
01.Masalah Besar Yang Dilupakan
Malam ini entah kenapa bulan mengeluarkan cahaya yang teramat terang. Padahal bukan purnama, tapi cahayanya mampu menerangi sosok pemuda dua puluh delapan tahun, yang saat ini berdiri di depan gerbang setinggi pinggang, tepat berada di bawah kemuningnya lampu yang terpasang di sebuah tiang, tertanam di permukaan tembok pembatas setinggi kepalanya.
Laki-laki itu terlihat berdiri dengan tegas, pandangan matanya fokus melihat ke sebuah rumah sederhana yang terkesan sepi. Damestha Agung namanya. Saat ini dia tengah berdiri di depan gerbang rumah sederhana itu. Terbalut sebuah kemeja denim lengan panjang yang tergulung hingga sikut dan untuk bawahan, dia menggunakan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu sneaker.
Tampan.
kata itulah yang malam ini tersemat untuk Agung, laki-laki Hindu yang saat ini sedang menunggu terbukanya pintu rumah sang kekasih. Air muka Agung berubah. Dari yang tadinya fokus menatap rumah dengan wajah datar, sekarang kedua sudut bibirnya sedikit mulai tertarik ke atas. Bahkan laki-laki itu juga langsung melambaikan tangan untuk menyapa sosok wanita muda, yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Bang."
Panggilan yang dia dengar bernada penuh cinta dari sosok itu, membuat Agung semakin menyunggingkan senyum. Laki-laki itu tetiba menarik ujung kemeja denim bagian bawahnya lantaran melihat Puspita berjalan menghampiri dirinya. Jujur, Agung sangat gugup dan itu terlihat jelas dari gelagatnya yang berdiri sembari bergerak tak karuan.
Di sisi Puspita. Setelah mengenakan sendal jepitnya, wanita yang sudah rapi dengan baju kaos kebesaran dan juga jeans itu langsung berjalan pelan ke arah gerbang rumah. Tidak ada kata istimewa dari penampilannya, tapi anehnya setelan itu sangat pas di tubuh mungilnya. Terlebih pakaiannya itu juga terlihat tertutup, jadi tidak masalah.
Puspita menghentikan langkah kakinya saat dia sudah berada di belakang gerbang rumahnya yang masih tertutup. Wanita itu langsung meletakkan kedua tangannya di atas gerbang yang setinggi perutnya itu, maklum tingginya hanya 150an. Jika berdiri sejajar dengan Agung, paling dia hanya akan mencapai dada laki-laki itu.
"Cantiknya." Agung memuji dan kata-kata itulah yang selalu menjadi awal percakapan mereka sepanjang hubungan yang sudah terjalin dua belas tahun lamanya. Iya, karena kalender malam ini sudah memasuki tanggal 15 bulan Juni, itu berarti sudah dua belas tahun mereka berpacaran.
Jika bernostalgia, mereka pertama kali bertemu saat dulu Agung berkunjung ke rumah Puspita yang di mana, itu adalah rumah teman SMA-nya. Singkatnya, mereka dipertemukan oleh Gion— kakak laki-laki Puspita yang 10 tahun lalu sudah menyatu dengan tanah kuburan.
Seperti sebuah kebetulan, Agung bertemu Puspita kecil disaat tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka karena tauran. Seandainya dia tidak terluka waktu itu, mungkin perasaan cinta yang sangat besar ini tidak akan pernah ada.
"Lebay tahu enggak." Sambil membukakan pengait gerbang, Puspita menyeletuk dengan garis wajah yang terkesan malu-malu. Agung yang mendengar itu hanya terkekeh.
Dia sudah tidak terkejut lagi dengan reaksi sang kekasih. Mungkin karena faktor kebiasaan banyak bermain di sini. Bayangkan saja, setiap kali dia memuji, Puspita akan selalu menjawab seperti itu.
