
..."Kamu suka bulan Desember dan Aku benci bulan Juni . Kenapa? Entah, hanya saja aku memang benar-benar membenci bulan itu. Bulan yang seharusnya dibekap musim kemarau, malah lebih sering menurunkan hujan."...
......................
..."Satria Guntur Prasetyo"...
"Bukankan aku sudah menjawab itu?" Dengan membuat raut wajah setenang mungkin, Guntur menjawab. Bahkan laki-laki itu mulai menarik kedua sudut bibirnya, membuat Laras tiba-tiba tertawa dalam sorot mata penuh selidik.
"Kapan?"
"Waktu itu loh, Bi. Masa iya kamu lupa jawabanku?" Guntur menjepit pipi istrinya, membuat mulut wanita itu mengerucut, "udah inget?" imbuhnya dan Laras menganggukkan kepalanya.
Entah kenapa suasana yang tadinya terkesan suram, sudah kembali menghangat meski di luar gumpalan asap abu-abu sedang membekap langit pagi.
Tidak ada hal yang aneh sih, memang Desember seperti ini. Pasti Jakarta dan sekitarnya tidak akan pernah absen dibekap oleh mendung.
"Tapi, jawaban Mas itu kedengaran ngawur loh. Masa iya, ada yang ketemu jodohnya di mimpi yang sangat panjang. Sumpah, kek pembohongan publik gitu."
Guntur langsung meraup wajah istrinya, membuat wanita itu memanyunkan bibirnya, "Ada kok. siapa yang bilang enggak ada?" Laki-laki itu bangkit dari duduknya, lalu kemudian mengulurkan tangan ke hadapan sang istri, "bangun! Kita hari ini sarapan bersama lagi. Pasti kamu rindu, 'kan?"
Laras meraih jemari besar suaminya, lalu wanita itu bangkit dengan gesit. Tentu saja dia hanya menggunakan satu kakinya untuk dijadikan sanggahan, lalu setelah dia berdiri sempurna, barulah kaki kanannya dia turunkan.
"Kalau memang beneran ada, kasih tahu aku siapa orang yang ketemu sama jodohnya di mimpi?"
"Almarhum papa dan aku. Kamu mau menyanggah apa lagi, hayo?" Guntur merangkul lengan bagian otot istrinya, lalu memapahnya ke sofa.
"Eh beneran?" Laras bertanya dengan pupil mata yang melebar. Dia bahkan sampai menghentikan langkah kakinya.
Guntur menganggukkan kepalanya, "Serius, kalau tidak percaya tanya aja mama." Laki-laki itu bergerak untuk menduduki Laras ke singel sofa, membuat wanita itu bergerak tanpa dia sadari.
Setelah melakukan itu, Guntur duduk di lantai dengan satu kaki terlipat dan satunya lagi ditidurkan hingga lututnya menempel di permukaan keramik.
"Mau aku ambilkan cokelatnya dulu atau kamu makan langsung?" tanya Guntur setelah dia meraih pisau, lalu memposisikan bilah senjata tajam itu tepat di atas kue.
"Langsung aja, Mas. Eh, tunggu bentar! Kapan Mas belinya?" Laras mengulurkan tangan kanannya untuk mencolek cokelat yang ada di permukaan kue, "tapi cokelatnya kok dingin gini?"
"Tangannya awas dulu, Bi." Laras menarik tangannya kembali dan Guntur yang melihat itu, langsung melakukan aksinya untuk memotong kue, "kan aku tadi udah bilang. Sepulang dari Puncak kemarin, aku langsung pergi ke Bandung, pulangnya kan aku cari kamu ke rumah mama dan kamunya di sana enggak ada. Kata Lidia, kamu udah pulang eh pas aku nyampe rumah gerbangnya masih degem-"
"Oalah, jadi itu loh kenapa kamu-" Laras tidak melanjutkan kata-katanya, karena wanita itu langsung tergelak.
"Emang itu lucu?" Guntur memerah malu dan Laras semakin tergelak. Bahkan wanita itu sampai ambruk berdasar diri kepala sofa.
"Sayang ... Aku peringatkan kamu untuk tidak."
"Gimana yah rupamu saat panik, Mas. Pasti gini. Bumm." Laras kembali tergelak saat setelah dia mengembangkan pipinya.
Guntur yang sudah tidak tahan digituin bergerak melepas pisau yang dia gunakan untuk memotong, lalu setelah itu dia langsung menerjang sang istri. Membekap Laras di dalam sebuah pelukan yang sangat erat, kemudian mengigit pundak wanita itu.
Laras semakin tergelak saat merasakan geli di pundaknya, "Hentikan, Ma-" Laras tidak bisa berbicara, karena mulutnya selalu saja ingin mengeluarkan suara tawa.
