
"Kak Ras, Ayok!"
Setelah menimang-nimang dari semalam, akhirnya Laras memutuskan untuk mengecek tentang kondisinya. Apa penyebab dia yang ingin makan sesuatu adalah karena hamil, atau gimana. Intinya, Laras ingin sekadar mencari tahu saja.
Saat ini dia sudah berada di parkiran apotek yang deket-deket rumah. Tentu saja dia bersama Lidia dan Mbak Renata. Dua orang itu sudah sedari tadi keluar dari dalam mobil dan saat ini mereka sedang menunggu Laras yang masih duduk di dalam kendaraan roda empat itu.
"Tarik keluar, Di!" Sepertinya Mbak Renata sudah bosan dan dia memerintahkan Lidia untuk menyusul Laras, lalu menariknya keluar dari dalam mobil.
Seperti biasa langit di kawasan Menteng, tengah diarak oleh awan kelabu. Sudah dibilang bukan. Bulan Desember tanpa mendung dan hujan itu tidak akan pernah terjadi. Apa lagi saat ini cuacanya mendung dan diiringi angin lumayan kencang.
"Kak Ras ini ngerepotin. Dia yang mau beli testpack, kita yang ribet." Lidia mendumel, tapi dia tetap kembali berjalan ke kendaraan roda empatnya.
Wanita muda itu berhenti tepat di depan pintu mobil bagian penumpang, "Mua turun sendiri atau dipaksa nih?"
Laras yang samar-samar mendengar itu, langsung bergerak membuka sabuk pengaman, kemudian turun dari dalam mobil. Wanita itu berdiri dengan menatap ragu-ragu ke arah Laras.
"Nanti bagaiamana kalau hasilnya negatif?" tanya Laras saat Lidia sudah menggandeng tangannya.
"Iya enggak apa-apa. Tapi, kalau hasilnya positif yah selamat. Lagian, Kakak juga belum menstruasi bulan ini kan?"
Laras menggelengkan kepalanya, "Enggak, tapi aku itu menstruasi setiap bulannya tanggal 12."
"Dan itu sekarang. Aku tanya, apa sekarang kakak sedang menstruasi?"
Laras menggelengkan kepalanya, membuat Lidia mengangguk, "Nah itu sebabnya sekarang kakak beli testpack dulu dan nanti periksa di rumah. Yok, aku udah laper banget."
Dengan berat hati, Laras ikut. Namun, saat ini bagian dalam dirinya sudah pasrah dan menerima kalau dia benar-benar harus tes. Benar kata Lidia, kalau negatif yah enggak apa-apa, tapi di sini dia memikirkan perasaan suaminya yang pasti bakalan kemabli kecewa. Sudah beberapa kali laki-laki itu dibuat kecewa oleh, Laras dan dia takut kalau Guntur akan kembali memberikan tatapan itu.
***
"Akhirnya makan juga." Lidia berseru girang saat aneka makanan sudah tersaji di atas meja.
Setelah dari Apotek tadi, tiga orang itu langsung memutuskan untuk mampir makan siang dulu dan mereka memilih singgah di Restoran sate khas Senayan. Itu loh yang ada di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto.
"Ayok, Ras! Jangan ditontonin doang." Mbak Renata juga mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Sedangkan Laras. Wanita itu hanya diam dengan bibir yang manyun. Dia ngiler, tapi anehnya tidak ingin makan. Malahan, dia lebih senang saat melihat Lidia memasukkan satu sendok nasi yang sudah disiram kuah sayur asem, ke dalam mulutnya.
"Aku ngiler, Mbak. Tapi, entah kenapa enggak mau makan. Lihat kalian lahap seperti ini buat aku kenyang."
Renata melirik ke arah adik iparnya. Mantan model itu mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya dengan sangat elegan. Bahkan cara meletakkan sendok yang dia gunakan tadi, kelihatan sangat elegan, "Udah nih. Pasti kamu itu emang beneran hamil, Ras. Aku kapan yah? Padahal yang nikah duluan itu aku loh."
