
Walaupun Luna tahu setiap pekerjaan memiliki resiko tetapi dia tidak mengira bekerja sebagai asisstant Rein cukup menguras kesabaran miliknya, bagaimana tidak sejak Rein tiba di lokasi sudah banyak permintaan yang harus dipenuhi oleh Luna atau dia tidak akan melanjutkan syuting.
Berkali - kali Luna harus berlarian kesana kemari hanya untuk mencari apa yang diinginkan oleh Rein. Luna berusaha untuk bersikap profesional walaupun dia memiliki boss yang nyentrik dan banyak mau, selama tidak membuat Luna ngesot atau berdarah - darah untuk memenuhi apa yang diinginkan sang artis dia akan berusaha bertahan, karena memiliki pekerjaan paruh waktu dengan gaji sebesar itu adalah sebuah anugrah untuknya saat ini.
"Hai, lo asisten barunya Rein ya?" sapa seorang wanita pada Luna saat dirinya sedang menikmati coffee latte yang baru sempat dia minum setelah berkeliling kepayahan memenuhi permintaan Rein yang seringnya tidak masuk akal. Bayangkan saja, tiba - tiba Rein ingin makan asinan bogor yang dibeli di bogor, tentu saja itu sangat mustahil dipenuhi, beruntung Dindra yang memang berasal dari bogor dan pandai membuat asinan bogor bersedia mengirimkan pesanan Rein dan untunglah Rein puas dengan hal itu, walaupun Luna harus berbohong dengan mengatakan saudaranya yang dari bogor datang dan kebetulan membawa asinan bogor.
Belum selesai disitu, untuk masalah outfit, Rein ingin memakai vest dari denim yang tidak dibawa oleh Luna karena memang semua sudah disiapkan oleh Roy sebelumnya. Akhirnya Luna pun harus kembali ke apartemen Rein yang berjarak 30 menit perjalanan dan mengambil vest denim yang diinginkan tapi sesampainya di lokasi ternyata Rein sudah memakai outfit yang sudah disiapkan oleh Roy.
"Iya, gue asisten barunya Rein" jawab Luna sambil mendengus lelah.
"Semoga lo bisa bertahan ya, sejauh ini asisten Rein gak pernah bisa bertahan dalam seminggu" ucap Vonny yang juga merupakan asisten dari salah satu artis yang ikut dalam syuting iklan hari ini.
"Emangnya selama ini asistennya gak pernah bertahan lama?" tanya Luna pada Vonny.
"Boro - boro bertahan lama, semua asisten Rein nggak pernah lebih dari satu minggu, dari hari ini aja lo udah pasti tahu alasan kenapa mereka nggak bisa bertahan lama ditambah lagi Vania, pacar Rein yang selalu ngerecokin tugas asistennya" senyum Vonny lagi sambil menunjuk seorang wanita yang baru saja datang bersama dengan asisten pribadinya.
Luna melihat Vania yang datang dengan memakai leging warna pink neon dengan kaos putih yang memiliki aksen tutul, dan topi lebar tercengang dengan dandanan Vania yang terkenal dengan statusnya sebagai model papan atas.
"Rein bilang tidak suka melihat orang yang penampilannya berantakan tapi pacarnya malah lebih mirip ondel - ondel gagal" sinis Luna seraya memijat kakinya yang pegal karena berlarian kesana kemari memakai heels.
Dindra tertawa terbahak - bahak mendengar cerita Luna, dia tidak menyangka jika sahabatnya akan mengalami hari yang sulit di hari pertamanya dia bekerja, "Sumpah, bos lo aneh banget sih untung aja kemarin nyokap abis bikin asinan bogor. Coba kalau nggak, yang ada lo pasti bakalan ke bogor cuma buat beli asinan" ledek Dindra yang tak berhenti tertawa.
"Asli ya boss gue tuh ajaib banget, dia ampe teriak - teriak gitu pas gue suruh masuk mobil gue, kan gue nggak bisa bawa manual nah mobil dia tuh manual. Ya udah daripada telat gue paksa deh naik mobil gue, eh dia histeris pas liat mobil gue" ucap Luna sambil menggigit cireng kesukaannya dan mengunyahnya perlahan.
"Lun, jangankan boss lo. Gue aja suka histeris liat mobil lo, itu mobil udah berapa lama nggak lo cuci sama bersihin. Orang yang kebiasaan bersih pasti histeris lah liat daleman mobil lo yang udah kayak kena bom" sindir Dindra.
"Tapi ngomong - ngomong gue penasaran sama muka boss lo, ada fotonya nggak?" tanya Dindra seketika.
