Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 32



..."Apa maksud semua ini, Mas?"...


...****************...


..."Laras Ayudia"...



"Kamu ngapain di sana?" Laras menoleh cepat ke belakang dan sosok Guntur yang berdiri di tepi teras, langsung tertangkap oleh indera pengelihatannya.


Laras menggelengkan kepalanya. Wanita itu membuka gerbang, lalu melangkah masuk ke dalam. Tentu saja dia membawa serta kotak berukuran sedang itu bersama dengannya.


"Ini tadi ada orang berjaket yang ninggalin kotak di depan sana. Pas aku teriakan, dia malah kabur. Aneh banget, Mas." Laras naik ke teras rumah dengan pincang. Tangannya bergerak menunjukkan kotak misterius itu kepada suaminya, "mungkin dari penggemar rahasiamu, Mas," imbuh Laras dan Guntur mengambil alih kotak kado itu.


"Wah berat banget. Ini isinya apa yah?" Guntur bermonolog dan Laras yang mendengar itu menghedikkan bahunya.


"Dibuka aja. Aku yakin itu pasti dari penggemar rahasiamu." Laras memegang lengan suaminya, karena ternyata kaki kanannya tiba-tiba merasa lelah. Padahal sewaktu jalan-jalan di Paris, dia sama sekali tidak pernah kelelahan dan sekarang lihat. Mungkin wanita itu baru merasakan dampak liburannya hari ini.


"Buka di dalam yok. Sekalian kamu buatin aku minum yah." Laras menganggukkan kepalanya.


"Yuk," ujar wanita itu dengan tersenyum.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba saja, laki-laki berjaket hitam itu kelihatan kembali berdiri di depan gerbang rumah, Guntur.


"Boom!" Suara laki-laki berjaket itu pelan dan setelah itu, dia benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


***


"Sayang, cepatlah! Kita lihat isinya bareng-bareng. Mungkin ini paket dari penggemar rahasiamu!" Guntur berteriak dari ruang keluarga dan itu bersamaan dengan datangnya Laras, dengan secangkir teh dan beberapa cemilan ringan.


"Penggemar dari mana, Mas? Aku ini jelek mana ada yang suka sama aku." Laras meletakkan nampan yang berisikan teh dan cemilan itu di meja kecil tepat di depan sofa yang diduduki oleh suaminya. Wanita itu langsung duduk di sebelah Guntur, menghela napas dan mengukir senyum.


Guntur menyeka kening istrinya, "Maaf yah ngerepotin."


"Ngerepotin gimana. Aku itu istrimu, jadi wajar dong kamu minta aku buatin teh." Guntur tersenyum dan langsung mengecup pipi kiri istrinya.


"Aku baru sadar kalau wajahmu udah agak mendingan. Jerawatnya ilang. Manjur banget skincare di Bianca." Laras tersipu malu dan langsung mengenyahkan wajah suaminya, agar tidak memperhatikan dengan begitu sangat lekat.


"Itu hadiahnya dibuka dulu. Aku penasaran isinya apa." Laras mencoba menghentikan tatapan suaminya dan Guntur mencoba serius. Memang jika bareng Laras itu dia akan jauh lebih suka menggoda dan merayu istrinya itu. Katanya senang aja.


"Okeh kita buka, tapi tunggu. Kok ini ada suaranya sih? Kamu denger enggak?" Guntur mengangkat kotak hadiah berukuran sedang itu dan mendekatkan satu sisinya di depan telinga Laras.


"Enggak ada, Mas," bantah Laras saat dia tidak mendapati suara apa pun.


"Masak sih? Tadi aku jelas-jelas dengar kek ada suara yang merintih gitu." Guntur meletakkan kembali kotak kado itu ke atas meja mini, tepat di sebelah nampan.


"Kita buka yah." Guntur meletakkan cangkir tehnya, lalu dia sedikit memajukan tubuhnya. Laki-laki itu mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya bergerak membuka ikatan pita warna merah yang ada di permukaan penutup kado.


Guntur mendesah setelah dia berhasil membuka ikatan pita itu, "Apa isinya yah?" Guntur membuka penutup kotak itu dengan perlahan dan karena dimakan penasaran, laki-laki itu langsung menaikkan kecepatan tangannya dan Laras tiba-tiba menjerit serta menghempaskan kotak kado itu, saat dia melihat kalau di dalam sana ada tiga kucing. Dua di antaranya sudah tak bernyawa dan satunya lagi mengeluarkan rintihan yang begitu pilu.


