyar aneh di hatiku ...." Siang hari itu dipenuhi oleh cerita Guntur yang entah benar atau tidak. Namun, satu hal yang sangat pasti di sana, yaitu, kisah pertemuan yang dia ceritakan ke Laras dan ke Liam berbeda. Mulai dari pembukaan, hingga mencakup kesemuanya. Jadi, apakah siang ini Guntur bercerita dengan jujur? Atau dia lagi-lagi mengarang untuk menyembunyikan sesuatu yang entah itu apa


#Bersambung



...ini Guntur versiku, kalian mana?...