"Hukuman untukmu. Emangnya aku salah karena menghwatirkan istriku sendiri, hem." Guntur mengangkat tubuh Laras, kemudian dia posisikan untuk merebahkan wanita itu di atas pangkuannya.
Laras semakin menjerit kegelian. Kedua sudut matanya bahkan sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata bahagia, "Maaf, ma ...."
Inilah kenapa Laras suka Desember. Selain dia akan mendapati hujan yang tidak akan pernah absen, aroma patrikor yang akan selalu menyeruak saat tanah diguyur hujan, dan juga aroma bunga Flamboyan yang akan memenuhi seisi kota karena mereka semua bermekaran, Laras juga suka Desember karena suaminya akan jauh lebih lama berada di rumah.
Dia yang setiap akhie tahunnya sepi, dua tahun ini selalu dipenuhi keramaian dan semua itu karena Satria Guntur Prasetyo. Berkat laki-laki itu, Laras kembali mengenal tawa dan jika boleh jujur, dia katanya sangat beruntung mendapati sosok Guntur hingga pernah dia berdoa mengatakan, kalau dia tidak ingin laki-laki itu pergi kalau perlu Laras ingin menahan Guntur untuk dirinya sendiri.
***
Masuk jam dua siang, suasana ibu kota ternyata tidak ada perubahan. Mendung juga masih mendominasi langit Jakarta dan sekitarnya. Namun, situasi seperti itu ternyata tidak bisa menghentikan sosok, Guntur untuk memberikan kejutan kepada Laras.
"Kenapa harus ditutup sih?" protes Laras saat dia sudah mendapati kain merah menutup matanya.
"Cerewet. Kalau aku enggak gini, kamu nanti enggak bakalan kaget dan itu pun nanti tidak bisa disebut kejutan." Guntur memeriksa ikatan dua ujung kain yang ada di tengkuk sang istri. Dirasa sudah terikat kuat, laki-laki itu bergerak merendang, Laras, lalu mulai menuntunnya untuk berjalan keluar dari dapur menuju halaman belakang.
"Jalannya pelan-pelan, Mas. Kakiku sakit loh."
"Maaf, kalau begitu kita jalan pelan-pelan. Maafkan aku, Sayang." Guntur menurunkan kecepatan langkah kakinya menyamai gerakan sang istri yang berjalan pincang.
"Emang, Mas ini mau apa sih? Tadi pagi udah kasih kue awal bulan dan sekarang apa lagi?" Sepertinya Laras begitu sangat penasaran.
Guntur bergerak mengecup bibir sang istri, saat dia mula merasa gemes karena wanita itu tidak berhenti melontarkan pertanyaan yang sama, "Cerewet. Kamu kalau ikut pasti akan tahu."
Laras mendengus dan akhirnya dia menyerah untuk mencari tahu, walau saat ini pikirannya terus saja membisikkan kata-kata penasaran.
"Udah, berhenti!" Guntur menginterupsi, membuat langkah Laras berhenti tepat di belakang sebuah meja rotan yang di mana, di sisinya ada kursi yang juga terbuat dari rotan.
"Enggak ada bau makanan," ujar Laras mencoba menebak-nebak.
Guntur yang melihat tingkah sang istri hanya bisa geleng-geleng kepala, "Diam! Kamu mau dibukain penutup matanya, 'kan?" Laras langsung menurut dan wanita itu berdiri diam dengan keadaan kaki kanan ditekuk, karena jika ditegakkan, Laras pasti akan merasa nyeri.
"Aku hitung satu sampai tiga yah. Kamu jangan coba-coba ngintip." Guntur memberikan wejangan dengan raut wajah cekikikan.
"Hemm," jawab Laras yang masih mencoba untuk tetap diam.
"Aku hitung yah, Satu ...."
Guntur mulai menarik satu ujung kain merah itu, hingga membuat ikatannya melonggar.
"Dua ...."
Guntur melepas dua ikatan antara kain merah itu, hingga ujung yang tadinya bersatu sudah terpisahkan dan bahkan mereka dipegang dengan tangan yang berbeda.
"Tiga!"
Guntur menarik tangan kanannya, membuat kain merah itu ikut terbawa ke belakang, "Kejutan," imbuhnya sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Bahkan kepalanya sekarang sudah tergeletak di atas pundak, Laras.
Sementara di sisi Laras. Awalnya wanita itu sulit mengatur cahaya yang masuk ke matanya, tapi setelah beberapa detik mencoba, dia langsung bisa melihat dengan normal dan kedua matanya membulat terkejut dengan mulut yang menganga serta sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Mas .... Ini beneran?" tanya Laras sembari menepuk-nepuk lengan suaminya yang berada di perutnya.
"Menurutmu?" Bukannya menjawab, Guntur malah balik bertanya hingga Laras yang mendengar itu tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata selain tatapan mata yang kelihatan bahagia melihat, dua tiket pesawat tujuan Francis tergeletak di atas meja rotan.
#Bersambung