Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 49



"Pak, berapa lama lagi kita bisa sampai ke rumah sakit Mutiara Kasih?" Dengan masih bernada panik, Laras berucap. Bahkan saat ini wanita itu sedang memeluk tubuh Katrina dengan dekapan yang begitu eratnya.


Sementara di sisi Katrina, bocah perempuan itu hanya bisa celingukan. Akan tetapi, saat ini dia sedang memikirkan kata-kata yang ibunya keluarkan saat menyeretnya untuk ikut.


"Papa" kata itulah yang membuat Katrina saat ini bingung. Setahunya, dia sering mendengar ibunya mengatakan kalau dia tidak punya sosok ayah. Namun, itu berbanding terbalik dengan perkataan yang keluar dari mulut mamanya tadi.


"Mama, bukankah Ketty tidak punya, Papa seperti miliknya Bang Ima." Dari pada bingung, Katrina akhirnya menanyakan itu kepada ibunya.


Laras yang masih dalam keadaan panik, menoleh ke arah putrinya. Dia tersenyum, "Kamu punya, papa, nak. Tapi, sekarang dia ada di rumah sakit. Kita akan menjemput dan melihat keadaannya."


Laras berucap setenang mungkin. Wanita itu mengakhirinya dengan sebuah kecupan singkat, lalu sorot matanya kembali fokus melihat pak sopir taksi, "Pak, percepat. Saya benar-benar memohon."


Pak sopir hanya menganggukkan kepalanya. Laki-laki paruh baya itu bergerak menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil pun melaju dengan lumayan kencang, ditengah lenggangnya jalanan daerah Denpasar.


***


Rumah sakit Mutiara Kasih


Beberapa menit di dalam perjalanan, akhirnya Laras sudah tiba di rumah sakit. Wanita pincang itu saat ini berjalan lumayan cepat. Dia tidak peduli dengan kakinya yang mungkin nanti akan nyeri dan dia juga tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan aneh.


"Kesini, Nak!" Laras menarik tangan Katrin, lalu membawanya mendekat ke meja resepsionis.


"Permisi, Mbak. Saya mencari korban kecelakaan mobil tunggal kemarin malam." Laras langsung mengucapkan maksudnya mendekati meja resepsionis.


Sementara dua perawat yang bertugas di sana langsung menyambutnya dengan tersenyum, "Anda siapanya korban?" tanya salah satu petugas yang ada di sana.


"Istrinya, Mbak. Saya istri dari korban. Jadi, bisa Anda beritahukan tempat kamar rawatnya?" Laras tanpa berpikir panjang langsung melontarkan apa yang ada di kepalanya. Dia saat ini sedang panik. Di bawahnya ada Katrina yang lebih memilih untuk memindai suasana rumah sakit yang lumayan ramai.


Sementara di sisi Resepsionis. Dua orang gadis muda itu sedikit kaget. Sorot mata tidak percaya sangat jelas kelihatan di manik mata hitam mereka. Namun, mereka dengan cepat mengenyahkan semua itu dan memilih tersenyum.


"Tuan Satria ada di ruang rawat VIP lantai 7. Anda bisa ke sana dan masuk ke dalam ruangan pertama di sana," ucap Gadis pegawai resepsionis itu dengan mencoba terus hormat.


Laras tanpa mengucapkan terima kasih, langsung berlalu pergi. Kepergian Laras, tentu membuat dua orang pegawai resepsionis itu memperlihatkan wajah aslinya. Mimik yang tadinya kelihatan ramah, tiba-tiba berubah sinis dan di sorot matanya ada sedikit ketidaksukaan.


"Kenapa orang seterkenal Satri punya istri cacat dan jelek begitu? Dibadingkan dengan kita, dia itu kalah jauh, 'kan?" Salah satu gadis petugas resepsionis itu menyeletuk dan satu petugas lainnya, menganggukkan kepala untuk membenarkan.


"Fix, dia pakai guna-guna," tuduh yang menganggukkan kepala tadi dan lagi-lagi itu di benarkan oleh gadis yang menyeletuk pertama kalinya.


***


Lantai 7, Rumah sakit Mutiara Kasih


"Mama pelan-pelan. Nanti kaki Mama sakit lagi." Katrina angkat suara saat ibunya semakin mempercepat langkah.


"Maaf, Nak. Tapi, saat ini Mama lagi panik. Ketty tenang saja, yah."


Laras memelankan sedikit kakinya dan benar saja. Kaki kanannya mulai mengeluarkan nyeri, tapi wanita itu menahannya, "Ketemu, Nak. Di sini kamar rawat papamu."


Tanpa berlama-lama, Laras langsung meraih gagang pintu, "Mas Gun!" Panggilnya sembari mendorong lawang itu untuk masuk ke dalam.