Agung menarik napas kasar, membuat hidungnya menimbulkan suara. Laki-laki itu mengayunkan langkahnya masuk ke pelataran rumah yang begitu kecil, tapi masih bisa dijadikan tempat bermain pun di tengah-tengahnya ada sebuah pohon mangga berdaun rimbun dan di bawah pohon itu ada sebuah dipan.
Melihat dipan minimalis itu, Agung kembali mengingat sekilas kenangan. Seandainya dua belas tahun lalu dia tidak duduk di sana, ia tidak akan ditarik paksa oleh Puspita untuk masuk ke dalam rumah.
Mengingat itu, entah kenapa Agung terenyuh sendiri. Dia mengeluarkan suara kekehan yang membuat Puspita menoleh ke arahnya. Dengan tatapan penuh telisik, wanita itu melihat wajah Agung. Dia bahkan sampai memberhentikan langkah kakinya dan langsung berdiri menghadap ke arah kekasihnya itu.
"Abang kenapa?" tanya Puspita dengan tatapan penuh selidik.
Puspita bereaksi seperti itu karena dia mengenal Agung dari ujung kaki hingga kepala dan dari sikap hingga kebiasaan. Jadi, jika laki-laki itu mengeluarkan kebiasaan yang tidak pernah dia keluarkan seperti terkekeh, itu patut dicurigai.
Agung tersenyum, laki-laki tampan berbadan tegap itu bergerak mencubit hidung mungil Puspita karena gemes melihat tingkah gadis itu.
"Enggak ada, tapi entah kenapa malam ini Abang itu kek selalu ingat masa lalu. Mungkin karena saat ini Abang masih tidak percaya kalau sebentar lagi kita akan bersama," jawab Agung panjang lebar pun laki-laki itu bergerak melepaskan hidung mungil, Puspita.
Puspita mendengus saat merasa hidungnya perih. Dia bahkan langsung bergerak untuk balas mencubit pinggang Agung. Akan tetapi, Agung yang sudah tahu itu langsung memegangi tangan kekasihnya dan kemudian menarik wanita itu untuk masuk ke dalam sebuah pelukan erat.
"Maaf. Abisnya Adek itu gemesin banget." Di dalam eratnya pelukan, Agung meminta maaf. Dia mengucapkan hal itu bahkan sambil mengecup pucuk kepala Puspita yang ditutupi oleh surai hitam.
"Iiih, nyebelin banget sih, Bang." Puspita mendorong tubuh Agung menjauh dari dirinya karena kesal sekaligus malu.
Agung yang mendapati itu hanya bisa tertawa. Dia yang tadi sedikit terdorong, kembali berjalan mendekati Puspita.
"Sini! Kok Dedek Abang yang satu ini lucu banget sih." Agung merangkul kekasihnya itu dan dia kembali mengecup pucuk kepala Puspita dengan penuh sayang.
Seperti itulah Agung dan Puspita. Tidak ada kata sayang untuk mengungkapkan betapa besar cinta mereka satu sama lain, tidak ada kata spesial untuk memberitahukan ke orang lain kalau diantara mereka itu ada ikatan spesial.
Di hubungan mereka hanya ada kata Abang dan Adek yang pasti akan membuat orang-orang mengira, kalau mereka berdua tak lebih dari sekedar adik dan kakak. Bahkan pernah ada kejadian, tepatnya satu Minggu yang lalu, saat mereka keluar malam mingguan ke Udayana.
Waktu itu Agung dan Puspita duduk di salah satu bangku besi yang ada di pinggir jalan Udayana. Mereka awalnya ngobrol biasa dan masih menggunakan panggilan Dedek Abang.
Pembicaraan mereka terhenti saat ada beberapa wanita datang menghampiri. Ada satu wanita yang di mata Puspita berperilaku sedikit menyeletuk.
"Kakak tanya sendiri gih, dia orangnya baik kok," jawab Puspita sembari menunjuk ke arah Agung, yang ternyata sudah menunjukkan raut wajah datarnya.
