
"Baru pulang sekarang?"
Baru saja Guntur menutup pintu utama rumah, suara tegas Papanya menggema di gendang telinganya. Saat ini, Aji, Papanya sedang berdiri dengan tegap di ruang keluarga dan kedua matanya memberikan sorot yang sangat-sangat dipenuhi oleh tekanan.
Guntur menggelengkan kepalanya. Remaja itu saat ini masih panik. Dia berjalan cepat ke ruang keluarga dan langsung menyerahkan kunci kepada Papanya, "Maaf-"
Aji menampar Guntur, membuat pemuda itu terhuyung ke belakang dan ternyata itu bersamaan dengan datangnya Zelina ke ruang keluarga.
"Papa!" sentak Zelina dengan nada tegas, tapi tidak terlalu berteriak. Dia langsung berjalan cepat ke arah ruang keluarga dan tanpa disuruh pun, dia berdiri di sebelah suaminya, "tadi Papa sudah janji kalau tidak akan main tangan, 'kan?"
Zelina memegang lengan otot suaminya, tapi si laki-laki itu diam tak bergeming karena saat ini dia sedang sibuk melihat gelagat putranya yang sedikit aneh.
"Maaf, bukan Guntur yang menabrak mereka." Guntur yang panik tiba-tiba berbicara spontan dan mengungkit kejadian beberapa saat lalu.
Saat ini suasana rumah besar keluarga Prasetyo sedang sepi-sepinya. Semuanya mungkin sudah tidur dan bermimpi indah. Namun, tidak untuk tiga orang itu. Di tengah guyuran hujan, mereka saat ini masih melakukan perseteruan.
"Mereka yang salah karena banting-"
"Apa yang terjadi, Guntur! Jangan bilang, kau-"
"Jangan berteriak, Pa! Bertanya yang-"
"Inilah kami selalu lembut kepada anak-anak. Sekarang lihat! Gara-gara ketidaktegasanmu, mereka menjadi seperti ini!" Aji yang tadi memegangi baju bagian leher anaknya, langsung melepasnya dengan kasar hingga pemuda itu terjatuh ke lantai.
Beginilah sikap Aji, dia orang yang tegas, tapi dia juga bisa menjadi sosok penyayang dan juga humoris. Karena malam ini Guntur membuat kesalahan dengan membawa mobilnya, jadi begitu. Sifat tegas Aji yang melihat mendominasi sekarang.
Zelina yang mendapati bentakan itu langsung tersentak kaget. Dia langsung menekuk lutut tanpa peduli dengan ekspresi yang saat ini ditampilkan oleh suaminya, "Nak, katakan. Semua baik-baik."
"Aku hampir kecelakaan, Ma-"
Perkataan Guntur terhenti karena di tengah-tengah mereka, tiba-tiba saja menyusup sebuah suara ketukan pintu, lalu selang beberapa detik, orang yang ada di balik sana menekan bel rumah.
Aji menormalkan ekspresinya. Dia menarik napas dan saat merasa sudah tenang, laki-laki itu melangkah ke pintu. Zelina juga mengikuti dan dia meninggalkan Guntur yang masih ketakutan.
"Apa ada teman Papa yang akan datang?" tanya wanita itu di sela perjalan yang mereka tempuh.
Aji menghedikkan bahu, "Tidak ada," jawabnya dan itu dia keluarkan sembari bergerak membuka pintu rumah.
"Permisi, dengan Bapak Raden Aji Prasetyo?" Tiga orang berseragam polisi langsung mengajukan pertanyaan dan Aji yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Iya, dengan saya sendiri," jawab laki-laki itu dengan nada bicara yang mencoba untuk tetap santai.
"Bisa ikut kami ke kantor sebentar? Ada beberapa hal yang akan kami tanyakan perihal kecelakaan yang terjadi beberapa saat lalu." Pak polisi dengan masih mencoba terus hormat, langsung mengutarakan maksudnya datang ke mari.
Sementara Aji, laki-laki itu bingung. Dia tidak mengerti tentang semua ini, "Kecelakaan apa ya, Pa-"
"Itu bukan kesalahan Papa saya." Guntur yang baru saja datang ke ambang pintu langsung bersuara. Aji yang tadinya kebingungan berhasil memecahkan semua ini, "Saya yang mengendarai mobil itu, Pak."
***
Sembilan Tahun lalu
Tiga hari kemudian ....
"Pa, maaf. Waktu itu Gun-"
"Sudah tidak masalah. Semuanya sudah selesai. Sekarang, kau bersikaplah seperti biasa. Nanti keluarga mungkin akan menayaimu, tapi mereka tidak tahu kalau saat itu ada korban." Aji dengan penuh sayang memberikan penjelasan. Guntur yang mendengar itu tersenyum dan kemudian memeluk anaknya.
Apa yang dikatakan Aji benar. Semua masalah tentang kecelakaan itu sudah selesai. Tentu saja dengan kekuatan uang, dia berhasil menyelamatkan anaknya.
Untuk seluruh keluarga, selama tiga hari ini mereka tidak ada yang tahu tentang kejadian kecelakaan itu, kecuali satu. Mereka semua mengetahui kalau sanya Guntur hampir mengalami kecelakaan. Semua itu, tentu karena cerita Zelina.
