
Kembali ke masa sekarang.
Tiga hari setelah kejadian.
"Gun." Suara panggilan yang disambut dengan ketukan di pintu depan, membuat Guntur yang duduk di pojokan rumah dengan wajah yang kacau dan pakaian yang masih sama seperti tiga hari lalu, langsung mendongak.
Wajahnya yang satu dengan lingkaran hitam di bagian bawah matanya mengatakan, kalau laki-laki itu mempunyai jam tidur yang kacau. Bisa dibilang kalau dia selama tiga hari terakhir ini jarang tidur. Hampir setiap harinya, dia menangisi kepergian sang istri.
Ingin pergi mencari, tapi dia fakta Laras nekat dan melakukan apa yang dia katakan. Laki-laki itu sangat tahu gimana gelagat istrinya. Dia juga tahu kalau kata-kata yang Laras ucapkan kemarin itu bukan hanya ancaman semata.
Suara ketukan pintu kembali terdengar dan itu memaksa Guntur untuk bangkit, lalu melangkah mendekati penutup jalan rumahnya itu. Tanpa berlama-lama, Guntur membuka pintu dan otomatis wajahnya yang kacau langsung menjadi objek paling jelas untuk empat orang wanita yang saat ini berdiri kaget di depannya.
"Astaga, Guntur. Kamu kenapa, Sayang?" Zelina sampai-sampai membekap mulutnya, karena saking kagetnya dia dengan keadaan anaknya. Wanita itu saat ini melihat Guntur seperti saat dia dulu menjadi penyebab kecelakaan.
Guntur yang melihat sosok mamanya, langsung menggelengkan kepala. Laki-laki itu menangis dan tanpa diduga, dia tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam pelukan wanita yang berstatus ibunya itu.
"Yang aku takutkan selama ini kejadian, Mah. Istriku, dia pergi meninggalkanku lagi." Guntur mengadu layaknya bocah.
Zelina, Lidia, Oma Heni, dan Mbak Renata yang mendengar itu kembali dibuat terkejut, "Kenapa bisa menantuku kabur? Apa kau melakukan kesalahan lagi, Guntur?" Oma Heni dengan sedikit meninggikan suaranya, bertanya. Mata wanita berusia uzur itu pun juga mendelik.
"Begitulah. Tapi, ini masalah yang jauh berbeda. Dia ... dia mengetahui kalau aku penyebab kecelakaan sembilan tahun lalu, Mah. Laras pergi meninggalkanku dan dia tidak mengizinkanku untuk mencarinya."
Guntur menjawab pertanyaan Oma Heni dengan nada mengadu ke Zelin. Selain Zelina, tiga orang yang ada di sana kaget. Mereka tidak tahu apa yang Guntur bahas.
"Tolong, bawa kembali istri dan anakku, Mah."
***
Tak terasa hari semakin larut, siang yang tadinya mendung sudah berubah menjadi sore yang dibekap hujan. Hampir semua kawasan Menteng dihantam oleh rintikan air dari langit itu. Termasuk tempat tinggal, Guntur.
Saat ini laki-laki itu sedang berada di dalam kamar. Duduk di atas ranjang dengan pandangan lurus ke depan, tepat ke cahaya lcd monitor yang memperlihatkan video pendek istrinya.
Guntur sudah melakukan ini sejak semua keluarganya pergi dari sini, dengan kecewa. Beberapa saat lalu, Guntur menceritakan kebenaran kepada keluargamu dan laki-laki itu mendapatkan reaksi yang tidak dia percaya. Semua keluarganya kecewa, kecuali Zelina.
Bahkan Oma Heni waktu itu langsung keluar dari kamar sang cucu dan dia tidak lupa meninggalkan sebuah kata, yang membuat Guntur semakin prestasi.
"Memang benar Laras seperti itu. Kau pantas mendapati ini, karena sudah menyembunyikan hal besar tentang istrimu. Hari ini aku mendukung, Laras."
Begitu katanya. Setelah kepergian Oma Heni, Lidia dan Renata ikut menyusul. Mereka juga masa kecewanya dengan Guntur. Niatnya padahal ingin membantu mencari Laras, tapi saat mendengar itu mereka berdua mengurungkan niat tersebut.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Guntur berbalik dan langsung melihat istrinya yang di mana, tengah meniup jari telunjuk tangannya yang berdarah, lantaran tersayat pisau waktu memotong bahan masakan.
"Enggak ap-"
"Diam!" Guntur menyentak Laras dan tanpa pikir panjang, laki-laki itu memasukkan jari telunjuk Laras ke dalam mulutnya. Cukup lama laki-laki itu begitu dan setelah dia merasa kalau tidak ada lagi rasa asin darah, Guntur mengeluarkan jari itu.
"Maaf, seharusnya-"
"Kenapa kamu minta maaf terus sih, Mas. Selalu minta maaf. Ini 'kan bukan salahmu. Lagian tanganku cuma luka sedikit."
Guntur terenyuh. Saat ini laki-laki itu tengah menonton video saat dia dan istrinya memasak beberapa bulan lalu. Tepatnya di pertengahan Juni. Waktu itu mereka akan mengadakan acara romantis. Guntur masih mengingat jelas dan kalau mau, dia bisa menggambarkan tentang acara waktu itu.
"Sayang, kenapa kamu menghukumku begini. Aku memang melakukan kesalahan, tapi, aku juga minta maaf. Apa semua maaf yang seiring aku katakan, tidak berarti apa pun?"