"Dih boro - boro foto, gue selama kerja nggak boleh foto - foto atau main handphone kalau nggak keadaan darurat. Jadi sorry nggak ada fotonya" ucap Luna kemudian, disisi lain dia juga tidak ingin Dindra tahu jika bossnya adalah idolanya Rein.
"Luna - Dindra!!!" sebuah panggilan yang terdengar tidak asing mampir ke telinga mereka dan saat menoleh dia melihat Amanda datang dengan membawa paperbag yang lumayan besar berisi oleh - oleh dari perjalanannya ke Jepang.
Ketiga sahabat itu kemudian cipika cipiki seperti lama tidak bertemu, "Manda, lo kapan baliknya dari Jepang?" tanya Luna senang.
"Gue baru landing tadi terus langsung kesini deh, kan gue kangen sama duo kwek - kwek gue" seru Amanda.
Tiba - tiba ponsel Luna berbunyi dan saat dia melihat siapa yang memanggilnya, Luna menatap heran. "Tunggu bentar girls, boss gue nelpon".
"Halo, iya mas?"
Luna mengangkat alisnya, "Dia nelpon gue cuma buat ngomong gini doang?" batin Luna.
"Iya mas, nanti saya ijin pulang dulu taruh mobil, tenang aja saya nggak akan terlambat kok mas" kata Luna lagi.
"Oke deh, tar gue kasih no telepon supir biar bisa jemput lo. Sama satu lagi, lo bisa pamggil gue Rein aja nggak usah pake embel - embel mas, gue bukan tukang parkir pengkolan" ujar Rein dan mengakhiri panggilan teleponnya.
Dindra dan Amanda lalu kompak berteriak, " Lo manggil boss lo mas?" tanya Dindra.
"Iya sekarang gue disuruh manggil dia nama aja, karena katanya dia bukan tukang parkir pengkolan yang biasa dipanggil mas - mas" balas Luna malas, Amanda dan Dindra pun tertawa terpingkal - pingkal mendengarnya.
"Ati - ati jatuh cinta beneran lo sama dia Lun" ucap Amanda yakin.
"Gue udah bilang gitu sama dia dan lo tahu apa jawaban dia?"
"Gue itu pengen kerja gak ada waktu buat pacaran" seru Dindra menirukan ucapan Luna.
"Gue sekarang butuhnya duit timbang pacar, tolong digaris bawahi ya" sahut Luna.
Luna terdiam melihat dirinya ditertawakan oleh dua orang sahabatnya itu, mau bagaimana lagi dia membutuhkan pekerjaan dan kebetulan sekali bossnya adalah orang yang unik.
Setelah menaruh mobilnya di apartemen milik Rein dia lalu menghubungi no telepon supir yang akan menjemputnya, dia berpikir akan lebih praktis jika dirinya dijemput di apartemen Rein toh nantinya dia akan mengantarkan Rein pulang, lagipula dia juga harus membawa beberapa barang yang dibutuhkan oleh Rein di lokasi studio rekaman hari ini.
Luna sampai di studio rekaman jam 3 sore lebih sedikit karena harus membeli makanan yang dipesan oleh Rein.
"Ini belinya di restoran langganan gue kan? Nggak pedes?" tanya Rein menyelidik.
"Iya mas sesuai sama yang dipesen kok" kata Luna seraya bersiap menebalkan daun telinga terhadap omongan pedas yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Setelah beberapa saat rupanya tidak ada pembicaraan apapun, Luna dapat bernafas lega dan pamit untuk pergi keruang tunggu.
"Hari ini lo telat, lain kali on time dong, percuma gue bayar lo mahal - mahal kalau lo telat mulu. Lo nggak tahu istilah time is money?" ujar Rein seraya menyantap nasi goreng pesanannya.
Baru saja Luna akan melangkahkan kakinya keluar dan baru saja dia bernafas lega mengira tidak akan mendengar kejulidan dari seorang Rein, "Demi dewaa, gue telat juga gara - gara dia pesan makanan ngedadak banget. Nggak sadar diri emang" batin Luna.
Luna menarik nafas panjang dan berbalik, "Tapi saya telat karena beli makanan mas Rein dulu dan posisi di restorannya juga antri tadi" ucap Luna membela diri.
"Aichi, kan gue udah bilang kalau gue nggak suka dibantah, harusnya lo antisipasi dong sebelum gue minta dipesenin makanan jadi lo udah bisa estimasi waktu biar nggak telat, terus kenapa lo masih manggil gue mas sih? Kan gue udah bilang panggil gue Rein aja" ucap Rein datar dengan nada juteknya yang masih bisa dirasakan oleh Luna.
"Udah mas ngomelnya, kalau udah saya keluar dulu deh" balas Luna dan ngeloyor pergi meninggalkan Rein yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.