Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 48



"Kenapa kau ke mari?" Pada akhirnya, Laras bersikap dingin. Padahal tadi dia sudah memutuskan akan mencari, Guntur. Namun, saat orang itu ada di depan dan memeluknya, entah kenapa keinginannya yang tadi berubah.


Bahkan tangannya yang tadi hendak membalas pelukan Guntur, bergerak untuk mendorong laki-laki itu. Sementara di sisi Guntur, pria itu langsung terdorong. Dia dengan mimik wajah yang tidak percaya, melihat Laras yang saat ini sedang menatapnya kecewa. Sangat persis seperti tatapan tiga tahun yang lalu.


"Pergi! Bukankah aku mengatakan-"


"Aku tidak bisa pergi, Ras. Aku tidak bisa diam disaat kamu tidak ada di rumah." Guntur memotong. Laki-laki itu bahkan hendak melangkah masuk, tapi Laras kembali mendorongnya.


Di luar hujan masih menjatuhkan diri. Bahkan mereka kedengaran semakin brutal menguyur atap rumah Laras yang menggunakan seng.


Laras meringis. Wanita itu bergerak memegang pintunya dengan menggunakan satu tangan, "Omong kosong. Jika memang kau begitu membutuhkanku, kenapa baru sekarang? Tiga tahun kamu bisa hidup tanpa aku, 'kan? Jadi lakukan dan jangan ganggu-"


"Mama lagi a- Paman tampan?" Katrina tiba-tiba menampakkan dirinya dan bocah perempuan itu, langsung diam mematung dengan pupil mata yang melebar serta sebuah senyum yang lumayan lebar, memperlihatkan beberapa giginya yang tanggal.


"Kenapa Mama bisa mengundang Paman tampan ke si-"


"Berhenti di sana, Ketty!" Katrina tadinya mengayunkan langkah mungilnya untuk mendekat ke arah, Laras. Namun, bocah perempuan itu langsung berhenti. Dia bahkan sampai menunduk saat manik mata Laras terlihat menatapnya dengan begitu tajam.


"Sekarang masuk kamar!" Katrina menganggukkan kepalanya dan bocah perempuan itu langsung berlalu pergi ke dalam rumah.


Setelah kepergian anak semata wayangnya, Laras kembali memfokuskan diri ke arah Guntur. Dia melihat kalau saat ini laki-laki itu sedang menunjukkan ekspresi bahagia dan ada sedikit raut merindu di sana.


"Dia anak ki-"


"Anakku. Berhenti mengatakan kita kepada anakku! Sekarang kau pergi dan jangan pernah ganggu kami lagi. Berhenti mengatakan kau tidak bisa hidup tanpaku, karena aku tidak percaya omongan busukmu itu." Laras bergerak membanting pintu, tapi Guntur yang melihat itu dengan cepat memposisikan tangannya untuk menyangga agar penutup jalan masuk itu tidak tertutup seperti tadi.


"Tolong dengarkan aku dulu!" Guntur mendorong kembali pintunya, membuat Laras terhempas, lalu jatuh terkapar di lantai.


Wanita itu meringis dan mengeluarkan mimik wajah penuh kesakitan. Kedua tangannya bergerak memegangi betis kaki kanannya, beberapa butir air juga kelihatan keluar dari ekor matanya.


"La-"


"Mama!" Katrina yang sialnya dari tadi bersembunyi di belakang tembok berlari keluar. Bocah tiga tahun itu langsung duduk di sebelah kaki ibunya. Dia tiba-tiba ikut menangis, saat melihat sang mama kesakitan.


Laras yang melihat anaknya menangis, langsung berusaha meredanya. Dia tidak ingin kelihatan lemah di depan anaknya, "Mama tidak apa-apa, Nak. Sekarang Ketty ma-"


"Dasar Paman tampan, jahat! Padahal di dalam TV, Paman kelihatan baik, tapi-"


"Jangan, Ketty!" Katrina yang tadi hendak mendekati Guntur, langsung diam. Laras yang melihat itu tentu bergerak bangkit dengan cara berpegangan di permukaan tembok.