***
Tiga Minggu setelah kejadian itu.
"Gun, kamu ke mana, Nak?" Guntur yang sudah lengkap dengan sweeter bertudung dan celana jeans panjang, langsung menoleh saat mendapati suara Oma Heni.
Laki-laki remaja itu tersenyum kikuk, "Aku harus mengambil obat tidur di salah satu rumah sakit, Oma." Setelah mengatakan itu, Guntur hendak melangkah, tapi suara Omanya kembali memaksa dia untuk tetap tinggal sebentar.
"Tapi, bukankah seharusnya kamu mulai berisap-siap mendaftar SMA?"
Guntur tersenyum, "Papa akan mengurusnya. Lagian Guntur juga tidak begitu tahu mau ke SMA mana. Jadi, sudah dulu yah, Oma." Laki-laki itu benar-benar mengayunkan langkah untuk pergi. Oma Heni yang melihat keadaan cucunya merasa khawatir.
"Pasti dia sangat kesulitan dan masih terbayang dengan kejadian hampir kecelakaan itu," gumam Oma Heni dengan sedikit menatap iba ke arah pintu yang baru saja, Guntur lewati.
***
Setelah menempuh beberapa menit, akhirnya Guntur kembali ke salah satu ruangan yang ada di rumah sakit, temapt di mana korban kecelakaan waktu itu dirawat.
Mungkin jika beberapa Minggu sebelumnya, Guntur akan berdiri di luar. Nah, untuk hari ini berbeda. Laki-laki itu langsung masuk. Malahan dia sudah duduk di kursi yang tersedia di sisi ranjang pasien.
"Maaf aku telat." Guntur tersenyum. Laki-laki itu bicara sembari mengelus rambut, Laras, gadis remaja yang berhasil selamat dari kejadian waktu itu. Namun, keadaan perempuan itu masih koma.
Guntur semakin tersenyum. Laki-laki itu menarik tangannya, lalu menyatukannya dengan yang satu. Dia menyelipkan jemarinya satu sama lain, lalu merentangkannya ke bawah. Wajahnya maju tepat ke telinga, Laras.
Pemuda itu menarik napas, lalu membuangnya dengan lembut, "Cantik, maafkan aku. Aku tidak tahu namamu siapa. Jadi, aku akan memanggilmu begitu saja. Cantik." Guntur tertawa sendiri saat menyebut nama panggilan yang diberikannya. Bisa dikatakan kalau laki-laki itu salah tingkah.
Guntur menjauhkan kepalanya, lalu dia menopang sisi pipi kanannya dengan satu tangan yang sudah berdiri di sisi ranjang.
"Kau tahu ... eh tunggu, aku kan belum cerita. Jadi, tidak mungkin kau bakalan tahu." Guntur tertawa sendiri lagi. Entah, setiap di kesini, dia selalu menjadi orang yang sangat berbeda. Di tempat ini, dia malah lebih sering mengeluarkan sikap konyolnya.
"Kalau begitu aku cerita aja dulu. Jadi, gini. Tadi nenekku menanyakan aku mau pergi ke mana dan aku jawab mau ambil obat tidur di rumah sakit. Lucu, 'kan?" Guntur terkekeh sendiri, tapi saat dia merasakan kalau tidak ada suara tawa selain miliknya, laki-laki itu diam.
Suara alat rekam jantung tiba-tiba mendominasi ruangan itu, "Tidak lucu, yah? Kalau gitu kita ganti cerita. Kemarin, setelah aku pulang dari sini, Masku. Kamu tahu, 'kan? Aku waktu itu sudah memberitahukan itu padamu?"
Guntur menjeda ucapannya. Entah kenapa setalah dia diam, pemuda itu tiba-tiba diserang oleh rasa miris. Sudah tiga Minggu dia bicara, tapi gadis yang terbaring di ranjang itu tidak merespon sedikit pun.
Guntur terenyuh dan tiba-tiba saja, dia menarik kursinya agar lebih dekat dengan ranjang. Setelah dia rasa sudah dekat, pemuda itu menjatuhkan kepalanya di sisi kanan kepala, Laras.
"Apa yang aku katakan ke Oma tadi, benar. Aku ke sini memang mengambil obat tidur. Kamu tidak tahu 'kan, kalau tiga Minggu terakhir ini jam tidurku terganggu. Setiap kali aku memejamkan mata, pasti bayang-bayang kejadian itu akan menghantuiku. Tapi, anehnya. Aku jika tidur seperti malah merasa jauh lebih tenang. Jadi, wajar jika aku mengatakan ingin mengambil obat tidur, karena tanpa sadar aku itu merasa tenang dan nyaman jika bersamamu."
Guntur tersenyum dan satu air matanya tiba-tiba keluar dan mengalir membasahi pipi, lalu jatuh ke permukaan bantal, "Tolong maafkan aku."
Setelah mengatakan itu, Guntur tersenyum lega. Laki-laki itu kembali membagi cerita tentang berbagai hal. Bahkan dia menceritakan kesehariannya hingga laki-laki itu terlelap dan tanpa sadar melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh, Laras.
#Bersambung
^^^Hemmmm๐. Komen dong, eh kasih hadiah juga dong๐๐.^^^
...Btw, aku ada bawa rekomendasi cerita lagi nih. Kalian jika tertarik, jangan lupa mampir yah. Untuk judul, nama pena, dan sinopsis ada di bawa ini yah ๐...