Si wanita itu tersenyum kikuk dan dia langsung menghadap Agung, "Hai, ***-"
"Kalian bisa pergi? Aku dan kekasihku merasa terganggu," sela Agung membuat wanita yang ingin kenalan itu melotot.
Itu hanya salah satu kejadian dan ada juga kejadian yang di mana, seorang laki-laki terang-terangan meminta nomer Puspita di hadapan Agung, tapi sudahlah. Lupakan itu, karena jika diceritakan kalian pasti akan tertawa.
***
"Ingat! Jangan kalian pulang terlalu larut. Agung, Bapak titip Puspita. Jangan bawa pergi ke mana-mana setelah acara makan malam di keluargamu selesai." Dia Jumaah, bapak dari Puspita memperingati Agung dengan tatapan yang sangat tajam.
Bapak Jumaah yang kerap di sapa dengan sebutan Jum atau Maah adalah seorang nelayan. Itu pekerjaan aslinya, tapi dia juga tak jarang bekerja sebagai buruh angkut di pasar Ampenan.
"Iya, Pak," jawab Agung sopan dengan kepala mengangguk dan tubuh sedikit membungkuk.
Bapak ikut menganggukkan kepalanya dan dia langsung menyodorkan tangan untuk disalami. Agung yang melihat itu langsung meraih tangan keriput Bapak.
Kasar dan gosong. Seperti itulah yang dia rasakan saat menempelkan punggung tangan laki-laki yang sudah setiap hari merasakan pahit manisnya sebuah kehidupan itu.
Sekarang di depan rumah bukan hanya ada Bapak, tapi di sana juga ada Ani, ibu Puspita yang sedari tadi tersenyum ke arah anak perempuan dan teman laki-laki dari almarhum Gion, anak pertamanya.
"Ibu titip salam buat orang tuamu saja yah. Bilangin untuk sering-sering mampir." Agung hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar pemintaan Ibu.
***
"Bang, Adek gugup," ujar Puspita mengadu. Saat ini dia dan Agung tengah menempuh perjalanan menggunakan sebuah motor ninja warna hitam. Suara khas motor itu sekarang tengah berdengung di telinga pengendara lainnya yang ikut berhenti karena terkena lampu merah.
"Bagaimana nanti kalau keluarga Abang itu tahu tentang hubungan kita?" Puspita kembali bertanya, tapi Agung yang tidak dengar karena suara motornya itu hanya diam.
Puspita berdecak kesal dan wanita itu langsung mencubit perut kekasihnya. Agung meringis dan laki-laki itu langsung menoleh ke belakang.
"Ada apa sih, Dek?" tanya laki-laki itu dengan nada lembut, tanpa sedikit pun merasa marah karena kelakuan Puspita tadi.
"Adek gugup, Bang. Bagiamana kalau nanti Paman dan Bibi marah setelah mengetahui tentang kita?" tanya Puspita dan itu berhasil mengingatkan Agung tentang masalah yang dia sempat lupakan.
Iya, bagaimana cara menjelaskan keluarganya tentang ini semua?
#Bersambung
Okeh, seperti biasa. Ceritaku tidak ada teka-teki, tidak ada hal yang patut dicurigai. Di sini kalian hanya diminta untuk menikmati kisah percintaan dari seorang Damestha Agung, laki-laki keras kepala yang tidak bisa mengikhlaskan kisah cintanya yang usai.
Well, semoga suka yah. Ini cerita keduaku dari seri kisah sederhana. Part-nya tidak akan banyak-banyak karena aku tidak suka. Kalian pun begitu, 'kan?
So ... enjoy and happy reading.
......BACA CERITA LANJUTANNYA DI SINI YAH👇
......
...MASUK KE PROFILKU, LALU CARI DI BAGIAN "KISAH SEDERHANA" JUDULNYA "AGUNG [SULITNYA MENGIKHLASKAN]...
...Enjoy yah!...