Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 47



Masa kini


3 Tahun kemudian, Bali.


"Apa Ketty tidak pernah menanyakan tentang anaknya, Ras?" Seorang wanita yang duduk di sebelah Laras, memulai percakapan. Sebenarnya, pertanyaan ini sudah terlalu sering wanita itu ucapkan. Mungkin, Laras sampai jengah mendengarnya.


Di sisi kiri wanita berambut hitam itu, ada sosok Laras yang saat ini memandang jauh ke depan. Maniknya kelihatan tidak ingin berpaling dari sosok bocah perempuan yang sedang bermain dengan seorang bocah laki-laki.


Melihat bentuk wajah, cara bicara, dan senyum bocah perempuan itu, entah kenapa Laras merasa damai. Bukan apa-apa, hanya saja anak perempuannya itu begitu sangat mirip dengan suaminya, Guntur.


"Enggak, Ta. Ketty anak yang pintar. Dia tahu kalau ibunya sangat tidak suka jika mengungkit laki-laki itu." Guratan benci masih kelihatan jelas di wajah Laras, tapi samar-samar di sorot matanya juga kelihatan sedikit ada sebuah rindu.


Benar, bohong jika Laras tidak rindu dengan Guntur. Mau sebencinya dia, Laras itu juga sangat mencintai, Guntur dan sialnya, dia begitu sangat menyesal telah menetapkan hatinya kepada sosok laki-laki yang sudah membuat hidupnya menjadi hancur.


"Jika aku mengingat tentang ceritamu. Guntur memang digambarkan seperti seorang bajingan, tapi aku juga merasa kalau dia laki-laki yang baik, Ras."


Laras sontak menoleh ke sisi kanan. Sorot matanya langsung memancarkan ketidakpercayaan, "Baik dari mana? Selama dua tahun, Ta. Selama dua tahun dia memainkan skenario yang menjijikkan. Dia pura-"


"Bagiku dia tidak pura-pura, Laras. Setelah mendengar ceritamu tentang dia, aku bisa menangkap kalau Guntur adalah laki-laki yang tulus. Dia seperti Bang Agung. Aku memang tidak pernah bertemu dengannya selain melihat dari ayar tv, tapi aku bisa menyimpulkan kalau Guntur itu sosok laki-laki bertanggung jawab. Seperti katamu, dia awalnya kabur, tapi dia tetap kembali, 'kan? Guntur kembali dan menebusnya, 'kan?"


Laras terpaku diam. Entah kenapa saat ini dia berhasil dibungkam oleh, Puspita, satu-satunya orang yang dia temui dan dia jadikan teman di Bali. Tiga tahun lalu, Laras kabur dan memilih Bali sebagai tempat berteduhnya.


Di sana, Laras menghabiskan tabungannya. Waktu itu, dia membeli sebuah persinggahan, lalu membeli kebutuhan untuk calon anaknya. Intinya, semua uang yang setiap bulan dia dapatkan dari Guntur, habis semua.


"Aku juga tahu kalau kamu itu masih sayang sama dia, tapi karena benci. Kamu jadi gengsi," imbuh Puspita dan lagi-lagi dia mengatakan sebuah kebenaran.


Memang waktu sudah berlalu, tapi jujur. Perasaan Laras tidak berubah kepada Guntur. Bahkan, pernah suatu ketika, wanita itu berharap Guntur mengetuk pintu rumahnya, lalu menyapanya dengan sebuah lambaian tangan yang sama, seperti saat-saat kebersamaan mereka.


Laras benci, tapi rasa itu tidak bisa mengalahkan besarnya cinta yang dia miliki. Sekarang, sudah hampir mendekati Desember, tapi anehnya, hari ini tidak ada tanda-tanda bakalan hujan. Itulah kenapa saat ini Laras dan sang anak, Katrina Dinagunta pergi ke taman dekat kompleks.


