Nothing Is Perfect

Nothing Is Perfect
NIF 33



..."Seragu apa pun aku saat ini, aku akan tetap mencoba percaya kamu. Mau bagaiamana pun, kamu adalah orang yang satu-satunya aku percaya di dunia ini. Kamu adalah orang yang sudah menganggapku sebagaimana csra manusia menganggap satu sama lain."...


...****************...


..."Laras Ayudia"...



Mungkin, sehari tanpa hujan di bulan Desember akan menjadi sebuah keajaiban. Masalahnya, itu tidak mungkin terjadi. Mau secerah apa pun hari, pasti ada waktunya langit akan dibekap mendung yang sama seperti mendung kemarin.


Contoh, lihat hari ini. Dari jam 12 siang tadi, hujan sudah turun dan itu berlangsung sudah satu jam lamanya. Namun, bagi Laras yang penyuka hujan, itu tidaklah masalah. malahan wanita itu akan betah berada di depan jendela dan memangku dagunya di sana.


Saat ini wanita itu sendang melakukannya. Dia dari tiga hari lalu hanya berdiam diri di rumah. Tidak melakukan apa pun, bahkan rencana untuk memeriksa apakah dia hamil, tidak terlaksana seperti apa yang sudah direncanakan. Semua seperti hilang dan itu karena Guntur tiba-tiba mendapatkan teguran dari sebuah produser film yang di mana, dia sudah cuti terlalu lama dan diminta untuk segara kemabli.


Sudah tiga hari Laras ditinggal pergi oleh Guntur yang sedang syuting di luar kota. Kata laki-laki itu, dia akan pergi cukup lama dan Laras hanya di minta untuk tinggal di rumah. Parahnya, dia tidak diizinkan bermain ponsel. Entah apa penyebabnya, tapi dari setelah kejadian kado misterius itu, dia menyita ponsel Laras.


"Untuk dua Minggu saja kamu tidak boleh main ponsel. Atau begini, aku akan bawa ponselmu dan nanti akan aku kembalikan setelah pulang kerja."


"Tapi, kalau aku bosan gimana?"


"Aku meninggalkan laptop. Di sana aku huga sudah mengunduh beberapa film dan serial Turkey untukmu."


Seandainya Guntur tidak mengatakan sudah mengunduh film dan serial Turkey, mungkin Laras akan bersikeras untuk meminta ponselnya kembali. Namun, dia lebih memilih untuk mengambil laptop yang berisikan kesukaannya. Awalnya, Laras senang-senang saja, tapi dia lama-lama menjadi bosan dan bingung harus ngapain.


Di kasur, Laptop masih nyala. Suara seseorang keluar dari sana karena sebelum hujan tadi, Laras awalnya menonton sebuah serial Turkey.


"Pengen makan yang manis-manis." Laras bergumam dengan mimik wajah yang begitu sangat menampilkan kebosanan, "anehnya, aku akhir-akhir ini kepengen yang asem, kepengen yang manis, benci bau parfum Mas Guntur. Apa aku itu bener-bener hamil?" imbuhnya dengan posisi dan juga nada bicara yang tidak berubah.


"Aku juga rindu, Mas Gun." Laras menegakkan kepalanya. Dia bergerak bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati lemari.


Baru saja Laras membuka lemari, aroma mint langsung memenuhi sudut-sudut kamar. Laras memejamkan mata dan entah kenapa, dia tiba-tiba membayangkan wajah konyol suaminya yang sedang mencibir dengan mimik mengejek.


Laras tertawa. Sungguh, saat ini dia memang sangat-sangat rindu. Wanita itu mengulurkan tangan dan bergerak mengeluarkan satu baju dari dalam lemari. Ternyata, tanpa diduga, dia mengambil jaket tebal yang selalu Guntur pakai saat liburan di Paris lalu.


Aroma laki-laki itu masih membekas di sana. Mungkin karena tidak dicuci, jadi wanginya tahan lama. Laras membawa jaket tebal itu bersamanya ke ranjang. Wanita itu naik dan langsung duduk di sana. dengan kedua tangan membekap pakaian musim dingin itu.


"Mas kapan pulang?" Tiba-tiba Laras menangis. Masalahnya, dia baru kali ini tidak mendapati kabar dari suaminya. Dulu, setiap pergi kerja dalam waktu yang cukup lama, Laras selalu saja mendoaati kabar dari Guntur.


Namun, sekarang situasinya berbeda. Dia tidak punya ponsel untuk mengabari Guntur, lalu meminta laki-laki itu pulang dengan membawa makanan manis, membawa apa yang dia inginkan.