Saat setelah berdiri sempurna, Laras menarik kedua bahu anaknya dan dengan langkah pincang, dia bergerak maju. Rasa sakit tentu masih terasa di kakinya, tapi untuk saat ini wanita itu harus menahannya.


"Dia itu orang jahat yang ingin mengambil Katty dari Mama. Jadi, sekarang, Ketty lebih baik masuk ke kamar dan biarkan Mama mengusir penjahat ini."


Katrina menganggukkan kepalanya. Bocah perempuan itu kembali masuk ke dalam dan untuk saat ini, dia benar-benar menuju ke kamar tidurnya.


Setelah kepergian sang anak, Laras menatap Guntur dengan sorot mata yang semakin dipenuhi amarah. Sedangkan, Guntur. Laki-laki itu saat ini sedang melihat kaki Laras dengan tatapan sedih.


"Kenapa? Merasa bersalah lagi? Buat apa kau merasa begitu di saat semua keadaanku ini terjadi karena ulahmu."


Guntur geming, tapi laki-laki itu bergerak mundur. Laras yang melihat itu kelihatan menunjukkan seutas senyum yang kelihatan kecewa, "Kesempatan terakhir untukmu. Jika kau menunjukkan mukamu itu di depanku, maka kau akan melihat jasadku."


Laras mendorong pintu dengan pelan, membuat jalan masuk itu tertutup. Wanita itu langsung terduduk jatuh dengan posisi satu tangan masih memegangi gagang lawang dan sstunya lagi menutup sisi kiri wajahnya.


Laras menangis dengan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sementara di balik pintu bagian luar, Guntur masih berdiri. Namun, sedetik kemudian, laki-laki itu bersimpuh jatuh dengan sorot mata yang sangat-sangat sedih.


"Dulu kamu sudah janji untuk tidak meninggalkan, tapi apa ini? Kamu pembohong," ucap Guntur lemah.


Sementara Laras. Dibalik pintu, wanita itu semakin menangis. Dia bahkan tidak segan mengeluarkan isak tangisnya.


"Tadi kamu juga mengira kalau selama ini aku menjalani hidup dengan baik-baik saja, 'kan? Jawabannya, iya. Aku memang menjalani hariku dengan begitu baik, tapi itu tidak lepas dari kamu, dari anak kita. Sebenarnya, selama tiga tahun aku mengawasi kalian berdua dari jauh. Tiga Minggu sekali, aku ke sini, lalu melihatmu untuk melepas rindu. Waktu kamu melahirkan pun, aku menunggumu di luar, persisi seperti saat kamu koma waktu itu."


Laras semakin menangis. Di luar hujan dan saat ini air matanya dan air hujan tengah berlomba-lomba untuk membuktikan siapa yang jauh lebih deras keluarnya.


Dibalik pintu bagian luar, Guntur juga mulai menangis, "Sebelumnya aku minta maaf karena tidak mematuhi ucapnmu, tapi jujur. Saat kamu berhasil melahirkan Katrina kita. Aku orang pertama yang menggendongnya. Itu aku lakukan saat kamu kehilangan kesadaran." Laki-laki itu tersenyum dan air matanya juga semakin mengalir dengan begitu sangat derasnya. Laras pun begitu, dia yang tadi malu-malu mengeluarkan suara isak tangisnya, malah sekarang dia sudah tidak segan lagi menyamakan bisingnya suara seng yang dibombardir air hujan.


"Maaf karena menganggumu. Aku berani menampakkan diri karena ingin bertemu denganmu secara langsung. Melihatmu dan putri kita dari jauh, sangat menyiksaku. Aku ingin kita seperti dulu, berada di rumah yang sama-"


"Pergi! Aku belum siap memaafkanku. Jujur, tadi aku sudah berniat mengejarmu, lalu memaafkanmu. Tapi, saat melihat wajahmu itu, entah keinginanku untuk memaafkanmu itu pudar dan rasa benci jauh lebih mendominasi." Laras memotong perkataan Guntur dengan nada bicara yang begitu sangat pilu.


"Baiklah, aku pergi. Tapi, bolehkan kamu izinkan aku memberikan barang-barang yang putriku inginkan?"


