Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 25



..."Aku bahagia saat kau bahagia. Jadi, teruslah tersenyum agar aku lupa bagaimana cara marah."...


...****************...


..."Satria Guntur Prasetyo"...



...****************...


Chamonix, Prancis


Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam lebih 30an menit, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Guntur dan Laras telah sampai di tujuan, yaitu, Chamonix. Mereka bahkan langsung dibawa ke kantor pariwisata yang terletak tepat di sebelah gereja Saint Michael et Prieuré.


Mereka mengunjungi kantor pariwisata tentu dengan tujuan mencari tahu dan mengambil peta. Awalnya Guntur tidak tahu, tapi beruntunglah sopir mobilnya memberitahukan tanpa ditanya.


"Es-tu sûr de vouloir marcher?" Pria paruh baya itu kembali bertanya, membuat Guntur melirik ke arah sang istri yang berdiri di sebelah kanannya.


"Gimana? Kakimu udah mendingan, 'kan? Kamu udah bisa jalan, 'kan? Atau gini aja. Sekarang udah jam dua siang. Kita ke hotel dulu buat berbenah dan istirahat, untuk acara mengelilingi kota, kita lakukan besok, mau enggak?" Guntur memberikan penjelasan kepada istrinya yang sedari tadi memperlihatkan tampang lempeng, tapi setelah dia mengerti. Laras langsung menggelengkan kepala.


Guntur dan Laras memang sampai ke kota ini jam dua siang, tapi suasana tempat itu tidak seperti siang karena saat ini, Chamonix tengah dilanda hujan salju dan suhu di luar ruangannya pun sekarang mencapai minus empat derajat. memang kecil sih dibadingkan kota Paris, tapi karena dekat dengan pengunungan Mont Blanc, hawa di tempat itu jauh lebih dingin.


"Eh, tentu saja kita harus jalan-jalan hari ini, Mas. Masa iya udah jauh-jauh malah nunda besok. Enggak asik ih." Laras bersungut-sungut dan menolak saran dari suaminya.


Guntur yang melihat itu terkekeh, lalu dia menciumi kening sang istrinya, "Kita di sini kan tidak sehari, Sayang. Jadi, untuk kali ini ikuti saranku yah. Kita sekarang ke hotel dulu, istirahat, dan-"


"Enggak mau! Pokoknya aku itu mau jalan-jalan sekarang, titik!" Laras tetap keras kepala. Kali ini sepertinya dia tidak ingin mengalah dan Guntur juga harus bisa mengerti.


"Kamu memang terlihat menggemaskan jika seperti itu. Kalau begitu, baiklah. Kita akan jalan-jalan, tapi hanya sampai sore saja yah." Guntur pertama-tama mengecup pipi sang istri lebih dulu dan barulah dia memberikan wejangan.


Laras yang mendengar itu menganggukkan kepala dan langsung mendaratkan satu kecupan singkat di pipi suaminya, "Aku mencintaimu."


Guntur hanya tersenyum, "Je m'excuse d'avance. Vous pouvez d'abord aller à l'hôtel. Plus tard quand nous aurons fini, je te rappellerai."


Laki-laki paruh baya dengan wajah kas orang Eropa itu mengangguk. Dia tidak banyak bicara karena setelah mendengar penuturan Guntur, pria itu langsung berlalu pergi mengendarai mobilnya untuk ke hotel lebih dulu.


"Tadi kau mengatakan apa?" tanya Laras penuh dengan sorot mata selidik.


Guntur mengecup bibir istrinya, "Ada deh, ayok kita menikmati indahnya kota Chamonix." Laki-laki itu meraih tangan Laras, lalu menyeretnya untuk mulai berjalan. Tentu saja dia melakukannya dengan pelan dan tak menuntut.


***


"Merci!" Guntur turun dari dalam bus bersama dengan Laras yang juga saat ini sudah berdiri di sebelahnya. Ternyata, Guntur tidak sanggup melihat istrinya berjalan jauh dan dia akhirnya memutuskan naik bus untuk pergi ke alun-alun kota.


Padahal jarak antara gereja ke alun-alun tidak jauh, tapi yah gitu. Guntur paling benci melihat Laras kesulitan, "Mas coba lihat ini. Aku merokok."