Sementara di dalam. Guntur yang tadinya berusaha mengobati luka di kepalanya, langsung tersentak kaget. Saking terkejutnya, dia sampai menjatuhkan kapas, "La ... Laras? Kenapa kam-"


"Laki-laki jahat! Kenapa kamu itu selalu buat aku khawatir sih!" Laras berlari dengan pincang untuk mendekati Guntur yang saat ini sedang kebingungan. Dia bahkan sampai meninggalkan Katrina yang tengah melebarkan pupil matanya.


"Mama, hati-hati!


Guntur dan Katrina berucap secara bersamaan. Dua orang beda usia dan jenis kelamin itu pun merentangkan satu tangannya dan bahkan, mereka juga bergerak hendak berlari untuk menangkap tubuh Laras yang limbung


Sedangkan di sisi Laras. Wanita itu masih memperlihatkan kemarahannya. Dia berlari dengan begitu memaksakan kaki kanannya, "Kamu jahat, jahat, jahat!"


Laras menampar pipi Guntur, lalu sesaat setelahnya, dia memeluk kepala laki-laki itu, "Kenapa setelah mengenalmu, kamu itu selalu membuat aku khawatir sih?"


Laras menangis dan Guntur malah tersenyum, "Semalam ban mobilku hanya tergelincir. Kamu itu memang begitu. Selalu berlebihan."


Guntur balas memeluk Laras. Karena posisinya yang masih duduk di ranjang rawat, laki-laki itu memilih untuk melingkarkan tangannya di pinggang Laras.


"Aku juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk tidak menghubungimu, tapi mereka ternyata tidak-"


"Istri mana yang tidak akan khawatir jika mendapatkan berita kecelakaan suaminya?" Laras memotong perkataan, Guntur, membuat laki-laki itu tersenyum semakin lebar.


"Terima kasih karena sudah menghwatirkan suamimu ini." Guntur mendongak, melihat wajah Laras yang ternyata sedang mengeluarkan semu memerah.


"Aku rindu wajah itu." Guntur turun dari ranjangnya. Laki-laki itu menarik tubuh Laras agar dia jauh lebih dekat, "Aku ingin menciummu," imbuhnya.


Guntur bersiap mendekatkan bibirnya ke bibir Laras, tapi kedua matanya tidak sengaja menatap sosok bocah yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan raut wajah yang bingung, "Katrina?" panggil Guntur dan itu berhasil membuat Laras sadar.


Wanita itu mendorong tubuh Guntur, dan dia langsung menoleh melihat ke arah anaknya, "Ketty-"


"Mama mau ngapain sama Paman tampan?" tanya polos bocah itu dan itu berhasil membuat Laras, memerah malu.


Guntur yang mendengar pertanyaan itu, langsung berdiri. Dia melingkar satu tangannya di pinggang Laras, "Mamamu tadi ingin melepas rindu dengan Papa. Jadi, yah- awww!"


"Berhenti bicara yang tidak-tidak!" Laras mencubit perut Guntur, membuat laki-laki itu menjerit sakit, tapi dia seperti biasa tetap tersenyum.


"Papa? Apa paman tampan adalah, Papaku?" Kemabli, Katrina lagi-lagi mengeluarkan pertanyaan polosnya. Guntur yang mendengar itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Wajah kita mirip. Jadi, aku adalah Papa, Katrina. Bukan begitu, Mama?" Guntur yang semalam dikerubungi oleh awan sendu, entah kenapa pagi ini dia merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia ini. Buktinya saat ini dia tengah menurun-naikkan alisnya, untuk menggoda Laras yang mendelikkan mata.


***


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan tolong, bawa anakku lebih lama." Guntur tersenyum ke arah seorang wanita yang saat ini menatapnya dengan kagum.


"Tidak apa-apa. Lagian Ketty sudah biasa dititipkan kepada saya. Kalau begitu, saya pergi dulu dan silahkan Anda nikmati waktu sekaligus menyelesaikan masalah Anda dengan teman saya." Puspita bicara dengan gugup. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Saat ini Katrina sedang bermain dengan Bisma. Puspita datang beberapa saat lalu, karena ditelepon oleh Laras yang duduk mengistirahatkan kakinya di dalam ruang rawat Guntur.


"Baiklah. Kalau begitu, aku berjuang dulu yah. Sekali lagi terima kasih dan kalian bersenang-senanglah."


Guntur menutup pintu ruang rawatnya. Laki-laki itu langsung berbalik dan kedua obsidiannya langsung mengarah ke sosok Laras yang sedang mengurut kaki kanannya.


Ini kesempatanku. Bagaiamana pun caranya, aku harus memanfaatkan situasi ini untuk menerima maafnya agar kami kembali sama-sama, batin Guntur menguatkan tekad. Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan mendekati Laras.


#Bersambung


...Satu bab lagi menuju ending yah....


...Tim Happy, siapa sih?...


...Tim Sad, ada enggak?...