"Pergi! Sebelum aku-"


"Baiklah, aku pergi. Terima kasih atas malam ini." Guntur melangkah mundur dan setalah itu dia benar-benar pergi, diiringi oleh suara tangisan Laras yang semakin mengencang.


"Beri aku waktu untuk memaafkan kamu lagi. Jika memang sudah waktunya, aku pasti akan mengejarmu, seperti saat kau mengejarku waktu itu."


***


Pagi harinya, hujan hanya menyisakan genangan air dan juga beberapa tetesannya di permukaan deduan, "Mama, nasi gorengnya cepat!"


Seperti pagi hari yang biasanya, Laras langsung disibukkan oleh permintaan anaknya yang menginginkan sarapan nasi goreng. Saat ini, Katrina sedang duduk di sofa dan kedua matanya sedang menonton sebuah film kartun di channel lokal.


Dari arah jalan dapur, Laras tiba-tiba datang dengan langkah yang pincang. Semalam, wankta itu sudah mengonsumsi obat penghilang rasa nyeri.


"Kaki Mama masih sakit?" Katrina bertanya saat mendapati ibunya yang sudah menghampiri dirinya di ruang keluarga.


Laras menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang. Bukankah Mama memang selalu jalan seperti ini?"


Katrina menyengir, membuat Laras tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Ini makanan Ketty." Laras meletakkan piring di atas pangkuan Katrina.


Katrina yang sudah mendapati sarapannya itu tersenyum, "Terima kasih, Mama," ujar anak cerdas itu sembari terus melihat ke layar TV.


Laras mengelus surai hitam anaknya dan perempuan itu bergerak menegakkan tubuhnya yang sedikit membungkuk, "Makan yang lahap ya, Nak."


"Iya, Ma- eh kartunnya kok hilang?" Katrina membulatkan pupil matanya saat dia mendapati kartun yang dia tonton itu, tiba-tiba berubah menjadi sebuah acara berita terkini.


Laras yang mendapati perkataan anaknya begitu, langsung menoleh melihat ke layar TV, "Itu hanya berita sebentar, na-"


"Berita terkini. Tadi malam tepat pukul sepuluh, sebuah mobil mengalami kecelakaan tunggal dan diduga, orang yang mengemudikan mobil itu iyalah salah satu aktor terkenal dari ibu ko-"


TV tiba-tiba mati dan itu adalah ulah dari Katrina yang sangat membenci yang namanya berita, "Aku tidak mengerti dia membicarakan a-"


"Mas Guntur." Laras tiba-tiba menyebut nama Guntur. Mimik wajah yang wanita itu keluarkan kelihatan jelas dipenuhi oleh ketakutan.


'Baiklah, aku pergi. Terima kasih atas malam ini"


Entah kenapa perkataan Guntur malam itu, tiba-tiba kembali berputar diingatan Laras, membuat rasa takut wanita itu semakin membesar.


Belum lepas dari ketakutan itu, Laras tiba-tiba dikagetkan dengan suara nada dering panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Wanita itu berjalan pincang ke depan. Dia ingin mengembik ponslenya yang ada di rak TV.


"Nomer asing." Tanpa berlama-lama, Laras langsung menerima ajakan panggilan suara itu. Dia juga langsung menempelkan benda pipih tersebut di depan telinga.


"Halo, dengan istrinya Satria Guntur Prasetyo?"


Tepat di saat itu, ketakutan dan rasa kwartir Laras sudah naik ke puncak paling tinggi, "I ... iya, ini siapa ya?"


"Kami dari pihak rumah sakit Mutiara kasih ingin memberitahukan kalau-"


Laras menjatuhkan ponselnya dan dia tanpa berlama-lama lagi, langsung memutar tubuhnya, "Kita pergi ketemu papa sekarang, Nak." Itulah yang Laras katakan disaat Katrina melayangkan tatapan bingung untuknya.


#Bersambung


...Tahan napas dulu yuk. ...


...Oh iya, aku bawa rekomendasi cerita lagi nih. Untuk judul, nama penulisnya, dan sinopsis ceritanya ada di bawah ini yah👇...