Laras dengan nada riang memanggil suaminya. Setelah dia melihat fokus Guntur tertuju ke arahnya, barulah wanita itu mengembuskan asap membuat asap seperti rokok kelihatan menyembur keluar dari mulutnya.


Laras memanyunkan bibirnya, membuat tawa Guntur tidak tertahankan. Sungguh, mungkin siapa pun orang yang melihat mereka, pasti orang-orang itu akan merasa iri. Mereka memang bukan pasangan yang selalu tampil wah, tapi tetap saja mereka menganggumkan di mata orang-orang.


"Tadi kata orang-orang yang ada di dalam bus, di sini ada makanan cepat saji yang enak." Guntur menunjuk peta wilayah Chamonix, membuat Laras menganggukkan kepala walau dia tidak mengerti, "tadi katanya ada di jalanan sekitar sini, yok."


Dua orang itu berjalan masuk lebih dalam ke kota. Saat ini mereka sudah berada di jalan Rue des Moulins, jalan kaki dengan banyak orang ternayta saat menyenangkan. Terlebih lagi mereka berdua sedari tadi dilihat dan sedetik kemudian akan mendapatkan senyum dari warga desa asli sana.


"Ternyata bukan hanya orang Indonesia aja yang suka sama bule. Ternyata orang sini juga suka yah." Laras berbisik dan entah kenapa wankta itu sedari masuk ke negeri ini, dia tidak keliatan malu menunjukkan wajahnya. Mungkin, karena orang-orang sini tidak terlalu peduli dengan penampilan orang lain, makanya Laras biasa-biasa saja.


"Iyalah. Di sini kita juga bisa dikatakan bule, karena seorang pendatang. Lihat, mereka dari tadi menatap kit dan memberikan senyum ramah." Guntur balas berbisik dan laki-laki itu langsung tersenyum saat dia mendapati ads ibu-ibu paruh baya menganggukkan kepala untuk menyapa mereka.


"Tapi, enggak ada yang minta foto yah."


"Udah. kamu ada-ada aja." Guntur meraup wajah istrinya dan laki-laki itu mengeratkan gandengan tangannya di jemari Laras, karena saat ini mereka akan menyebrang untuk pergi ke restoran cepat saji "Cool cats" yang ada di seberang jalan sana.


***


"Kamu yang pesan gih." Guntur meminta Laras untuk memesan makanannya sendiri, karena saat ini laki-laki itu sedang meronggoh tas istrinya untuk mengeluarkan uang.


Laras yang mendapati hal itu, tentu saja antusias. Itu terbukti dari dia yang berani melangkah maju dan langsung berbicara dengan pegawai.


"Excuse me, Please two hot dogs and two cups of coffee. Wrapped." Laras memesan dengan bahasa inggris. Wanita itu kelihatan tidak gugup, karena sedari tadi dia malah memberikan senyum kepada penjaga kasirnya.


"Two hot dogs and coffee. total 24€." Wanita penjaga kasir itu berbicara dengan terus memperlihatkan senyum ramah.


Laras yang mendengarnya menganggukkan kepala dan langsung menoleh untuk melihat suaminya, "Mas ...."


Guntur tidak mendengarkan dan dia sibuk mencari uang di tas, tapi sialnya. Laki-laki itu malah menemukan sebuah foto berukuran sedang yang menampilkan potret dirinya waktu remaja, paket lengkapnya adalah dia mengenakan baju sekolah.


"Mas Gun!" Laras sedikit meninggikan suaranya, membuat Guntur dengan spontan memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya. Laki-laki itu tersenyum kikuk dan langsung melangkah mendekati sang istri.


"Aku tidak menemuka dompet-"


"Bagaimana mungkin bisa ketemu kalau Mas cari di sana. Dompet adanya di tas bagian ini, loh." Guntur cekikikan dan laki-laki itu langsung menunjukkan senyum lebar, seolah dia ingin mengatakan maaf dengan garis lengkung itu.


Laras sewot. Dia melirik suaminya dengan sorot mata yang kesal. Kenapa wanita selalu saja marah, jika suaminya itu tidak pernah melakukan hal yang benar. Itu masih menjadi sebuah misteri, sama dengan Guntur yang entah menyimpan apa dibelakang istrinya.


untunglah aku yang menemukannya lebih dulu, batin laki-laki itu dengan helaan napas lega di dalam hati.


#Bersambung



...Cool Cats...