Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 44



"Sayang, dengarkan aku dulu. Laras, jangan begini. Kamu bilang, kamu hamil. Pikirkan anak kita, Laras."


Guntur menghentikan langkahnya mengejar mobil taksi yang ditumpangi Laras. Laki-laki itu menatap sayu ke arah kendaraan rofa emapat, yang baru saja hilang dari pandangannya.


Malam ini, Guntur menangis. Namun, semua disamarkan karena adanya hujan yang turun begitu sangat derasnya. Bahkan di sela-sela rintikan itu turun, terdengar bunyi gemuruh yang lumayan menggambarkan suasana hati Guntur.


"Begitulah rasanya ditinggalkan seseorang, Tuan Satria." Di tengah-tengah suara guyuran hujan dan alunan bunyi gemuruh, Guntur menangkap satu suara yang entah kenapa malam ini membuat dia sangat kesal.


Guntur yang saat ini sedang kacau langsung berbalik, berlari ke arah laki-laki itu, dan setelah dekat, dia melayangkan sebuah tinju yang membuat Liam tersungkur ke jalan komplek perumahan.


Guntur menatap tajam ke arah Liam. Sorot matanya kelihatan dipenuhi oleh amarah, benci, dan juga kecewa. Laki-laki itu malam ini sangat geram, "Apa alasanmu melakukan ini padaku? Bukankah selama ini aku selalu baik padamu? Aku juga menganggapmu seperti saudara sendiri, Sialan!"


Guntur berjalan mendekat. Laki-laki itu meraih kerah baju Liam, lalu dia mengangkatnya dengan tak berperasaan. Liam yang mendapati perlakuan seperti itu tidak bereaksi. Dia hanya menorehkan senyum mengejek ke arah bosnya itu.


"Kejadian bertahun-tahun lalu, kau mengingatnya?" Liam mulai bicara dan perkataan laki-laki itu seperti mengajak Guntur bernostalgia, "saat kau menjadi bintang remaja yang angkuh dan sombong, kau pasti masih mengingatnya, 'kan?" imbuh laki-laki itu dan entah kenapa, Guntur mulai kepikiran.


Dia yang tadinya dipenuhi oleh amarah dan benci, tiba-tiba memikirkan perkataan Liam, untuk mengingat-ingat semua yang dia lakukan sewaktu remaja dulu.


"Seorang anak seusiamu meminta sedikit waktu untuk foto dan tanda tangan, tapi kau ingat apa yang kau lakukan waktu itu?" Guntur melebarkan pupil matanya.


"Jangan bilang itu kau?"


Liam tersenyum kecut dan sepertinya itu sudah menjadi jawabannya. Guntur yang melihat itu melepas pegangan tangannya dari kerah baju sang asisten. Dia mundur beberapa langkah, "Hanya karena kejadian waktu itu, kau membalasku seperti ini? Apa kau gila, Sialan! Waktu itu aku hanya menolak-"


"Dan meludahiku, lalu kau mengeluarkan kata-kata untuk merendahkanku. Jangan pura-pura lupa ingatan, Tuan Satria si laki-laki terhormat dan penyayang." Liam terenyuh sendiri dengan kata-kata terakhir yang dia ucapkan.


Guntur yang mendengar itu semakin tidak percaya. Iya, dulu saat remaja. Dia memang seorang bintang yang dipenuhi oleh sifat angkuh dan sombong. Saat itu dia menganggap orang-orang yang ada di bawahnya itu tidak lebih dari sampah. Kebetulan Liam waktu itu juga masih berada di bawahnya.


"Iya, aku ingat. Tapi, apa yang kau lakukan malam ini, sungguh sudah kelewatan, Sialan! Hanya karena aku sedikit merendahkanku, kau membalasku-"


"Ibuku meninggal. Saat di detik-detik kepergiannya, dia menginginkan aku berfoto denganmu dan mendoaati tanda tanganmu. Jujur, saat itu aku tidak begitu peduli denganmu. Tapi, ibuku berbeda. Dia sangat menggemarimu. Bahkan setiap hari, dia selalu membandingkan kau denganku."


Liam bercerita dengan mimik wajah yang pilu. Guntur yang mendengar itu tiba-tiba berubah kaget. Apa lagi ini? Mungkin itu yang saat ini dia tanyakan di dalam dirinya.