"Iya, aku memang masih mencintainya, tapi dia yang kamu bilang tulus itu, tidak benar, Ta. Jika perasannya nyata, kenapa selama tiga tahun, dia tidak menemuiku? Kenapa selama tiga tahun dia tidak berusaha mencariku? Kenapa selama tiga tahun dia tidak mencoba untuk minta maaf?" Laras jujur dan ini kali pertama wanita itu mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.


Dulu Laras memang mengatakan kalau dia tidak ingin laki-laki itu mencarinya, tapi saat itu keinginan sebenarnya iyalah, dia mengharapkan Guntur memeluknya, tapi tidak. Laki-laki itu malah diam di dalam rumah dan malah berusaha saat Laras sudah ada di dalam taksi. Bisa saja waktu itu Laras berhenti, tapi dia terlalu kecewa dengan laki-laki bernama, Satria Guntur Prasetyo.


"Kamu lupa satu hal-"


"Tidak ada yang aku lupakan. Mungkin dia di sana sudah menikah lagi, Ta. Aku sangat mengenal, sikap-"


"Dari caramu menceritakan suamimu kepadaku. Aku bisa memastikan kalau kamu tidak mengenal dia. Sama sepertiku, aku dulu keras kepala. Berpuluh-puluh kali Bang Agung datang, tapi aku menolaknya dan kamu tahu, Ras. Aku menyesal karena saat itu tidak ikut mengejarnya. Aku menyesal karena saat itu hanya bisa menunggu dia mengejar dan memperjuangkanku." Puspita menjeda ucapannya. Wanita itu menghela napas dan setelah itu dia tersenyum.


"Kamu tahu, aku dan bang Agung menjalin hubungan dari masih kecil sekali. Saat itu usiaku delapan tahun dan Bang Agung lima belas tahun. Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya saat di akhir Juni. Aku yang masih kecil tidak mengerti, tapi dia mengatakan kalau kekasih itu seperti hubungan Adik dan Abang, makanya saat itu aku menerima ajakannya."


Puspita mulai berbagi kisahnya dan ini kali pertama wanita itu menceritakannya kepada seseorang, "Aku mengetahui apa itu kekasih saat berusia lima belas tahun dan Bang Agung waktu itu sudah berusia 22 tahun. Mulai dari sana, hubunganku dengan dia menjadi jauh lebih romantis, tapi tetap saja aku yang masih remaja mempunyai pikiran yang kekanakan. Aku sering marah dengan sesuatu yang kecil, aku menghentikan hubungan karena mendengar gosip, dan terkahir, aku meninggalkannya saat kami hampir menikah, Ras."


Laras diam, tapi otaknya mulai berpikir dan mengingat bagaimana rupa seorang Satria Guntur Prasetyo, laki-laki yang entah punya status apa di dalam hidupnya. Dibilang mantan suami, tapi mereka belum cerai. Intinya, Laras bingung siapa laki-laki itu.


"Saat itu, kami ingin meminta restu dan kau tahu, mamanya Bang Agung langsung menolakku lantaran aku dari keluarga miskin, terus aku juga tidak berpendidikan. Lepas dari itu semua, aku meninggalkan Bang Agung karena kami berbeda-"


"Terima kasih, Ta." Laras tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam pelukan Puspita, wanita yang jauh lebih muda dari pada dirinya, tapi entah kenapa dia merasa kalau perempuan itu malah jauh lebih berpikiran luas.


"Sebenarnya, aku hanya akan memberikan kamu satu saran. Jika kamu sangat mencintai dia, kejar sebelum kamu terlambat. Berhenti mengharapkan kalau kamu ingin dikejar, karena begitu. Tidak ada salahnya kita sebagai wanita juga mengejar orang yang kita inginkan."


Laras hanya diam. Dia memilih untuk lebih memeluk Puspita, "Katamu, Guntur sudah mengejarmu dengan sembunyi-sembunyi selama 6 tahun. Jadi, apa salahnya kamu mencoba mengejarnya-"


Pelukan dua orang ibu itu berakhir saat suara Bisma Putra, anak laki-laki Puspita yang berusia dua tahun lebih besar dari Katrina.