"Makanya, suruh itu Mas Bara betah di rumah. Jangan selalu kerja mulu. Minta bulan madu, siapa tahu pulang-pulangnya beri-"
Lidia tiba-tiba menghentikan kata-katanya. Wanita itu memicingkan mata saat mendapati seorang laki-laki tengah duduk dengan seorang perempuan yang tidak jauh dari mejanya.
"Mbak Ren, itu bukannya si, siapa namanya? Astaga aku kok bisa lupa sih nama calon adik iparku." Laras blak-blakan dengan tangan bergerak memukul-mukul angin. Dia bahkan sampai menarik baju Mbak Renata yang juga saat ini sedang mencoba mengingat-ingat.
"Adnan, Ras. Dia, itu Adnan pacarmu, 'kan?" Dua orang itu langsung senyap, saat dia melihat Lidia sudah bangkit dari kursinya dan saat ini sedang berjalan mendekati sosok laki-laki yang sangat-sangat dia kenali.
Di sisi Lidia. Wanita itu terus berjalan dengan sorot mata yang begitu tajam, "Katanya mau rapat bahas acara akhir tahun kampus, tapi kok di sini?" Lidia berdiri angkuh di sebelah kursi yang diduduki oleh laki-laki yang tadi dia panggil Adnan, oleh Mbak Renata.
Sementara di sisi laki-laki bermana Adnan itu. Dia kelihatan tenang, wajahnya datar dan sorot matanya tajam melihat ke arah wanita yang saat ini ada di depannya.
"Selamat siang, Dia." Wanita itu menyapa Lidia dengan nada yang ramah dan juga sebuah senyum lebar.
Namun, Lidia malah membalasnya dengan sangat sinis, "Adnan, aku bertanya dan kamu jawab! Jangan diam aja," perintahnya dengan nada bicara yang ditekan.
Adnan mendesah lelah. Sungguh, hari ini dia sangat-sangat lelah, "Lidia, berhenti. Apa kamu enggak malu dilihatin banyak orang?"
Lidia langsung melayangkan tatapan tidak percaya. Tentu amarah wanita itu langsung tersulut, "Kamu nyalahin aku? Seharusnya yang marah di sini aku, Nan. Apa salah aku nanyak ke kamu, saat aku lihat kamu jalan sama cewek lain?"
"Cewek lain di mana? Dia sahabat aku, Dia. Kamu aja yang lebay. Apa-apa dibuat Masalah. Bisa enggak sekali aja enggak kayak gini. Sumpah, aku capek banget."
Lidia memberikan senyum remeh. Wanita itu membuang pandangannya, lalu satu tangannya bergerak menghapus air matanya.
"Lidia, Maaf. Aku enggak bermaksud. Tadi, aku minta anter Adnan, karena-"
"Buat apa minta maaf? Memang seperti itu, 'kan? Adnan itu selalu mengutamakan kamu. Aku pacarnya, tapi serasa orang asing di hidupnya. Aku muak, aku bener-bener muak dengan kalian berdua."
Lidia memilih kembali ke mejanya. Wanita itu lagi-lagi menangis, "Aku kenyang, Kak. Kita pulang sekarang saja."
Lidia meraih tasnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan restoran. Laras yang melihat itu bingung. Saat ini wanita itu tengah memberikan tatapan tajam ke arah kursi yang tadi didatangi oleh Lidia.
Laras melihat kalau laki-laki yang ada di sana, tidak sedikit pun beranjak dan malah tetap duduk diam dengan wajah yang sangat tenang.
"Ras, ayok!"
Laras tersentak kaget dan dia langsung menyusul adik dan kakak iparnya yang sudah lebih dulu berjalan keluar, "Laki-laki yang tidak tahu diri," gumamnya dengan nada yang kesal. Entah kenapa dia juga kesal melihat Lidia tidak dianggap begitu.
#Bersambung
...Sedikit spoiler yah....
...Itu tadi kisah seorang Lidia. Aku niatnya bakalan buat ceritanya, tapi apa kalian suka genre anak kuliahan enggak?...
...Gimana. Spoilernya udah aku selipin di sini nih....