
..."Terserah semua orang bilang apa, tapi intinya aku tetap percaya padamu."...
...****************...
..."Laras Ayudia"...
"Baru juga pulang dari negeri orang, udah ujian lagi. Apa langit enggak bosen yah nangis mulu?"
Laras hanya cekikikan. Saat ini dua orang itu sudah ada di dalam taksi. Sementara di luar, Hujan terus saja menguyur jalanan. Ternyata tidak ada yang berubah, bau patrichor masih senantiasa berterbangan saat tanah yang kering, diguyur oleh air hujan. Namun, yang lebih menyengat dan paling Laras rindukan adalah, aroma harum dari Flamboyan.
Dia bahkan sampai menurunkan kaca jendela yang ada di pintu mobil bagian kirinya, hanya untuk menghirup aroma yang begitu sangat dia rindukan. Laras rindu Indonesia, tapi dia juga bahagia berlibur ke Paris.
"Kamu yakin enggak mau mampir ke Bandung dulu?" tanya Guntur saat celotehannya yang tadi tidak ditanggapi oleh istrinya.
Laras hanya menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku lagi pengen ada di rumah aja. Terus, kamu buatin rujak yah."
"Hah, Rujak?" Guntur kaget, membuat Laras mau tidak mau langsung menoleh melihat ke arah laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Laras dengan sedikit menyelidik.
"Enggak ada. Hanya saja aku kaget karena kamu tiba-tiba." Guntur menormalkan nads bicaranya dan laki-laki itu langsung bergerak menarik istrinya untuk lebih dekat, "setahuku, kamu itu enggak suka yang pedes-pedes loh," imbuh Guntur, membuat Laras keheranan sendiri.
"Masak sih? Aku bisa makan pedes, Mas. Tapi ya enggak terlalu suka," jawab Laras dengan nada heran. Wanita itu memang tidak pernah terlalu suka pedes, tapi saat dia membayangkan asamnya mangga yang dibaluri sambel, membuat Laras menelan ludah. Ini sudah terjadi dari beberapa hari lalu.
"Enggak suka ah. Aku itu udah tahu kamu dari luar dalam." Guntur membantah. Pasalnya, laki-laki itu tahu bagaimana Laras jika memakan-makanan pedas.
"Tapi, aku pengen, Mas ...." Laras merengek. Padahal makan rujak sudah dia rencana dari saat mereka masih berada di Paris tiga hari lalu.
"Nanti kalau kamu mencret gimana? Sudah aku bilang, kamu itu enggak tahan pedes. Cari makanan lain, ah."
"Enggak mau! Kamu emang suami pelit. Katanya sayang, tapi istrinya minta hal kecil gini ditolak-tolak." Laras marah sendiri dan dia langsung menjauh dari tubuh suaminya. Padahal saat di pesawat tadi, dia sangat melarang suaminya untuk jauh-jauh dan lihat sekarang.
"Enggak gitu. Aku nolak karena aku sayang kamu. Seperti yang aku katakan, bagaiamana kalau selepas makan rujak nanti, kamu mencret? Pasti aku juga yang report. Enggak bisa ninggalin kamu kerja."
"Kalau mencret yah itu urusan aku. Kamu aja yang repot sendiri." Laras masih keras kepala dan lagi-lagi, Guntur membulatkan mata terkejut. Pasalnya, ini kali pertama Laras begitu sangat keras kepala.
"Hah, ngidam?" Guntur dan Laras kaget sendiri. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
***
Memasuki kawasan Menteng, ternyata hujan tidak diturun di sana, tapi tetap saja mendung masih senantiasa membekap langit kota, membuat hawa panas khas siang hari menjadi jauh lebih teduh.
"Sini, aku aja. Kamu jaga kesehatan biar nanti-"
"Eh, enggak mungkin, Mas. Masak iya kamu percaya ucapan supir tadi. Aku itu cuma kepengen, bukan ngidam." Belum selesai perkataan suaminya, Laras sudah membantah lebih dulu. Dia beberapa hari terkahir ini memang banyak kepengen, tapi tidak mungkin dia itu ngidam atau hamil. Masalahnya, dia tahu kalau orang hamil itu pasti akan muntah-muntah di pagi hari dan dia tidak pernah mengalami hal seperti itu.
"Belum di cek, jangan bilang enggak mungkin. Siapa tahu beneran kan kamu udah berisi." Guntur mengangkat kopernya untuk naik ke teras depan rumah.
"Tapi aku enggak pernah mual-mual pagi hari lo, Mas. Mau cek juga takut kamu kecewa." Laras langsung menunduk, membuat Guntur melihat ke arahnya.
Tadinya laki-laki itu ingin masuk menyeret koper yang baru saja dia naikkan ke teras, "Emang orang hamil itu wajib muntah? Terus kecewa gimana? Kalau emang enggak isi, yah mungkin kita emang belum dikasih. Nanti tinggal berusaha terus, biar ngisi. Lagian aku juga enggak buru-buru banget pengen punya anak. Malahan bedua sama kamu kayak gini, udah bahagia banget loh aku."
Laras mendongak dengan mulut yang dilipat ke dalam, "Kalau semisal aku dinyatakan tidak bisa punya anak, apa kamu masih mau sama-sama bareng aku?"
Guntur tersenyum, "Aku cium boleh enggak sih? Kamu itu gemes banget. Emang aku nikahin kamu karena ingin dapat anak?"
Laras menggelengkan kepalanya, "Enggak, tapi siapa tahu sikap kamu kayak di sinetron itu. Kamu dulu pernah bintangi sinetron yang ninggalin istri karena dia tidak punya anak, iya, 'kan?"
"Astaghfirullah, Laras. Sinetron kamu samaiin sama dunia nyata. Apa aku sejahat itu? Sekali lagi kamu ngomong kayak gitu, aku cium beneran loh." Laras tersenyum lebar, membuat Guntur terkekeh, "masuk, yuk. Katanya mau makan rujak mangga muda."
Guntur jalan lebih dulu, meninggalkan Laras yang masih tersenyum kikuk. Dia melihat perutnya, "Apa kamu udah ada di sini, Nak? Aku ingin percaya, tapi aku udah lelah diberikan harapan percuma. Setiap tes, aku itu paling benci ngeliat Mas Gun kecewa."
Laras mengelus perutnya. Setelah selesai, wanita itu langsung melangkah untuk masuk. Dia mengayunkan langkah, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat dia merasa ada seseorang di belakang.
Laras menoleh dan benar saja. Dia mendapati seseorang berjaket hitam di depan gerbamg rumahnya. Wanita itu bergerak memutar untuk berdiri menghadap ke arah gerbang rumah.
"Siapa?" Laras sedikit meninggikan suaranya, "Eh, tunggu! Kotakmu ketinggalan!" imbuhnya dengan menjerit saat dia melihat orang berjaket hitam itu pergi dengan langkah cepat. Di depan gerbang ada sebuah kotak berukuran sedang.
#Bersambung