
..."Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"...
...****************...
"Sekarang turun!" Guntur memberikan perintah kepada isterinya yang sepertinya tidak ingin turun dari dalam mobil, "sayang, ingatkan perjanjian kita? Sore harinya kita sudahi jalan-jalan dan saatnya kamu istirahat. Jadi, tolong ngerti-"
"Enggak, aku masih pengen keliling kota loh, Mas. Tadi kita itu enggak jalan-jalan, tapi naik bis. Apa itu bisa dikatakan menikmati liburan? Sekarang aku mau pergi lebih jauh-"
"Aku akan membawamu pergi ke mana pun yang kamu mau, tapi besok. Sekarang istirahat agar pas jalan kaki besok, kamu tidak cepat lelah." Guntur mencoba untuk tetap tenang dan akhirnya, laki-laki itu bisa menghela napas lega karena Laras menurut. Wanita itu akhirnya keluar.
"Janji besok. Awas aja kalau Mas bohong." Laras mengeluarkan mimik wajah bayi, membuat Guntur gemes. Laki-laki itu merangkul sang istri, lalu dia menganggukkan kepalanya.
"Janji, tapi untuk hari ini cukup yah. Kasihaan kakimu loh. Besok, aku janji bakalan ikut kemana pun kamu pergi." Laras tersenyum dan setelah itu dia merebahkan kepalanya di dada sang suami.
Laras mengaktifkan ponselnya, lalu kemudian membuka aplikasi kamera untuk merekam, "Lihat, ini suamiku. Dia ganteng, 'kan? Baik pula. Dia cinta mati loh sama aku. Benar begitu 'kan, Mas? kamu itu cinta mati sama aku, 'kan?"
Guntur tidak menjawab, tapi dia malah memilih untuk mengecup kening istrinya lebih dulu, "Cinta banget," bisik laki-laki itu bersamaan dengan Laras yang sudah menghentikan rekamannya.
Satu video dokumentasi mereka sudah dibuat. Laras tentu saja langsung menyimpannya di video khusus untuknya dan sang suami. Sebenarnya ini sudah terlalu sering terjadi, entah mau liburan ke mana pun, dua orang itu akan membuat video dokumentasi. katanya sih untuk jadi kenang-kenangan dan menunjukkannya ke anak-anak mereka kelak.
"Monsieur, voici l'objet et la clé."
Tingkah romantis mereka dihentikan oleh suara pria baru baya, yang bertugas menjadi pramuwisata mereka di sini. Dia yang akan menjadi sopir dan menjadi orang yang menyiapkan segalanya. Seperti apartemen yang akan dia tempati di Chamonix selama tujuh hari ini.
"Merci." Guntur dan Laras berucap secara bersamaan dan mimik wajah mereka pun kelihatan kikuk. Sungguh, pasangan suami istri yang kompak. Bahkan tadi mereka berdua juga sama-sama mengulurkan tangan untuk mengambil kunci rumah.
"Mas aja gih." Laras mengalah dan bergerak bangkit dari sandarannya. Wanita itu, memberikan Guntur untuk mengambil alih kunci dan koper mereka.
"Tanpa kamu suruh, aku pasti akan mengambilnya, Sayang." Guntur berbicara sembari mengambil kunci dan meriah gagang kopernya. Laki-laki itu sedikit mengangkat tas besar tersebut, agar berbalik arah menghadap ke dirinya.
"Voici des chocolats, du café et de la nourriture que j'ai achetés pour vous." Laras nampak kikuk, karena dia bingung dengan apa yang dikatakan laki-laki itu. Sangat berbeda dengan Guntur yang langsung membulatkan mata terkejut.
"Merci et désolé de vous déranger." Guntur mengambil alih keresek hitam berisikan beberapa sachet cokelat dan kopi instan, lalu ada juga makanan cepat saji di dalam sana.
"Pas la peine du tout, monsieur. Ensuite, je vais m'excuser et profiter de vos vacances." Pria paruh baya itu izin pamit dan Guntur yang sendirinya mengerti, langsung menyetujui. Laras masih saja bertahan dengan mimik wajah bodohnya.