"Marah? Tentu saja, tapi ibuku akan tetap menjadi ibuku. Dia satu-satunya orang tua yang aku punya. Jadi, kau pasti bisa merasakan bagaimana rasanya seorang anak yang tidak bisa memberikan keinginan terakhir dari ibunya. Bayangkan, di detik-detik terakhirnya, dia malah meminta aku untuk berfoto denganmu. Katanya, biar takdirmu nular ke aku."


Liam terenyuh dan menangis secara bersamaan. Guntur yang mendengar kata-kata itu tidak bisa lagi bersuara. Jujur, memang saat-saat remaja dulu, dia punya banyak kesalahan. Dia termasuk ke dalam anak yang berperangai buruk. Sombong dan juga angkuh, sudah menjadi makanan kesehariannya waktu itu.


"Mulai dari situlah aku menjadi gila. Kenapa? Karena ibuku mengembuskan napas terakhir dengan memberikan tatapan kecewa padaku. Aku marah kepada diri sendiri, tapi aku jauh lebih marah setiap melihatmu tersenyum di tengah-tengah penderitaanku." Tiba-tiba wajah Liam berubah dan dipenuhi oleh ekspresi benci dan itu tertuju kepada Guntur yang sudah tidak bisa bereaksi apa pun.


Dia saat ini kacau. Padahal, sudah banyak rencana yang akan dia lakukan dengan istrinya, tapi sebuah guncangan besar justru merobohkan rencana-rencana itu. Saat ini dia tidak terlalu peduli dengan Liam, karena pikirannya sekarang hanya tertuju kepada Laras seorang.


"Awalnya aku bingung mau membalas dendam seperti apa, tapi keberuntungan seolah berpihak kepadaku. Mereka membawa kabar kalau kau kecelakaan. Mulai dari saat itu aku sering menguntitmu dan menemukanmu selalu berada di rumah sakit-"


"Pergilah sebelum aku melakukan hal keji kepadamu. Aku tidak bereaksi karena saat ini masih menganggapmu asistenku. Tapi, jika kau masih ada di sini sedetik saja, aku bisa kacau dan melenyapkanmu sekarang juga."


***


Sembilan tahun lalu.


"Papa, Gun pinjam mobilnya sebentar yah." Guntur remaja berucap dengan nada yang berbisik. Laki-laki itu berdahem dan mengubah air mukanya.


"Iya, tapi kau hati-hati yah." Guntur menirukan suara papanya dan setelah itu, dia meriah kunci mobil, lalu berlari keluar dari kamar ayahnya.


Sesampainya di luar, Guntur langsung dikagetkan oleh keberadaan sang ibu. Sontak anak muda itu menyembunyikan satu tangannya di belakang punggung.


"Kamu lagi apa di sini, Nak?" Zelin bertanya dengan tatapan menyelidik. Guntur yang mendengar itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Laki-laki remaja itu mengambil satu langkah ke samping ibunya. Dia memberikan satu kecupan di pipi kanan wanita itu.


"Tidak ada, Ma. Guntur pamit pergi ke acara kelulusan dulu. Bay!"


Guntur berlari meninggalkan Zelin yang tersenyum dengan kepala menggeleng, "Dasar bocah. Padahal di rumah ada acara untuk merayakan kelulusannya, tapi dia malah pergi keluar bareng temen-temennya."


***


"Wah, bintang kita akhirnya datang!" Sedang remaja berseru, saat melihat Guntur keluar dari dalam mobil.


Para anak-anak dibawah umur yang seharusnya tidak melakukan pesta itu, berseru. Mereka bertepuk tangan saat Guntur berjalan ke arah mereka.


"Maaf telat yah. Soalnya kalian tahu sendiri, 'kan. Aku it-"


"Satria!" Seorang wanita remaja tiba-tiba berhamburan kepelukan, Guntur.


Guntur yang disambut dengan cara seperti itu, semakin bahagia. Dia balas memeluk wanita itu. Bahkan bibirnya mengecup pipi wanita yang sudah dari beberapa Minggu lalu berstatus menjadi pacarnya itu.


Semua anak yang berkumpul di sana berseru baper. Guntur yang mendengar itu semakin dibuat bangga. Dia tiba-tiba melingkar satu tangannya di perut wanita yang tadi memeluknya itu, "Ayok," ajaknya dan dia, Kanaya, langsung menganggukkan kepalanya.


"Okeh, karena bintang kita sudah datang dengan janjinya yang sudah tercapai. Malam ini, kita pesta! Sekali lagi, selamat atas kelulusan SMP kita!"


Setelah perkataan dari pembawa acara itu usai, musik DJ menggema memenuhi halaman sekolah, semua orang yang ada di sana mulai berjoget layaknya orang dewasa yang sudah cukup umur melakukan hal seperti ini.


