
..."Jujur atau tantangan?"...
...****************...
..."Laras Ayudia"...
Malam hari di Chamonix ternyata jauh lebih dingin. Entah kenapa hari juga begitu cepatnya berubah gelap. Saat ini, Laras tengah duduk di depan perapian dengan tangan yang terulur untuk mendapatkan kehangatan.
Tidak ada Guntur di sebelahnya, karena setelah kejadian sore tadi laki-laki itu tidak keluar dari kamar. Kopi yang dimintanya pun, sudah sedari tadi dingin. Mungkin rasa kopi itu juga sudah akan sangat jauh berbeda, karena tidak hangat lagi.
Laras diam dan sesekali menggigil saking dinginnya. Dia juga ingin masuk ke dalam kamar, mengambil selimut, tapi entah kenapa hatinya merasa takut untuk masuk. Dia takut mendapatkan amukan dari suaminya lagi.
"Laras, Laras. Kapan sih kamu itu enggak buat suami marah?" Laras menggerutu. Dia berada di luar kamar bukan karena marah mendapati teriakan suaminya, tapi dia di sini karena mengaku salah. Seharusnya sore tadi dia langsung jalan dan menurut, tapi karena sok keras kepala, Guntur jadi meneriakinya.
Bahkan di meja, makanan yang sudah disediakan tidak disentuh sama sekali. Semuanya dingin, seperti suasana di luar apartemen yang masih dilanda hujan salju.
"Apa aku hangatkan makanannya dulu aja, terus panggil dia keluar?" Laras mulai menimbang-nimbang, "tau deh," imbuh wanita itu dan ternyata dia memilih untuk berdiri, tapi tidak beranjak pergi.
Laras memperhatikan pintu kamar tidurnya cukup lama. Dia menghela napas dan tanpa mau banyak berpikir, wanita itu beranjak untuk mendekat ke pintu.
Laras memposisikan tangan kirinya untuk memegangi gagang pintu dan kemudian dia memposisikan tangan kanannya untuk mengetuk permukaan lawang, "Mas, udah jam tujuh. Kamu kapan makannya? Aku udah siapin makanan, tapi mau menghangatkannya dulu. Kamu kalau makan, keluar saja yah."
Setelah mengatakan itu, Laras beranjak ke meja makan. Wanita itu meringis saat mendapati beberapa makanan yang ada di sana sudah hilang kehangatannya, "Ayok, jadilah istri yang baik, Laras. kasihan suamimu kalau kamu gitu mulu. Cobalah untuk ngertiin dia dan ...."
"Maafkan aku." Laras tersentak kaget saat dia mendapati ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Namun, itu hanya sesaat karena setelah dia merasakan ada selimut yang membekap, Laras pun tersenyum dan memposisikan kedua tangannya di atas punggung tangan besar sang suami.
"Kamu kenapa selalu minta maaf sih. Bisa enggak, kamu kasih aku kesempatan untuk minta maaf sekali aja. Tadi sore aku yang salah. Seharusnya istri yang baik itu harus-"
"Tidak, bagi aku kamu tidak pernah salah. Aku adalah satu-satunya orang yang penuh salah di sini. Kamu tidak perlu tahu apa kesalahanku, tapi yang jelas aku selalu ingin minta maaf." Guntur berbisik setelah dia menjatuhkan keningnya di pundak kanan sang istri.
"Kamu selingkuh yah, makanya aku enggak boleh tahu alasannya." Laras menebak dengan ekspresi jenaka. Dia saat ini sedang bergurau, tapi itu berhasil membuat Guntur menegakkan kepalanya.
"Sumpah demi Tuhan, aku enggak pernah selingkuh, Laras. Kamu mungkin sering melihatku banyak berganti pasnagan di setiap film, tapi demi apa pun aku enggak ada apa-apa diluar sana bareng mereka. Aku itu-"
"Iya, aku tahu. Kamu sensitif banget sih kalau udah dituduh selingkuh." Guntur cemberut dan Laras tergelak, "mau makan? Aku ada buat makanan asing. Ini tadi aku cari resepnya di Google, mau coba?" imbuh Laras, membuat Guntur menjatuhkan pandangannya ke arah meja makan.
Di meja sana tersaji semangkuk besar sup berkuah cokelat. Sangat asing di mata Guntur, "nama makanannya?" tanya Guntur, membuat Laras masuk ke mode berfikir. Wanita itu bingung dan lupa nama makanan yang dia buat.
"lupa yah?" tebak Guntur dan Laras tersenyum.
"Aku inget. Kalau enggak salah namanya itu Locro."
Guntur langsung kelihatan membulatkan mata terkejut, "Bahan-bahannya apa?" tanya Guntur kelihatan tertarik untuk mencicipi makanan itu.
"Ada jagung, daging, kentang, kacang-kacangan, dan bawang juga. Terus untuk biji jagungnya aku rendam dengan perasan lemon dulu." Laras menjelaskan dengan wajah penuh ekspresi.
Guntur hanya tersenyum mendengarkan. Dia sedikit mengeluarkan ekspresi kagum, "Sepertinya enak. Bagaimana kalau kita memakannya di depan perapian?"
