
"Kak Ras, ini posisinya bener?" Lidia menyeletuk saat dia mendapati Adnan sudah selesai membentang pita dari masing-masing sudut ruang keluarga
Sementara di sisi Laras, wanita itu hanya bisa duduk diam dan dengan pandangan yang memang lurus ke depan, tapi entah kenapa di manik matanya itu kelihatan sangat kosong.
Lidia yang mendapati kakak iparnya yang diam, berjalan mendekat, "Kakak baik-baik saja, 'kan?" Wanita itu duduk dan memegangi pundak Laras, membuat Laras tersentak kaget dan tiba-tiba tersenyum kikuk.
"Kakak kenapa dari dua hari ini kek orang bingung gitu? Apa ada yang mengganggu, Kakak?" tanya Lidia dan Laras yang mendengar itu menggelengkan kepala.
Laras bergerak menggengam satu tangan Lidia yang ada di pundaknya, "Enggak ada. Ayok, kita kerja-"
"Aku udah selesaikan semuanya, Kak." Adnan menyela, membuat Laras menaikkan satu alis matanya. Dia melihat sekeliling dan benar, semua pita yang ada di sini sudah dibentang dari sudut ke sudut.
"Cepat sekali? Kakak aja belum gerak loh." Dengan sedikit tersenyum kaget, Laras berucap. Wanita itu bahkan langsung bangkit dari duduknya. dan berputar untuk mengecek lebih intens.
"Adnan emang gercep, Kak. Itu kenapa dia disukai banyak orang." Lidia menyeeltuk, membuat Laras tersenyum lebih lebar.
Adnan yang dipuji, malah diam. Dia tidak tersenyum, tapi bergerak menggengam jemari Lidia yang sudah berdiri di sebelah Laras, "Tapi aku hanya sukanya sama Dia, Kak."
Lidia melayangkan tahapan mencemooh, "Omong kosong. Yang kemarin di warung Bu Iim siapa?" Lidia melepas genggaman tangan Adnan dan wanita itu berjalan pelan untuk memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh, kekasihnya itu.
"Ini kita mau apain lagi, Kak?" Lidia menoleh ke arah Laras yang tengah tersenyum geli, "Kak Ras, fokus!" imbuh Lidia, membuat Laras tergelak.
Sungguh, entah kenapa saat dia melihat cara berkomunikasi Lidia dan pacarnya itu, membuat Laras merasa ada sedikit kesan lucu. Bayangkan saja. Lidia yang banyak bicara disatukan dengan Adnan yang pelit bicara dan lebih ke banyak diam, tapi selalu melakukan pergerakan. Singkatnya, Adnan orang yang dikit bicara dan membuktikan segala hal dengan ucapan.
"Ini apa namanya, kamrin kakak udah cetak beberapa foto. Nanti kamu bantu Kakak gantung yah." Laras bicara sembari berjalan ke arah kotak warna biru yang ada di salah satu permukaan laci yang ada di ruang keluarga.
Lidia mengikuti langkah Laras. Wanita itu berdiri di belakang dengan kepala menintip dari sisi pundak kanan, Laras, "Wah keren, Kak."
Laras tersenyum dan memperlihat beberapa foto. Mulai dari pertama mereka mengambil gambar, hingga yang terkahir saat mereka liburan di Chamonix.
"Kayak perjalanan waktu." Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Saat ini dia sedang memegangi enam foto berbeda. Pertama, saat usia pernikahannya masih empat bulan.
Guntur mengambil potret Laras saat wanita itu tengaenikmati semerbak bau bunga-bunga di taman belakang. Posisi fotonya tentu memunggungi kamera, karena waktu itu Guntur memotret secara diam-diam.
"Kita gantung kapan?" tanya Lidia dan Laras sepertinya kelihatan menimang-nimang.
"Enaknya sekarang atau gimana? Soalnya abangmu ini kan bakalan pulang lima hari lagi. Jadi, menurutmu kapan?" Laras meminta saran dengan sedikit menoleh ke kanan.
"Sekaranga aja. Mumpung aku sama Adnan enggak sibuk-sibuk banget. Iya, eng- eh ngapain, kamu?" Lidia menatap aneh ke arah Adnan yang tengah merapi-rapikan pita merah.
Adnan yang ditanya mendongak dan kembali fokus ke arah pekerjaannya, "Lagi nyisihin pita buat gantung itu."
