Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 36



Masuk jam sembilan malam, hawa dingin langsung membekap kota Menteng. Terlebih lagi, sisa hujan sore tadi masih ada dan membasahi rumput dan juga beberapa tanaman bunga yang ada di halaman belakang.


Saat ini Laras melihat bagaimana embun yang membiaskan cahaya kemuning lampu taman dari atas balkon kamar. Tidak ada yang dia lakukan, selain duduk. Sebenarnya dia sedang menunggu testpack yang beberapa menit lalu dia gunakan.


Sebenarnya hasil pemeriksaannya mungkin sudah keluar, tapi dia begitu sangat takut untuk mengetahui hasilnya. Dia takut kecewa, tapi penasaran juga. Pada akhirnya, Laras memilih bangkit dari duduk santainya lalu beranjak pergi ke kamar mandi.


Sesampainya di dalam kamar mandi. Laras menutup matanya. Kedua tangannya saat ini memegang batang testpack, "Positif, positif, positif!"


Laras membuka mata dan tepat di saat itu juga dia menganga, kedua pupilnya membulat lebar dan sedetik setelahnya. Wanita itu tersenyum dan tiba-tiba saja dia menjerit kegirangan.


"Oma, Mama, Mas Bara, Mbak Ren, Lidia!" Laras berlari dengan sedikit pincang. Laras seperti orang yang linglung terus bergerak dan menoleh ke kanan dan kiri. Sungguh dia bahagia, dia terharu, dia senang, intinya Laras saat ini sangat-sangat bahagia hingga dia lupa keadaannya.


"Oma! Oma! Oma!"


Laras keluar dari dalam kamar dan itu ternyata bersamaan dengan keluarnya Oma dari kamar sebelah. Perempuan tua itu kelihatan panik dan langsung menghampiri menantunya.


"Ada apa? Bagian mana yang sakit?" Oma bertanya dengan ekspresi wajah panik dan bercampur ketakutan. Bahkan saat ini dia mulai meraba sekujur tubuh menantunya.


Sementara Laras. Wanita itu langsung menunjukkan testpack yang dia pegang tepat di depan wajah Oma Heni. Seketika perempuan tua itu melebarkan pupil matanya, dengan kedua tangan yang tiba-tiba membekap mulut.


"Positif." Oma tiba-tiba menitikkan air mata dan dia langsung memeluk menantunya, "selamat Sayang," Oma semakin erat memeluk tubuh Laras. Dia bahkan sampai menggerakkannya ke kanan dan kiri.


Laras yang mendapati hal itu hanya bisa tersenyum bahagia. Dia saat ini jauh lebih senang dari siapa pun. Terlebih lagi saat nanti suaminya tahu. Pasti kesenangan wanita itu tidak akan ada yang menandingi.


"Kita ke bawah. Sepertinya Mama, Mas, Mbak, dan Adik iparmu ada di sana." Dengan masih menampilkan kesenangan, Oma menarik Laras untuk turun ke bawah. Tentu saja perempuan tua itu melakukannya dengan pelan.


***


"Zelina, Renata, Bara, Lidia, di mana kalian?" Sesampainya di bawah, Oma langsung berseru. Dia swperyinya tidak peduli kalau-kalau besok pagi suaranya akan hilang.


"Ada apa, Ma?" Zelina yang ada di dapur langsung berlari mendekati mertuanya. Dia dengan ekspresi panik, langsung dibuat tambah panik saat mendapati mertuanya turun bersama, Laras.


"Apa terjadi sesuatu kepada, Laras?" Zelina kembali bertanya dan Oma Heni malah kebingungan mau menjawab dengan kata-kata apa.


"Mana yang lain?" Pada akhirnya wanita tua itu memilih bertanya tentang keberadaan penghuni rumah lainnya.


Zelina menunjuk ke belakang, "Bara sama Renata ada di ruang tv. Terus Lidia ada di ruang keluarga bersmaa Adnan."


Oma Heni langsung menoleh ke arah istri cucu keduanya, "Kita ke ruang tv dulu. Ayok, kamu juga ikut." Oma Heni kembali menarik Laras yang saat ini tidak bisa bicara, karena saking bahagianya.


"Ini ada apa sih, Ras?" Zelina yang kelewat penasaran bertanya, tapi Laras yang mendengar itu hanya menghedikkan bahunya.


Zelina langsung diam dan mengikuti derap langkah orang tertua dikeluarganya itu. Tidak memerlukan waktu lama, tiga orang itu langsung sampai di ruang tv dan kedatangan mereka bahkan membuat Bara dan Renata kaget. Pasangan pasutri yang tengah Netflixan itu, langsung dibuat bangkit.


"Ada apa ini? Kenapa kalian kelihatan panik?"


"Laras, Bara, Laras." Oma Heni lebay. Dia masih kebingungan mau mengatakan berita bahagia itu dengan cara seperti apa.


"Kak Ras kenapa?" Tiba-tiba dari arah keluar ke ruang keluarga, Lidia masuk dan di sana ada sosok Adnan bersama dengannya.


Bara yang tadinya hendak mengutarakan pertanyaan yang sama, langsung diam karena adik bontotnya sudah mewakili dirinya, "Kau baik-baik saja, Ras?" tanyanya dan Laras yang mendapati itu menganggukkan kepalanya.


"Laras hamil!" Oma Heni dengan girang langsung berteriak, membuat semua keluarga diam beberapa saat. Mereka semua sepertinya sedang mengolah kata-kata yang keluar dari Oma Heni. Padahal, itu sangat mudah, tapi entah kenapa mereka semua sangat sulit untuk memahaminya.


"Positif," timpal Laras sembari memperlihatkan testpack yang menampilkan dua buah garis.


Semua keluarga langsung menjerit tertahan mereka yang wanita tiba-tiba memeluk Laras dan Oma Heni karena saking bahagianya, "Akhirnya ada anak bayi lagi di keluarga ini!"


***


"Oma, Mama, Mas Bara, Mbak Ren, Lidia!"


"Oma, Mama, Mas Bara, Mbak Ren, Lidia!"


"Oma, Mama, Mas Bara, Mbak Ren, Lidia!"


Suara itu tiba-tiba senyap, karena seseorang mematikan rekamannya. Tidak ada yang nampak jelas di ruangan ini, karena seluruh sudutnya diselimuti kegelapan.


Tidak ada sedikit pun cahaya penerang. Tadi ada, tapi semuanya hilang saat ponsel itu mati, "Heh, sepertinya waktu yang tepat itu sudah tiba."


Ditengah kegelapan, suara laki-laki kedengaran menggema memenuhi sudut ruangan itu. Setelah suara itu redup, muncul sebuah tawa yang sangat-sangat mengerikan.


"Pembalasanku akan dimulai sekarang, Satria Guntur Prasetyo!" Sebuah cahaya penerang menyala dan itu hanya menyorot ke sebuah potret laki-laki idola semua wanita Indonesia. Siapa lagi kalau bukan, Satria Guntur Prasetyo.


#Bersambung



...Jeng, jeng, jeng. ...


......Otw konflik yah......