Guntur yang tertegun melihat itu langsung menoleh, saat mendengar istrinya yang mengeluarkan suara mual. Laki-laki itu sontak panik dan langsung membopong Laras untuk ke kamar mandi.


"Astaghfirullah, ada apa ini Laras, Guntur?" Oma Hani yang baru datang dan sudah membuka pintu tanpa mengetuk pun, langsung dibuat menjerit. Dia tidak mendapatkan jawaban dari dua cucunya, tapi dari dalam rumah. Dia mendengar kalau ada yang muntah-muntah.


***


"Kau yang di sana, to ... tolong kedua orang tuaku. Me ... mereka masih hidup, to ... tolong mereka. Aku moh-"


"Guntur, kenapa bisa ada hal semacam itu? Apa yang sebenarnya terjadi?" Guntur tersentak kaget. Wajahnya yang kusut, langsung menoleh untuk melihat Omanya yang sedang memijat pelipis, Laras.


"Apa yang terjadi? Gu ... Guntur tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi?" Guntur seperti orang yang bingung. Jujur, saat ini dia tengah dilanda dengan banyak pikiran buruk. Apa lagi jika dia mengingat tiga ekor kucing yang sekarat tadi.


"Kamu gimana sih, Guntur? Oma itu nanyak dan seharusnya kamu jawab do-"


"Guntur tidak tahu. Apa itu masih belum jelas? Berhenti membuatku pusing!" Guntur tiba-tiba berteriak dan parahnya, dia langsung keluar karena saat ini di depan rumah ada polisi dan RT yang sedang menunggu. Sepertinya, dia memang harus menemui mereka dan bukannya menyuruh Lidia di sana.


"Suamimu itu kenapa sih?" Oma Heni tidak habis pikir dan Laras yang melihat itu hanya tersenyum kecil.


"Mas Gun emang akhir-akhir ini sering gitu, Oma. Dia jika banyak pikiran atau takut akan sesuatu, pasti bakalan mengelauekan suara tinggi." Oma Heni hanya menggelengkan kepalanya.


"Emang ada yang buat dia banyak pikiran? Padahal kalian baru liburan loh." Oma Heni kembali fokus ke arah menantunya yang saat ini kelihatan pucat.


"Akhir-akhir ini dia sering mimpi buruk katanya. Aku tanya dia mimpi apa, tapi dia bilang enggak mau inget itu mimpi. Padahal kalau diceritakan mungkin bisa sedikit meringankan." Laras menjelaskan dengan jujur, tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


Oma Heni yang mendengar penuturan dari istri cucunya itu keliatan lelah, "Kalau mimpi buruk emang dia udah sering. Kalau enggak salah setelah dia hampir mengalami kecelakaan itu, dia bermimpi."


"Kecelakaan waktu kelulusan?" tebak Laras dan Oma Heni menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu? Apa dia yang cerita?" Laras menggelengkan kepala, membuat Oma Heni melayangkan tatapan bertanya-tanya, "terus kamu tahu dari mana?"


"Lidia yang cerita." Oma Heni menganggukkan kepalanya dan menyerukan huruf o tanpa suara.


"Berarti kamu juga udah tahu dong tentang dia yang sering ke rumah sakit?" tebak Oma Heni dan Laras dengan yakin menganggukkan kepalanya.


"Iya, kalau itu Mas Guntur udah cerita. Katanya dia sering ke rumah sakit buat jagain Mamah yang sakit katanya." Oma Heni langsung membuka pupil matanya lebar-lebar.


"Mamah yang sakit? Setahu Oma, Mertuamu itu tidak pernah dibawa ke rumah sakit." Sekarang giliran Laras yang dibuat bingung, "suamimu itu sering ke rumah sakit karena beli obat tidur dulu. Tapi, setiap pulang dua malah enggak bawa obat tidur. Aneh, 'kan?"


Laras memilih diam, karena tiba-tiba saja kepalanya tidak bisa memproses semua pembahasan ini. Di satu sisi, Guntur mengatakan kalau dia sering ke rumah sakit untuk menjaga ibunya dan di sisi Oma, Guntur sering ke rumah sakit lantaran ingin beli obat tidur. Aneh. Hanya itu kata yang ads di otak Laras saat ini.


#Bersambung



......Laras di peluk Guntur. kalian bayangin aja bagaiamana rupa Laras, okey. ......