"Bang Ima, lari keliling taman Bang!" Katrina kau lebih girang dari Bisma.


"Siap laksanakan. Pesawat akan terbang!" Bisma berlari dan Katrina terus saja bersorak girang.


Laras dan Puspita yang melihat itu tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah anak mereka masing-masing.


***


Menjelang malam, mendung langsung membekap daerah Denpasar. Khususnya di kompleks perumahan yang disinggahi Laras dan juga anaknya, Katrina.


Saat ini, Laras sedang duduk di meja makan. Beberapa saat lalu, dia dan juga putrinya telah selesai melakukan santap malam. Namun, anehnya, Laras masih belum beranjak dari kursinya. Malahan, wanita itu saat ini sedang sibuk dengan sebuah pena dan buku catatan kecil.


"Jumlah tabunganku, sekian, dikurangi beli tiket ke Jakarta dan beberapa kebutuhan lainnya sekian." Laras kembali fokus dengan buku catatannya setelah tadi dia berpikir cukup keras. Sepertinya wanita itu sudah membuatkan tekad untuk kembali ke Jakarta.


Dia akan kembali, bukan karena ingin pindah. Laras ke sana untuk memastikan satu hal. Dia akan menemui Guntur dan mengatakan sejujurnya. Namun, jangan bilang kemarahan wanita itu memudar karena itu tidak sama sekali.


Dia hanya ingin menenangkan hatinya dan dia mencoba mengesampingkan rasa benci itu. Nanti kalau sudah berhasil menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, barulah Laras akan benci ke Guntur lagi.


"Pengeluarannya banyak juga ya-"


"Mama! Film paman gantengnya sudah mulai!" Laras langsung menoleh ke ruang keluarga yang tepat berada di depannya. Di sana, dia mendapati sosok mungil Karena sedang berjingkrak-jingkrak bahagia.


Anaknya itu memang selalu kelihatan bahagia. Dia sama sekali tidak pernah memperlihatkan raut wajah yang sedih.


"Cepat, Mama!" Suara khas bocah, kembali menyapa gendang telinga, Laras.


Laras tersenyum, "tidak apa-apa tabunganku habis. Semua ini aku lakukan demi Katrin-"


Perkataan Laras berhenti saat dia mendengar suara ketukan pintu. Laras bangkit dari duduknya. Tadinya dia berniat menyusul anaknya, tapi Laras memilih untuk membuka pintu lebih dulu.


"Mama!"


"Iya, Sayang. Sebentar lagi Mama akan menyusul ke sana!" Laras menjerit dengan terus mengayunkan langkah pincang menuju pintu rumah, "kenapa.Puspita ini tidak bisa dibilangin sih. Aku sudah bilang untuk tidak perlu repot-repot," imbuh Laras bergumam.


Wanita itu mengehentikan langkah sembari terus menoleh ke belakang. Laras menekan gagang pintu, lalu setelah itu dia menariknya ke bakang, "Bukankah aku tida susah mengatakan kalau kam-"


Laras tiba-tiba membeku saat dia merasakan adanya sebuah lingkaran tangan kekar, yang membekap tubuhnya. Wanita itu bahkan langsung memejamkan mata saat hidungnya ditusuk oleh bau beraroma mint.


"Sudah cukupkan? Tiga tahun sudah cukupkan untukmu menghukumku?" Laras tiba-tiba gemetar. Kedua tangannya terangkat untuk membekas pelukann ini, tapi entah kenapa dia ragu-ragu.


#Bersambung


...Tiga part lagi menuju ending. Sad or happy?...


...Btw, aku ada bawa rekomendasi cerita lagi. Untuk judul, nama penulis, dan sinopsis ceritanya ada di bawah yah👇...