Diluar hujan, alih-alih Laras merasa kedinginan tapi saat ini dia merasakan sekujur tubuhnya hangat, "Mas Enggak ada macam-macam 'kan, di luar sana? Mas Gun memang benar-benar kerja 'kan, di kota lain sana? Aku takut, Mas Gun ninggalin aku."


Jika sudah ditinggal seperti ini, Laras memang selalu berpikiran buruk. Dia juga seringkali curiga dan mulai mengeluarkan pikiran-pikiran negatifnya. Apa lagi jika dia mengingat kalau dirinya itu punya banyak kekurangan, Laras pasti akan semakin ketakutan dan tidak peduli tentang Guntur yang seringkali mengatakan kalau laki-laki itu sangat jatuh cinta padanya.


"Siapa?" Laras sedikit menjerit dan dia mulai berjalan pincang untuk keluar dari dalam kamarnya.


***


Jika Jakarta dihiasi hujan, maka tidak untuk Yogyakarta. Dari jam 12, daerah itu masih setia dibekap oleh awan mendung tanpa ada kepastian kapan rintikan air dari langit itu akan meluruh membasahi kawasan jalan Malioboro yang siang menjelang sore ini semakin padat.


Di jalanan dipenuhi oleh mobil dan motor yang melaju dengan kecepatan sedang dan di trotoar ada beberapa orang yang berjalan kaki, salah satunya Guntur. Saat ini, laki-laki itu tengah sedikit istirahat setelah tadi mengambil beberapa scene yang mengurus tenaganya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Guntur menoleh dan mendapati Liam di belakangnya. Laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sangat baik. Hanya saja, aku rindu istriku. Dua Minggu tanpa mengabarinya, apa aku bisa, Am?" Guntur berucap dengan sorot baik-baik saja, tapi tetap saja diakhir dia memperlihatkan mimik wajah yang nelangsa.


"Kalau begitu telepon saja. Gampang, 'kan?" Dengan gamblangnya, Liam memberikan saran dan Guntur yang mendengar itu terkekeh.


Laki-laki itu bergerak menendang kerikil kecil yang ada di trotoar, "Gue pasti bakalan gitu kalau bisa. Tapi, karena yang bawa ponselnya saat ini gue. Jadi ya gitu ...."


"Maksudnya apa kamu-"


"Pakai lu aja. Kita seumuran. Entah kenapa saat lu panggil gue pakai kamu, gue ngeri sendiri. Bener, Am." Guntur mulai bicara seperti seorang teman. Laki-laki itu kelihatan tersenyum, tapi dalam hati dia sungguh-sungguh sangat enggan melakukan itu.


"Maaf, tapi Gue enggak habis pikir. Emang alasan lu bawa hp Nyonya apa?"


Guntur menggelengkan kepalanya, "Entah. Gue juga enggak tahu pasti, tapi beberapa hari terkahir ini gue ngerasa takut, Am. Akhir-akhir ini ada orang yang sering mengganggu istriku. Seperti mengirimkan chat yang tidak jelas, terus potret yang tidak jelas, dan ada banyak lagi. Apa lagi tiga hari yang lalu ada kejadian gue dapat kiriman paket yang ambigu banget."


Liam sedikit tertegun dan juga berhenti sesaat, tapi sesaat setelahnya. Dia berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Guntur, "Hah, serius ada yang begitu? Apa lu enggak lapor polisi atau ambil-"


"Sudah, semua sudah diurus, tapi gue enggak yakin gitu mereka bakal serius ngelakuinnya." Guntur mengehentikan langkah dan tiba-tiba bergerak memutar dan berhenti setelah menghadapi ke Liam.


"Lu mau enggak bantu gue buat cari pelakunya? Kata istriku, dia tahu perawakan orang yang ngirim paket tersebut, tapi dia enggak ngeliat jelas wajahnya dan karena lu itu ahli di bidang menggambar sosok orang dari hanya ciri tubuhnya, mungkin lu bisa bantu gue. Gimana?" Guntur menepuk satu pundak Liam, membuat laki-laki seusianya itu tertegun dan tiba-tiba merasa kikuk.


"Aku tidak terlalu ahli, Gun. Tapi, karena kau yang meminta, aku akan mencobanya."


Guntur tersenyum dan dia langsung memeluk asisten pribadinya, yang sudah menemani dia berkarir di dunia entertainment ini.


"Lu memang asisten terbaik, makasih yah." Liam tidak bicara tapi dia hanya tersenyum dengan sorot mata yang entah berarti apa.


#Bersambung



..."Maaf kemarin enggak up. Aku ada sedikit masalah yang membuat mood nulisku hancur. Tapi, aku balik lagi dan semua kalian suka yah. sekitar 17 part lagi cerita ini bakalan masuk ending."...