
"Kak Ras yakin nih enggak mau kasih tahu Bang Gun?" Lidia lagi-lagi mengulangi pertanyaannya yang sama. Saat ini wanita itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Laras.
"Enggak. Tinggal satu Minggu lagi Abangmu bakalan pulang. Biar aja nanti aku kagetin dia pakai ini." Laras bicara sembari membuka sabuk pengamannya.
Tidak terasa sudah satu Minggu dia tidak bersua dengan Guntur dan ini kali pertama dia memecahkan rekor, tidak merasa curiga kepada laki-laki itu. Padahal Guntur tidak pernah memberi kabar, tapi Laras masih kelihatan baik-baik saja.
Dulu, setiap kali ditinggal. Pas wanita itu akan merasa tidak tenang. Apa lagi saat dia mendapati potret suaminya di tv atau di majalah, Laras terus insecure, membuat dia merasa curiga, hingga pas pulang nanti, Guntur pasti akan mendapati dirinya dengan ekspresi wajah yang ditekuk.
"Terus pemeriksaan lebih lanjutnya kapan?" Lidia hanya melihat tingkah kakak iparnya itu.
Laras yang mendengar penuturan Lidia langsung mendongak. Dia tersenyum, "Sehari sebelum abangmu itu pulang. Sekalian aku bakalan kejutij dia pakai itu dan testpack yang kemarin."
Lidia menganggukkan kepalanya dan dia mengulas senyum, "Iya udah. Kak Ras hati-hati yah. Kalau kesepian nanti tinggal balik ke rumah."
Baru saja Laras hendak keluar, wanita itu menghentikan gerakannya. Dia tersenyum, "Makasih yah karena sudah perhatiin Kakak. Tapi, mungkin hari ini hingga seminggu ke depan, Kakak enggak bakalan kesepian. Malahan Kakak bakalan disibukin dengan kerjaan menghias rumah untuk menyambut abangmu."
"Kalau begitu, nanti Lidia sesekali mampir untuk bantu-bantu. Tapi, hari ini Lidia ke kampus untuk sidang skripsi terkahir."
Laras menganggukkan kepalanya, "Semangat! Kak Ras yakin kamu pasti tidak akan gagal."
Itu adalah kata-kata yang mengakhiri obrolan mereka di tengah awan mendung yang menyelimuti kawasan kompleks perumahan tempat Laras tinggal.
***
"Debunya banyak banget sih. Padahal cuma ditinggal seminggu doang." Setelah masuk dan menutup kembali pintu, Laras langsung menggerutu. Dia menelisik area ruang keluarganya yang kelihatan rapi, tapi debu-debu halus berserakan di lantai.
"Kamu temenin Mama yah. Nanti kita bersih-bersih rumah bareng, terus hiasin rumah untuk nyambut papamu bareng.' Laras mengelus perut datarnya. Wanita itu tiba-tiba cekikikan saat dia mulai membuat gambaran, gimana nanti ekspresi suaminya.
"Aku yakin mas Guntur pasti nangis saking bahagianya." Laras berjalan lebih masuk ke dalam rumahnya. Tangannya terus bergerak mengelus lembut tubuh bagian perutnya.
Saat ini dia berjalan ke arah kamar. Sesampainya di sana, pandangan matanya langsung tertuju kepada laptop yang ternyata masih tergeletak di atas ranjang.
Laras baru ingat kalau dia lupa merapihkan kamarnya. Semua itu karena Lidia yang saat itu terlalu buru-buru. Melihat laptop di atas ranjang, tiba-tiba Laras mendapatkan sebuah ide.
Laras duduk bersila, kemudian meletakkan satu bantal di pangkuannya, lalu memposisikan laptop itu di atas bantal, "Yok, Mama bakalan kenalin kamu sama papa, Sayang."
Laras mulai bermain dengan laptop yang ada di pangkuannya. Wanita itu mulai membuka file dan kemudian beralih ke penyimpanan gambar.
"Papamu itu tampan, tapi dia nyebelin, terus sedikit gila kalau sama Mama." Laras mulai bicara dan menceritakan sosok Guntur kepada anaknya yang masih berada di dalam perut.
"Noh, lihat! Dia jahil, 'kan? Ini foto beberapa bulan lalu, saat dia mencoret-coret wajah Mama."
Laras menunjukkan foto di mana di sana, dia sedang tidur dengan muka yang dua dibuatkan kumis, lalu di sebelahnya ada Guntur yang memonyongkan bibirnya. Melihat itu, Laras tiba-tiba tergelak.
Wanita itu kembali mencari-cari foto yang lucu dan dia tentu saja menemukannya, "Ini, lihat! udah dibilang, papamu itu orangnya lucu dan enggak ada malu."
Saat ini Laras melihat potret Guntur yang menggunakan topi koki warna pink dan tidak lupa dia juga menggunakan celemek yang warna pink. Namun, itu bukanlah hal yang membuat Laras saat ini tertawa.
Wanita itu tergelak, karena melihat suaminya di dalam potret itu memnayukan bibir dan menyembunyikan bola matanya ke atas. Belum lagi wajahnya dipenuhi oleh tepung dan lengan kanannya mengapit mangkok dan tangan kiri membawa adukan.
"Ini cuma dua. Kita cari lagi yang lebih lucu." Laras kembali mencari ke bawah. Dia dengan sorot mata yang serius terus menggulir kursor ke bawah, "kenapa fotonya tampan semu-"
Tiba-tiba saja ucapan Laras menggantung. kedua matanya yang tadi melihat dengan normal, tetiba memicing, 'Ini siapa?"
Laras mengklik foto seorang laki-laki yang sangat muda. Dari garis wajahnya sih, terlihat sama seperti Guntur, "wajahnya seperti tidak-"
Tiba-tiba Laras terdiam, jantungnya berdetak sangat cepat, "Dia ... dia 'kan anak yang sama yang menjadi penyebab kecelakaan itu." Laras tiba-tiba berkeringat. Jantungnya semakin berdetak sangat kencang dan otaknya mulai membuat segala pikiran-pikiran yang tidak-tidak.
"Ini pasti salah. Ini pasti bukan Mas Guntur." Laras tiba-tiba mengenyahkan laptop itu dari pangkuannya, hingga barang elektronik itu tergeletak di atas lantai dalam keadaan layar yang langsung retak.
"Aku percaya Mas Guntur. Aku percaya suamiku, jadi berhenti membuat pemikiran yang tidak+tidak!" Laras tiba-tiba menjambak rambutnya dan sesekali memukul pelipisnya saat pikirannya mulai bimbang untuk Guntur.
#Bersambung
...Jeng! Jeng! Jeng!...