"Ayok!" Dengan antusias, Laras menjawab.
***
"Ini katanya harus di makan pakai roti. Dicolek kayak gini." Laras menyontohkan. Dia merobek roti kering kasih milik Eropa, lalu mengambil sedikit Locro, dan setalah itu dia masukkan ke mulutnya.
Pupil mata Laras melebar dan mulutnya tidak berhenti mengunyah, "Enak. Bener ini enak banget."
"Gimana? Enak, 'kan?" Laras bertanya dengan eskpresi wajah yang sepertinya menghadpakan jawaban yang sangat baik.
"Enak, lumayan. Kamu emang selalu bisa masak hal-hal baru. Terima kasih." Guntur menjawab dengan sungguh-sungguh. Laki-laki itu mulai lahap memakan makan malamnya, setelah tadi Laras memanaskan sup itu lebih dulu.
Memang Locro itu paling enak di makan di saat dingin seperti ini. Apa lagi itu dinikmati di depan perapian. Jadi, ada sedikit kesan tersendiri yang mereka rasakan.
Laras tersenyum bangga. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membuat suaminya bangga, "Sayang, aku ada rencana."
Laras melihat ke arah suaminya dengan tangan yang tidak berhenti bergerak di atas piring, "Apa?" tanya wanita itu dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu tahu, berada di depan perapian itu. Enaknya kita main jujur atau tantangan."
"Hah? Tunggu, aku ngelag. Maksudnya truth or dare?" Guntur menganggukkan kepalanya, membuat Laras sedikit tertantang.
"Gimana? mau?" tanya Guntur dan Laras menganggukkan kepala untuk menajwab.
"Boleh, tapi siapa dulu?" Laras menelan makanannya lebih dulu, baru setelah itu dia berbicara.
"kita suit," saran Guntur dan Laras mengangguk kepalanya.
Mereka berdua melakukan suit. Di putaran pertama, mereka sama dan di putaran kedua Laras yang menang. Wanita itu bersorak girang, membuat Guntur tersenyum cukup lebar.
"Katakan, Mas mau truth or dare?" Laras bertanya dengan mimik wajah tersenyum.
"Kamu maunya aku pilih apa?" tanya balik Guntur.
"truth. Kenapa? Karena aku ingin Mas itu jujur, kapan kita ketemu." Laras menjawab dengan nada lembut dan mimik wajah yang tersenyum. Tangan kirinya juga bergerak menepuk-nepuk paha sang suaminya.
"Kalau begitu aku pilih tantangan." Guntur tergelak saat dia mendapati senyum istrinya memudar.
"Tantangannya, Mas coba sentuh hidung dengan lidah." Dengan bersungut-sungut Laras memberikan tantangan.
Guntur awlanya membulatkan mata karena tidak percaya dengan apa yang diminta istrinya. Namun, itu hanya sebentar, karena setelah itu dia tiba-tiba bergerak mendekatkan wajahnya, lalu menyetuh ujung hidung istrinya dengan ujung lidah.
"Udah, karena aku tidak bisa menyetuh hidungku sendiri. Aku lebih baik menyentuh hidungmu. Mau bagaiamana pun, hidungmu itu adalah hidungku juga." Laras bersemu merah, tapi dia mencoba bersusah keras untuk tidak luluh dan teruz saja memperlihatkan mimik wajah sinisnya.
"Sekarang giliranku yah. truth or-"
"Truth!" jawab Laras dengan sekonyong-konyong memperlihatkan mimik wajah sinis.
"Wah ... ternyata istriku pemberani yah. Kalau begitu gini. Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku sunggu sangat penasaran. Sembilan tahun lalu kan kamu beserta keluargamu mengalami kecelakaan karena orang yang tidak bertanggung jawab. Begini, semisal orang yang tidak bertanggung jawab itu masih ada, apa yang bakalan kamu lakukan?"
"Memukulnya, mengumpatnya, intinya jika perlu aku ingin dia mati juga." Laras berbicara dengan tanpa ekspresi, tapi matanya sudah memerah. Memang ini adalah pembahasan sensitif, tapi Guntur itu penasaran saja.
"Dibilang marah, aku itu sangat marah. Gara-gara dia kedua orang tuaku meninggal, gara-gara dia aku mendpati luka bakar, dan gara-gara dia satu kakiku tidak berguna lagi. Padahal waktu itu dia ngeliat, Mas. dia ngeliat aku mengulurkan tangan, tapi anak itu pergi gitu aja. Seandainya dia membantu dan memanggil orang-orang, kedua orang tuaku mungkin bisa selamat." Laras menyeka air matanya. Entah sejak kapan wanita itu menangis.
"Berarti kamu lihat pelukannya?" tanya Guntur dengan wajah berkeringat atau bahkan saat ini seluruh tubuhnya panas dingin.
"Lihat, mungkin sekarang usianya sama denganku. Soalnya saat kecelakaan itu, dia dan aku seusiaan," jawab Laras dan itu semakin membuat, Guntur panas dingin, "tapi, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Mas?" tanyanya dengan air muka yang penasaran.
#Bersambung