Guntur mengangguk dan barulah ayah dan anak itu berjalan bersama ke ruang makan. Sesampainya di sana, Guntur langsung dibombardir pertanyaan. Tidak terkecuali dengan Oma Heni. Dia langsung memeriksakan tubuh Guntur dengan harap-harap cemas.
"Lagian, udah tahu belum fasih masih berani-beranian bawa mobil." Suara Mas Bara adalah komentar pertama yang menyapa gendang telinga Guntur, setelah puluhan kata cemas yang keluar dari mulut Omanya.
"Mas Bara, Bang Gun kan hampir kecelakaan. Jadi, Mas harusnya khawatir." Lidia mengerucutkan bibirnya sebal ke arah Bara.
"Sudah-sudah, lupakan. Semua itu sudah lalu, jadi jangan ada yang membahasnya lagi. Sekarang, kita sarapan dulu." Aji menengahi, membuat semua keluarga tenang dan Guntur pun lega.
***
Sembilan tahun lalu
Seminggu setelah kejadian.
"Aku minta putus!" Kanaya langsung mengungkapkan maksudnya menemui Guntur.
Saat ini wanita itu berada tepat di depan gerbang masuk kediaman keluarga Prasetyo. Tadinya, Guntur ingin pergi, tapi saat dia sampai di depan Gerbang, laki-laki itu malah dihadang oleh Kanya.
"Baiklah," jawab laki-laki itu tak acuh sembari menelisik jalan depan rumah.
Kanaya yang melihat reaksi Guntur seperti itu, tentu tidak terima. Dia bahkan langsung memutar tubuh laki-laki itu agar melihat ke arahnya, "Apa-apaan ini? Kamu benar mau putus?"
Guntur berdecak, "Yang minta putus kamu. Jadi, yah terserah. Aku juga tidak peduli. Bagiku, kau itu sama saja dengan mantan-mantan pacarku. Udah yah, aku sibuk. Semoga harimu menyenangkan."
Guntur tersenyum, lalu dia melambaikan tangan untuk menyetop taksi. Laki-laki itu masuk ke dalam kendaraan itu, tanpa peduli dengan ekspresi kaget Kanaya. Sudah dibilang, Guntur memang orang yang angkuh dan itu benar.
***
"Terima kasih, Pak." Guntur memberikan bayaran, lalu laki-laki itu langsung keluar dari dalam mobil taksi. Tentu saja, dia tidak lupa memasang tudung jaketnya.
Dengan hati-hati, Guntur melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat situasi untuk menyembunyikan keberadaannya di tempat umum seperti ini. Sesampainya di dalam ruang sakit, Guntur langsung berlalu pergi menuju salah satu ruangan yang beberapa hari terkahir ini, selalu dia kunjungi.
Setibanya di luar ruangan itu, dia langsung berdiri di balik jendela. Memindai suasana ruang rawat yang di dalam sana terdapat sebuah ranjang rawat. Di atas ranjang, berbaring seorang gadis remaja dengan banyak sekali alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya.
"Eh, kau datang lagi, Nak?" Seorang Dokter keluar dari ruang rawat yang dilihat oleh Guntur, membuat Guntur berbalik dan berdiri membelakangi laki-laki paruh baya itu.
"Kau adik, teman, atau siapa pasien?" tanya kembali Dokter itu dan Guntur masih tetap diam, "masuklah, Nak. Bicaralah dengan pasien. Dari seminggu yang lalu, tidak ada satu pun kerabat atau temannya yang datang," imbuh Dokter itu lagi, tapi Guntur tetap saja diam.
"Saat kondisi koma seperti ini, dia butuh orang yang bisa mengobrol dengannya. Memang tidak akan merespon, tapi dia akan mendengar." Setelah itu, Dokter berlalu pergi. Guntur yang tidak lagi merasakan adanya keberadaan orang, langsung berbalik. Dia melihat situasi dan saat aman, pemuda itu masuk ke dalam ruangan.
Sesampainya di dalam, Guntur dengan ayunan langkah yang lamban mendekati ranjang. Mimik wajahnya kelihatan takut-takut. Apa lagi saat ini otaknya secara spontan memasang kepingan ingatan kejadian tentang malam itu.
Dia masih sangat jelas mengingat tentang gimana mimik wajah gadis itu. Guntur memejamkan mata. Laki-laki itu bergerak memegang pinggiran ranjang. Napas pemuda itu juga memburu, tapi saat ini dia sedang bersusah payah mengontrolnya.
Saat sudah merasa tenang, Guntur mencoba membuka mata dan tiba-tiba keringat dingin memenuhi wajahnya, napasnya yang tadi tenang, kembali memburu, "Maaf, maafkan aku."
Ini adalah kata maaf pertama yang laki-laki itu lontarkan kepada Laras yang masih terbaring koma.
#Bersambung
...Kita ulas tuntas semuanya. Makasih untuk yang ngikutin cerita ini dan love kalian yang sering komen terus kasih aku hadiah. ...
...Btw, kalian enggak ada yang minta masuk grup chat aku. Hiks🤧...
...Oh iya, aku ada bawa satu rekomendasi cerita lagi nih. Dijamin kalian pasti suka. Untuk judul, sinopsis, dan nama pena. Aku taruh di bawah ini yah👇...