Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 30



..."Don't leave me alone."...


...****************...


..."Satria Guntur Prasetyo"...



Suara gemuruh memecah kesunyian kota. Saat ini, Jakarta tengah dirundung hujan deras bercampur geledek, membuat nuansa malam yang gelap terkesan jauh lebih horor. Anehnya lagi, jalanan Senopati saat ini terasa jauh lebih lenggang.


Memang hujan, tapi aneh saja gitu jika yang melaju di jalanan kota itu hanya mobil Guntur, "Tumben jalanan sini sepi. Enggak seperti biasanya."


Guntur memindai sekeliling. Tidak ada siapa pun, bahkan pedagang kaki lima pun tidak membangun tenda mereka di pinggir jalan. Warung bakso langganannya yang sering buka di cuaca seburuk apa pun, kelihatan kosong lapaknya.


"Ha terserah, intinya sekarang aku harus pulang." Guntur menoleh ke arah kiri dan di sana, dia mendapati sebuket bunga Flamboyan dan sebuah kotak kue berukuran sedang.


Guntur terus melakukan mobilnya, hingga dia berbelok untuk masuk ke kawasan kompleks perumahannya. Setibanya dia di rumah, Guntur langsung memarkirkan mobilnya di pelataran. Saat ini laki-laki itu berjalan dengan satu tangan memegangi kotak kue yang di atasnya ada buket bunga dan satunya lagi memegangi gagang payung.


Guntur menutup payungnya saat dia sudah menapakkan kaki di teras rumahnya yang hanya diterangi satu lampu. Laki-laki itu tidak mengetuk pintu dan langsung membukanya agar tidak menciptakan keributan. Soalnya dia akan memberikan kejutan setelah pergi untuk syuting sinetron selama dua Minggu penuh.


Guntur melangkah masuk dan tepat saat dia sudah berada di dalam rumah, laki-laki itu langsung dibuat bertanya-tanya tentang lampu ruang keluarga yang mati. Ini masih jam delapan malam, tapi aneh saja jika mendapati lampu padam seperti ini.


Pertanyaan itu sepertinya tidak bertahan lama, karena Guntur kembali melangkah. Dia tidak lupa menghidupkan lampu ruang keluarga, lalu beranjak masuk lebih dalam. Saat ini Guntur sudah sampai di kawasan tengah-tengah rumah yang di mana, di sana terdapat dapur, ruang makan, ruang tv, dan tiga kamar.


Guntur menyalakan semua lampu yang ada di sana, hingga dua obsidiannya mendapati kekosongan. Tidak ada makan malam di meja makan, tidak ada majalah model di meja depan sofa yang ada di ruang tv, dan bahkan tidak ada apa pun di sana. semua kosong seperti tidak ada orang yang pernah menyentuh apa pun di sini.


"Sayang." Guntur mencoba tetap tenang, walau degup jantungnya saat ini mulai berdetak sangat cepat.


Seketika, laki-laki itu melupakan niatnya yang ingin mengejutkan istrinya. Saat ini dia mulai berjalan cepat untuk memeriksa sudut rumah, "Laras, ini tidak lucu sama sekali."


Guntur semakin panik saat dia masih belum menemukan sang istri di mana pun. Dia mencari ke halaman belakang, lalu kembali ke dapur, tapi dia masih belum mendapatkan siapa pun di sana. Di luar, hujan masih enggan untuk berhenti. suara rintikannya yang menimpa atap masih setia menemani Guntur yang panik dan sedang melangkah mendekat ke pintu kamarnya.


"Laras?" Guntur memanggil bersamaan dengan dia yang bergerak mendorong pintu kamar dan kosong. Tidak ada apa pun di sana. Seketika aliran darah Guntur semakin cepat, jantungnya pun mulai berdetak tak menentu dan keringat dingin sudah bercucuran sangat deras.


kotak kue berukuran sedang yang dia bawa sudah jatuh ke lantai, membuat isinya yang ada di dalam sana keluar dan langsung menyatu dengan buket bunga Flamboyan.


"Laras ...." Guntur semakin panik. Dia mengecek kamar mandi, tapi di sana dia tidak menemukan istrinya. Laki-laki itu kembali dan dia melangkah untuk mendekati lemari.


"Laras ...."


Guntur berlari keluar dari kamar. Saat ini dia sudah sukses dibuat khawatir, panik, dan takut menjadi satu. Semua itu karena dia tidak mendapati baju Laras di dalam lemari.


"Laras, Laras, Laras!"


***


Guntur bangkit dari tidurnya. Napasnya memburu seperti orang yang melakukan maraton. Di sebelahnya, Laras terlonjak kaget dan langsung bangkit, "Mas Gun kenapa?" tanya, Laras dengan satu tangan dia letakkan di atas pundak, Guntur.


Guntur masih terengah-engah. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan dia langsung memeluk tubuh istrinya, "Enggak ada, aku cuma kelelahan dan sedikit bermimpi buruk."


"Tentang apa?" tanya Laras sembari bergerak untuk mengelus punggung sang suami, hingga laki-laki itu dibuat tenang.


"Sesuatu yang sangat buruk. Aku tidak ingin mengingat itu, karena tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin mengingatnya." Guntur tiba-tiba mengeluarkan nada yang merengek.


Laras yang mendengar itu tersenyum, "Udah. Ini mungkin efek karena kita besok akan pergi dari tempat ini. Anehnya, kenapa tujuh hari di sini terasa cepat sekali."


Guntur tidak menjawab. Dia memilih untuk merengkuh istrinya lebih dalam lagi, lebih erat hingga bayang-bayang mimpi yang tadi dia dapatkan itu menghilang. Sebenarnya ini bukan kali pertama, Guntur mendapati mimpi itu. Dulu saat rasa takut kehilangan Laras jauh lebih kuat mendominasi hatinya, dia sering kali mendapati mimpi ini. Pernah berhenti, tapi entah kenapa tujuh hari di sini, dia setiap malam selalu saja mendapatkan mimpi yang sama.


Besok pagi adalah hari mereka akan pergi dari sini, lalu akan tinggal semalam di Paris dan baru setelah itu, mereka akan kembali terbang ke Indonesia. Entah kenapa, Guntur serasa sangat takut untuk menginjakkan kaki di sana, apa lagi saat dia mendapati foto waktu remajanya ada di dalam tas Laras.


"Sayang, berjanji satu hal. Apa pun alasannya, kamu jangan pernah meninggalkanku." Guntur semakin membekap tubuh Laras.


"Iy-"


"Aku tidak memerlukan jawaban. Aku hanya ingin kamu melakukan itu. Apa pun alasannya, kamu tidak boleh pergi. Aku sayang kamu."


Mereka berdua saling memeluk satu sama lain. Ditengah hujan salju Chamonix, Guntur membekap istrinya dengan sangat erat.


#Bersambung