***


"Kamu yakin tidak ingin pulang bersamaku? Aku membawa mobil loh, Nay." Dengan nada sombong, Guntur berucap. Kanya, pacarnya menggeleng.


"Aku akan pulang menggunakan taksi saja, Sayang. Lagian tadi kedua orang tuaku melihatku pergi menggunakan taksi. Nanti kalau kamu yang mengantarku, mereka bisa kaget karena seorang bintang remaja pulang bersama putrinya."


Guntur tersenyum. Pemuda remaja itu mengulurkan kedua tangan untuk memegangi kepala, Kanya, "Kalau begitu kamu hati-hatilah."


Guntur memberikan satu kecupan di kening kekasihnya. Kanya yang mendapati itu menganggukkan kepala dan dia membalas mencium Guntur, tapi di bibir laki-laki itu langsung.


"Kamu juga."


Setelah mengatakan itu, Kanya berlalu pergi dari depan gerbang sekolahnya. Pesta yang tadinya berlangsung meriah, sudah berhenti dan itu tepat di jam sepuluh malam. Guntur yang mendapati kekosongan di area sekolah, ikut bertolak. Dia tersenyum bahagia, seolah ini adalah malam paling seru yang sudah dia lewatkan disepanjang perjalanan hidupnya. Terlebih lagi ada sosok Kanya yang malam ini selalu bersama dengannya.


***


"Papa telepon. Sial, alasan apa yang bakalan aku berikan yah." Guntur berucap saat mendapati banyak sekali notif panggilan terjawab dari nomer papanya. Laki-laki remaja itu berdecak kesal dan dia melempar ponselnya ke jok belakang.


Guntur mulai fokus menyetir mobilnya. Jujur, laki-laki ini sekarang sedang takut mengendari kendaraan roda empat ini. Apa lagi sekarang di luar sedang hujan. Tadi, saat pesta tidak ada tanda-tandanya hujan turun, tapi saat Guntur dalam perjalanan pulang, laki-laki itu tiba-tiba mendoaati kondisi jalanan yang dibekap rintik rinai.


"Padahal Juni, tapi kenapa hujannya deras begini sih." Guntur mengomel dan itu bersamaan dengan tangannya yang tidak sengaja memutar kemudi ke kiri.


Guntur yang mendoaati gerkana itu, tersenyum. Dia mengecek keadaan jalan yang terkesan lenggang, "Dari pada bosan mending main-main." Seperti remaja labil pada umumnya, Guntur mulai melakukan hal gila. Dia memainkan mobilnya ke kiri dan kanan, tanpa menyadari ada cahaya dari lampu mobil orang lain, di depan sana.


Guntur berteriak dan laki-laki itu semakin menjadi dalam mempermainkan mobilnya. Dia yang tadinya hanya bermain di jalurnya, mulai memberanikan diri masuk ke jalur yang ada di sebelahnya.


Guntur terus melakukan itu, hingga tiba-tiba laki-laki itu berhenti saat mendengar bunyi klakson mobil yang ditekan brutal. Guntur membulatkan mata terkejut dan tidak melakukan apa pun selain diam. Bahkan saat dia melihat mobil di depannya itu banting stir ke kanan, Guntur diam dan ikut banting setir hingga posisi mobilnya menyamping.


Guntur membuka pintu mobilnya dan laki-laki itu semakin panik saat dia mendoaati kondisi mobil yang tadi hampir menabraknya itu sudah dalam keadaan terbalik. Parahnya, dia melihat jelas dua pengendara mobil itu keluar dari kaca depannya.


Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Guntur. Apa lagi saat ini dia melihat ada sosok perempuan seumurannya tengah berbaring dengan bersimbah darah di tengah jalanan. Gadis remaja itu juga melayangkan tatapan ke arahnya.


Guntur memicingkan mata saat melihat mulut gadis remaja itu bergerak terbuka. Guntur semakin ketakutan dan mengira kalau gadis remaja itu mengatakan hal yang tidak-tidak, "Ini bukan kesalahanku," gumamnya, lalu setelah itu dia pergi meninggalkan TKP.


#bersambung


^^^Okeh gaes. Kita pelan-pelan mengupasnya yah. Semoga kalian masih betah dengan cerita ini. ^^^


...Oh iya, aku ada bawa rekomendasi bacaan lagi nih. Di jamin bagus deh, kalian wajib mampir yah. Judul, sinopsis, dan nama penulisnya ada di bawa ini👇...