"Apa yang dia katakan, Mas?" tanya Laras kebingungan.
Pasangan suami istri itu berjalan masuk ke jalan samping kiri. Dia melewati aspal yang sudah dipenuhi oleh tumpukan salju. Bahkan di trotoarnya pun sudah ada banyak sekali serbuk salju. Bukan hanya itu, seluruh mobil yang ada di sana pun, sudah ditutupi oleh butiran-butiran warna putih kelihatan sangat indah tapi Laras yakin kalau oenag yang punya, pasti akan sangat lelah membersihkan itu.
***
"Okeh, lihat! Sekarang Nyonya Prasetyo sedang sibuk membenahi lemari dan suami laknatnya ini lagi merekam. Enggak ada kerjaan banget yah. Tapi, aku begini karena dia yang tidak ingin dibantu. Katanya takut aku kelelahan, istriku perhatian banget yah."
"Lebay! Matiin ih, pasti sekarang fansmu sedang menghinaku." Laras melengos, membuat Guntur tergelak. Saat ini laki-laki itu sedang melakukan live Ig.
Padahal baru mulai dan penontonnya sudah ribuan lebih. Jadi, kalian bisa tahu betapa populernya seorang Satria Guntur Prasetyo.
@fannyha_16 Astaga, istrinya Kak Satria pasti beruntung banget bisa nikah sama orang seganteng, Satria. Semoga langgeng yah, btw kalian menikah kapan sih? kok baru di ekspos ke publik.
@salsaanha_43216 Tuh cewek sok jual mahal banget. Modal beruntung aja belagu. Fix nih dia pakai susuk atau guna-guna bebeh satria aku.
@aaa_.7 sapa aku dong, sayang. btw, semkga liburan kalian menyenangkan dan langgang terus yah. untuk kak Ras atau siapa pun nama istri kak Sateia, kakak jamgan dengerin omongan netijen yah, meski mereka benar, pura-pura enggak bisa baca aja.
Guntur hanya cekikikan membaca komentar-komentar dari fansnya. Laki-laki itu memilih untuk menyudahi livenya, karena dia tidak tahan membaca ketikan penggemarnya itu.
"Kalau gitu aku rekam biasa yah." Guntur membuka aplikasi kamera di ponsel, lalu menyetelnya menjadi ke rekaman.
"Okeh, Sayang. Aku mau tanya, kamu hari ini bahagia enggak?" Guntur bertanya dengan nada bicara yang kelihatan jauh lebih senang. Apa lagi sekarang kedua sudut bibirnya sedang tertarik ke atas.
"Gimana yah, karena ini ada di depan kamera, aku mau bilang kalau aku itu bahagia banget. Makasih yah atas liburannya." Larad berbicara sembari kedua tangannya mulai merapihkan jaket yang tadi dikenakan oleh, Guntur.
Guntur yang melihat itu membulatkan mata terkejut. Dia menyudahi acaa merekamnya dan langsung bergerak cepat mendekati istrinya, "Ini biar aku aja yang rapikan. Kamu buatkan aku kopi saja sana." Guntur merampas jaket itu dari tangan Laras, hingga membuat wanita itu melongo bingung.
"Eh, enggak usah. Mas lebih baik mandi saja. Ini biar aku yang selesai-"
"Apa kamu bisa sekali saja langsung menurut, Laras? Pergi dan buatkan aku kopi saja!" Tiba-tiba Guntur meninggikan suaranya, membuat Laras tersentak kaget. Parahnya, Guntur juga langsung kelihatan jauh lebih kaget.
"Maaf, ka ... kalau gitu, aku akan buatkan sekarang." Laras bangkit dari duduknya dan langsung berjalan pincang untuk pergi ke dapur, meninggikan Guntur yang menghela napas dan membanting jaketnya. Lagi-lagi, Guntur membentak istrinya dengan alasan yang tidak jelas.
#Bersambung
...(apartemen dan jalanan desa yang Guntur dan Laras lalui)...