
Beberapa menit setelah selesai menikmati makanan tradisional di Restoran Le Monchu. Laras dan Guntur kembali melanjutkan perjalanan. Sesuai yang disepakati semalam, mereka berdua tidak naik kendaraan dan hanya berjalan kaki dari apartemen hingga ke pusat kota, lalu saat ini mereka berakhir di depan patung sang pahlawan yang berhasil menaklukan Mont Blanc.
"Yang disebuah kiri namanya siapa, Mas?" tanya Laras sembari menunjuk patung seorang laki-laki yang berdiri melihat gunung tinggi Mont Blanc.
"Aku buka Google dulu." Guntur langsung membuka ponselnya, mencari tentang patung yang saat ini mereka lihat, "nah ada, Bi. Di sini tertulis patung laki-laki yang berdiri di samping kiri itu namanya Jacques Balmat. Sedangkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu namanya Horace Bénédict de Saussure."
Laras menganggukkan kepalanya dan wanita itu memilih untuk menatap lebih dalam dua patung laki-laki itu.
"Terus, kenapa dia bisa mendapat gelar pahlawan?" tanya Laras dengan dengan masih memandang penuh kagum ke arah dua patung laki-laki itu.
"Di sini dijelaskan Jacques Balmat dan Michel-Gabriel itu menjadi pahlawan karena di tanggal 8 Desember 1786, mereka berdua berhasil menaiki puncak tertinggi Mont Blanc. tapi, di sana hanya ada patung Jacques Balmat. Nah untuk disebelah itu dia naturalis dari Swiss, Horace Bénédict de Saussure. Katanya, Horace Bénédict de Saussure ini akan membayar siapa pun yang berhasil mendaki puncak Mont Blanc. Itu dulu yah."
Guntur menyudahi penjelasannya. Laki-laki itu kembali memuaskan ponselnya, lalu menggandeng pinggang sang istri.
"Mereka mendaki gunung yang itu?"
Guntur menganggukkan kepalanya untuk memberikan jawaban, "Iya, mereka naik ke puncak sana. Kita juga akan pergi ke sana, Bi. Main sky."
Laras membulatkan mata terkejut. Wanita itu menoleh ke arah sang suami dengan sorot mata yang begitu tidak percaya, "Mendaki? Apa kamu tidak sedang mengejekku? Kamu tahu aku pincang, tap-"
"Kamu jangan banyak bicara dan ikuti aku dengan tenang." Guntur menyela, membuat Laras diam, "aku tahu kamu itu kampungan, tapi jangan katrok begitu, Sayang," imbuhnya dan setelah itu Guntur menjerit karena mendapati sengatan cubitan Laras di perutnya.
***
"Naik!" Guntur mengulurkan tangan untuk membantu sang istri naik ke gerbong kereta kabel. Laras meraih tangan suaminya dan langsung melompat masuk. Sungguh, saat ini tingkah perempuan itu kelihatan kepungan sekali. Namun, anehnya tidak ada yang tertawa dan penjaga gerbong itu malah diam melihat saja.
"Ini aman, 'kan?" tanya Laras yang saat ini dituntun untuk mendekati tempat duduk yang masih kosong.
"Aman. Kamu kalau sama aku itu enggak perlu takut." Setelah mengatakan itu, Guntur tersenyum kepada laki-laki Eropa yang sepertinya duduk di sana juga.
"Excuse me, is there no one in there?" Guntur bertanya dan menunjuk ke tempat duduk yang kosong.
"Oh, Please just sit down." Laki-laki muda itu menjawab dengan kikuk.
"Thank you." Guntur tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu bergerak memegang kedua lengan otot istrinya, "sekarang duduk di sini."
Laras duduk dengan masih sedikit menyimpan ketakutan. Guntur juga langsung duduk dan laki-laki itu juga dengan sigap menggenggam jemari istrinya yang ditutupi oleh sarung tangan.
"Ini baru pertama kali buatku, Mas." Laras bercerita dengan nada yang terdengar sangat ketakutan. Guntur yang mendengar itu pun tersenyum dan semakin menggengam jemari istrinya dengan begitu sangat erat.
"Aku bersamamu. Samapi kapan pun. Lagian ini sudah pasti aman. Ada banyak orang dan penjaganya juga ada. Percaya padaku." Guntur membisikkan kata-kata penenang.
aku akan selalu di sisimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu seperti dulu. Sampai kapan pun, karena aku benar-benar mencintaimu, Laras, lanjutnya di dalam hati dengan nada yang bersungguh-sungguh.
#Bersambung
...Wajar Laras takut wong dia mau naik beginian. Mana itu baru kali pertama. ...
...btw, kalian nikmati aja dulu pemanisnya sebelum boom!...