Lidia tersenyum dan dia kembali fokus ke arah Laras, "Tuh benerkan, Kak? Dia itu lebih banyak kerja dari pada bicara kayak kita. Jadi, karena kami di sini, Kak Ras duduk dan lihat saja. Jangan terlalu capek karena itu enggak baik. Masih inget kata Mama kemarin, 'kan?"
Lidia menuntun Laras untuk kembali duduk di sofa, "Nah duduk tenang seperti ini."
"Apa yang Lidia katakan benar, Kak. Di sini biar kami yang mengurus semuanya."
Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah."
Pada akhirnya, Laras kemabli menjadi penonton. Bedanya, dia saat ini tidak terhanyut dengan lamunannya. Malahan obsidiannya kelihatan begitu sangat fokus memindai dua orang yang sedang berusaha mengikat satu ujung pita ke bentangan pita yang mereka pasang tadi.
"Sayang, fotonya."
Laras mengulum senyum saat melihat cara berinteraksi sepasang sejoli di depannya ini. Saat melihat itu, entah kenapa wanita itu merasa iri karena dulu dia tidak pernah seperti ini.
"Dia, Kakak mau menayakan satu hal."
Laras tiba-tiba menyeletuk, membuat Lidia menoleh sembari terus memberikan lembaran-lembaran foto kepada, Adnan.
"Kakak mau tanya apa?"
"Aku mau tanya, abangmu itu seperti apa sih? Maksud Kakak, abangmu sebelum .enikah dengan kakak itu, dia tipe orang yang seperti apa?"
Entah kenapa Laras tiba-tiba menyeletuk dan entah kenapa, dia juga merasa penasaran dengan Guntur. Padahal, dia dari dua hari lalu, sudah menanamkan dalam dirinya, kalau dia percaya kepada laki-laki itu.
Bahkan, dia juga membantah kalau foto remaja yang ada di laptop dua hari lalu itu bukanlah Guntur, tapi orang itu adalah kenalan Guntur. Niatnya, Laras nanti akan bertanya kepada suaminya tentang orang itu.
"Bang Guntur itu orang yang sok dingin pas kerja, tapi jahil di rumah. Saking jahilnya, kami anggap bang Guntur kayak bocah. Parahnya, kami mengira dia enggak laku karena sifat jahilnya. Tapi, tiba-tiba dia bawa Kakak dan semua sifat yang tersembunyi di dalam dirinya muncul ke permukaan. Pasti Kakak lebih tahu gimana bangun Gun dari pada kami."
Laras tersenyum dan pipinya bersemu merah. Dia sedikit tersanjung dengan perkataan Lidia tadi, tapi dia juga tidak ingin membenarkan itu. Memang dia sudah tinggal satu atap dengan Guntur, tapi jujur. Laras merasa kalau suaminya itu sangat sulit dimengerti.
Dia pernah mengatakan kalau Guntur itu seperti Labirin yang punya banyak jalan dan disetiap ujung jalan ada banyak sekali kotak yang isinya tidak bisa ditebak.
"Apa dia juga punya sikap tidak bertanggung jawab?"
Entah sadar atau tidak, Laras tiba-tiba menanyakan hal itu. Lidia yang mendengar itu langsung menoleh dengan gerak yang sangat cepat. di tangannya terdapat satu lembar foto.
"Enggak. Bang Gun itu orangnya sangat bertanggung jawab. Bahkan saat dia melihat orang menabrak lari kucing, dia yang mengubur hewan itu. Bang Gun sangat baik dan penyanyang." Setelah mengatakan itu, Lidia langsung menghadap ke depan dan matanya membulat, senyumnya juga melebar saat mendapati sebuah foto yang wah.
Sementara di sisi Laras. Wanita itu menundukkan kepala dan senyumnya semakin lebar, benar, suamiku memang orang yang baik. Mana mungkin dia anak tidak tahu diri hari it-
"Kak Ras, Lihat! aku mendapatkan foto Bang Gun remaja dari dalam kotak ini." Lidia dengan girang, langsung menunjukkan foto lai-laki remaja yang garis wajahnya begitu sangat mirip dengan Guntur.
Sementara Laras, wanita itu tiba-tiba diam dengan sorot mata yang begitu tajam. napasnnya juga tiba-tiba memburu dan keringat dingin juga mulia bercucuran dari kening.
"K ... kau tidak berbohong, 'kan?" dengan sedikit terbata, Laras bertanya. Dia bahkan sampai bangkit dari duduknya dan menyambar satu foto itu.
#Bersambung